Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:32


__ADS_3

Malam itu, neo dan yuki pulang lebih dulu karna yunie sudah tertidur.


"Sayang, pegel gak kamu gendog yunie?." Ujar neo sembari mengemudikan mobilnya.


"Nggak kok. lagian sambil duduk juga."


"Oh iya, apa tanganmu yang terluka itu masih sakit.? tadi aku melihat reza yang menolongmu." Ujar neo dengan wajah datar.


Yuki merunduk merasa bersalah. "Neo, maafkan aku, tadi itu bukan disengaja, mungkin karna reza terlalu panik.


Tapi kamu harus percaya padaku bahwa aku sudah membuang jauh-jauh perasaanku terhadapnya." Jawab yuki tertunduk.


Neo tersenyum lega mendengar tuturan yuki. "Aku percaya kok sama kamu, gak perlu merasa bersalah, itu bukan salah kamu." Neo tersenyum sembari mengusap kepala yuki.


"Terimakasih neo." Sahutnya tersenyum.


"Maafkan aku neo, selama ini aku tidak melihat sisi baik darimu. Ternyata kau sama baiknya dengan reza. Aku bersukur menjadi istrimu sekarang. Kau begitu lembut walau kamu pernah melakukan kesalahan."


Tanpa sadar, yuki menatap neo dengan senyuman.


"Hei.. sedang kerasukan apa? senyum-senyum sendiri.?" Ujar neo heran.


Yuki tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya dengan rasa malu. "Nggak apa-apa. Aku hanya menyukaimu."


Neo kaget, ia langsung menginjak pedal rem hingga mobil itu berhenti mendadak.


"Astaga! neo! ada apa?." Ujar yuki sembari menahan kepala yunie supaya tidak terbentur.


"Maaf sayang, tadi.. aku kaget mendengar ucapanmu."


"Hah? ucapan apa? apa aku ada salah?." Timpal yuki bingung.


"Sepertinya dia tidak sadar mengatakan itu."


"Gak ada kok, sudah lupakan saja. kita lanjut jalan lagi ya." Neo tersenyum sembari menepuk kepala yuki. Sementara yuki masih kebingungan.


_


Disisi lain, genta dan evi juga sudah pulang dari rumah arini. Yang tersisa tinggal reza, danu dan boby.


Reza menarik arini, mengajaknya keteras depan rumah. Lalu mereka duduk berdampingan.


Arini hanya diam karna masih merasa kecewa pada reza. Namun reza menyadari hal itu.


"Aron, aku tau kenapa kamu diam." Ujar reza sambil menatap langit.


"Tumben ngomongnya pake aku dan kamu." Batin arini cuek tanpa melihat reza.


Reza meraih tangan arini dan menghadap padanya. "Aron, maafin aku ya, mungkin aku kurang peka terhadapmu. Kau harus tau, aku menyukaimu. Dan aku janji akan lebih memperdulikan kamu." Reza menatap mata arini, namun arini enggan menatap reza.


"Za, jangan mengucap janji, gue gak suka!. Gue gak apa-apa. gue tau perasaan lo. Gue mah udah biasa merasakan kayak gini." Sahut arini cuek.


"Sudah larut, mending kalian pulang." Arini beranjak hendak masuk. Namun reza menariknya dan mendekapnya erat.


"Maafin aku rin. Sekali lagi maafin aku."


"Maaf untuk apa sih za?! udah lepasin gue!."


"Nggak! gue tau lo marah kan karna tadi gue begitu peduli dengan yuki.? Gue tau, lo suka kan sama gue?. Gue juga suka sama lo rin. Gini aja, supaya lo percaya, gimana kalau kita pacaran."

__ADS_1


Arini langsung mendorong reza dengan kuat. "Za! lo pikir perasaan itu bisa dimaenin? Gue gak marah kok lo mau dekat dengan siapa aja, gak marah sama sekali! toh kita gak ada hubungan apa-apa kan? gue tau perasaan lo dengan yuki itu gimana, gue bisa liat dari mata lo za!. Begitu mudahnya lo bilang suka sama gue!." Bentak arini dengan amarah.


Reza meraih tangan arini. "Rin, tolong dengerin gue, percaya sama gue!"


Arini menepis tangan reza. "Gue percaya kok! tapi gue lebih percaya dengan apa yang gue liat. Gue tau za, lo bukan suka sama gue, tapi hanya sebatas kasihan sama gue.


