
El menatap pria tampan yang di tindih oleh adiknya dengan tatapan menyelidik, mengarahkan kedua jarinya di hadapan Abian dengan maksud "aku mengawasimu" . Tak lama kemudian, Al dan Kenzi datang menghampiri mereka yang sangat khawatir dengan keadaan Lea yang semakin tidak terkontrol.
"Bagaimana ini? Lea selalu menggodaku," rengek Abian yang mendapatkan jitakan dari El.
"Kamu pikir apa hah? bahkan tanganmu juga mulai bereaksi, jangan macam-macam dengan adikku atau junior mu aku potong hingga ketandan-tandan nya," ancam El.
Al mengingat sesuatu, dengan cepat di ambil dari saku celananya. Sebuah pil yang dapat mengurangi obat perangsang yang dia buat dan pelajari dari Zean, "berikan ini kepadanya, untuk menetralkan obat perangsang itu," desak Al yang memberikan kepada El.
"Tapi bagaimana memberikannya?" celetuk Abian, sementara Kenzi sedikit menjauh dari mereka.
El menghela nafas dengan kasar, "dengan terpaksa melalui mulut, dia tidak akan membuka mulut saat keadaannya seperti itu," lirihnya dengan pelan.
Abian seakan mendapatkan anugrah yang tiba-tiba muncul, "serahkan kepadaku, aku akan melakukannya dengan baik." Dia menunjuk dirinya sendiri yang membuat Al kesal dan menarik bulu kaki Abian yang menjerit karena itu.
"Kakaknya masih ada di sini, jangan berpikiran sempit seperti itu," ketus Al.
"Apa salah ku yang ingin menawarkan diri," sahut Abian dengan wajah polosnya.
Al menarik tubuh Lea dan memasukkan obat itu melalui mulutnya, dengan sedikit dorongan menggunakan lidahnya. Setelah memastikan obat tertelan dengan cepat Al menotok tubuh Lea yang tidak sadarkan diri, sedangkan Abian terus merutuki Al yang berani mencium calon istrinya.
"Ck, jika saja dia bukan calon kakak iparku! sudah pasti nyawanya tidak tertolong," umpat Abian di dalam hati.
Al membopong tubuh Lea dan memasukkannya ke dalam mobil, di ikuti oleh Al dan Kenzi. El mengendarai mobil yang di sampingnya ada Kenzi, di belakang terdapat Abian dan juga Al yang di tengah-tengah nya ada Lea.
El melajukan kendaraan nya menuju mansion, "bukankah obat yang kamu berikan itu memiliki efek samping?" tanya El yang melirik Al yang hanya sepersekian detik.
"Kamu benar," sahut Al.
"Efek samping?" ujar Abian yang mengerutkan keningnya.
"Benar, Lea tidak akan sadar hingga esok hari," jawab Al.
"Tidak masalah, asal Lea tidak menggodaku lagi. Hampir saja aku kehilangan keperjakaan," seloroh Abian yang mengusap dadanya.
"Ck, bahkan aku melihat jika junior mu beraksi," cibir El.
"Itu tandanya aku masih normal," sahut Abian dengan cepat.
"Hah, terserah padamu."
Mobil berhenti di depan pintu masuk mansion Wijaya, para orang tua tengah menunggu kedatangan anak-anaknya. Nathan juga menghubungi Antoni dan juga anaknya Jimmy untuk datang dan memeriksa keadaan keluarga.
__ADS_1
Al menggendong tubuh Lea yang sebelumnya telah di pakaikan jaket milik Abian dan membawanya ke dalam kamar. Dita sangat mencemaskan keadaan Lea, "bagaimana keadaan adikmu? kenapa dia pingsan?" tanya Dita yang menarik lengan El yang menghela nafas dengan kasar, dia tidak ingin menceritakaan kejadian sebenarnya kepada sang ibu.
"Ibu tenang saja, Lea kita tidak apa-apa."
Al membaringkan tubuh Lea dan menyelimutinya, Antoni dan Jimmy ingin memeriksa keadaan Lea. Tapi Abian lebih dulu menghalangi Jimmy agar tidak ikut memeriksa.
"Minggir! aku ingin memeriksa Lea," ucap Jimmy.
