
Kepribadian Lea di sekolah dan di rumah sangatlah berbeda, sering menyendiri tanpa ada teman. Tidak ada yang mengetahui identitas Lea, hingga beberapa orang sering membulinya.
Duduk di bawah pohon sembari melukis, merupakan kegiatan yang dia lakukan saat istirahat sekolah. Dia sangat terkejut saat ada orang yang menumpahkan minuman di atas lukisannya, dia menoleh dan melihat pelakunya dengan tatapan tajam.
"Ups, maaf. Aku tidak sengaja," ucap salah satu wanita yang membekap mulut dengan tangannya.
"Jangan berpura-pura, aku tau kamu sengaja melakukannya. Sudah aku bilang, jangan mengangguku," jawab Lea dengan raut wajah yang datar. Salah satu dari gadis itu menghampiri Lea dan menarik rambutnya, sementara dua lainnya memegang tangan Lea dengan sangat erat.
"Lepaskan, aku tidak mempunyai masalah dengan kalian," ucap Lea yang tetap santai.
"Jangan munafik, kamu membuat Vino menjauh dariku," ucap Sisil ketua geng.
"Aku hanya menyalurkan hobi saja, dan tidak berniat untuk merebutnya."
"Jangan banyak bicara," ketus Sisil. Dengan cepat Sisil menampar kedua pipi mulus Lea hingga berbekas merah. Lea yang terus menghitung tamparan itu, hingga tamparan ke ketiga membuat Lea mencekal tangan Sisil.
"Waktu mu habis," ucap Lea yang tersenyum menyeringai. Ketiga wanita sedikit takut dengan senyuman yang Lea lontarkan ke arah mereka.
Lea melepaskan dirinya dengan sangat mudah, berjalan mendekati Sisil yang terus berjalan mundur. "A-Apa yang akan kamu lakukan? tanya Sisil yang ketakutan.
"Eh, kenapa dahimu berkeringat? dimana keberanianmu yang menampar pipi mulusku?"
"Mundur! atau aku akan membuatmu menyesal dengan kekuasaan dari Ayahku," ucap Sisil yang mengancam
"Kita urus itu nanti saja," ucap Lea yang menampar Pipi Sisil dengan sangat keras, membuat sudut bibir Sisil berdarah. Tak tinggal diam, kedua temannya membantu Sisil dan menyerang Lea. Tiga lawan satu tak membuat Lea gentar, menghadapi mereka bertiga sangatlah mudah baginya. Ketiga wanita itu terkapar lemah, sedangkan Lea pergi dari tempat itu dengan memasang wajah polosnya.
Seseorang mengawasi kejadian itu sedari tadi, "heh, ternyata wajahnya tidak sepolos yang terlihat," gumam pria itu yang tak lain adalah Abian/Aron yang mengikuti Lea. Tadinya dia ingin menolong, tetapi tertahan saat Lea membalas tamparan di pipi Sisil.
****
Di apartemen, Abian melacak pelaku yang meretas perusahaan yang di bangun dengan susah payah, menatap layar laptop dengan fokus dan gerakan jari yang sangat cepat. "Heh, sebentar lagi aku akan menemukan pelakunya. Berani sekali dia mengambil jerih payahku," gumam Abian yang menatap lurus.
__ADS_1
Hingga dia berhasil mendeteksi keberadaan pelakunya yang berada di mansion Wijaya, dan dia sangat yakin jika ini adalah pekerjaan El. "Sialan, ternyata dia pelakunya." Abian mengambil ponselnya yang tak jauh dari meja kerjanya, menghubungi seseorang yang membuat nya kesal. Yah, Abian meminta untuk bertemu dengan El di sebuah taman.
Tak lupa Abian menutup layar laptopnya, mengambil jaket dan juga kunci motor dan mengendarai dengan sangat lihai, menyelip beberapa kendaraan yang memperlambat laju motornya. Tak butuh waktu lama, Abian melihat El yang tersenyum ke arahnya. Abian membalasnya dengan pukulan di wajah tampan milik El, sontak membuat sang empunya terkejut dengan pukulan mendadak.
"Kenapa kamu memukulku?" ucap El yang memegang pipinya yang lebam.
"Itu pelajaran karena kamu mengambil perusahaan ku," geram Abian.
