
Zean datang bersama dengan keluarganya, Abian menghampiri twins L dan memeluk mereka satu persatu, "selamat menepuh hidup baru untuk kalian berdua, terutama kamu," ucap Abian yang memberi selamat sembari menatap El.
"Terima kasih kamu telah hadir di sini," jawab Al.
"Hei, apa yang kamu pikirkan. Tentu saja aku harus datang di hari yang membahagiakan untuk kedua saudara ku."
"Heh, kami sudah menikah. Kapan kamu menyusul," ledek El.
"Tidak lama lagi, doakan saja. Karena sebentar lagi aku akan menyusul kalian," jawab Abian dengan bangga.
"Jangan bilang jika gadis itu adalah Lea?" tutur El yang menyelidik.
"Siapa lagi jika bukan Lea, hanya dia gadis yang aku cintai. Ah aku sampai lupa, ini hadiah untuk kalian." Abian memberikan sebuah kotak kecil untuk kedua saudara kembarnya. Al mendekati Abian seraya menepuk pundak pria itu, dia menghela nafas dengan kasar.
"Aku merestui hubungan kalian karena aku sangat mempercayaimu, jangan pernah merusak kepercayaan ku. Jika saja kamu menyakiti adikku, maka aku akan melenyapkanmu," ucap Al dengan raut wajahnya yang dingin.
"Jaga tuan putri ku baik-baik, jika sampai di menangis karenamu. Aku akan mencarimu hingga ke lubang semut sekalipun," ancam El sembari membenarkan dasi Abian.
"Percayakan semuanya kepadaku, tapi di mana Lea?" Abian celingukan mencari keberadaan sang gadis pujaan hatinya.
"Kamu seperti tidak mengenalnya saja, carilah dia di tempat banyak makanan."
"El benar," sambung Al.
Abian dengan cepat menyusul Lea yang sedang memakan hidangan makanan, dia tersenyum saat melihat Lea yang begitu menggemaskan saat memakan beberapa makanan yang seakan perutnya tidak merasa kenyang tanpa menghiraukan orang lain.
"Apa perutmu belum kenyang juga?"
Lea menoleh dan mendongakkan kepalanya, menatap pria tampan yang tersenyum indah saat menatapnya dengan mulut yang terisi penuh.
"Jangan terburu-buru, habiskan makanan itu terlebih dahulu."
"Aku sudah menghabiskannya, kenapa kamu ada di sini? menganggu ku saja," ucap Lea yang ingin memakan brownies yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Sudah cukup makanan nya, ayo temani aku. Aku akan memperkenalkan mu kepada keluarga ku, bagaimana?" ajak Abian.
"Aku sudah mengenal mereka, untuk apa kamu kembali memperkenalkanku?" ujar Lea yang menatap Abian dengan jengah sembari menyeruput minuman dingin.
"Tentu saja ini berbeda, aku memperkenalkanmu sebagai calon istriku," seloroh Abian dengan penuh percaya diri. Sontak Lea menyemburkan minuman yang ada di dalam mulutnya, "jangan bercanda dengan ku," cetus Lea.
Abian mengelap wajahnya yang basah karena ulah Lea yang menyembur minuman dingin, "sebelum berangkat kesini aku sudah mandi, tidak perlu menyiramku!"
"Jangan salahkan aku, kamu membuat aku terkejut dengan ucapan konyolmu itu. Sudah, lebih baik kamu pergi dari sini," usirnya.
"Tapi aku ingin kamu me...." belum sempat Abian melanjutkan ucapannya lebih dulu di sela oleh seorang pria tampan yang bernama Rayyan.
"Hai baby," sapa Rayyan berjalan mendekati mereka, Abian dan Lea menoleh ke asal suara. Lea dan Abian menatap Rayyan dengan tatapan malas, "hah, kenapa aku di hantui oleh kedua pria ini," lirih pelan Lea.
"Ck, kamu datang di saat yang tidak tepat. Pergilah dari sini dan jangan menganggu calon istriku, dan apa tadi? kamu memanggilnya Baby?" protes Abian yang jengkel.
"Heh, calon istri? calon istri yang mana? bahkan Lea tidak menyukaimu, dia lebih menyukaiku."
"Berani sekali kamu mengatakan hal itu, pergilah dari sini atau aku memberimu pelajaran," ancam Abian.
Abian mencoba untuk merendam emosinya agar tidak tersulut, hingga dia mempunyai sebuah ide yang sangat cemerlang. Abian kebetulan melihat Vivian yang tidak jauh dari nya, dia menghampiri Vivian untuk menolongnya menyingkirkan Rayyan.
"Bagaimana? apa kamu bisa menolongku?" ucap Abian dengan penuh harap.
"Itu sangat mudah, apa imbalan yang bisa aku dapatkan dari kakak?" tawar Vivian yang menyuapi cake ke dalam mulutnya.
"Apapun yang kamu inginkan."
"Hem, penawaran yang sangat menarik. Serahkan semuanya kepadaku, biar aku mengurus sad boy dan masalah apa yang aku inginkan, aku belum memikirkannya," tutur Vivian.
"Deal." Mereka berdua berjabat tangan tanda setuju dari kedua belah pihak. Vivian menjalankan aksinya, dia menghampiri Rayyan dan juga Lea. Mengajaknya untuk mengobrol santai, dengan gerakan yang sangat cepat Vivian memberikan obat pencuci perut ke dalam minuman Rayyan yang hanya bekerja 15 menit saja.
Rayyan meminum jus itu dan merasakan efek dari minuman yang telah di campur obat, sementara Abian sangat senang dengan pekerjaan Vivian yang rapi tanpa terdeteksi.
__ADS_1
"Jangan bilang jika kamu memberinya obat pencuci perut?" tanya Lea dengan tatapan intimidasi.
"Kakak benar sekali," sahutnya dengan santai.
"Kenapa kamu melakukannya?"
"Itu hanya inisiatif dariku, aku tidak ingin sad boy itu menjadi kekasihmu. Aku hanya ingin kak Abian lah yang akan menjadi kakak iparku."
"Lain kali jangan di ulangi, jika kak Al dan El tau maka tamatlah riwayatmu yang menyalahkan gunakan ajaran dari mereka."
"Ikutlah bersamaku," sela Abian yang mendekati Lea dengan sangat dekat.
"Tidak, aku tidak ingin pergi kemana pun," tolak Lea.
"Bagaimana jika aku memperlihatkan perut sixpack milik ku?" ucapan Abian membuat iman Lea yang dangkal itu tergoda, apalagi semua koleksi yang menjadi penyemangatnya sudah di bakar oleh kakak tertua.
"Kalian menodai mataku yang sangat suci ini, lebih baik aku pergi dan melihat bagaimana kondisi sad boy itu," tutur Vivian yang menuju ke toilet tempat di mana Rayyan berada sekarang.
"Aku sudah tidak tertarik lagi," cetus Lea yang berusaha membuat dirinya tidak tergoda.
"Benarkah?" sahut Abian yang tersenyum nakal, dia menggendong tubuh Lea ala bridal style dan menuju ke kamar hotel yang tak jauh dari acara pernikahan twins L.
"Hei lepaskan aku, kenapa kamu selalu cepat tersinggung? hargai pendapatku," ujar Lea yang terus meronta. Tanpa mempedulikan ucapan Lea, Abian terus menggendong tubuh mungil itu ke dalam kamar hotel dan tak lupa mengunci pintu. Dia menurunkan Lea dan melepaskan jas dan juga kemeja yang melekat di tubuhnya.
Lea menelan saliva dengan susah apalagi saat melihat perut berotot dengan wajah yang sempurna dari pria tampan di hadapannya. Abian terus berjalan mendekat hingga Lea tak bisa berjalan mundur.
"A-apa yang ingin kamu lakukan, menjauhlah dariku," pekik Lea.
"Tidak." Abian menatap Lea dan memeluknya dengan sangat erat yang hanya beberapa detik saja.
"Oh ya tuhan, otot perutnya membuatku terlena, bentuk roti sobek itu sangatlah sempurna. Tahan Lea, kendalikan dirimu," batin Kea yang terus mengagumi Abian.
"Maukah kamu menikah denganku?" ucap Abian dengan raut wajah serius.
__ADS_1
"Tidak."
"Apapun jawabanmu, aku akan tetap menikah. Aku sudah membicarakan ini kepada Ayah Nathan dan Ibu Dita." Abian kembali mengambil kemejanya dan mengenakan, dia pergi meninggalkan Lea yang menatap kepergiannya hingga menghilang di balik pintu.