
Malam hari dirumah yuki. Neo pulang tanpa ia beritahu terlebih dahulu.
Ia nampak lemas dengan wajah yang cemberut.
Saat dalam kamar. Neo langsung memeluk yuki dan menyandarkan kepalanya di bahu yuki.
"Neo, ada apa denganmu? apa kau lelah? ayo mandi terus makan. dan langsung tidur saja."
"Sayang, aku sangat lelah. Aku ingin tetap memelukmu seperti ini, karna pelukanmu membuat hatiku tenang." Sahut neo dengan suara lesu.
"Sepertinya neo ada masalah. tidak biasanya dia seperti ini. "
"Sayang, ceritakan apa yang sudah terjadi. kenapa kemarin kamu tidak menghubungiku sama sekali. bahkan kau tidak menjawab telpon dariku. Ada apa denganmu?." Tanya yuki merasa khawatir.
"Sayang, jika aku menceritakannya, aku takut kamu akan khawatir, dan itu akan berpengaruh dengan kandungan kamu." Timpal neo yang masih mendekap yuki.
"Neo, aku tidak ingin kau menanggung masalah atau beban sendirian. itu makin membuatku merasa sedih. tolong ceritakan, aku akan menerima apapun itu. Jangan cemaskan aku."
"Tapi kau harus janji ya? Aku akan menceritakannya nanti setelah makan dan mandi."
"Baiklah. sekarang kamu mandi saja dulu. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu."
Ditengah perbincangan mereka. Yunie terbangun dari tidurnya. "Ayah..? Ayah sudah pulang. yeeyy.." Yunie langsung memeluk neo dan ia minta digendong.
"Sayang, kenapa kamu bangun? ini sudah malam. Ayah gendong sebentar ya. Setelah itu yunie harus bobok lagi ya sayang."
"Iya yah, yuni kangen sama ayah."
"Iya, ayah juga kangen kok sama yunie. maafin ayah ya. Kali ini ayah pulang tidak bawa apa-apa untuk yunie." Neo mencium kepala anaknya itu.
"Yunie, ayo turun nak. Ayah kamu mau mandi. Ayo lanjut tidur lagi ya. biar bunda temani." Cela yuki sembari menyambut yunie dari neo.
Ketika yunie terlelap, neo pun pergi untuk mandi dan makan.
Setelah selesai. Mereka pun masuk kamar dan berbincang dalam kamar.
"Neo, apa yang sudah terjadi beberpa hari ini dikota F.?" Tanya yuki pensaran.
Neo tertunduk. "Sayang, maafin aku. Sepertinya aku akan dipecat."
"Hah? kenapa? apa kamu bikin kesalahan?"
"Tidak, bukan seperi itu. Perusahaan xx akan diakuisisi oleh perusahaan lain dikota F. Dan pemimpin itu ingin mengganti semua karyawan kantor xx dengan karyawan dari perusahaan mereka sendiri. Dari kemaren sampai hari ini sudah ratusan karyawan di PHK. Tidak menutup kemungkinan, aku juga akan diberhentikan." Jelas neo pasrah.
"Astaga, kenapa bisa perusahaan kalian diakuisisi? bukankah perusahaan itu sudah berkembang sampai ke kota F?"
"Perusahaan xx terancam bangkrut. Karna direkturnya diduga korupsi.
Sayang, jika nanti aku jadi pengangguran lagi. kamu jangan marah ya. Tapi aku tetap berusaha cari kerjaan kok."
"Neo, aku gak akan marah kok, selama ini kamu sudah bekerja keras untuk keluargaku. Mungkin sekarang waktunya aku bekerja lebih keras lagi." Timpal yuki tersenyum sembari menggosok bahu neo untuk memberinya semangat.
"Makasih banyak sayang."
_
Esok paginya. yuki berangkat kerja menggunakan taxi, begitu juga neo. Karna mobil perusahaan yang dipinjamkan pada neo sudah ditarik oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Saat masuk kantor. wajah yuki terlihat lemas karna ia memikirkaa nasib neo yang terancam resign itu.
