
...~π―ππππ πΉπππ πππ~...
Sampai tak terasa sekarang sudah sore.
Dokter dan suster lainnya pun keluar dari ruangan IGD.
"Bagaimana dok?" tanya Via.
"Beruntung nona membawa nona Ayu segera ke sini. Janin yang ada di kandungan nya berhasil di selamatkan." jawab dokter Yana.
"Syukurlah." ucap Via.
"Oh ya, sepertinya nona Ayu ada sedikit menghirup obat bius. Dan itu membuat salah satu janin nona Ayu lemah. Tapi nona tenang saja selama nona Ayu di rawat hari ini sampai lusa, maka janin di kandungan nya akan bertahan." ucap dokter Yana.
"Ah.. baiklah dok. Tolong tempatkan nona Ayu di ruangan VVIP ya dok." pinta Via.
"Baik nona." ucap dokter Yana.
"Oh ya dok.. kapan nona Ayu sadar nya??" tanya Via.
"Mungkin sekitar beberapa jam lagi nona. Oh ya, apa keluarga nona Ayu tidak datang?" ucap dokter Yana.
"Astaga, aku lupa untuk menghubungi keluarga nya dok hehe." ucap Via.
"Pantesan, ya sudah kamu buruan hubungi. Saya permisi dulu." ucap dokter Yana.
Dokter Yana pun pamit pergi karena dokter Yana ada pasien lainnya.
Tak lama kemudian, Ayu pun di tempatkan di ruangan VVIP.
Via pun menghubungi Al terlebih dahulu. Sebelum menelepon, Via menyiapkan mental, karena pastinya ia akan di marahi habis-habisan.
Setelah Via menghubungi Al, Via pun menghubungi kedua orang tua. Lalu kedua mertua Ayu alias kedua orang tua Al.
Tak lama kemudian, mereka pun datang.
"Ada apa Via? Kenapa Ayu bisa masuk ke rumah sakit??" tanya Ratu.
Belum lagi Via menjawab, Fiona pun menanyakan.
"Iya, bagaimana dengan keadaan Ayu? Apa dia baik-baik saja?" tambah Fiona.
"Mama, sabar dulu. Biarkan Via menjelaskan. Jika mama dan Ratu bicara terus, kapan Via nya menjawab?" ucap Kenzo.
"Ahh.. iya pa." ucap Fiona.
Via pun menjelaskan yg terjadi.
"Hm, di ruangan mana sekarang Ayu?" tanya Al.
"Dia di ruangan VVIP. Yang artinya ia di lantai 66. Di ruangan 66 juga." jawab Via.
Al pun langsung menyusul ke ruangan Ayu.
Mereka pun sama-sama ikut Al ke ruangan Ayu.
"Sayang.. kenapa kamu bisa begini?" lirih Al.
__ADS_1
Sedangkan kedua orang tua Ayu dan juga kedua orang tua Al diam. Mereka pun memutuskan untuk keluar agar Al tidak merasa canggung.
"Sayang.. sadarlah." ucap Al.
Tak lama kemudian, Via pun masuk ke dalam ruangan Ayu.
"Nona, sadarlah." lirih Via.
Mereka terus bicara hingga jari tangan Ayu bergerak.
Mereka berdua yg melihat itu pun memanggil dokter.
Dokter pun membicarakan sesuatu.
"Baiklah ia sudah sadar sekarang. Sebaiknya nona Ayu di rawat di rumah sakit sampai lusa agar janin tetap sehat." ucap dokter Yana.
"Baiklah dok." ucap Al.
Ayu pun membuka mata nya meskipun terasa berat. Mungkin efek obat bius.
"Via.. aku di mana sekarang?" tanya Ayu.
"Anda di rumah sakit nona." jawab Via.
"Sayang.. akhirnya kamu sadar juga." lirih Al.
Via pun memutuskan untuk keluar saja daripada menonton keromantisan mereka.
"Bagaimana Via?" tanya Ratu.
"Ahh.. iya juga ya. Biarkan saja lah mereka dulu." ucap Ratu.
πΈπΈπΈ
Di dalam ruangan.
Al pun menceritakan bagaimana ia bisa tahu kalau Ayu di rumah sakit. Ayu pun menganggukkan kepala nya saja.
"Apa yang kamu rasakan sayang?" tanya Al.
"Pusing." jawab Ayu.
"Kata dokter kalau kamu merasakan pusing itu wajar. Karena efek dari obat bius nya juga." ucap Al.
Ayu hanya mengangguk.
"Oh ya sayang.. kenapa kamu keluar dari rumah??" tanya Al.
"Ada urusan yang harus ku urus honey. Dan itu sudah selesai." jawab Ayu.
"Urusan apa sayang?" tanya Al.
Sedangkan Ayu tidak menjawab.
"Baiklah jika kamu belum mau mengatakan nya tidak apa-apa. Tapi aku harap suatu hari nanti kamu akan menjelaskan nya. Aku kembali ke kantor lagi ya." ucap Al.
Ayu hanya mengangguk. Ia tahu pekerjaan suami nya jadi tertunda karena diri nya. Ia merasa bersalah, seharusnya ia ingat jika saat hamil kekuatan dalam nya itu tak boleh di gunakan lebih dari 15 menit.
__ADS_1
Plak!
Ayu tanpa sadar menampar pipi nya sendiri cukup keras.
Al yg ingin keluar dari ruangan tidak jadi ketika ia mendengar suara tamparan cukup keras.
Ia melihat pipi Ayu langsung membiru setelah satu tamparan yg cukup keras.
"Sayang.. kamu kenapa? Kok nampar pipi kamu sendiri? Pipi kamu sampai biru loh sayang." ucap Al.
"Sudah.. aku tak apa-apa. Aku dulu sudah menerima lebih dari ini." ucap Ayu tersenyum.
"Tapi pipi kamu?" tanya Al.
"Sudah biarkan saja. Anggap saja itu hukuman bagiku karena sudah melupakan hal penting. Padahal sudah berbadan 7 ini." lirih Ayu.
"Tidak, pipi kamu harus di kompres dengan es batu." ucap Al.
"Enggak usah honey.. biarkan saja." bantah Ayu.
"Tidak! Aku tidak mau tahu entah jawaban kamu tidak atau iya, aku tetap akan mengompres pipi kamu!" ucap Al.
"Hm, iya-iya. Terserah kamu saja honey." ucap Ayu.
Al pun mengompres pipi Ayu dengan es batu. Saat Al mengompres, Ayu tidak sama sekali merasa kesakitan.
Apa ingatan Ayu sudah pulih?
"Sayang.. emangnya pipi kamu tidak sakit?" tanya Al.
"Tidak!" jawab Ayu.
"Tapi kalau tamparan itu di pipi aku, rasa nya sakit sekali loh. Bahkan tamparan biasa saja sakit banget loh kalau pas dikompres. Emangnya kamu kenapa sayang?" tanya Al.
"Aku gak papa. Aku mau istirahat dulu, rasanya kayak mau tidur mulu. Mungkin efek dari obat nya." ucap Ayu.
"Ya sudah.. aku kerja dari sini saja deh." ucap Al.
"Gak usah honey.. kalau kamu mau ke kantor pergilah." ucap Ayu.
"Tapi kamu? Tidak, aku akan kerja dari sini mulai besok. Lagipula ini sudah sore, sudah pulang tadi." bantah Al.
Ayu pun mengangguk.
Ayu pun perlahan mulai tidur.
"Sayang.. kamu itu sebenarnya kenapa sih? Tiba-tiba nampar diri sendiri sampai sekenceng itu? Aku saja sampai ngilu.. pipi kanan kamu sampai biru gini. Apa yang harus ku katakan pada papa dan mama kalau melihat keadaan kamu seperti ini? Bahkan saat aku bertanya, kamu hanya menjawab tidak apa-apa. Apa ingatan masa lalu kamu sudah kembali? Memang nya seberapa kejam nya masa lalu kamu sih?" gumam Al.
Al pun mencoba mencari masa lalu Ayu. Ia terus mencoba hingga akhirnya ia menemukan nya.
"Apaa?? Segitu kejam nya kah?" gumam Al.
...~π©πππππππππ~...
Jangan lupa like nya ya.
Terima kasih.
__ADS_1