Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 138 ~ S2


__ADS_3

El membawa Anna kesebuah perbukitan dengan bulan yang sebagai cahaya nya membuat suasana sepi dan romantis tanpa terganggu oleh siapa pun, "kenapa kamu membawaku kesini?" tanya Anna yang sangat penasaran.


"Lihatlah di sana," sahut El yang menunjuk bangunan yang tidak tersusun rapi. Sebuah kota yang bisa di lihat dari perbukitan yang mereka pijaki.


"Aku tidak mengerti?" ujar Anna yang kebingungan.


"Lihat saja dan perhatikan baik-baik," ucap El dengan santai, Anna memperhatikan kota dan tiba-tiba seluruh lampu di kota itu mati. Tak lama, lampu hidup kembali tapi hanya sebagian saja yang hidup. Lampu yang bertulisan I LOVE YOU yang hanya bertahan 10 detik dan listrik seluruh kota kembali normal.


Anna melamun dengan pikirannya, dia tidak tau bagaimana dengan perasaannya kepada El, karena sedari kecil dia menyukai Jojo.


"Apa maksudmu dengan 3 kata itu?"


"Sesuai dari kata itu, Anna aku mencintaimu sepenuh hatiku. Bahkan aku tidak tau bagaimana cara mengungkapkannya kepadamu, hanya ini yang bisa aku lakukan. Anna, maukah kamu menjadi kekasihku?" ucap El dengan mode serius seraya mengeluarkan cincin berlian ke arah Anna.


"Kamu seperti melamarku saja." Anna sedikit tertawa untuk mengurangi kegugupan nya.


"Jika kamu menginginkan nya, aku akan melamarmu. Jika perlu hari ini kita akan menikah," ujar El.


"Maaf, aku tidak tau bagaimana perasaan ku padamu. Aku ingin memastikan nya terlebih dahulu." Jawaban Anna membuat El sedih, dimana ini pertama kalinya dia menyatakan perasaan kepada seorang wanita.


"Aku akan menunggumu," ucap El yang menyembunyikan rasa patah hati yang sangat dalam.


"Hem, bisakah kamu mengantarku pulang?"


"Baiklah," sahut El dengan lemas.


****


Pekerjaan kantor membuat Al sangat kesal, untung saja masih ada asisten yang di rekrut oleh kembarannya untuk mengurus perusahaan Wijaya.

__ADS_1


"Perkenalkan dirimu," ucap Al menatap asisten barunya dengan tajam.


"Eh, bukankah Tuan sudah mengetahui nya?" jawab Ben yang kebingungan.


"Kapan kamu memperkenalkan nya? cepat lakukan apa yang aku perintahkan," ucap Al dengan tatapan elang nya mampu membuat asisten barunya merasakan aura kepemimpinan yang sangat kuat, tidak seperti tuan yang dia temui pertama kali.


"Eh, kenapa tuan sangat aneh dan tidak mengenali ku? apa tuan mempunyai penyakit Alzheimer?" batin Ben.


"Panggil saja Ben, Tuan sendirilah yang merekrut saya menjadi asisten," tutur Ben.


"Jadi dia asisten yang di rekrut oleh El, boleh juga. Sepertinya dia perkerja keras," gumam Al dalam hati seranya manggut-manggut.


"Hem."


"Eh, kenapa tuan El sangat berbeda dengan yang ini? semoga tuan El baik-baik saja," batin Ben yang tidak tau jika atasannya itu kembar.


"Kamu handle perusahaannya, aku pergi dulu," pamit Al yang melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Ben menatap kepergian atasannya, seperti biasa dia mengambil berkas yang bertumpuk di atas meja kerja.


"Apa ini? tidak biasanya tuan El menyelesaikan pekerjaanya, biasanya aku yang selalu lembur dengan berkas yang menumpuk," gumamnya dan kembali ke meja kerjanya.


Sesampainya di mansion, Al membuka jas dan juga dasinya. Tatapannya mengarah ke kolam renang, melihat seorang gadis yang sedang merendam kakinya di sana. Al berjalan mendekat, dan melihat Shena yang sedang melamun.