"Ki, ada apa?" Tanya arini.
"Eh, gak ada apa-apa kok rin. aku kurang tidur aja." Jawab yuki tersenyum.
"Oh gitu, kirain ada masalah apa. Oh iya, kita hari ini mau meeting bersama harry dan staf kantornya. Nanti kamu yang presentasi ya. Soalnya aku lagi batuk, suaraku agak serak."
__ADS_1
"Oke, gak masalah." Sahut yuki.
Tidak lama kemudian, harry pun tiba bersama jajarannya. Tak lupa, selena juga turut bersamanya.
"Sayang, apakah ini kantor reza? bagus sekali." Ujar selena sembari melirik sekitar.
"Iya. kantornya mewah, ini semua dia rancang sendiri.
Nanti saat aku meeting, kamu tunggu diluar saja ya. Gak enak kalo ikutan meeting juga" Timpal harry tersenyum pada tunangannya itu.
"Heii selena? kamu ikut juga? ayo kemari." Sapa arini dengan ramah.
"Iya ,aku ikut karna penasaran dengan kantor reza yang sudah ia dirikan semenjak masa kuliah dulu. ternyata bagus sekali."
"Ya sepeti ini lah. Mari kuantar keruangan reza."
Saat memasuki ruangan reza, mereka pun saling sapa dengan ramah. Yuki juga turut hadir namun ia kebanyakan diam dengan wajah datar.
"Ayo kita keruang meeting, jajaran kantor sudah menunggu disana." Ujar reza.
"Bagaimana denganku? apakah aku harus menunggu disini sendirian?" Pungkas selena.
"Kamu tidak apa-apa disini saja. kamu bisa berbaring atau tidur sejenak sembari menunggu harry." Timpal reza.
Kemudian mereka semua pergi keruang meeting.
Saat yuki melakukan presentasi. Ia nampak bingung dengan apa yang harus ia lakukan, otaknya seakan berhenti bekerja.
Dia tidak fokus karna pikirannya dipenuhi dengan masalah neo.
"Ada apa dengan yuki. Tidak biasanya dia kehilangan akal seperti ini. dari tadi pagi dia terlihat murung, sepertinya dia ada masalah." Batin arini.
"Em, mohon maaf semuanya. Sepertinya yuki sedang sakit, biarkan aku yang melanjutkan presentasinya.
Yuki, kamu kembali saja keruangan bis reza. Ada selena disana, kamu bisa temani dia." Ujar arini yang langsung berdiri disamping yuki.
"Sudah, turuti saja kata arini." Shaut reza.
"Baiklah. terimakasih semua. aku pamit undur diri." Yuki langsung beralih dari ruang meeting dengan perasaan bersalah.
Arni pun meneruskan presentasinya. Ia begitu lihai dalam bicara. Ia menyampaikan presentasinya dengan sangat baik hingga harry melongo bengong.
"Gadis ini begitu pintar dalam bicara, selain cantik, dia sangat cerdas. Aku mengangguminya. dia berbeda." Batin harry tersenyum menatap arini.
"Baiklah semuanya, itulah presentasi dari saya. Bagaimana menurut anda tuan harry?." Ujar arini.
Mendengar namanya disebut. Harry pun tersadar dari lamunannya. "Eh, iya. bagus.. sangat bagus. aku sangat menyukainya. Bulan depan kita benar-benar bekerja sama dilondon" Timpal harry tersenyum.
"Terimakasih harry, semoga kerja sama kita lancar." Ujar reza sembari menjulurkan tangan bersalaman pada harry.
Sementara itu, yuki dan selena tengah berbincang didalam ruangan reza.
"Heii siapa nama kamu? aku lupa." Ujar selena dalam bahasa inggris.
"Aku tidak terlalu fasih dalam bahasa inggris seperti arini, tapi aku mengerti yang kau tanyakan. Namaku yuki."
"Kamu lagi hamil ya? apakah kamu menikah muda? sepertinya umur kita tidak berjauhan." Timpal selena ramah.
"Aku sedang tidak ingin bicara. Tolong lebih diam sedikit. Kepalaku pusing." Jawab yuki sembari berbaring di sofa.
