
Setelah neo dipindahkan pada kelas lain, ia jarang sekali mencari masalah dengan reza, tapi tiap kali bertemu yuki, tetap saja dia menggodanya. Namun yuki dan temannya tidak memberitahukannya pada reza, karna reza pasti tidak terima.
Sepulang sekolah, reza dan dua sahabatnya belum pulang karna harus membantu guru menyiapkan kebutuhan ujian semester.
Melihat yuki beserta ketiga temannya pulang tanpa pengawasan reza, neo pun mulai berpikir untuk melakukan kenakalan.
Neo beserta dua teman barunya mengiringi yuki dan yang lainnya dari belakang ketika mereka berjalan sembari menunggu taxi.
"Haii yuki, aku baru tau nama kamu, dan baru mengenalmu hari ini, tapi aku sangat menyukaimu". Neo mencolek sedikit dagu yuki.
Lesty dan genta langsung menepis tangan neo dan membekuknya dengan cepat.
"Hei anak pindahan! Jangan mentang lo kakak kelas kita, terus kita gak berani gitu sama lo! Jangan kurang ajar ya!". Bentak genta sembari mencekal kuat tangan neo.
"Gila,, tenaga dua cewek ini lumayan kuat!".
"Hei, kalian bantuin gue dong!". Ujar neo pada kedua temannya.
"Hei kalian, kalo berani nolongin cecunguk ini, gue bakal teriakin maling!". Ujar lesty bernada tinggi.
Saat taxi datang, lesty dan genta baru melepaskan tangan neo, lalu mereka langsung naik taxi.
Neo langsung berdiri tegak. "Kurang ajar dua bocah itu, dia belum tau siapa gue! Kayaknya gue mesti menunjukan sisi gelap gue!". Gumam neo dengan tatapan tajam.
"Lo gak apa-apa?". Ujar kedua teman baru neo itu.
"Tangan gue sakit bego! Kalian kok gak berani sih sama cewek amatiran itu?! Kalo aja tangan gue gak dikonci sama mereka, bakal gue tonjok mereka satu-satu". Pungkas neo geram.
"Maaf neo, bukannya kita gak mau bantuin, tapi keempat cewek itu temannya bos reza, kita sama sekali gak berani dengan reza". Sahut mereka bersamaan.
"Apaan sih? Dia manusia kan? Kenapa mesti takut! Emangnya dia siapa sih?!!"
"Dia anak orang paling kaya dikota ini, dan sekolah ini sekolah yang paling besar dan terakreditasi atas bantuan orang tuanya yang miliki donasi 85 persen.
Reza juga sangat berpengaruh dosekolah ini, setelah dia masuk disini, sekolah ini makin maju dan berkembang karna arahannya dalam memimpin osis dan basket, kita selalu menang dalam perlombaan apapun".
"Benar, dia juga peduli sesama, tidak sombong, dan punya banyak teman, tak heran jika fans cewek nya sangat banyak, tak hanya itu, dia juga sangat pandai dalam berkelahi karna dia mengikuti taekwondo diluar sekolah".
Seketika neo langsung kaget mendengar penjelasan mereka, nyalinya mulai menciut.
"Baiklah, sekarang gue ulur dulu waktu untuk membuatnya jatuh, tapi tunggu, suatu saat gue tetap akan memperhitungkan perbuatannya yang sok jago itu, gue harus menyiapkan sesuatu". Batin neo sembari menyeringai tipis.
"Cuma gitu doang?!! Sama sekali gak guna! Sekarang kalian pergi deh! Gue udah gak mau lagi berteman dengan kalian". Ujar neo dengan emosi.
"Apaan sih lo!! Biasa aja dong, emangnya kita ngajak ribut apa? Lagian kita juga gak sudi berteman sama orang yang arogan kayak lo!! Asal lo tau, lo gak ada secuil upil pun dibandingkan bos reza! Nyesel gue udah temenan 6 jam sama lo! Dasar manusia laknat gak guna."
Kedua orang itu pergi meninggalkan neo dipinggir jalan.