"Perusahaan yang mana?" tanya El yang mengerutkan keningnya.
"Perusahaan A.C Corp. Ternyata kebiasaan lama mu tidak hilang juga ya?" cetus Abian yang tersenyum miring.
"Jadi itu perusahaan mu?" ucap El yang ambigu.
"Hem, itu milikku. Cepat kembalikan perusahaan ku kepadaku," ujar Abian yang menyodorkan tangannya.
El tersenyum tipis, "lain kali jangan berbuat curang," cibir El membuat Abian geram.
"Hei, hentikan ini! kamu bisa merusak rambutku," keluh El. Bukannya berhenti, Abian semakin merusak tatanan rambut El. Tak tinggal diam, El membalas perbuatan Abian hingga mereka bergulat dan menjadi sorotan semua orang yang menatap mereka.
Gulatan itu terhenti saat mereka terkena siraman air, El dan Abian menatap pelakunya yang sedang tersenyum tanpa dosa, siapa lagi jika bukan Lea dan Al yang berada di sampingnya.
"Lea, kenapa kamu menyiram kakak mu yang tampan ini?" ucapnya dengan narsis membuat Lea memutar bola matanya menatap dengan jengah.
"Jangan salahkan aku, lihat sekeliling kalian sekarang. Semua orang menatap perbuatan orang dewasa yang menjelma sebagai anak-anak," cetus Lea yang menolak pinggang. Sementara Al menahan gelak tawanya, karena mengingat masa kecilnya saat Bara dan Nathan bergelut.
"Kalian ini sudah dewasa, bertingkahlah sesuai dengan umur kalian," tambah Al yang menggelengkan kepalanya.
"Karena El meretas data perusahaan ku, dasar pencuri," ketus Abian yang melirik El dengan sinis yang membuat Abian mendapatkan reward dari El, sebuah jitakan yang sangat keras membuat keduanya saling bergelut. Lea yang kesal, menimpuk El dan Abian menggunakan sepatunya tepat mengenai kepala mereka.
"Sangat menjijikkan, kalian berpelukan sangat mesra ya," ucap Lea yang tersenyum smirk. El dan Abian saling menatap satu sama lain, dan dengan cepat melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kalian membuang waktu saja, ayo kita pergi," ujar Al yang melirik Lea, dan seperti biasa Lea bergelayut manja.
"Hei, tinggu kami," pekik El dan Abian secara bersamaan.
"Menjauhlah dariku, aku takut jika kamu menyukai sesama jenis," ketus El yang mendorong tubuh Abian.
"Heh, aku masih normal. Aku sedikit ragu dengan mu, apa kamu menyukai sesama jenis?" sinis Abian.
"Aku masih normal, dan bahkan aku mempunyai kekasih," kilah El.
"Buktikan dengan membawa kekasihmu datang di hadapanku," tantang Abian yang tersenyum mengejek.
"Baik, aku akan membawa kekasihku. Lihat saja nanti," jawab El yang sangat yakin.
"Mati aku, aku harus menyewa kekasih bayaran,"
batin Al.
"Oi, cepatlah. Apa kalian ingin kami tinggalkan," teriak Lea.
Suasana hening di dalam mobil membuat El sangat bosan, "bagaimana kamu tau, jika aku berada di taman?" tanya El yang menatap saudara kembarnya.
"Dasar pikun, kamu meragukan kemampuan ku?"
"Hah iya, aku baru mengingatnya."
"Tunggu dulu, kenapa kamu membawaku juga? kemana kita akan pergi?" tanya Abian.
"Menemui Ibu, dia selalu memikirkanmu dan menanyai keberadaan mu. Temui Ibu sekali saja," tutur Al dengan lembut.
"Tapi...." belum sempat Abian menjelaskan, tiba-tiba ada dua mobil hitam yang mengikuti mobil yang mereka naiki. Al mempercepat laju mobilnya, mengemudikan layaknya seorang pembalap.
__ADS_1
Abian membelalakan matanya, saat tau siapa musuh yang sedang menargetkan mereka. El tak tinggal diam, mengubah posisinya yang membukan jendela mobil untuk di jadikan penompang tubuhnya. Mengeluarkan pistol yang melekat di tubuhnya dan menarik pelatuk membidik sasaran.