
Esok paginya.
Saat arini hendak keluar rumah, reza sudah duduk santai dikursi teras depan rumahnya.
"Reza? ngapain pagi-pagi udah nangkring disini? gak ada kerjaan lo.?" Ujar arini heran.
"Panggilan kita udah lupa?" Sahut reza.
"Iya..iya.. Reboy!.
Mau ngapain kemari.?"
"Mau anter kalian kuliah. boleh kan aron?." Reza berdiri menghadap arini.
"Boleh sih, tapi kita tunggu lesty dulu." Timpal arini sembari duduk. Reza pun turut duduk disampin arini.
Reza memandangi arini dengan senyuman. "Aron, lo tau gak?, gue tu suka banget liat lo pas abis mandi kayak gini, rambutnya masih lembab, wajahnya masih fresh. Adem liatnya." Ujar reza tersenyum.
"Apaan sih! Jangan memuji terlalu tinggi, ntar jatoh, gue yang sakit."
Lesty pun turut keluar setelah ia bersiap. "Eh, ada reza? ngapain?."
"Gue mau anter kalian kekampus, ayo pergi." Reza menggandeng tangan arini hendak menuju mobil.
Lesty tersenyum melihat kedekatan mereka.
"Mereka yang dekat, kok gue yang deg-degan sih! beg* banget."
Saat hendak naik mobil, arini tak sengaja melihat hamparan luas diseberang jalan didepan rumahnya.
"Loh! bukankah itu lahan punya lo kemaren kan reboy?." Tutur arini heran.
"Em..iya ya,, kok aku baru nyadar!. berarti kita jodoh nih. hehe." Sahut reza terkekeh.
"Kok bisa kebetulan gini ya?." Arini mulai berpikir panjang saat mengetahui rumah yang ia tumpanginya itu berdekatan dengan lahan reza yang akan ia banguni rumah itu.
"Sudahlah.. ayo kita naik mobil, ntar telat." Dengan cepat lesty mendorong arini dan membantunya naik mobil.
Arini pun tak ambil pusing dan tak ingin mempermasalahkan itu.
Reza melajukan mobilnya hingga tiba dikampus.
Arini kaget karna reza tau tanpa bertanya.
"Reboy, lo kok tau kampus kita? perasaan, ini pertama kalinya lo anter kita kan?." Ujar arini heran.
"Tau lah, informasi kalian itu lengkap di web kantor." Sahut reza tersenyum.
"Maksud gue, kok lo bisa tau tempatnya?."
Reza menghentikan mobilnya tepat dipintu gerbang, ia pun menghadap pada arini.
"Aron, biar gue jelasin. Setengah bangunan dan isi kampus ini adalah milik oma dan opa gue. Mama dan papa juga kuliah disini dulu. Jadi jelas gue tau dong."
"Hah?.. Pantesan lo tau jalan tanpa bertanya. Tapi dulu kenapa lo gak kuliah disini juga? kenapa harus belajar dilondon?."
Reza kembali menghadap arini. "Singkatnya gini. Karna gue lebih suka belajar dinegara orang. Dan... Kalau gue gak sekolah dilondon, mungkin kita gak akan ketemu. Ya kan?"
"Ahh gak paham gue. Udah ah! yuk turun."
"Tunggu sebentar." Reza kembali melajukan mobilnya perlahan hingga masuk kehalaman kampus.
"Reboy! lo ngapain bawa mobil kesini? ini bukan tempat parkir!."
"Udah, tenang aja. Tunggu disini! biar gue bukain pintu." Reza bergegas turun untuk membukakan pintu mobil buat arini.
__ADS_1
Sementara lesty hanya diam membeku. "Fix, jadi obat nyamuk deh gue."
"Yang sabar ya ti." Sahut arini terkekeh.
Saat reza turun dari mobil, semua mahasiswa kampus itu terperangah karna ketampanannya, terutama kaum hawa. Bahkan mereka juga mengenali reza.
"Wahh cowok itu ganteng banget!.. dikampus ini belum ada cowok kayak dia."