Neo masih nampak kesal, ia menggepalkan kedua tangannya dengan mata terpejam sembari menggertakan gigi.
_
Setelah kerjaannya selesai, reza beserta kedua sahabatnya hendak pulang, namun reza menyempatkan untuk menghubungi yuki.
"Haii yuki, apa kamu sudah sampai dirumah?"
"Iya kak, sudah agak lama, bagaimana dengan kalian? Apa sudah pulang?"
"Kami baru saja mau pulang".
"Oh iya kak, bisakah sore ini kita bertemu? Ada mata pelajaran yang tidak aku mengerti, aku ingin membahasnya sama kakak"
__ADS_1
"Baiklah, setelah aku mengantar dua mahluk ini, aku langsung kerumah kamu ya,, dahh yuki."
Yuki belum sempat menjawab, namun reza sudah menutup telponnya.
"Bos, kita ikut ya, nimbrung dikit gak apa kan?". Ujar boby.
"Eh curut, mending lo main comberan aja sana, ngapain nguntit bos reza!". Timpal danu.
"Kalian berdua mending pulang, gue gak mau moment gue sama yuki terganggu!". Ketus reza cuek.
"Elah bos! Pelit amat!
Setelah mengantar boby dan danu pulang, reza melanjutkan pergi kerumah yuki.
Mereka berdua belajar diteras rumah yuki, banyak pertanyaan dari yuki yang dia belum ketahui.
Reza menjelaskannya dengan rinci dan diluar kepala.
Penjelasan reza sangat mudah dimengerti oleh yuki, reza bagaikan guru privat bagi yuki, karna hanya reza lah tempat yuki bertanya tentang pelajaran yang sulit.
_
Satu minggu kemudian, mereka malaksanakan ujian semester pertama.
Hanya dalam 15 menit, reza sudah menyelesaikan soal sebanyak 50 pertanyaan itu.
Ia pun langsung mengumpulkanya dimeja guru.
Guru pengawas itu tersenyum santai, karna itu sudah biasa terjadi, ujian semester tahun lalu reza bisa menyelesaikan soal dalam waktu 10 menit saja, karna otaknya sudah tidak diragukan lagi.
Reza duduk santai dibangku depan kelas yuki untuk menunggunya keluar kelas.
Saat yuki dan temanya keluar, reza menarik tangan yuki membuat yuki kaget dan menarik kembali tangannya..
Reza mendekat pada yuki dan meraih kembali tangannya.
"Yuki, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat ketakutan saat aku menyentuh tanganmu? Kamu terlihat seperti orang yang sedang trauma.". Ujar reza menatap yuki yang tengah tertunduk.
Yuki hanya diam tidak berani memandang wajah reza. Ketiga temannya saling tatap dan mengedipkan mata.
"Kak reza terlalu curigaan, yuki baik-baik saja kok, dia kalau kaget memang sering kayak gitu". Pungkas lesty menjawab pertanyaan reza.
"Benarkah? Baguslah kalo gitu. Yuki, ayo ikut aku sebentar". Reza menarik tangan yuki mengajaknya menuju mobilnya.
Yuki sesekali melihat ketiga temannya, nampak mereka semua mengangguk seakan menyuruh yuki mengikuti reza.
Saat dalam mobil, yuki menatap reza yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.
"Kak reza, kamu mau ajak aku kemana? Ini masih jam sekolah loh". Ujar yuki.
"Tenang aja". Jawab reza singkat.
Reza mengajak yuki ke kafe yang lumayan jauh dari sekolahnya, ia memesan ruang piv untuk mereka berdua.
Ini pertama kalianya bagi yuki makan ditempat yang menurutnya sangat mewah. Ia terlihat bingung, matanya tak henti melirik seisi kafe tersebut.
"Kak, apakah ini tidak berlebihan, aku gak pernah makan ditempat seperti ini". Ucap yuki.
"Ini tempat yang biasa, nanti aku akan mengajak kamu ketempat yang lebih bagus dari sini. Oh iya, aku sudah memesan makanan sebelum kita kesini"
"Kok bisa? ". Batin yuki.
