Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bonus Chapter 1


__ADS_3

6 tahun kemudian..


Dua orang anak laki-laki sedang melukis, menyalurkan hobi terpendam yang mereka tekuni saat ini. Mereka tertawa cekikikan menahan sesuatu yang sebentar lagi akan meledak.


"Wah, aku tak menyangka jika wajah Deddy sangat tampan," tutur sang kakak.


"Benar, sungguh! karya kita sangatlah indah," sahut adiknya yang menoleh ke samping menatap wajah kembarannya.


"Tunggu dulu, sepertinya ada yang kurang. Tapi apa ya?" celetuk Niki yang tampak berpikir.


"Kurang tompel di gigi," jawab Niko.


"Hah, kamu sangat benar."


Kedua bocah kembar itu tengah asik melukis wajah sang Ayah yang yang tak lain adalah El, mereka sangat mengagumi karya seni yang di tuangkan lewat media seperti wajah. Cukup lama mereka melukis wajah El yang tidur terpulas itu, "sebaiknya kita pergi dari sini sebelum Daddy bangun," ajak Niko sang kakak.


"Kamu benar, ayo!"


Mereka pergi dari kamar kedua orang tuanya menuju meja makan, karena sebentar lagi mereka akan sarapan bersama. Suasana di meja makan semakin ramai karena adanya triple A anak dari Al dan di tambah dengan twins N anak dari El.


"Kakek sudah lama menunggu, apa Daddy El sudah bangun tidur?" tanya Nathan yang menatap Niko dan Niki.


"Kami sudah membangunkannya Kek, tapi Daddy tidur layaknya orang mati," sahut Niko yang menarik kursi dan duduk.


Dita menatap kedua menantunya yang menggantikan tugasnya dan Naina di dapur, "tidak biasanya suami kalian terlambat bangun? apa yang terjadi?"


"Ada sedikit masalah di perusahaan hingga mereka baru tidur jam dua dini hari," jawab Anna yang menata makanan di atas meja.


"Yasudah biarkan saja mereka, tapi Mama tidak melihat Alex, Lexa, dan Lexi? dimana mereka?" celetuk Naina.


"Aku meminta mereka untuk membangunkan ayahnya," jawab Shena yang menatap Naina yang menganggukkan kepalanya.


Di sisi lain, Al yang telah bersiap-siap dengan setelan jas yang telah di pilih oleh Shena, menatap cermin dengan penampilan yang sempurna.

__ADS_1


"Wah, Ayah terlihat sangat tampan," puji seorang anak dari balik pintu kamar.


Al menoleh dan tersenyum menatap ketiga anak-anaknya, "jangan berdiri di sana, masuklah."


Ketiga anak-anak itu saling melirik satu sama lainnya dengan wajah yang tersenyum penuh arti, mereka berjalan menuju sang Ayah yang menyamakan tinggi mereka dengan membentangkan kedua tangannya, Al memeluk ketiga anaknya dengan erat sembari mengecup pucuk kepala Alex, Lexa, dan Lexi.


"Apa Ayah harus pergi ke kantor di pagi hari?" ucap Lexi, putri bungsu Al.


"Benar Sayang." Al melihat wajah putri bungsunya yang sedih dan dengan cepat dia mengusap pipi Lexi dengan gemas.


"Ibu yang mengatakan jika Ayah baru pulang jam dua pagi," cetus Lexa yang menunjukkan kedua jarinya di hadapan sang Ayah.


"Ayah janji, nanti setelah pulang kantor Ayah akan langsung menemui kalian dan kita akan pergi jalan-jalan, bagaimana?"


"Baiklah, tepati janji Ayah!" sahut Lexa yang menatap sang Ayah.


"Tentu saja."


"Kenapa Ayah menatap kami seperti itu?" ujar Alex yang menyipitkan kedua matanya.


"Katakan yang sebenarnya, apa kalian mempunyai rencana baru untuk membuat kehebohan di mansion?" tutur Al yang menatap ketiga anaknya dengan tatapan menyelidik.


"Kenapa Ayah begitu mencurigai kami yang bosan dengan kegaduhan di mansion ini," jawab Lexa dengan wajah yang sedih. Seketika tatapan Al luluh akan puppy eyes milik kedua putrinya yang tampak mengemaskan, Al menghela nafas dengan kasar.


"Hei, Ayah hanya bertanya saja."


