
Satu minggu pencarian arini. Polisi pun menghentikan kasus kehilangan tersebut, karna sama sekali tidak mendapatkan petunjuk dan titik terang mengenai keberadaan arini.
Reza juga sudah pasrah, ia hanya bisa berdoa supaya suatu saat bisa bertemu lagi dengan arini dalam keadaan sehat dan selamat.
Esok harinya. Dikantor reza. Mereka sedang mengadakan meeting kecil untuk petinggi kantor.
"Bos, gimana rencana kita soal membuka cabang di kota F?." Ujar direktur robert.
"Harus tetap dijalankan. Aku gak.mau menyangkut pautkan masalah pribadi dan masalah kantor.
Besok, yuki, lesty, danu dan boby, beserta pak robert, ikut aku kekota F. Kita harus menjalin hubungan dengan petinggi kota F." Timpal reza dengan wibawa kepemimpinannya.
"Baik bos." Sahut mereka bersamaan.
"Baiklah, aku minta kalian persiapkan segala sesuatu untuk dibawa besok. Meeting saya tutup. silahkan kalian kembali kerja."
Semua orang keluar dari meeting tersebut. Kecuali teman-teman reza.
"Apa aku boleh bicara?." Pungkas yuki.
"Silahkan."
"Maaf sebelumnya bos. Kayaknya aku gk bisa ikut ke kota F. Aku gak bisa ninggalin yunie, aku juga gak mungkin bawa dia kan?." Jelas yuki.
"Kita pergi hanya menginap satu malam.
Yuki, aku membutuhkan bantuan kamu dalam proyek ini. Aku akan mengirim asisten rumah tanggaku kerumah kamu, untuk membantu orang tuamu mengurus yunie. Aku juga akan memberikan stok susu formula untuknya." Pungkas reza.
Yuki tercengang kaget. "Hah? gak usah. Jangan terlalu berlebihan. Baiklah, aku akan ikut. Tapi kamu gak perlu mengirim asisten rumah tangga segala." Bantah yuki menolaknya.
"Aku bos disini. Gak ada yang bisa membantah ucapan dan perintahku.!" Tegas reza.
Yuki tertunduk seketika. "Baiklah. Terserah anda. Saya minta maaf. saya permisi!." Yuki bergegas meninggalkan ruang meeting itu.
Lesty juga turut mengiringi yuki.
Lesty duduk didekat yuki setelah tiba dimeja kerjanya. "Ki, kalau lo gak ikut. gue juga gak mau ikut."
"Aku ikut kok ti, kamu tenang saja. Aku hanya kesal pada reza. Ya sudahlah jangan dibahas. Ayo lanjut kerja.
_
Sementara reza masih merunduk termenung didalam ruangan itu bersama danu dan boby.
"Aku ucapkan terimakasih atas bantuan kalian berdua selama dalam masa pencarian arini. Aku gak tau harus mencarinya kemana lagi, kita sudah telusuri di setiap kota, tapi sama sekali gak ada hasilnya." Ujar reza merunduk pasrah.
Danu dan boby mendekat pada reza dan berdiri disebelah kanan dan kiri reza.
"Bos, yang sabar ya? Aku yakin, arini pasti baik-baik saja. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi dengannya." Timpal boby.
"Gue gak tau mau ngomong apa. Tapi yang jelas, arini kayak gini karna bos sendiri yang membuatnya. Andai saja waktu itu gue ada didekat arini, pasti gue akan melindunginya, gue rela jika berada diposisi arini." Ketus danu sedikit kesal.
"Heii danu.! jaga bicara lo.! ini bukan salah bos reza. Dia juga gak mau kali arini celaka.!" Timpal boby.
"Gak salah apanya! dari awal, dia pacaran dengan arini karna terpaksa. Karna saat itu arini mau pulang kekota asalnya.
Gue kira setelah mereka pacaran, arini akan bahagia. Tapi nyatanya? kita lihat sendiri kan?. Arini selalu sakit hati karna bos reza acuh tak acuh. Dan bulan lalu, dia meninggalkan arini demi menyelamatkan yuki, hingga arini jadi hilang ingatan.!
Dan sekarang, arini malah menghilang entah kemana!! Dan itu semua karna bos reza. Aku sudah mencoba untuk tidak egois demi arini, karna aku mencintainya. Tapi aku kecewa dengan bos reza.!! Apakah arini hanya pelarian buatmu bos.!?." Danu menatap tajam mata reza.
Reza berdiri dengan sedikit emosi.
Prakkkk.!!
__ADS_1
Reza menepuk meja meeting dengan kedua tangannya.
"Sudah ngomongnya?! Sekarang kalian berdua keluar. KELUAR.!!!" Teriak reza dengan kencang.
Boby langsung menarik danu dan meninggalkan reza yang sedang emosi itu.
"Aaahhhh.... Sialan.!!!.." Reza mengehempaskan vas bunga yang ada disampingnya.
"Kenapa jadi seperti ini tuhan..!!! Hidupku jadi kacau sekarang. Sahabat dan mantan pacar, semuanya membenciku dan melimpahkan semua kesalahan padaku.! Apakah aku sejahat itu padamu arini.!!" Reza kembali berteriak sembari memukul meja dengan kuat.
Sementara danu dan boby berada diluar pintu.
"Ini semua salah lo danu.! Lo gak kasihan apa sama bos?" Ujar boby.
"Kenapa salah gue? Yang gue katakan itu semuanya benar!!." Timpal danu.
"Kok nyolot sih.! Gue tau kalo lo benar.! tapi lo ngomong gak liat situasinya dulu! Lo gak tau kah kalo pikiran bos sedang kacau!?" Sahut boby bersitegang.
"Bodo amat! Toh dia sendiri yang membuat masalah. Gue lebih kasihan pada arini yang gak tau dimana. Bilangin sama bos reza. Besok gue gak ikut kalian pergi. Dan gue mau resign dari kantor ini, mulai besok!!"
Danu pergi begitu saja dengan perasaan kesalnya.
Boby berusaha menyampaikannya perlahan dengan reza tentang apa yang dikatakan danu. Namun reza hanya diam tanpa kata.
_
Esok harinya. Mereka pergi menuju kota F melalui udara.
Selama dalam pesawat, reza banyak diam sambil memandangi foto arini didalam layar ponselnya.
"Ki, bukankah neo tugas di kota F ya?." Tanya boby.
"Hah? aku gak tau, aku lupa. Waktu itu dia sempat bilang, tapi aku lupa dia pergi kekota mana, kalau benar dikota F, semoga saja kita bisa ketemu, aku rindu padanya." Timpal yuki.
Seketika yuki dan boby membungkam mulut.
_
Selama beberapa jam dalam pesawat, akhirnya mereka tiba dikota F.
Mereka makan sejenak sembari menghilangkan penat.
Setelah makan dan sedikit berbincang. Mereka pun keluar dari kafe tersebut.
Reza dikagetkan saat melihat sosok gadis yang mirip dengan arini menurut pandangannya.
Gadis itu begitu cantik, putih, berpakaian modis dan anggun. Mempunyai rambut ikal berwarna pirang kemerahan. Menggunakan softlense warna abu-abu yang menambah kecantikannya.
Namun gadis itu tidak sendirian. Ada empat pengawal yang menggunakan baju serba hitam yang mengiringi langkahnya.
Reza pun langsung berlari dan memeluk gadis itu. "Arini, sayang. Ternyata kamu disini? aku kangen sama kamu, ayo ikut bersamaku pulang kekota B. Aku janji akan lebih mempedulikan kamu dan membuatmu bahagia." Ujar reza sambil mendekap erat gadis tersebut.
Pengawal gadis itu langsung memisahkan mereka.
"Mian, nuguseyo?." (Maaf, siapa kamu) Ujar gadis tersebut dengan tegas.
Reza nampak bingung dengan ucapan gadis tersebut.
"Jebal manjiji ma. Bikyeo!." (tolong jangan sentuh aku. Menyingkirlah!)
Gadis itu pergi begitu saja sambil mengibaskan rambutnya dengan gaya sedikit sombong.
Saat pengawalnya hendak pergi, reza menarik salah satu pengawal tersebut.
__ADS_1
"Maaf pak, kalo boleh tanya, siapa gadis itu?" Tanya reza penasaran.
"Oh, dia anak orang paling kaya dikota ini. Hari ini dia baru tiba disini. Dia tinggal dan sekolah dikorea. Dia belum begitu paham dengan bahasa kita." Jelas pengawal tersebut.
"Oh gitu. Namanya siapa ya pak?." Tambah reza.
"Namanya "Gabriel Jessie". Dia lahir disini, tapi besar dikorea. Mohon maaf, saya permisi dulu."
Setelah mereka pergi. Lesty dan yang lainnya menghampiri reza yang tengah tertunduk.
"Dia mirip sekali dengan arini. Tubuhnya, bentuk wajahnya. Semuanya hampir sama." Gumam reza.
"Bos, mungkin karna kamu selalu memikirkan arini, makanya dia selalu terbayang dan ada dimana-mana." Ujar boby sembari menepuk pundak reza.
"Iya. Mirip dari mananya coba. Gadis itu sombong dan sok cantik kayak gitu. Beda jauh sama arini. Dari rambutnya aja udah beda. Apa lagi sikapnya." Tambah lesty.
"Kalian benar. Mungkin karna dia selalu bersarang dibenakku. Wajahnya berada disetiap wanita yang kulihat. Mungkin aku sudah gak waras." Sahut reza dengan wajah sedih dan kening yang mengkerut.
"Ya sudah, jangan dipikirkan. Sekarang kita lanjutkan perjalanan." Pungkas pak robert.
Saat mereka hendak naik taxi. Yuki tanpa sengaja melihat sosok yang juga mirip neo dari belakangnya. Cowok itu berada diseberang jalan.
Namun cowok itu bersama seorang wanita.
"Neo?. ah gak mungkin. aku salah lihat pasti. lagian aku cuma liat sari belakang."
"Heii yuki. Ayo masuk mobil, kok melamun?." Panggil lesty dari dalam taxi.
"Eh, iya. Maaf ya." Yuki bergegas masuk taxi. Mereka terpisah dengan reza, boby dan pak robert, namun mobil mereka beriringan.
"Ti. Tadi aku liat orang mirip neo. Tapi dia bersama cewek." Ujar yuki ragu.
"Hah? Gak mungkin lah ki. Emangnya neo dikota ini? Mending kamu telpon dia deh, biar gak menduga-duga." Timpal lesty.
"Iya. kamu benar. Bentar ya."
Yuki membuka ponselnya dan langsung menghubungi neo.
Tidak lama kemudian, telpon itu tersambung.
"Halo neo. Apa kau sedang sibuk? "
"Ya sayang, ada apa? Aku masih dikantor. "
"Oh gitu. Kamu tugas dikota apa sih? aku lupa"
" Apa? maaf gak kedengaran, disinii terlalu berisik. Aku lagi meeting sekarang. Kita sambung lagi nanti ya. Ntar aku telpon ya sayang. Maafkan aku. Dahh sayang."
Neo langsung menutup telponnya.
Yuki menghela nafas sejenak sembari mengantongi hp nya.
"Gimana ki.? dimana neo? " Tanya lesty.
"Dia lagi sibuk. dia lagi meeting. Tadi suara disana ramai sekali, aku juga gak bisa denger suaranya dengan jelas. Tapi aku seneng, dia meluangkan waktu dua menit untuk menjawab telponku." Jelas yuki.
"Bagus lah. itu berarti, orang yang kamu lihat tadi bukan neo."
"Kamu benar ti. makasih ya."
Yuki bernafas lega. mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG...