Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 114 ~ S2


__ADS_3

Di saat Lea sedang fokus dengan pelajarannya kimia, tiba-tiba salah satu guru memanggil namanya, Lea di minta untuk menghadap guru Bk, "Lea W, pergi ke ruangan Bk sekarang juga," tutur ibu guru.


Setelah permisi dengan guru yang mengajar di kelasnya, Lea melangkah menuju ruangan Bk dengan santai tanpa ada beban. Di saat masuk ke ruangan Bk, ada beberapa pasang mata yang meliriknya dengan sinis.


"Ada apa Ibu memanggil saya?" tanya Lea tanpa menghiraukan tatapan dari Sisil dan juga Ibunya.


"Berani sekali kamu membuat anak saya cedera, saya dengan mudah menghancurkan keluargamu karena bermain-main dengan ku," ancam wanita itu yang berteriak dan menunjuk Lea yang tak lain adalah Eva, Ibu dari Sisil.


"Jangan berteriak, atau pita suara tante akan putus," jawab Lea dengan santai.


"Berani sekali kamu berbicara seperti itu terhadap ku, aku akan menuntutmu untuk ini. Lihatlah perbuatan mu yang seperti brandalan jalanan," ucap Eva yang memperlihatkan tangan Sisil yang patah tulang akibat pukulan dari Lea.


"Sebelum menyalahkan orang lain, cari kebenarannya terlebih dahulu. Tanyakan kepada Sisil apa yang sebenarnya terjadi! ayo katakan yang sejujurnya kepada Ibumu," cetus Lea yang membuat Sisil mengepalkan tangannya dengan sempurna.


"Ayo ceritakan segalanya Sisil," ucap Putri selaku guru Bk.


"Lea tiba-tiba memukulku saat aku sedang duduk di taman sekolah," kilah Sisil.


"Dasar pembohong, tapi lihatlah permainan dari ku," gumam Lea di dalam hati.


"Apa benar begitu Lea W?" ucap Bu Putri dengan tatapan menyelidik miliknya.


"Itu benar, hanya saja dia mengatakan setengah dari kebenaran."


"Anakku ini tidak mungkin berbohong," sahut Eva dengan cepat yang membela anaknya.


Lea tersenyum miring dan menyodorkan sebuah flashdisk ke hadapan guru Bk, "itu bukti yang aku dapatkan. karena aku sedang berbaik hati, maka aku akan merawat cedera itu hingga sembuh."

__ADS_1


Guru Bk itu memeriksa isi dari flashdisk yang di jadikan sebagai barang bukti seraya membesarkan matanya, "apa kamu yakin dengan ini?" ucap Bu Putri yang seakan tak percaya dengan penglihatan nya.


"Tentu saja benar, apa ada yang salah Bu?" ucap Lea yang penasaran.


"Coba kamu perhatikan isi dari flashdisk ini," imbuh guru Bk sembari memutarkan laptopnya mengarah ke Lea.


Lea membelalakan mata seraya menahan malu, "astaga, kenapa aku sangat ceroboh. Aku memberikan flashdisk yang berisi pria tampan yang bertelanjang dada, apa yang harus aku lakukan?" batin nya.


"Maaf Bu, sepertinya saya salah memberikan nya." Lea kembali menyodorkan sebuah bukti Cctv yang dia dapatkan dengan sangat mudah.


"Apakah pantas, seorang wanita menyimpan foto yang membosankan itu," celetuk Sisil dengan tersenyum miring.


"Setiap orang mempunyai pikiran masing-masing, tutup mulutmu dan jangan membuat kebisingan. Suaramu tidak lebih dari suara keledai yang sangat jelek, " cibir Lea yang mengejek.


Sisil yang ingin menghajar Lea, tertahan karena kondisinya yang tidak memungkinkan, "setelah aku sembuh, maka aku akan membuat perhitungan dengan mu," batin Sisil yang menatap Lea dengan kibaran bendera perang.


"Karena itu hobi saya, apa ibu menyukainya? aku bisa mengirimkan foto itu dan memberikan secara gratis," jawab Lea yang sangat antusias. Putri menatap siswi nya dengan intens, dengan cepat dia mengangguk dengan mengeluarkan ponsel miliknya.