Drttt.. Drtt..
getaran dari hp yuki. Ia pun langsung menjawab panggilan dari suaminya itu.
"Halo neo, ada apa? "
__ADS_1
"Halo sayang, ada apa dengan suaramu? itu terdengar lemas, apa kau skait.? " Ujar neo khawatir.
"Tidak, aku hanya sedikit pusing karna terlalu lama menatap laptop. ada apa menelpon? "
"Em.. kabar buruk sayang."
Yuki langsung berdiri karna kaget.
"Ada apa? "
"Aku beneran diberhentikan sayang. maafin aku ya."
Yuki ambruk, ia langsung menangis. "Ya allah, cobaan apa ini.? neo berhenti bekerja, sedangkan kami begitu banyak kebutuhan, mana harus bayar uang kuliah. belum lagi kebutuhan yunie dan ekonomi rumah tangga."
Yuki menangis merunduk tanpa suara. Sedangkan selena bingung melihat yuki.
"Hei, kenapa kamu menangis?." Tanya selena mencoba mendekati yuki
"Aku gak apa-apa, jangan tanya aku lagi."
Selena bingung dengan ucapan yuki menggunakan bahasa indonesia.
"Hei, bisa kah kau bicara dalam bahasa inggris? aku tidak mengerti dengan yang kau ucapkan."
"Ini negaraku! kenapa aku harus bicara bahasa inggris, harusnya kamu yang belajar bahasa indonesia. Mending kamu jangan ganggu aku." Timpal yuki sambil menangis.
"Sumpah, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Apa kau sakit? aku akan meminta bantuan." Sahut selena.
"Aku juga gak ngerti dengan yang katakan itu. Lebih baik kau diam saja."
"Hei. kau ngomong apa? apa kau mengejekku?" Tegas selena.
"Ni orang emang ogeb kayaknya. siapa juga yang mengejeknya."
Batin yuki masih meneruskan tangisnya.
Tidak lama kemudian, reza dan yang lainnya kembali lagi keruangannya.
"Yuki. ada apa kamu menangis? apa kau sakit?" Ujar arini cemas.
Yuki hanya diam dengan air mata masih bercucuran.
"Jangan-jangan dia berantem sama selena." Sahut bobby.
"Bisa jadi tuh. Hei selena, apa kau berkelahi dengan teman kita? kau tau kan dia sedang hamil?" Tanya danu sinis
"Apa kau menyebut namaku? aku tidak mengerti dengan yang kau katakan." Timpal selena.
"Danu, bobyy. jangan sembarang menuduh. lebih baik kita tanyakan langsung pada yuki." Timpal reza.
Yuki pun mulai bicara supaya tidak ada salah faham. "Mohon maaf semuanya. Ini tidak ada hubungannya dengan selena. Sebenarnya.. aku nangis karna..."
"Karna apa ki? katakan saja, jangan takut. Dari tadi pagi aku melihatmu murung terus." Timpal arini.
"Neo,, dia berhenti bekerja karna perusahaannya diakuisisi perusahaan lain. aku bingung rin. Sekarang kita sedang banyak kebutuhan banget." Jelas yuki.
"Astaga. jangan sedih ya. apa yang bisa kami bantu. kami tidak akan membiarkan hidup kalian dalam kesusahan." Ujar arini sambil memeluk yuki.
"Yuki, bilang pada neo. dia bisa bekerja disini sebagai manager staff. dia bisa bekerja mulai besok. Kamu gak perlu nangis kayak gitu." Tutur reza.
Yuki tercengang. "Benarkah? apa menggantikan manager bambang? Terimakasih banyak. aku akan menyampaikannya pada neo, dia pasti senang. makasih banyak kak reza. eh, maksudku bos reza." Yuki menyatukan kedua tangannya.
"Udah, sekarang kamu gak boleh sedih lagi ya. nanti berpengaruh sama kandungan kamu." pungkas arini tersenyum.
Yuki mengangguk bahagia. ia sangat bersukur mempunyai teman yang saling mempedulikan.
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG.