
Satu bulan kemudian.
Malam hari. Reza, danu dan bobby tengah berada di rumah arini. saat itu arini tengah mengemasi pakaiannya karna besok akan berangkat ke london bersama reza, harry dan selena.
"Aron sayang, apa gak kebanyakan ya bawa pakaian segitu?." Ujar reza heran.
"Kenapa gak bawa lemari aja rin?" Sahut bobby.
"Udah diem! kami disana selama satu minggu, dan mungkin tidak akan ada tempat untuk mencuci pakaian" Timpal arini masih melanjutkan packing nya.
"Di maklumi aja bob. Ini pertama kalinya arini pergi keluar negri. jadi dia gak tau apa-apa." Pungkas lesty. Arini hanya mengangguk.
"Sayang, gak usah bawa semua pakaian kamu. Bawa satu koper saja ya. Karna percuma bawa pakaian banyak, ntar saat dipesawat, pakaian kamu akan dibuang dilaut. karna kapasitasnya dibatasi. nanti kita beli baju aja dari london." Jelas reza.
"Gitu ya?. emm.. ya udah deh. kalo gitu bawa satu koper saja." Timpal arini tersenyum paksa sembari membongkar kembali kopernya.
Malam itu, arini merasa sangat bahagia karna untuk pertama kalinya pergi keluar negeri bersama reza. Ia tak sabar menunggu pagi menjelang.
_
Esok paginya. Arini, reza, harry dan selena sudah berjanji untuk bertemu di bandara saat hendak berangkat ke london, inggris.
Namun saat mereka tengah menunggu di airport, suara ponsel arini terdengar berdering.
"Eh, papa? Ada apa dia menelpon?" Gumam arini saat melihat layar ponselnya.
"Siapa sayang?." Tanya reza sambil mengintip ponsel arini.
"Papa nelpon. Bentar ya. Aku angkat dulu."
"Halo pa, ada apa?"
"Sayang, kamu belum berangkat kan?" Tanya alvin terburu-buru.
"Ini baru mau berangkat, kita sudah dibandara. Ada apa pa?."
"Arini sayang, tolong kamu pulang ke kota F sekarang. Katakan pada reza, tunda dulu keberangkatan kalian ke london, karna mama kamu lagi sakit, saat ini sedang koma." Jelas alvin
"Hah? Mama.... Sakit?. Baikla. Aku dan reza segera pulang. Dahh pa." Arini langsung mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Reza turut cemas melihat raut wajah arini yang hampir menangis itu. "Sayang, ada apa? Om alvin bilang apa.?."
"Reboy, kita harus tunda keberangkatan kita. Mama lagi sakit. Ayo kita ke kota F sekarang." Jelas arini cemas dengan mata yang berkaca-kaca.
"Benarkah? Ayo kita kesana sekarang, tapi aku harus telpon bobby dulu supaya dia bisa mengantarkan mobil kesini. Oh iya harry, selena. Lebih baik kalian pergi duluan saja. Kami segera menyusul nanti."
"Em.. Maaf za. Ada masalah apa ya?" Tanya harry.
"Mama arini sedang sakit parah, dan papanya memintanya untuk pulang. Kami akan berangkat setelah bobby tiba. Mohon maaf, kerja sama kita di tunda saja dulu."
"Nggak bisa, aku gak akan pulang ke london jika tidak bersama kalian berdua. Aku akan tetap bersama kalian disini." Jelas harry sembari menepuk pundak reza untuk memberinya semangat, dan tersenyum menatap arini.
Selena sedari tadi bingung dengan percakapan mereka bertiga. Ia pun mendekat dan bertanya pada harry.
"Sayang, ada apa? Ayo kita naik pesawat."
Harry menggenggam tangan selena dan menatap matanya. "Sayang, maafkan aku. Kamu pulang sendirian saja dulu, aku mau menemani reza dan arini. Mama nya arini lagi sakit. Jika mamanya sudah sembuh, maka kami menyusulmu ke london."
Selena langsung menghempaskan tangan harry. "Apa?! Kau tidak pulang bersamaku? Kau tau, aku kesini jauh-jauh dari london, pergi tanpa diketahui orang tuaku, itu semua karna aku ingin bertemu denganmu. Dan sekarang kau tidak ingin pulang bersamaku? Apa maksudmu?. Biarkan reza yang menemani arini. Kau mengganggu mereka saja.!" Timpal selena kesal.
Harry pun memeluk selena untuk menenangkannya. "Sayang, maafkan aku. Mereka sahabatku, dan kamu tunanganku. Kalian sama-sama penting, tapi ini berbeda, karna ini menyangkut orang tuanya arini. Tolong mengertilah, aku menyayangimu."
"Iya sayang, aku janji. Sekarang berangkatlah. Mari kuantar naik pesawat." Harry menggandeng tangan selena sampai ia masuk ke dalam pesawat.
Tidak lama pesawat terbang. Bobby pun tiba mengantarkan mobil bersama danu.
"Bos, ini mobil. Btw, kenapa gak jadi ke london?." Tanya bobby sambil memberikan konci mobil pada reza.
"Bob, danu, Katakan pada neo dan lucas, jaga baik-baik perusahaan. Kami bertiga akan pergi ke kota F sekarang, karna mama arini sedang di rawat dirumah sakit." Jelas reza pada danu dan bobby.
"Siap bos. Tapi apakah kami gak boleh ikut? Kami juga ingin membesuk tante pricil." Ujar danu.
"Tidak hari ini, karna di kantor ada rapat penting. Tapi besok kalian bisa menyusul."
"Za, ayo kita berangkat, tapi sebelum itu, antarkan aku pulang ke apartemen dulu, aku mau ambil mobil." Ujar harry
"Baiklah, ayo semuanya masuk mobil."
Mereka pergi menuju apartemen harry, sedangkan danu dan bobby pulang kekantor dan menyampaikan amanah dari reza.
__ADS_1
Mendengar berita itu. Neo pun menelpon reza untuk memberitahukan bahwa ia bisa mengatasi semua masalah kantor bersama direktur robert.
Lucas, danu, dan bobby. Lesty, genta, dan evi pun turut menyusul berangkat ke kota F.
_
Setibanya di kota F. Arini berlari mencari keluarganya. Ia pun menemukan alvin dan jessie yang sedang duduk cemas menunggu didepan ruang operasi.
"Papa..." Arini menghampiri dan memeluk alvin sambil menangis. "Pa, ada apa dengan mama? Bukannya selama ini mama gak pernah sakit?"
"Dek, kamu tenang dulu. Berdo'a saja supaya mama selamat." Jelas jessie.
Arini juga turut menghampiri jessie. "kak, apa yang terjadi dengan mama?"
"Mama kamu jatuh dari tangga, entah bagaimana ini bisa terjadi, tadi papa menemukannya sudah tak sadarkan diri dibawah tangga." Jelas alvin pada arini.
Reza dan harry tak bisa berkata, mereka hanya diam melihat arini dan jessie bersedih.
Ditengah kecemasan mereka, datang juga daylon bersama istri dan anaknya.
Jessie pun langsung memeluk mama angkatnya itu. "Ma, tolong bantu doanya untuk mama pricil. Kasihan dek arini."
"Iya sayang, mama selalu berdoa untuk kesembuhan pricil. kamu dan adek kamu yang sabar ya. Berikan kekuatan untuk adekmu." Timpal karen sambil mengusap rambut jessie.
Sementara arini masih menangis dirangkulan reza. "Sayang, yang tabah ya. semoga tante pricil cepat sadar." Ucapnya sambil mengusap bahu arini.
"Reboy, aku gak mau kehilangan mama untuk kedua kalinya. cukup sekali saja dalam hidupku, lebih baik aku yang mati dari pada harus mama." Ujar arini berlinang air mata.
"Sayang, gak boleh gitu. Berdoa saja yang terbaik untuk mama kamu. Aku yakin, dia pasti sembuh."
Harry yang sedari tadi hanya diam menyimak kondisi yang terjadi disana. Tiap ada yang lewat didepannya selalu terpana dengan wajah harry yang asing itu.
"Sedari tadi aku melihatnya menangis, entah kenapa aku juga ikut merasakan kesedihan hatinya. kasihan dia, ternyata hatinya begitu rapuh dan lembut, sangat berbeda dengan yang kukenal selama ini." Batin harry tertunduk setelah menatap arini yang masih menangis dalam dekapan reza. Entah kenapa, ia juga turut sedih melihat arini menangis.
•••
BERSAMBUNG
Jangan lupa like & komen
__ADS_1