Dan, tolong jangan mengatakan suka atau cinta didepan gue jika itu hanya dari mulut doang, bukan dari hati.


Untuk saat ini, tolong jauhi gue za. Gue rasa sudah cukup gue berharap dengan laki-laki. Karna semua lelaki itu sama."


Arini kembali beranjak dan hendak masuk.


"Rin.!!"


"Mending kalian pulang, sudah larut." Arini melanjutkan langkahnya.


Sementara itu, lesty, danu dan boby sedari tadi menguping percakapan mereka. Saat arini hendak masuk, mereka bertiga kembali duduk seakan tidak tahu apa-apa.


Arini langsung berlari masuk kekamarnya sambil menangis.


Danu tak tega melihat air mata arini, ia pun mengiringi arini kekamarnya.


Lesty dan boby membiarkan danu, mungkin danu lebih cocok menjadi teman curhat arini.


"Rin, tolong buka pintunya! aku danu."


"Gak dikonci masuk aja."


Danu langsung masuk dan membiarkan pintu terbuka lebar.


Arini duduk diatas ranjangnya sembari memeluk guling. Sementara danu duduk dikursi didekat ranjang.


"Rin, tolong ceritakan, apa yang membuatmu menangis? apa bos reza menyakitimu?."


"Nggak! kamu datang diwaktu yang tepat. Kamu datang disaat bos reza kehilangan arah dan terluka." Jelas danu menatap mata arini yang tertunduk.


"Apakah aku hanya ditakdirkan untuk mengobati luka seseorang?.


Pakah aku dirakdirkan cuma untuk mencintai tanpa mendapatkan balasan?. Danu, kau tau? aku lelah! sebenarnya aku sangat trauma akan jatuh cinta, karna aku pernah ditinggalkan dan dihianati.


Tapi disini, reza selalu memberiku perhatian membuat aku jatuh hati padanya. Tapi aku bisa apa jika dia masih mencintai yuki. dan itu sangat jelas terlihat dimatanya."


Arini tertunduk dengan linangan air mata.


Danu berdiri dan mendekap arini sembari mengusap air matanya.


"Rin, kamu itu sangat-sangat pantas untuk dicintai. Bos reza cinta kok sama kamu, hanya saja dia belum menyadari itu karna dia selalu melihat yuki setiap hari. Tapi bukan berarti yuki yang salah, tapi bos reza lah yang salah disini, karna dia gak bisa bersikap tegas dengan perasaannya sendiri. Aku yakin, suatu saat dia menyadari hal ini."


"Sudahlah, aku gak akan terobsesi dengan cinta, sekarang bodo amat! aku gak mau mengenal cinta. Dan kayaknya, aku akan mengundurkan diri dari kantor reza."


Reza yang sedari tadi mengintai dari bilik pintu, tiba-tiba ia masuk karna mendengar arini yang akan berhenti bekerja dikantornya.


Reza menarik danu, dan menggantikan posisinya mendekap arini. Danu hanya diam dan berdiri dibelakang mereka.


"Rin, tolong maafin aku, aku beneran cinta sama kamu, aku kan sudah bilang kalau yuki itu kuanggap sebagai adik, aku beneran gak ada perasaan apapun lagi padanya." Jelas reza sembari mengelus kepala arini.


"Terserah lo za. Mau gimanapun lo sama yuki itu bukan urusan gue! udah cukup gue berharap. Gue cuma mau ingetin, kalo yuki udah punya anak dan suami. Kalo sikap lo terhadap yuki kayak gini terus, lo bisa menghancurkan rumah tangganya. Sudahlah, pulang sana, gue mau tidur udah ngantuk!."


Arini bersikap seakan tak terjadi apapun, ia mencoba tegar.

__ADS_1


Arini mendorong reza dan danu keluar dari kamarnya, kemudian ia mengunci pintu.


"Za, gimana? tanya lesty."


"Apanya yang gimana? gak ada yang perlu dibahas!." Ketus danu.


"Loh, kok elo yang nyolot danu!?." Timpal boby heran.


"Gini ya, gue mau utarakan isi hati gue nih, anggap aja kita hanya berteman, lupakan sejenak tentang hubungan atasan dan bawahan.


