
...~π―ππππ πΉπππ πππ~...
πΈπΈπΈ
Di lift...
Karena Al sudah meredakan emosi nya, ia pun tidak menyadari kalau Ayu sudah menarik nya ke dalam lift.
Saat ia emosi, ia tidak menyadari. Tapi ia sudah meredakan emosi nya kali ini, berarti mungkin saja ia sudah menyadari nya.
"Bee, ini kita di dalam lift? Lalu tas-tas kita di mana?" tanya Al.
"Ini honey.." jawab Ayu sambil memberikan tas Al kepada Al.
"Ohh oke.." ucap Al sambil menerima tas diri nya sendiri.
Ayu memberikan tas tersebut dengan menggunakan tangan kanan. Karena tangan kiri nya tadi di cakar Al, bahkan Ayu tidak menyangka kalau kuku Al itu sangat lah tajam.
Jadi saat Ayu memberikan tas Al pada Al, tangan kiri nya ia letakkan ke belakang. Al yg melihat itu menaruh curiga tapi Ayu tidak memedulikan nya.
Untung saja Ayu tadi sudah mengikat tangan kiri nya itu dengan dasi yg ada di tas nya sendiri. Tapi Ayu belum lihat perkembangan nya, apa darah nya sudah berhenti? Ayu sebenarnya dari tadi ingin melihat nya, tetapi melihat Al sudah tidak emosi lagi ia tidak jadi.
Dan akhirnya lift pun sampai di lantai terbawah, dan Al pun menarik tangan kiri Ayu yg dari awal nya ke belakang.
"Ini kenapa bee?" tanya Al.
"Hmm..." jawab Ayu ragu.
Apa Ayu harus mengatakan sebenarnya? Tapi.. apa nanti Al akan merasa bersalah karena sudah melampiaskan emosi nya kepada Ayu yg tidak bersalah?
"Kenapa?" tanya Al sekali lagi.
"Hmm..." jawab Ayu lagi.
Karena tidak mendapat jawaban nya. Dengan kesal Al pun menarik tangan Ayu dengan kasar keluar dari lift.
Al tidak sadar kalau ia salah menarik tangan Ayu. Harus nya tangan kanan, jadi tangan kiri yg di tarik Al.
"Aw.." ringis pelan Ayu tapi tidak terdengar jelas Al.
"Apa yang kamu katakan bee?" tanya Al.
"Tidak.. tidak apa-apa.." jawab Ayu berbohong.
Mereka berdua pun pergi ke rumah sakit.
"Loh kok pergi nya ke rumah sakit sih honey?" protes Ayu.
Al hanya mengabaikan nya saja.
__ADS_1
"Honey? Kenapa..." ucap Ayu terpotong karena Al sudah terlebih dahulu mencium bibir nya.
"Honey!" protes Ayu karena di abaikan.
"Ada apa bee?" tanya Al berusaha seperti biasa.
"Ini jalan nya kok ke rumah sakit?" tanya Ayu berusaha sabar.
"Hmm.. ya kan mau bawa kamu ke rumah sakit.." jawab Al.
"Hah! emang nya aku sakit apaan?" ucap Ayu.
Al tidak menjawab nya karena sudah sampai di rumah sakit.
Al pu memarkirkan mobil nya di parkiran mobil lalu keluar sambil menarik tangan kanan Ayu.
Mereka pun jalan berdua-an di rumah sakit membuat dokter-dokter, Suster-suster serta pasien yang di rumah sakit iri.
Mungkin yg ada di pikiran mereka kalau Ayu dan Al adalah pasangan yg romantis.
Tapi sih bagus juga kalau mereka mikir nya begitu-an. Dari pada mikir nya aneh-aneh.
Kayak gimana gitu ya, author bingung jelasin ya hihihi.. ya sudah kita lanjut ke cerita nya saja.
Al dan Ayu pun menghampiri dokter Alvaro sahabat nya itu.
"Varoo!!" pekik Al di dalam ruangan dokter Alvaro.
"Jangan bilang kalau ini istri kamu ya?" tambah Dokter Alvaro.
"Iya!" jawab Al singkat.
"Hmm.. bukan kah kalian kemaren barusan menikah ya? Kok sudah ke rumah sakit saja? Apa kamu sudah mau punya anak, Al??" tanya dokter Alvaro.
"Malam pertama saja harus di tunda!" jawab Al kesal karena dari tadi dokter Alvaro bukan nya tanya keluhan nya apa malah basa-basi.
"Hihihihi.. kasihan.." ejek dokter Alvaro.
"Sudah-sudah!! Ini kita ke rumah sakit buat apa honey!!!" pekik Ayu kesal.
"Ahh istri kamu galak kali, Al! Apa kamu tidak bisa mencari istri lain?" sindir dokter Alvaro.
"Kamu mikir aku ini tidak bisa cari istri apa!!" ucap Al emosi.
"Ah tahu gini mending gak usah ke rumah sakit deh honey!! Lagian emang aku sakit apaan??!" protes Ayu.
Ucapan Ayu tidak berhasil membuat mereka berhenti berdebat. Justru makin berdebat.
Mereka terus berdebat hingga..
__ADS_1
"HONEY!! DOKTER ALVARO!!" teriak Ayu membuat Al dan dokter Alvaro berhenti berdebat.
Teriakan Ayu berhasil membuat rumah sakit hampir roboh. Waduh kayak gempa bumi saja ya..
Bahkan dokter-dokter dan suster-suster yg ada di rumah sakit jadi berlarian karena di pikir nya ada gempa bumi.
Ya walaupun gempa bumi hanya 5 detik saja. Tapi itu berhasil membuat semua orang ketakutan.
Padahal itu bukan tujuan nya Ayu, tapi tujuan Ayu adalah membuat Al dan dokter Alvaro berhenti berdebat.
Al dan Dokter Alvaro yg mendengar teriakan Ayu menutup kedua telinga nya rapat-rapat dengan kedua tangan mereka berdua.
"Ada keluhan apa Tuan Al yang terhormat?" ucap dokter Alvaro dengan ramah palsu nya karena tidak ingin mendengar teriakan Ayu yg berhasil membuat rumah sakit bergetar.
"Tolong dong dok.. kalau mau sapa pasien nya ramah nya yang tulus jangan palsu dong.." jawab Ayu kesal.
Sedangkan Al yg mendengar nya hanya menahan tertawa.
Dokter Alvaro pun menatap tajam pada Al yg menahan tawa nya.
"Ya ya! Selamat datang Tuan dan Nyonya Al yang terhormat.. apa ada yang bisa saya bantu?" ucap dokter Alvaro berusaha ramah setulus mungkin.
"Ini.." ucap Al sambil melepaskan dasi yg di ikat Ayu di pergelangan tangan kiri Ayu.
"Hah?" tanya dokter Alvaro sekali lagi.
"Iniiii!!" ucap Al sambil memperlihatkan.
"Cakaran? Apa ini cakaran kucing?" tanya dokter Alvaro sambil menatap bekas cakaran di tangan Ayu.
"Bukan!" jawab Ayu.
"Lalu kalau buka cakaran kucing, apa dong?" tanya dokter Alvaro.
"Hmm.." jawab Ayu ragu.
"Sudah-sudah!! Aku ke sini hanya meminta krim yang bisa mengobati itu!! Dan aku ingin bertanya apaa bekas cakaran nya dalam tidaakkk!!" ucap Al kesal.
"Kalau di lihat-lihat ya tidak dalam ini hanya bekas cakaran luar saja, jadi ini krim nya Tuan Al yang terhormat.." cibir dokter Alvaro sambil memberikan krim.
"Nah ini dia.. ayo bee kita pulang!" ucap Al.
"Ya honey!" jawab Ayu kesal.
Mereka berdua pun meninggalkan dokter Alvaro yg belum berbicara. Entah apa yg ingin di bicarakan dokter Alvaro.
Ayu dan Al pun pulang ke apartemen Al untuk sementara waktu. Sedangkan si kembar masih di mansion utama keluarga Stanly agar tidak menganggu aktivitas pasangan suami istri baru ini.
...~π©πππππππππ~...
__ADS_1
Maaf ya author khusus hari ini dan kemaren hanya up satu saja.. ππ»ππ»
Jangan lupa like nya yaa..