"Ibu meminta kami untuk memanggil Ayah karena sebentar lagi sarapan," ucap Alex yang meninggalkan kamar kedua orang tuanya dan di susul oleh Lexa dan Lexi. Sedangkan Al menatap anak-anaknya yang menghilang dari balik pintu dengan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "mereka sangat menggemaskan," gumamnya.


Al yang telah bersiap-siap melangkahkan kakinya, baru saja dia melangkahkan kakinya, Al tanpa persiapan itu terjatuh karena tali sepatunya terikat. Wajah yang memerah karena menahan rasa kesal yang teramat dalam, dia berusaha bangkit dan tak sengaja mendudukkan lem hingga pantatnya melekat dengan sangat kuat, karena Alex telah memberikan sebuah lem yang sangat kuat. Al memaksa tubuhnya hingga berdiri dan akhirnya lolos dari jebakan anak nakalnya, tapi sayang celananya robek.


"Alex, Lexa, Lexi, Ayah akan buat perhitungan kepada kalian," teriak Al dengan suara yang menggema, untung saja kamar itu di fasilitasi oleh penyadap suara.


Sementara ketiga anak itu berlari sangat cepat agar terhindar dari amukan singa.

__ADS_1


"Ayo cepat kita pergi, sebelum Ayah akan memarahi kita," celetuk Alex yang memegang kedua tangan adik perempuannya.


"Kakak benar, ayo lebih cepat lagi," cetus Lexi yang berlari untuk menyamakan langkah kaki sang kakak.


Ketiga nya berlari menuju kamar El yang tengah tertidur, mereka masuk tanpa ijin karena kebetulan pintu kamar sedikit terbuka. "Sebaiknya kita bersembunyi di kamar paman El," ide Alex.


"Itu jauh lebih baik, ayo!" jawab Lexa yang diiyakan oleh Lexi.


El yang mendengarkan suara kegaduhan dari dalam kamarnya, dia mengerjapkan kedua matanya dan sedikit menggeliat untuk meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku akibat bekerja lembur. Dia melihat ketiga keponakannya yang sedang bersembunyi dari kamarnya, "kalian bersembunyi dari siapa?" ujar El yang membuat ketiga anak itu menoleh ke asal suara. Mereka sangat terkejut dengan mata yang terbelalak, "Hantuuuu," pekik ketiga anak itu yang keluar dari kamar sang Paman.


Sedangkan El hanya memiringkan kepala menatap ketiga keponakannya dengan heran, "hantu apanya? aku ini sangat tampan dengan kadar hampir seratus persen," gumam El yang berjalan dengan santai menuju kamar mandi.


Alangkah terkejutnya El melihat wajahnya nya yang penuh dengan coretan dan dia sangat yakin siapa dalang dari semua ini, "sialan, ini pasti ulah kedua cucu kecebong itu," gerutu El yang terus membersihkan wajahnya, tapi sangat sulit untuk membersihkan noda yang melekat di wajah El.


Al mengejar ketiga anak-anaknya tanpa menghiraukan celananya yang bolong, dia sangat kesal dengan kelakuan triple A. Melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa dan mengetuk pintu kamar El karena dia sangat hafal jika triple A bersembunyi di sana.


"El buka pintunya," pekik Al yang terus menggedor pintu kamar El, membuat sang empunya keluar kamar mandi dan membuka pintu kamar dan menatap wajah Al dengan kesal.


"Sudah aku bilang, jangan menggedor kamarku dengan keras," cetus El yang menatap saudara kembarnya dengan raut wajah yang kesal.


"Tentu saja aku kesini untuk mencari triple A yang selalu bersembunyi di sini. Apa yang terjadi dengan wajah mu?" tanya Al yang emosi seketika tertawa terbahak-bahak.


"Ini tingkah twins N, dan kenapa kamu tampak kesal begitu?" sahut El yang meringis.


"Aku sangat kesal dengan mereka yang mengerjaiku."


"Hah, kamu benar. Kenapa kita mempunyai anak yang sangat nakal! apa mansion ini terkena kutukan?" praduga El.


"Mungkin saja, aku tidak tau sifat mereka turunnya dari siapa," tutur Al yang menghela nafas dengan kasar.


"Lebih baik kita cari saja mereka dan menghukumnya," celetuk El yang tersenyum melirik Al yang juga tersenyum.


"Kamu benar, ayo!"

__ADS_1


__ADS_2