Bos, gue mau jujur, gue suka sama arini saat pertama kali bertemu dirumah lesty. Yuki dan lesty juga tau kalo gue suka sama arini. Tapi mereka melarangku, menyuruhku mundur demi elo! Gue udah ikhlas saat liat arini bahagia dan tertawa ketika bersama lo. Tapi belakangan ini, dia terlihat murung setiap hari, bahkan sampai dia menangis, dan itu semua karna elo!. Gue gak tega liatnya! Jika lo masih mempedulikan yuki, tolong jangan kasih harapan palsu dengan arini.! Mulai sekarang, gue akan berusaha mendekati yuki dan merebutnya dari lo.! Inget itu.! "


Danu keluar dari rumah itu dengan emosi, ia meninggalkan mereka semua dan melemparkan konci mobil reza yang ia pegang. Kemudian danu pulang entah naik apa.


Semua tertunduk diam, ucapan danu masih terngiang ditelinga reza.


Lesty merasa iba pada reza, walau gimana pun, reza itu suka sama arini, bahkan dia membelikan rumah ini untuk arini. Tapi salahnya, dia belum bisa move on dari yuki, bahkan masih peduli padanya.


"Za, danu benar. Dia menyukai arini, jelas dia gak mau liat arini terluka. Apalagi kalo neo tau, dia juga pasti marah sama elo." Ujar lesty dengan suara kecil.


"Tunggu! apa hubungannya dengan neo.?" Timpal boby bingung.


Lesty kaget, ia sudah keceplosan dalam bicara. "Perasaan gue gak ngomongin neo deh, kuping lo itu bermasalah bob!.


Za, gue harap lo bisa lebih memperhatikan arini dari pada yuki. Bukannya aku membela arini, tapi lo tau sendiri kan, dia disini sendirian tanpa keluarga, dia sangat butuh kasih sayang, selama dia tinggal dikota ini, cuma gue satu-satunya tempat ia bersandar.


Sedangkan yuki, dia punya kedua orang tua yang menyayanginya, suami yang sangat mencintainya, dan juga anak sebagai penghiburnya. Tolong lo pikirin perasaan arini sebelum dia ninggalin lo."


Reza bersandar duduk dikursi dengan perasaan yang sangat bersalah. "Lo benar ti. Gue janji akan lebih perhatian padanya. Maafin gue selama ini gak peka terhadapnya." Reza merunduk dengan penuh penyesalan.


Reza beranjak, ia kembali menuju kamar arini. "Aron, tolong bukain pintunya, maafkan aku, mulai sekarang aku akan mencintaimu dan terus mencintaimu."


Arini tidak menjawabnya, ia hanya diam bersandar dibalik pintu sembari menutup mulutnya menahan tangis.


Reza pun turut duduk bersandar dipintu depan kamar arini. "Aron, gue tau lo denger gue kan? apa lo bisa maafin gue aron? gue janji akan membuang jauh-jauh perasaan gue terhadap yuki.


Tolong kembali lah seperti dulu. Arini yang gue kenal, yang banyak tertawa dengan tingkah konyolnya, yang tidak peduli dengan urusan orang, yang penting dia bisa tertawa.


Arini yang cantik dan pintar, yang selalu bikin gue ketawa, yang selalu memandangi gue saat meeting, yang bersikap bodoh saat mencari handuk dalam lemari. Lo inget itu aron? gue jadi deg-degan saat mengingat itu."


Mendengar ucapan reza, arini turut tersenyum. "Reza benar, apa yang aku lakukan? kenapa sekarang aku sangat peduli dengan urusan orang? kenapa aku selalu terbawa perasaan? padahal dia bukan pacar atau suamiku kan? apakah aku egois?."


Arini beranjak dan membuka pintu.


Reza yang tengah bersantai itu langsung terguling ditengah pintu.


"Reza? ngapain tiduran disini?." Ujar arini bingung, karna ia tidak tau kalau reza juga duduk bersandar dipintu.


Reza buru-buru berdiri. "Tadi gue lagi nangkep nyamuk." Reza langsung memeluk arini. "Makasih ya udah bukain pintu, gue janji akan menjadi lebih baik lagi. lo mau kan jadi istri gue kelak? maka dari itu percayalah sama gue mulai saat ini."


Arini hanya mengangguk dalam pelukan reza.


Betapa bahagianya reza, ia pun memutarkan tubuh arini dalam pelukannya.


Lesty dan boby yang menyaksikan itu turut menangis haru.


"Lo pantes bahagia rin." Batin lesty dengan senyuman.


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG..


'CPT' ikut lomba nih, mohon VOTE yg banyak ya🙏


__ADS_2