"Tidak perlu memeriksanya, sudah ada paman Antoni di dalam. Jasa mu tidak di perlukan," jawab Abian yang menatap Jimmy sebagai rival.
"Kamu ini kenapa? dia pasienku, tentu saja aku memeriksanya," tutur Jimmy yang menatap Abian dengan bingung dan berusaha menerobos masuk.
"Ck, jangan keras kepala. Sudah cukup paman Antoni yang memeriksa, dia hanya pingsan. Pergi sana," usir Abian.
"Terserah padamu," ucap Jimmy yang pasrah, sedangkan Abian tersenyum kemenangan.
"Bagaimana keadaan putriku?" tanya Dita.
"Dia baik-baik saja, obat perangsang yang dia komsumsi di tubuhnya sekarang sudah netral," sahut Antoni.
"Apa maksudmu dengan itu?" tanya Dita yang menatap Antoni dengan tegas.
"Itu karena aku yang memberikannya obat," sela Al.
"Bisa kalian jelaskan kepada Ibu?" Dita menatap kedua putranya dengan seksama.
"Lea di sekap oleh pemimpin Mafia Black Diamond dan memberikan obat perangsang untuk menjebaknya," ungkap El.
"APA? bagaimana Lea bisa berurusan dengan pemimpin mafia itu?" tanya Dita.
"Ini semua karena Kenzi," sahut El yang menunjuk sang pelaku.
"Apa kesalahan ku?"
"Kerena adik dari pemimpin Mafia menyukaimu," cetus El.
"Karena aku ini tampan, tidak ada yang bisa menolak pesonaku," jawab Kenzi dengan bangga.
"Apa kamu yakin tidak ada masalah dengan putriku? " celetuk Nathan yang menatap Antoni.
"Apa kamu meragukan dokter senior dari para senior ini?" ujar Antoni.
__ADS_1
"Jawab saja!"
"Putrimu tidak apa-apa, dia akan sadar hingga esok pagi karena efek samping itu," ucap Antoni.
"Kamu boleh pergi," usir Nathan.
"Sial, aku selalu saja di perlakukan begini. Baiklah aku pergi dulu," pamit Antoni yang meninggalkan kamar itu.
"Ya sudah pergi sana," pekik Nathan membuat Dita dan Naina menggelengkan kepalanya. Sedangkan Bara hanya mendengus kesal saat menatap Nathan, "kenapa kamu menatapku begitu?"
"Pikirkan usia mu sekarang, seharusnya kamu memperbaiki sifatmu yang tidak pernah berubah itu," cetus Bara.
"Lalu? apa urusannya denganmu."
"Sebaiknya kalian pergi dari sini, biarkan Lea beristirahat," sela Dita.
"Kalian pergi saja, biarkan aku menjaga Lea di sini," tawar Abian yang mendapatkan pelototan mata dari para pria Wijaya. Al dan El mengalungkan tangannya di leher Abian dengan tatapan tajam, "kamu sangat baik sekali ya," ucap Al.
"Apa kamu mempunyai nyawa cadangan? katakan padaku," sambung El. Sementara para tetua pergi dengan memijat pelipisnya, "sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Naina.
"Ayo," sahut Dita.
"Apa? aku hanya menawarkan diri saja," sahut Abian dengan polos.
"Ayo kita pergi, biarkan adikku istirahat." Ajak Al yang melirik El, tanpa melepaskan tangan mereka di leher Abian.
Mereka pergi dari kamar itu menuju ruang tamu dan berbincang mengenai hal kejadian yang menimpa Lea, Nathan menatap twins L dengan wajah yang serius.
"Katakan segalanya dengan jelas tanpa tertutupi," desak Nathan.
"Jangan mencemaskannya, aku dan El sudah menyelesaikan masalah itu. Dia tidak akan mengusik keluarga kita," sahut Al.
"Apa maksudnya itu?" tanya Naina.
"Tentu saja mereka membayar itu dengan harga mahal," ucap El dengan santai.
"Ehem," Abian berdehem membuatnya menjadi sorotan.
"Kenapa kamu berdehem?" ucap Al.
"Aku ingin menjelaskan kepada semua orang, aku sangat mencintai Lea dan ingin menikahinya. Tolong restui aku Ayah," ucap Abian yang membuat semua orang terkejut.
__ADS_1