__ADS_1
Perlahan, reza menggenggam tangan yuki.
"Yuki, kita kenal sudah enam bulan ya? Gak kerasa. Yuki, baru kali ini aku menemukan cewek seperti kamu, kamu sangat berbeda dari cewek yang kebanyakan bar-bar. Kamu kalem, baik, berhati lembut, cara bicaramu juga begitu sopan, itu yang membuatku tertarik sama kamu.
Kuharap kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku, karna selama ini aku menyimpan perasaan untukmu.
Yuki, aku mencintaimu, dan aku ingin kau menjadi pacarku".
Yuki sontak bingung, ini baru pertama kali mendengar seorang pria menyatakan cinta padanya.
"Kak, jujur, sebelumnya aku belum pernah pacaran, aku juga masih kelas X, aku tidak mengerti dengan masalah yang seperti ini.
Tapi... Hatiku juga sangat menyukai kakak dari awal bertemu, aku tidak mengerti apakah itu cinta atau hanya kagum, yang jelas aku juga menyukai kakak". Jawab yuki tersenyum.
"Bukan hanya kamu, aku juga baru pertama kali pacaran, kita cukup saling mencintai, saling percaya dan saling mengerti dan berbagi. Yuki, aku tanya sekali lagi, apakah kamu mau menjadi pacarku?".
Yuki tertunduk. "Ya, aku.. Mau". Jawabnya dengan mata terpejam.
Reza tersenyum semeringah begitu bahagia merasakan cinta pertamanya.
Begitu juga dengan yuki.
Reza melingkarkan cincin ditangan yuki yang sudah ia siapkan seminggu yang lalu sebagai tanda bahwa yuki adalah pacar pangeran sekolah.
Yuki sempat menolak, namun ia pasrah saat reza memaksanya.
Setelah makan, mereka kembali kesekolah, dengan perasaan bahagia.
Setelah ujian usai. Reza nampak berbisik pada danu dan boby, entah apa yang dibicarakan mereka.
Kemudian boby dan danu pergi kekantor guru. Tidak lama kemudian, terdengar suara gema toa dari kantor.
š¢Perhatian semuanya, ada kabar gembira, pangeran sekolah kita bernama reza albert, saat ini sudah resmi pacaran dengan gadis yang ia cintai bernama yuki yuri, tolong inget ini baik-baik! Sekian! ".
Mendengar siaran dari kantor kepala sekolah itu, semua fans reza mengalami patah hati nasional tingkat langit ketujuh.
"Wah.. Pangeranku! Kenapa tidak memilihku?"
Ujar fans reza.
"Dia pasti kena pelet". Sahut lainya.
"Kak reza, kamu tega menaruh bawang tumbuk dihatiku, aku kan jadi sedih dan hatiku perih".
Lesty dan evi hanya memicingkan sebelah alisnya mendengar keluhan mereka.
"Elah!! Lebai amat lo siti! Kak reza gak memilih kalian karna kalian gak berkualitas! Pulang sana gih kalo mau nangis. "Ketus lesty.
"Bener tuh! Tapi kok harus disiarkan kayak gitu ya?". Tanya evi pada lesty.
"Orang kaya mah bebas!". Sahut lesty singkat.
Tak hanya dikelas lesty, hal yang serupa juga terjadi dikelas lainya, seperti kelas genta yang tengah mengalami patah hati masal.
"Huaa.. Padahal gue sangat mengagumi kak reza, tapi dia sudah punya pacar."
"Kak reza tega, kenapa gak jomblo seumur idup aja sih". Pungkas lainya.
"Elah.. Kalian kenapa sih? Pada gak sehat jantungnya? Cek sana gih ke dukun! Cowok gak hanya satu woii. Noh disamping kalian kan pada cowok, tapi mukanya kayak pantat panci semua. Haha.. "Genta terbahak mengejek teman sekelasnya yang pada patah jantung itu.
ā¢ā¢ā¢
__ADS_1
BERSAMBUNG
LIKEš