
Hehe.. beberapa bab lagi akan tamat.
Sekitar dua atau tiga bab gitu ya!
...~𝙷𝙰𝙿𝙿𝚈 𝚁𝙴𝙰𝙳𝙸𝙽𝙶~...
“Kak.. kakak tahu gak?” tanya Dira kepada Dina kakak kembarannya.
“Tahu apa?” tanya Dina balik kepada Dira adik kembarannya dengan rasa penasaran.
“Aku tadi... ” ucap Dira.
“Dira.. ayo!” potong Nico.
“Eh.. ya, kak Nico. Kak Dina, aku pergi dulu ya! Nanti aku ceritain semua di rumah!” sahut Dira.
“Iya, Dira!” jawab Dina.
Dira dan juga Nico pun pergi meninggalkan Dina di sana.
Sedangkan Naufal yg tadi sedang membayar semua makanan tadi dengan black cardnya pun sudah selesai dan menghampiri Dina yg sedang melihat air mancur sendirian.
Naufal pun mengajak Dina untuk pulang. Terlebih lagi Naufal melihat Dina menguap terus saat melihat air mancur tersebut, terlebih lagi melihat air mancur tersebut sendirian.
Dina pun menerima ajakan Naufal, karena dirinya pun juga mengantuk.
Mereka berdua pun keluar dari restoran tersebut.
Naufal pun mengantar Dina ke rumah Dina.
Perjalanan restoran tadi menuju rumah Dina sangatlah jauh. Jadi, Dina yg naik di mobil pun mulai mengantuk terlebih lagi tidak ada yg mengajaknya berbincang. Hal tersebut membuatnya bosan dan ingin tidur. Jika Dina merasa bosan, maka Dina akan mengantuk dan tidur.
Naufal yg melihat Dina yg duduk di sebelahnya pun tersenyum ketika melihat Dina sekali-kali menguap dan hampir memejamkan mata namun Dina membukanya kembali.
“Dina.. kalau mau tidur, tidur aja gapapa. Nanti kalau udah sampai, aku bangunin kok.” ujar Naufal tersenyum kepada Dina.
Dina pun hanya mengangguk karena rasa kantuk nya mulai menyerang kembali. Dina yg tidak tahan dengan rasa kantuk nya yg terus menyerang dirinya pun mulai tertidur.
Naufal yg melihat Dina tertidur pun langsung menghentikan mobilnya di tepi jalan. Naufal pun mengelus puncuk kepala Dina dengan lembut.
Naufal pun men ci um kening Dina dengan lembut. Hal tersebut sama sekali tidak menganggu aktivitas tidur Dina karena Dina tidur terlalu nyenyak.
Setelah selesai, Naufal pun mulai menyalakan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Dina.
Perjalanan pun sudah mulai sepi karena hari sudah malam. Tidak banyak orang keluar pada saat malam hari, jika ada pasti tidak banyak kecuali jika ada acara besar dan terhormat di malam hari.
__ADS_1
Cuaca pun mulai terasa sejuk. Terlebih lagi Naufal membuka jendela. Naufal pun menoleh ke arah Dina. Ia takut jika Dina merasa kedinginan. Naufal pun berpikir sejenak apa yg ia lakukan agar Dina tidak kedinginan.
Naufal pun akhirnya memiliki ide untuk melakukan apa agar Dina tidak lagi kedinginan. Naufal pun menaikkan kaca jendela sampai atas, namun tidak sepenuhnya. Jadi, angin sejuk di malam hari tetap masuk ke dalam mobilnya, namun tidak terlalu banyak angin sejuk yg masuk karena celah masuknya yg terlalu kecil.
Sebenarnya mobil Naufal ada AC-nya. Hanya saja, Naufal malas menggunakan AC-nya.
Karena jika menyalakan AC di mobilnya, maka bensin akan cepat habis. Itu menurutnya. Daerah tempat tinggal Dina sangat sulit untuk mencari tempat jual bensin, terlebih lagi bensin nya tinggal setengah.
Jadi, Naufal berusaha untuk menghemat bensinnya.
Setelah perjalanan cukup jauh, akhirnya mereka berdua pun sampai di rumah Dina.
Naufal pun membangunkan Dina.
Dina pun mulai bangun. Mereka berdua pun masuk ke rumah Dina.
Karena hari sudah terlalu malam dan sepertinya akan agak sulit untuk berkendara, Naufal pun memutuskan untuk menginap di rumah Dina setelah mendapatkan izin dari orangtuanya dan orangtua Dina.
⚘⚘⚘
Sementara di Dira dan juga Nico.
Mereka berdua terlihat sangat bersemangat sekali. Berbeda dengan Naufal dan juga Dina.
Restoran ini pun tampak sudah mulai sepi, terlebih lagi hari sudah malam.
Setelah menemukannya, mereka berdua pun mulai duduk dan berbincang-bincang. Mulai dari bisnis dan sebagainya.
Beberapa menit kemudian.
Makanan dan minuman yg mereka pesan pun sudah datang. Mereka berdua pun mulai menikmati makanan yg mereka pesan dan mulai menyantapnya satu per satu.
Rasa yg begitu enak di lidah. Rasa makanan inilah yg membuat para wisatawan banyak memilih makan di restoran ini. Selain itu, restoran ini dilayani dengan ramah dan sopan. Siapa yg tidak ingin dilayani secara ramah dan sopan meski tidak orang kalangan atas?
Semua orang berhak diperlakukan dengan baik.
Setelah selesai menyantap makanan yg begitu me ng go da di lidah, mereka pun mulai meminum minuman mereka.
“Dira.” panggil Nico kepada Dira yg sedang menyeruput minumannya.
“Iya, Kak!” sahut Dira sambil menyeruput minumannya.
“Yuk Menikah!” ajak Nico kepada Dira.
“Apa? Ohokk....” ucap Dira terkejut dan tersedak karena ia mendengarkan ucapan Nico sambil menyeruput minumannya. Jadi, jika sekali terkejut maka jadilah tersedak.
__ADS_1
“Yuk menikah!” ucap Nico sekali lagi.
“Kak.. kamu tidak berbohong ataupun bercanda bukan?” tanya Dira kepada Kak Nico sambil menatap Kak Nico.
“Tidak!” jawab Nico membuat Dira terkejut lalu terdiam.
Suasana di antara mereka pun mulai hening.
“Serius?” tanya Dira lagi kepada Nico sambil menatap wajah Nico.
“Iyaa.. ” jawab Nico sambil menganggukkan kepalanya.
Suasana pun mulai hening kembali di antara mereka.
Piring kotor dan gelas mereka pun diambil oleh pelayan restoran ini.
Pelayan tersebut pun kembali dan menghitung semua total makanan dan minuman yg mereka pesan.
“Apa jawaban mu?” tanya Nico kepada Dira yg sedari tadi hanya diam.
“Aku...” ucap Dira terpotong.
“Maaf Tuan, Nona. Ini total makanan dan minuman kalian.” potong pelayan tersebut dengan wajah tampang tak berdosa. Seolah-olah dirinya tidak sama sekali menganggu pembicaraan antara Dira dan juga Nico.
“Iya, pak.” jawab Nico. Sedangkan Dira hanya mengigit bi bir bawahnya dengan gugup, karena dirinya terlalu gugup untuk menyatakan perasaannya kepada Nico dan menerima lamaran untuk menikah dengan Nico.
Nico pun membaca satu per satu makanan. Dan dilihatnya lah total semuanya. Nico yg melihat total makanan semua pun segera mengambil dompet miliknya yg berada di saku celananya.
Dirinya pun mengambil dan mengeluarkan dompet tersebut dari sakunya. Ia pun mulai mencari black card miliknya di dompet miliknya tersebut. Setelah menemukannya, Nico pun memberikannya kepada pelayan tersebut. Pelayan tersebut pun kembali untuk mengosok black card tersebut untuk memastikan dan Nico membayar dengan black cardnya. Karena pelayan itu masih baru dan tidak terlalu mengenal yg namanya black card, jadi dirinya meminta bantuan temannya.
Balik lagi dengan Nico dan juga Dira.
“Bagaimana, Dira? Apa jawaban kamu? Aku akan menerima apapun jawaban dari kamu, Dira.” tanya Nico kepada Dira.
“Aku......
...𝚃𝙾 𝙱𝙴 𝙲𝙾𝙽𝚃𝙸𝙽𝚄𝙴𝙳......
hufftt.
Kira-kira bakalan di terima gak ya? Author pun juga penasaran wkwk. Bikin greget aja nih Dira sama Nico.
Jangan lupa dukungannya yaa..
Thank's All. 🙏🏻💞
__ADS_1