"Kirimkan semuanya ya, kamu tau sendiri. Jika Ibu masih jomblo, sepertinya sangat menyenangkan mengoleksi foto itu," seloroh guru Bk yang bersemangat, membuat Eva dan Sisil menganga tak percaya dengan Bu Putri yang terkenal dengan sikapnya yang galak dan selalu menyalahkan orang lain.


"Selesai, dan ini flashdisk bukti nya." Lea berjalan dengan santai melewati Eva dan Sisil yang geram kepadanya. Lea berjalan keluar ruangan Bk, dan melihat pria asing yang di kenalnya.


Pria itu tersenyum ramah dan menghampiri Lea, "akhirnya kita bertemu lagi, bagaimana kabarmu?"


"Hem, seperti yang kamu lihat. Aku sangat baik, kenapa kamu ada di sini?" tanya Lea yang melirik pria itu yang tak lain adalah Lucifer, anak dari Zean dan Raya.


"Tentu saja bersekolah, dan ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan," ucap Lucifer.

__ADS_1


"Jangan membut aku penasaran, katakan segalanya dan jangan berbelit-belit," ketus Lea.


"Walaupun umurku 16 tahun, tapi aku langsung lompat kelas ke tingkat 3 Sma. Hal menyenangkannya adalah, kita satu kelas," seloroh Lucifer yang mengedipkan sebelah matanya ke arah Lea.


"Apa kamu cacingan?"


"Tidak, aku ingin duduk di sebelahmu nanti," ujar Lucifer yang menatap Lea dengan penuh harapan.


"Tidak, aku ingin sendirian dan tak butuh teman," ketus Lea yang masuk ke dalam kelas tanpa menghiraukan Lucifer yang terus bertanya dan membuat Lea tidak suka dengan ketentramannya yang terusik. Semua mata menatap Lucifer yang seakan-akan mengejar Lea, membuat para siswi membicarakan mereka.


Lea sangat kesal dengan para siswa dan siswi yang membicarakan hal jelek mengenai dirinya, telinga seakan memanas itu membuat Lea kehilangan kesabaran. Hingga dia menendang kursi yang akan di duduki oleh Lucifer, dan membuat Lucifer terjungkal dengan tidak etis.


Dengan cepat Lucifer berdiri dan menarik tangan Lea menuju sebuah gudang, bola mata yang biru sekarang bertukar menjadi warna Silver. Yah, tubuh Lucifer di kuasai oleh aktar jahat yang bernama Max, "berani sekali kamu mengerjai aku," cetus Lucifer/Max yang telah di kuasai oleh amarah dari altar jahatnya.


"Aku tidak berniat mengerjaimu, tapi karena ulahmu sendiri yang selalu mengusikku membuat aku kesal. "


"Tetap saja kamu bersalah, kamu telah membangunkan aku, dan aku akan membunuhmu," ucap Max/Lucifer.


"Siapa kamu sebenarnya? aku rasa kamu bukanlah Lucifer. Apa kamu berkepribadian ganda?" sahut Lea yang memahami kondisi saat itu.


"Aku pikir, kamu hanyalah salah satu dari gadis bodoh yang selaku mengejar Lucifer. Sangat di sayangkan jika kamu sebentar lagi akan aku habisi," ucapan Max/Lucifer.


Lea memutarkan kedua bola matanya yang menatap altar jahat yang bernama Max itu tanpa rasa takut, "heh, aku tidak takut dengan mu."


Max marah dan melayangkan pukulannya, dengan sangat cepat Lea menangkis dan menyerang Max. Pertarungan mereka membuat Lea sedikit lelah, karena sedari tadi perutnya sangat lapar. Lea jatuh tersungkur dengan wajah yang lebam, dia pingsan membuat altar jahat milik Lucifer tertawa bahagia. Max mengeluarkan belati dan ingin membunuh Lea.


Beruntung Lucifer bisa mengendalikan altar jahatnya, belati yang berada di tangannya di lempar dengan jauh. Lucifer bergegas menggensing Lea ala bridal style dan membawanya ke rumah sakit, dia tidak menghirauka. ucapan dari para guru yang meminta mereka kembali ke sekolah.

__ADS_1


"Maafkan aku Lea, aku butuh waktu untuk mengendalikan altar jahat ku yang bernama Max," gumam Lucifer yang membawa Lea ke rumah sakit terdekat.


__ADS_2