
Udah sampai pertengahan nih, π.
...~ππ’π±π±πΊ ππ¦π’π₯πͺπ―π¨~...
βββ
Sementara di tempat Adrian.
Adrian dan juga anak buahnya diam-diam untuk memergoki suruhan Adrian. Entah apa yg dilakukan suruhan Adrian.
Mereka berdua melangkah secara diam-diam dan juga hati-hati, karena jalan ini banyak sampahnya membuat mereka sedikit sulit untuk berjalan pelan-pelan. Terlebih lagi, di jalan ini sepi. Entah kenapa suruhan Adrian yg bernama Dino malah memilih untuk berjalan jalanan yg sepi ini.
Apalagi ini jalan menuju ke rumah kosong. Sebenarnya apa sih yg ingin dilakukannya? Adrian dan juga anak buahnya itu pun bingung. Tapi mereka tetap mengikuti Dino.
Tiba-tiba secara tidak sengaja, anak buahnya Adrian yg mengikuti Adrian dari tadi menginjak botol plastik yg memang berserakan di sana.
(Suara ketika anak buahnya Adrian menginjak sampah botol plastik).
Sontak Adrian langsung melihat ke arah anak buahnya yg sedang gugup.
Lalu, Dino yg dari jauh mendengarnya pun ikut menoleh ke arah belakang. Ia terkejut ketika melihat Adrian dan anak buahnya itu.
Bagaimana bisa Dino mendengarnya? Karena jalanan ini sangat sepi, jadi sejauh apapun suara nya ataupun kecil, maka akan terdengar oleh orang yg berada di sana.
"Bos?" gumam Dino gugup lalu mulai berjalan dengan langkah cepat, tapi tetap hati-hati karena bisa saja ia menginjak sampah plastik seperti anak buah Adrian yg mengikuti Adrian dan juga dirinya dari tadi.
Dino pun berjalan dengan langkah cepat sembari menggerutu dirinya.
"Bagaimana bisa kamu, Dino? Dari tadi mereka berdua mengikutimu dan kamu sendiri tidak menyadari nya! B*d*h kamu Dino!!!" gerutunya.
Dino pun berjalan terus hingga sampai ke tujuannya.
Sedangkan Adrian sibuk mengomel kepada anak buahnya hanya karena tidak sengaja menginjakkan sampah plastik itu. Bahkan Adrian sampai menendang sampah plastik itu hingga entah ke arah mana.
Namun, siapa sangka jika sampah plastik yg di tendang oleh Adrian sendiri malah ke lempar kembali ke arah Adrian.
(Suara dimana sampah plastik yg di tendang Adrian malah balik ke arah Adrian kembali).
"Astaga!!" ucap Adrian kesal karena sampah plastik yg ia tentang justru malah balik ke arah nya. Bahkan ke wajahnya, beruntung sampah plastik itu tidak mengenai lumpur. Adrian tadi sengaja menendang sampah plastik tersebut ke arah lumpur sana karena ia kesal. Tapi untung saja, sampah plastik tersebut sama sekali tidak mengenai lumpur itu sedikit pun.
Sedangkan anak buahnya yg tadi di omelin oleh Adrian, justru malah tertawa.
Adrian semakin kesal. Ia pun berjalan dengan langkah lambat sembari mencari ke mana Dino pergi. Sayangnya, mereka kehilangan jejak Dino.
__ADS_1
"Ahh, S**l!!" ucap Adrian kesal. Sudah kesal karena sampah plastik nya kena wajahnya, lalu di tertawakan dan kini malah kehilangan jejak Dino.
Mereka berdua pun mau tak mau harus kembali. Karena sudah pasti mereka berdua akan tersesat di sana jika kelamaan. Beruntung mereka berdua masih ingat betul dari mana dan ke mana tadi mereka jalan.
Mereka berdua pun pulang dengan rasa kecewa.
Mungkin beberapa di antara kalian akan bertanya :
'mengapa tidak melacak ponsel Dino?'
Jawabannya :
Karena Dino mematikan ponselnya. Jadi tidak bisa dilacak, kalaupun bisa dilacak itu pun di lokasi yg di mana Dino mematikan ponselnya.
βββ
Sementara di Alberta. (nah masih ingat dengan Alberta? Alberta adalah anak ke bungsu ya, kalau kalian lupa silahkan baca kembali bab 77 di season 1. Terima kasih).
Alberta memilih untuk tidak kuliah. Loh, mengapa? Alberta merasa ia sudah cukup pintar sehingga ia tidak mau kuliah, karena Alberta lebih tertarik soal percintaan dibandingkan soal pelajaran. Memang sih, Alberta memang lebih pintar dibandingkan yg lainnya. Jadi, Alberta lebih memilih pekerjaan hacker. Karena Alberta lebih pintar di bidang IT. Sayangnya, Alberta sendiri tidak mau kuliah, jadi kedua orangtua Alberta hanya bisa mendukung apa yg ingin dilakukan Alberta asalkan tidak membahayakan.
Impian Alberta adalah nikah muda. Di usia nya yg sangat masih tergolong muda, Alberta lebih ingin nikah muda. Alberta sendiri sudah menyukai seseorang yg pekerjaan nya sama seperti dirinya.
Namun sayangnya, pria itu sangat lah tidak peka dengan perasaan wanita. Pria itu memang sangat ramah pada semua orang baik wanita maupun pria. Oleh sebab itulah mengapa Alberta mudah jatuh cinta padanya.
Alberta hanya menjadi hacker, tidak dengan mafia.
Di kelompok Alberta beranggotakan lima belas orang (15). Tiga wanita dan dua belas pria. Tiga wanita itu juga termasuk Alberta. Dan Alberta sendiri jatuh cinta pada pria yg bernama Albert. Nama yg mirip dengan nama nya sendiri. Bukan kembaran nya, tidak ada hubungan darah, tidak ada hubungan keluarga maupun kerabat.
Hanya sekedar teman.
"Tuan Albert?" panggil Alberta pada Albert dengan sopan.
"Iya, Nona?" sahut Albert yg masih sibuk dengan komputer nya tanpa menoleh ke arah Alberta yg memanggil dirinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Albert?" tanya Alberta pada Albert.
"Hem.. tidak!" jawab Albert.
Jawaban dari Albert membuat Alberta kecewa. Tapi, Alberta akan berusaha untuk mendapatkan cinta dari Tuan Albert selama Tuan Albert masih lajang. Dan memang benar jika Tuan Albert sekarang masih lajang.
Tapi jika Tuan Albert sudah mempunyai pasangan.. Alberta akan berat hati untuk menerima hal itu dan memilih mundur. Alberta tidak mau menjadi orang ke tiga.
Tingkat tinggi dalam cinta adalah.. membiarkan ia dengan orang lain. Ya, tingkat tinggi yg tersulit. Tidak semua bisa melakukan itu.
__ADS_1
"Hem.. baiklah." jawab Alberta dengan perasaan kecewa lalu mulai ingin pergi namun..
"Nona Alberta." panggil seseorang pada Alberta.
"Tuan Alberto?" sahut Alberta kaget. Alberto adalah kembaran dari Tuan Albert.
"Kemarilah!" ucap Alberto pada Alberta.
"Saya?" ucap Alberta sambil menunjuk dirinya.
"Iya. Jika bukan kamu, lalu siapa lagi yang bernama Alberta?" tanya Alberto.
"Tidak, hanya saya." jawab Alberta gugup lalu mulai berjalan ke arah Alberto.
Alberta pun mulai melangkah ke tempat Alberto.
"Ada apa ya, Tuan?" tanya Alberta pada Alberto.
"Ini, saya ada tugas. Tolong bantu." jawab Alberto.
"Baiklah, Tuan." sahut Alberta lalu mulai membantu Alberto dalam mengerjakan tugas Tuan Alberto. Sedangkan Alberto juga ikut mengerjakan tugas miliknya, sambil memikirkan.
"Alberta.. sebenarnya kamu jatuh cinta pada siapa? Albert atau saya?" batin Alberto.
Tingkah Alberta selama ini pada Alberto membuat Alberto bingung. Alberto memang pernah mendengar percakapan antara Alberta dan juga temannya jika Alberta menyukai Albert. Tapi entah kenapa Alberto merasa jika Alberta bukan menyukai Albert melainkan padanya?
Sejujurnya saja, Alberto bukan iri pada Albert adik kembarnya. Tapi Alberto merasakan jika Alberta jatuh cinta padanya. Alberto tidak tahu apa firasat nya itu benar apa tidak?
"Sebenarnya, kamu jatuh cinta pada siapa Alberta?" batin Alberto.
"Ketika kamu bersama ku, kamu akan merasa gugup dan sebagainya. Jika kamu bersama Albert, kamu merasa biasa-biasa saja. Apa kamu mungkin salah orang? Aku mungkin memang bukan ahli psikologi ataupun apapun itu." batin Alberto bingung.
...ππ° π£π¦ π€π°π―π΅πͺπ―πΆπ¦π₯......
Hayo.. menurut kalian Alberta jatuh cinta sama siapa nih? Alberto atau Albert?
Jangan lupa dukungan nya buat Author ya. Naikkan views Author yok hehe.
Kok kayaknya makin sepi ya? Pada nabung bab?
It's okay kalau lagi nabung bab.
Di bab selanjutnya, Author akan kasih pengumuman. Di baca yaa!
__ADS_1
Thank's All. ππ»π