Anak Kembar - Genius Sang CEO

Anak Kembar - Genius Sang CEO
Bab 15 : Akrab {~S3~} [ALICE]


__ADS_3

...~𝘏𝘒𝘱𝘱𝘺 π˜™π˜¦π˜’π˜₯π˜ͺ𝘯𝘨~...


Alice pun mengambil botol minum nya di tas nyaπŸ‘œ.


Alice baru saja setelah mendaftar dirinya di Universitas yg ia pilih di Singapura. Jadi wajar saja jika Alice membawa tas seperti itu. Tapi jika Alice sudah diterima menjadi mahasiswi di sana, maka Alice tidak lagi menggunakan tas seperti itu. Melainkan tas yg biasanya sering digunakan mahasiswa atau mahasiswi lainnya, seperti tas yg digendong dibelakang.


"Alice?" panggil Edward pada Alice.


"Ya, Kak?" sahut Alice lalu menutup botol minum nya.


"Bagaimana dengan tadi?" tanya Edward pada Alice.


"Lain kali saja deh, Kak." jawab Alice.


"Hem.. baiklah. Lalu, bagaimana dengan nomor ponsel kamu?" tanya Edward pada Alice.


"Nomor ponsel?! Buat apa, Kak?" ucap Alice.


"Haishhh.. apa kamu lupa, Alice??" sahut Edward.


"Oh iya, Kak. Alice baru ingat, maaf." jawab Alice.


"Ini nomor ponsel Alice, Kak. 08.... " ucap Alice.


(Nomor telepon nya di sensor yaa.)


"Ok. Aku ulang ya. 08...." ujar Edward.


"Benar?" tanya Edward pada Alice.


"Iya, Kak. Tepat sekali!" jawab Alice.


"Oh ya. Apa ada yang ingin kamu foto lagi sebelum aku kirimkan pada nomor mu?" tanya Edward pada Alice.


"Em.. apa tidak apa-apa Kak?" ucap Alice ragu.


"Tidak apa-apa. Aku tahu kalau baterai ponsel kamu habis." sahut Edward.


"Hah?? Kak tahu dari mana??" tanya Alice bingung. Seingatnya tadi saat ia melihat ponselnya, tidak ada orang di sekitarnya. Lalu, mengapa tiba-tiba Kak Edward bisa mengetahui nya?? Apa Kak Edward seorang dukun?


"Tadi.." jelas Edward.


Flashback on. ⚘

__ADS_1


Edward melihat Alice sedang duduk sendirian. Ia berencana untuk menghampiri Alice. Karena ia ingin berkenalan dengan nya. Saat Alice sedang mendaftar, Edward melihat Alice dan hendak menghampiri nya. Namun, jam istirahat saat itu sudah selesai membuat Edward mau tak mau pun masuk ke kelas dan berniat menghampiri Alice nanti.


Sekarang, Edward akhirnya menemukan Alice setelah pulang kuliah. Jadwal kuliah Edward hari ini hanya tiga pelajaran, dua sebelum istirahat dan satu pelajaran lagi setelah istirahat.


Edward pun melangkah mendekati Alice. Edward yg memiliki sifat jahil kepada teman yg masih asing dengannya, membuat Edward ingin mencoba mengagetkan Alice.


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kaki terdengar. Ya, suara tersebut berasal dari suara langkah kaki Edward.


Namun, di detik-detik dimana saat Edward ingin mengagetkan Alice, ia malah melihat ponsel Alice yg sempat Alice keluarkan.


Ia melihat ponsel Alice mati.


"Apa mungkin ponselnya kehabisan baterai?" pikir Edward.


Baru setelah lamanya ia berdiam disana, Edward pun mengajak Alice berkenalan.


Flashback off. ⚘


"Oh." ucap Alice hanya sekedar oh ria.


Mereka berdua pun terus berbincang. Mulai dari asal negara, tinggal di mana, punya kakak apa tidak, dan sebagainya.


"Alice, sepertinya hari sudah mulai sore." ucap Edward pada Alice. Edward sudah mulai akrab dengan Alice, begitu juga dengan Alice. Meskipun Alice kadang sedikit formal, canggung dan sebagainya. Tapi itu dimaklumi oleh Edward.


"Iya, Kak." sahut Alice sambil melihat langit. Alice juga melihat matahari. Tadi saat siang Alice melihat matahari berada di atasnya, oleh sebab itulah Alice mencari tempat duduk yg atas nya ada atap agar Alice tidak kepanasan. Makanya kenapa Alice dan juga Edward tidak kepanasan sama sekali di sana. Padahal hari saat itu siang, matahari yg begitu panas, tidak hujan sama sekali.


Sekarang hari sudah sore. Matahari pun tampak hampir terbenam di barat, Alice pun mulai berpikir apa mereka berdua berbincang terlalu lama hingga hari sore?? Tapi Alice merasa sepertinya mereka berdua hanya berbincang sebentar.


"Alice, sepertinya pertemuan kita hari ini sampai sini dulu ya. Aku mau pulang dulu." ucap Edward pada Alice.


Alice pun hanya merespon dengan anggukkan kepala.


"Oh ya. Alice, apakah kamu pulang sendiri?" tanya Edward pada Alice.


"Tidak. Alice dijemput sama sopir yang disediakan Papa ku. Dan untuk keamanan Alice, dia yang menjaga Alice dari jauh." jawab Alice sambil menunjuk ke arah pengawalnya yg sedang duduk agak jauh dari nya. Ya, pengawal Alice sengaja duduk agak jauh dari Alice karena ia tidak ingin ikut campur masalah antara Alice dan juga temannya.


Pengawal Alice berpikir jika Edward adalah teman Alice. Karena jika di lihat, mereka berdua terlihat sangat akrab layaknya seorang teman. Oleh sebab itulah, pengawal Alice menyimpulkan jika Edward adalah teman Alice. Dan tidak berniat buruk pada Alice.


"Oh, baiklah." ucap Edward paham.


Edward pun melambaikan tangan pada Alice, lalu masuk ke dalam mobil yg menunggunya.

__ADS_1


Alice juga membalas dengan lambaian tangan pada Edward.


Pengawal Alice yg duduk agak jauh dari Alice saat melihat teman Alice sudah pulang pun menghampiri Alice agar tidak kesepian.


"Nona Alice." panggil pengawal Alice yg bernama Luna.


Luna dipilih Al untuk menjadi pengawal Alice selama Singapura. Karena Al takut bila terjadi sesuatu pada Alice meskipun sebenarnya Alice memiliki ilmu bela diri. Dan ilmu bela dirinya juga tidak kalah dengannya. Tapi tetap saja Al merasa takut.


Awalnya Al memilih pengawal untuk Alice yg laki-laki, namun Alice menolaknya. Entah mengapa Alice menolak, Al tidak tahu. Tapi Al mengganti pengawal Alice yg awalnya ia pilih laki-laki lalu ia pun memilih Luna. Karena Luna juga memiliki ilmu bela diri yg tidak kalah dengannya, terlebih lagi Luna yg mudah akrab dengan siapapun yg baru dikenalnya membuat Al sangat yakin jika Luna adalah pengawal Alice yg tepat.


Jadi ke mana pun Alice pergi, Luna akan ikut dengan Alice. Sebenarnya bukan hanya Luna yg diminta untuk menjadi pengawal Alice selama Alice di Singapura, hanya saja mereka tidak ikut bersama ke mana pun Alice pergi dengan jarak dekat seperti Luna. Mereka menjaga Alice dengan jarak jauh.


"Kak Luna?" sahut Alice ketika mendengar seseorang yg memanggil namanya. Alice tidak merasa asing dengan suara Luna. Karena sebelum Alice pergi ke Singapura, mereka berdua sudah akrab duluan. Oleh sebab itulah, Alice tidak asing dengan suara Luna. Sedangkan dengan beberapa pengawal Alice lainnya, Alice kurang akrab dengan mereka.


Mengapa? Karena Alice jarang berbicara dengan mereka. Tetapi Alice mengenali suara mereka.


"Apa temen Nona Alice sudah pulang?" tanya Luna pada Alice dengan sopan. Karena Alice adalah anak majikannya yg artinya adalah majikan diri nya juga. Oleh sebab itu, Luna menghormati pada Alice seperti Luna menghormati pada Al.


"Iya, Kak." jawab Alice.


"Oh ya. Bagaimana dengan pendaftaran tadi?" tanya Luna pada Alice. Luna tadi memang ikut dengan Alice untuk menemani Alice mendaftar. Hanya saja, Luna tidak terlalu mendengar penjelasan dari pihak kampusnya. Karena Luna lebih sering memerhatikan suasana kampus, ia juga memerhatikan beberapa orang yg gerak-gerik nya sedikit mencurigakan baginya.


"Masih dalam proses, Kak." jawab Alice.


"Lalu, apa yang ia jelaskan pada Nona?" tanya Luna pada Alice.


"Ia hanya menjelaskan peraturan di kampus nya, Kak." jawab Alice.


Luna pun hanya mengangguk paham. Ia mengerti.


Tidak lama kemudian, sopir pun menjemput Alice dan Luna. Mereka berdua pun pulang dengan di antar oleh sopir tersebut.


...π˜›π˜° 𝘣𝘦 𝘀𝘰𝘯𝘡π˜ͺ𝘯𝘢𝘦π˜₯......


Hai kakak-kakak semuanya.


Author minta maaf ya karena semalam tidak update bab kelanjutan novel nya. πŸ™πŸ»


Sebagai gantinya, Author bakal up double untuk hari ini. Jadi ditunggu saja yaa Kak.


Jangan lupa dukungannya buat Author yaa.. biar Author semakin semangat buat nulisnya dan lebih panjang katanya dari bab ini.


Thank's All. πŸ™πŸ»πŸ’ž

__ADS_1


__ADS_2