
...~π―ππππ πΉπππ πππ~...
Jam 6 pagi..
Vena dan Alvaro pun bangun.
Sedangkan Vano tertidur di sofa ruang tamu.
"Mi, kok papi malah tidur nya di sini ya? Bukannya kemaren papi di ruang kerja?" tanya Alvaro.
"Kamu tanya mami, mana mami tahu. Mami mau mandi dulu. Mending kalau kamu mau tanya sama pelayan atau enggak lihat CCTV saja." jawab Vena lalu ke kamar mandi untuk mandi.
"Hm, aku juga mandi dulu saja deh. Setelah itu baru tanya nanti sama pelayan yang kerja nya malam." gumam Alvaro.
Hanya butuh 5 menit, Alvaro pun selesai mandi nya. Ia pun menghampiri terlebih dahulu pelayan yg kerja nya malam hingga pagi.
"Pelayan!!" ucap Alvaro.
"Eh? Iya Tuan muda, Ada apa?" tanya pelayan tersebut.
"Apa anda tahu kenapa papi saya tidur di sofa ruang tamu?" seru Alvaro.
"Ohh.. kemaren Tuan Vano awalnya di ruang kerja nya. Saya tidak tahu apa yang Tuan Vano lakukan di ruang kerja. Terus setelah beberapa jam, Tuan Vano tiba-tiba keluar dari ruangan nya dan berteriak. Saya yang mendengar teriakan Tuan Vano pun menghampiri Tuan Vano. Dan Tuan Vano minta foto seram itu di lepasin yang ada di ruang kerja nya." jawab pelayan tersebut.
"Foto seram?" tanya Alvaro.
"Iya Tuan, saya tidak tahu kenapa Tuan Vano minta lepasin. Padahal Tuan Vano yang meminta saya untuk memasang nya." jawab pelayan.
"Baiklah, Terima kasih ya!" ucap Alvaro.
"Iya Tuan." jawab pelayan tersebut lalu melanjutkan pekerjaan yg tertunda.
Sedangkan Alvaro memilih untuk menyiapkan tas dokter nya.
Setelah beberapa menit, Vena pun selesai mandi. Dan ia lihat suami nya, Vano, sudah bangun. Sepertinya ia sedang di kamar mandi.
__ADS_1
Vena pun duduk di kursi meja makan. Tak lama kemudian datanglah Vano. Vano pun ikut duduk, kemudian Alvaro pun juga datang.
Alvaro sudah dengan jas dokter nya, tak lupa tas nya juga.
Makanan pun di siapkan pelayan.
Mereka pun berbincang sebentar sambil menunggu makanan selesai.
"Pi, Kenapa mata papi seperti.. (Alvaro nahan tawa) MATA PANDA??" tanya Alvaro menekankan kata 'mata panda'.
"Loh, memang nya iya ya?" tanya Vano.
"Iya loh pi, coba lihat deh pakai cermin mami di sana!" ucap Alvaro.
Vano yg penasaran pun mencoba ke cermin dan di lihatnya.
Vano pun kembali dengan menahan rasa malu.
"Gimana pi?" tanya Alvaro.
"Berarti nanti papi harus lebih banyak tidur siang. Eh, tapi nanti kalau tidur siang nya kebanyakan, malam nya malah tidak bisa tidur." ucap Alvaro.
"Terus papi harus ngapain?" tanya Vano.
"Harus istirahat, tapi tidak boleh terlalu banyak." jawab Alvaro.
"Kenapa tidak boleh terlalu banyak??" tanya Vano.
"Karena jika terlalu banyak.. nanti papi tidak bisa tidur malam lagi." jawab Alvaro.
"Hahaha.. hahaha." tawa Vena.
"Mami kenapa tertawa?" tanya Alvaro.
"Ah.. tidak ada." elak Vena.
__ADS_1
"Perasaan tadi mami tertawa deh. Atau Alvaro yang halusinasi nih?" gumam Alvaro.
"Mungkin saja. Mending kamu coba tes di rumah sakit." jawab Vena.
"Sudah.. mending kita makan." ucap Vano.
"Iya pi.. Tapi makanan nya BELUM SIAP." jawab Alvaro.
"Eh iya juga ya!" ucap Vano.
"Papi amnesia ya?" tanya Alvaro.
"Sstt.. enggak kok." jawab Vano.
Tak lama kemudian pelayan pun datang menyajikan makanan.
"Ini makanan nya Tuan Vano, Nyonya Vena, dan Tuan Alvaro." ucap pelayan sambil menyajikan sarapan nya.
"Iya, Terima kasih." jawab Vano, Vena, dan Alvaro.
Mereka pun mulai sarapan pagi.
Setelah sarapan, Alvaro pun pamit untuk berangkat ke rumah Ayu untuk mengantar Alena ke sekolah. Setelah mengantarkan Alena ke sekolah, baru Alvaro berangkat ke rumah sakit.
(Cieee Alvaro sudah bucin ya, padahal baru calon istri. Belum lagi apa-apa nya. Persiapan belum siap, hehe.. tapi tidak apa-apa lah.? biar cerita nya beda dengan papa dan mama nya Alena). Batin author.
...~π©πππππππππ~...
Di bab ini masih dengan keluarga nya Alvaro ya kakak-kakak semuanya. Di bab selanjutnya baru seperti biasa ceritanya.
Jangan lupa like ya kakak-kakak semuanya....
Terima kasih banyak kakak-kakak semuanya.
Love you semuanyaaππ
__ADS_1