"Benar, kayaknya dia orang kaya. eh tapi, wajahnya familiar."
"Bukankah itu adalah reza? anak dari rey dan ara alumni kampus ini?."
Semua orang mulai memperbincangkan kedatangan reza, mereka pun berkerumun untuk menyaksikannya.
Reza membukakan pintu mobil untuk arini, dan menggandeng tangannya keluar dari mobil. Lesty juga ikut turun.
"Bukankah itu arini? dia teman kampus dan juga senior kita kan?."
"Iya,, itu arini dan lesty,, wahh jangan-jangan reza dan arini pacaran. iri banget deh gue sama arini."
Lesty dan arini makin heran melihat mereka berkerumun hanya untuk melihat reza.
"Pliss deh.. tuh orang kayak gak pernah liat manusia aja!." Gumam lesty sambil menyeringai heran.
Reza masih terus menggandeng tangan arini sampai didepan mobilnya.
Tanpa diduga, reza langsung tertunduk dan berlutut sembari meraih kedua tangan arini.
"Za, lo ngapain? ayo bangun!." Arini kaget sekaligus malu jadi pusat perhatian anak kampus.
Namun reza tetap berlutut memegang tangan arini. "Arini, hari ini, didepan semua orang, dan kampus ini yang jadi saksi. Aku mau mengutarakan isi hatiku bahwa aku mencintaimu, dan aku sangat menyayangimu. Mau kah kau menjadi calon istriku?." Reza menatap wajah arini dengan sungguh-sungguh.
Arini terlihat bingung dan juga malu. Sementara lesty yang jadi deg-degan.
"Udah, jangan kelamaan mikir!." Pungkas lesty cuek sembari bersandar dimobil reza.
Arini pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Lo terima gue?." Pertegas reza. Arini kembali mengangguk.
Reza pun berdiri, dengan riangnya ia memeluk arini didepan semua orang tanpa rasa malu. "Makasih aron." Ujarnya sambil mengelus kepala arini.
Reza melepaskan pelukannya. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.
Satu kotak mungil berwarna pink yang berisi sepasang cincin dan sebuah kalung yang ia design dan ia buat sendiri.
"Sayang, ini untukmu." Reza langsung memasangkan kalung pada leher arini, dan juga memasangkan cincin dijari manisnya.
Arini tersenyum bahagia, ia tidak menyangka hari ini akan datang.
"Aron, tolong kamu pasangkan cincin ini untukku."
"Baiklah." Arini juga memasangkan cincin dijari manis reza. kemudian mereka kembali saling rangkul.
"Hmm.. Dunia terasa milik berdua tuh!." Gumam lesty sambil menggigiti kukunya.
Ditengah keramaian, munculah seorang dosen menghampiri. "Ada apa ini ramai-ramai? apa ada yang berkelahi?."
Reza dan arini langsung melepaskan diri. "Eh, ada bapak plontos, masih ngajar disini pak? udah tua ya sekarang?." Ujar reza pada dosen ekonomi itu.
"Eh! kamu? nak reza kan? wah kamu tampan sekali? sudah dewasa ternyata." Timpal dosen itu dengan senyuman.
"Iya dong pak. Oh iya, ada salam dari mama dan papa." Ujar reza tersenyum.
"Haiss.. orang tuamu itu dulu anak yang paling nakal dikampus ini, apa lagi mama kamu, dia gak pernah mengikuti kelasku. Tapi dia selalu mengumpulkan tugas, aku jadi heran." Jelas dosen tersebut.
__ADS_1
"Haha,, aku baru tau kalo mama anak nakal. Oh iya pak, aku titip arini ya? dia pacarku, sekaligus calon istri." Pungkas reza terkekeh.
"Arini pacarmu? wah bapak senang sekali, ternyata kamu mendapatkan pacar yang paling pintar dikampus ini, arini ini mahasiswa kesukaan bapak."
"Oh ya? wah dia memang hebat pak! aku gak salah pilih dia." Timpal reza tersenyum melirik arini.
"Ya sudah, bapak tinggal dulu.
Kalian semua!! ayo bubar!! masuk kekelas kalian masing-masing!! sebentar lagi kelas akan dimulai." Dosen plontos beserta mahasiswa lainnya itu pun bubar meninggalkan mereka.
"Huh.. aku lega. Sayang, ayo kuantar kekelasmu." Reza menarik tangan arini dan berjalan perlahan menuju kelas arini.
"Kayaknya gak perlu deh, malu diliat orang." Timpal arini. Namun reza tak menghiraukannya, ia tetap menggandeng tangan arini.
Lesty mengiringinya dari belakang. "Baru pacaran tuh mesranya pake banget, tapi kalo udah lama ntar pasti sering ribut, terus putus!." Gerutu lesty.
Reza langsung menghentikan langkahnya. "Apa lo bilang?! gue gak akan kayak gitu! emangnya hubungan lo sama boby yang kandas tengah jalan!." Reza menjitak kening lesty dengan kuat.
"Aduh!! sakit pe'ak!!. sekalian aja noh pake batu!!." Lesty mengelus keningnya.
Reza mengantar arini hingga masuk kedalam kelasnya, ia juga membukakan kursi untuk arini. Kayaknya reza paham banget dimana ruang kelas dan bangku arini.
"Silahkan duduk tuan putriku." Ujarnya tersenyum. Arini hanya menuruti dengan rasa malu bercampur gembira.
Teman sekelas arini itu tercengang melihat reza memperlakukan arini, mereka melongo tanpa bicara dan tanpa berkedip.
Reza berdiri didepan meja arini. "Sekarang udah dikelas, belajar yang rajin ya, bentar lagi mau wisuda. Aku pulang dulu ya cantik." Reza mengacak rambut arini kemudian mecium kepalanya.
"Daah sayang!." Reza keluar dari kelas itu dengan senyuman.
"Apaan sih dia, bikin malu aja." Gumam arini tersenyum sembari merapikan rambutnya.
Saat reza keluar, teman sekelas arini datang mengerumuni mejanya hingga lesty tersingkirkan.
"Rin, itu pacar baru lo ya? dia ganteng banget! manusia bukan sih?.
"Bukan, dia alien." Sahut arini terkekeh.
"Suer, baru kali ini gue liat cowok ganteng kayak artis gitu. Gue kapan woii dapat cowok ganteng!" Pungkas lainnya.
"Gila visualnya, ganteng banget, keren, kaya, kurang apa coba! oh tuhan kenapa lo gak adil, kenapa gue dapet cowok yang mukanya burik!." Timpal teman lainya.
"Rin, kalo gue jadi elo nih, mending lo karungin aja, terus bawa pulang, pajang dia dalam lemari dikamar lo. Kan sayang kalo wajah gantengnya dilihat banyak cewek."
Lesty begitu geram mendengar celotehan mereka yang gak jelas itu. Ia pun memukul papan tulis dengan kuat.
"Heii stop!!.. Kalian itu pada halu ya!.. Arini yang pacaran tapi kalian yang baper! cepat balik kebangku masing-masing! Gue lepasin nih papan tulis.!!."
Mereka semua kaget, lalu mereka kembali duduk ditempatnya dengan wajah merunduk takut.
"Apaan sih, ganggu aja!. orang lagi asik ngayal juga." Gumam salah satu siswa.
Lesty pun melemparkan spidol pada gadis itu, namun nyaris tidak kena."Banyak bacot lu! kalo mau ngayal, noh ditengah laut, biar hanyut sekalian."
Arini terkekeh melihat lesty kayak orang kesurupan itu.
Hampir tiap hari lesty bersitegang dengan teman sekelasnya, ia sama sekali gak takut baik itu cowok ataupun cewek.
Tapi dia juga lah yang menjadi pelindung arini selama mereka bersahabat. Tak heran banyak yang takut dan segan terhadapnya, karna sifatnya kayak laki.
•••
BERSAMBUNG...
Jangan lupa LIKE & VOTE.
__ADS_1