Al tersenyum jahil untuk membalas perbuatan Shena yang sudah menyikut juniornya, Al mengejutkan Shena hingga tercebur ke dalam kolam renang, dia tertawa terbahak-bahak saat bisa mengerjai Shena.


Tawa nya terhenti saat Shena mengarahkan tangannya ke atas seperti meminta tolong, "sial," umpat Al yang langsung melompat menolong Shena.


Al menolong Shena yang sepertinya pingsan, dia membawa gadis kecil itu di tepi kolom renang. Shena yang pingsan membuat Al kelimpungan, dia tampak berpikir.


Al sangat ragu dengan tindakannya, dia ingin menolong gadis itu. Walau bagaimana pun juga, Shena seperti itu karena ulahnya. Setelah bertarung dengan pikirannya, dengan secara terpaksa Al memberikan nafas buatan dan menekan dada Shena, berharap gadis itu mengeluarkan seluruh air yang tertelan.

__ADS_1


"Bibirnya sangat manis," batin Al yang terus memberikan nafas buatan, lebih tepatnya menikmati nya. Shena terbangun dan melihat bibirnya yang bersentuhan dengan bibir Al, "aaaargh....SI KERA MESUM," teriak Shena yang mendorong tubuh Al hingga kembali tercebur ke kolam renang. Shena yang terkejut dengan aksi Al segera berlari menuju kamarnya.


"Aku telah menolongnya, tapi apa ini? bukannya berterima kasih dia malah mendorongku ke air, dan dia bahkan memanggiku si kera mesum?" batin Al yang memukul permukaan air.


Al keluar dari kolam renang dan menuju ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Di bawah pancuran dari shower membuat Al terus membayangkan ciuman itu, dia bahkan memegang bibirnya.


"Ck, kenapa aku selalu memikirkan ciuman itu? aku bisa gila karena memikirkan itu. Tapi bibirnya membuat aku seperti ingin menciumnya lagi, ya tuhan....ada apa dengan ku? kenapa aku memikirkan gadis kecil itu. Lebih baik aku istirahat dan bisa melupakan hal itu," guman Al di dalam hati.


"Huh, dasar si kera sialan! berani sekali dia merebut ciuman pertamaku, padahal ciuman itu hanya untuk idola ku," gumam Shena yang sangat kesal, dia menutup pintu kamar dengan sangat keras.


Shena sangat mengidolakan artis dari negeri gingseng itu, wajah yang tampan dari salah satu personel grub band membuat Shena banyak mengoleksi foto idolanya yang terpajang di dalam kamar.


****


Di pagi hari yang cerah, Lea terbangun dari tidurnya seraya meregangkan otot-otot nya yang kaku dan sesekali menguap. Setelah membersihkan diri dan juga sarapan pagi, dia memutuskan untuk kembali tertidur setelah mengisi tenaga.


Untungnya hari ini adalah hari weekend, Lea bisa lebih leluasa untuk melanjutkan mimpi indahnya. Baru saja matanya terpejam 5 menit, di rusak oleh suara pintu kamar yang di ketuk. Lea membuka pintu kamarnya dengan sangat malas, dia tersenyum melihat sang Ibu yang tengah berdiri sambil menatapnya.


"Ada apa Bu?"


"Keluarlah, ada Abian dan Lucifer yang ingin menemui mu."


"Menemuiku? kenapa?"


"Entah lah, Ibu juga tidak tau. Temui saja mereka! ya sudah, Ibu pergi ke butik dulu."


"Hem," jawab Lea yang menatap kepergian sang ibu.


Lea sangat malas untuk bertemu dengan Abian dan juga Lucifer, dia memutuskan untuk kabur lewat balkon. Tak lupa dia sudah menyambungkan kain panjang dan mengikatnya untuk membantu dalam pelarian.

__ADS_1


"Hehe....pendaratan yang sangat mulus," lirih Lea yang bahagia bisa terhindar dari dua pria itu.


"Mau kemana kamu?" ucap seseorang yang berada di belakangnya sedari tadi memperhatikan tindakan Lea yang seperti monyet.


__ADS_2