
SATU TAHUN KEMUDIAN.
Alvin dan dayon membangun perusahaan sendiri. Namun perusahan orang tua jessie tetap dibawah naungan mereka berdua.
Hingga akhirnya alvin pun menikah. Tidak lama kemudian daylon juga menyusul. Mereka berdua harus berpisah meninggalkan rumah jessie karna mereka sudah mempunyai keluarga dan juga rumah sendiri.
"Pa, aku gak mau pisah sama kalian. Aku ingin terus bersama kalian." Ujar jessie dengan mata berbinar.
"Papa juga gak mau pisah sama kamu sayang. Tapi papa sudah menikah. Dan kita harus keluar dari rumah ini." Timpal daylon.
"Gini aja. Kita akan ajak kalian. Sekarang siapa yang mau ikut papa alvin, dan siapa yang ikut papa daylon." Ujar alvin sambil mengusap rambut anggi.
"Anggi mau ikut papa alvin aja." Rengek anggi manja.
"Jessie mau ikut papa daylon." Tambah jessie.
Anggi dan jessie saling tatap. Kemudian mereka saling rangkul.
"Dek, kita harus berpisah. Tapi kamu tenang saja. Kita masih sekolah ditempat yang sama. Jaga diri kamu baik-baik ya. Jangan nakal, turuti semua perintah papa alvin dan mama pricil." Ujar jessie sambil menangis memeluk adiknya.
"Kak. Aku akan kesepian tanpa kakak. Kakak juga baik-baik bersama papa daylon dan mama karen. Hikss."
Hari itu mereka berpisah diiringi dengan isak tangis. Namun mereka saling menguatkan.
Daylon dan alvin langsung mengurus surat menyurat untuk mengangkat mereka sebagai anak. Jessie dan anggi pun resmi menjadi anak alvin dan daylon.
Tidak terasa, sudah satu tahun. Alvin pun punya anak perempuan bernama 'Andini', ia sangat mirip dengan anggi.
Selang beberapa bulan, daylon juga punya anak laki-laki bernama '
_
Beberapa tahun kemudian.
Umur jessie sudah menginjak 18 tahun. Dan anggi 17 tahun. Pelimpahan hak harta mereka pun dipindahkan ditangan mereka dan atas nama mereka.
Mereka sudah belajar tentang bisnis sejak mereka masih kecil. Tapi mereka tidak ikut andil mengurus perusahaan, karna alvin dan daylon hanya menyuruh mereka belajar. Soal perusahaan sudah ada yang menanganinya.
Saat itu jessie mulai kuliah. Ia memilih kuliah di korea karna menurutnya universitas dan tempatnya sangat bagus.
Sementara anggi masih SMA.
Pagi hari, anggi tengah mengeluarkan mobilnya dari teras.
Saat ia masuk mobil, terdengar suara klakson yang berbunyi keras.
"Hai anggi, selamat pagi."
"Haii neo, mau berangkat sekolah?."
"Iya, ayo barengan, aku akan mengiringi mobilmu dari belakang." Timpal neo tersenyum.
Semenjak anngi tinggal bersama alvin, rumah anggi dan neo hanya berseberang jalan.
Mereka kerap bermain bersama sejak kecil, bahkan mereka satu sekolah dari SMP sampai SMA.
Seiring berjalannya waktu, mereka pun saling cinta, dan akhirnya pacaran.
Namun, saat alvin mengetahui bahwa anaknya sudah berpacaran, ia pun marah.
"Anggi! Tadi papa lihat kamu jalan dengan neo? Apa kalian pacaran!" Ujar alvin tegas.
Anggi hanya menunduk. "Iya pa. Maaf."
"Kamu ini baru kelas 2 SMA, jangan pacaran dulu. Fokuslah belajar, supaya kau bisa menyusul kakakmu kuliah di korea!" Tegas alvin.
"Pa, aku gak mau kuliah terlalu jauh. Cukup kuliah disini saja." Timpal anggi menahan tangis.
__ADS_1
"Terserah kamu! Tapi awas kalo papa melihatmu pacaran lagi. Ini belum waktunya. Ngerti!."
"Baik pa." Jawab anggi tertunduk.
Pricil mendekati anggi dan merangkulnya.
"Sayang, maafin papa kamu ya. Dia melakukan itu untuk kebaikan kamu. Karna dia sayang sama kamu." Ujar pricil memeluk anak angkatnya itu.
"Aku tau ma. Tapi aku cinta sama neo."
"Iya, mama tau perasaan kamu. Mama juga pernah muda. Ya sudah, jangan sedih lagi. Sekarang kamu ajak adik kamu main ya. Mama mau masak."
"Baiklah.
Ayo andini. Kita main boneka saja."
_
Beberapa hari kemudian. Alvin kembali melihat anggi bersama neo. Ia pun marah pada neo yang selalu mengajak anggi jalan.
Saat kenaikan kelas. Nilai anggi menurun. Alvin pun makin marah.
"Kau lihat! Ini lah hasilnya jika sekolah sambil berpacaran! Sekarang berhenti berpacaran dengan neo. Kamu sudah kelas 3, tidak sampai setahun lagi akan lulus. Fokuslah belajar." Bentak alvin sambil melempar hasil raport ujian anggi.
Anggi menangis tersedu-sedu dalam pelukan mamanya.
Andini yang saat itu masih SD juga turut menangis melihat papanya sangat marah pada kakaknya.
"Papa jahat. Kenapa papa marah sama kak anggi.!!" Teriak andini.
"Kamu masih kecil. Kamu belum tau apa-apa. Jangan ikuti sifat kakak kamu yang suka membantah itu." Ujar alvin sambil berlalu.
Pricil memeluk kedua anaknya itu. "Sudah, gak usah nangis. Papa kayak gitu supaya kalian jadi lebih pintar, dan suatu saat bisa jadi andalan papa dan mama."
"Aku mengerti ma. Maafkan aku." Sahut anggi tertunduk.
_
Neo datang menghampiri anggi dengan wajah yang lesu.
"Gi. Aku mau ngomong."
"Ada apa neo? Kenapa kamu seperti sedang cemas." Timpal anggi.
"Benar. Aku lagi gak mood. Papa dan mamaku akan pindah kekota B untuk membangun perusahaan baru disana. Jadi, aku harus pindah sekolah. Sejujurnya aku gak mau pindah, apa lagi harus berpisah denganmu." Ujar neo sambil menggenggam tangan anggi.
"Kamu serius? Apakah kamu gak bisa tinggal saja? Aku juga gak mau pisah darimu."
"Papaku memaksaku untuk pindah sekolah. Aku gak bisa membantahnya.
Gimana kalo kamu juga pindah sekolah bersamaku." Ujar neo menatap anggi.
Anggi menundukkan kepala. "Neo, kamu tau papaku keras dalam mendidikku. Dia mau yang terbaik untukku. Aku gak mungkin pindah sekolah. Pasti gak akan diizinkan oleh papa. Maafkan aku, aku gak bisa."
"Aku mengerti. Aku gak akan memaksa kamu. Semoga suatu saat kita bertemu lagi ya. Aku akan menunggumu. Aku akan tetap mencintaimu." Neo mencium tangan anggi.
"Aku juga akan menunggumu kembali."
Hari itu. Anggi melihat neo pergi dari kejauhan. Ia harus melepaskan orang yang ia sayang. Mereka menjalani hubungan jarak jauh.
Saat neo pindah sekolah kekota B. Dia menjadi anak yang nakal dan brutal. Semua itu ia lakukan karna ia kesal terhadap orang tuanya yang menyuruhnya pindah sekolah dan pisah dengan anggi.
Ia bertemu dengan reza dan teman-temannya. Mereka pun hampir tiap hari berkelahi hingga membuat neo membenci reza.
Saat neo mengetahui bahwa reza menyukai yuki. Neo pun berniat merebut yuki dari reza. Ia berniat untuk mempermainkan yuki saja. Namun ia terperangkap dalam permainannya sendiri yang membuatnya jatuh hati pada yuki.
Sementara itu. Anggi yang merasa kehilangan neo, ia sangat tidak semangat dalam belajar hingga saat ujian akhir sekolah, nilai nya benar-benar ambruk.
__ADS_1
Alvin makin marah besar pada anggi melihat nilai ijazah nya sangat buruk.
"Anggi. Papa sudah gak tau harus dengan cara apa mendidik kamu. Hanya karna satu cowok membuat kamu tidak semangat! Sampai nilai kamu seburuk ini.? Apa yang kau inginkan dari neo hah! Apa kau ingin menikah dengannya!?
Baiklah. Jika kamu membutuhkan laki-laki, papa akan nikahkan kamu dengan reza minggu depan!" Tegas alvin.
"Vin, jangan terlalu kasar dengan anggi." Ujar pricil.
"Biarkan saja! Anak ini gak bisa diatur.
Apa kau gak lihat, kakak kamu belajar dikorea, dia punya cita-cita. Sementara kamu apa?!" Bentak alvin kembali.
Anggi hanya diam menangis dalam rangkulan pricil.
"Inget! Minggu depan kamu harus menikah dengan reza! Papa sudah menghubungi orang tuanya."
Anggi mencengatkan kepalanya. "Pa! Aku gak mau menikah dengan orang yang gak aku kenal. Siapa reza? Namanya saja aku baru dengar. Aku hanya mau menikah dengan neo!." Timpal anggi sambil menangis.
"Yang ada dipikiran kamu itu hanya neo! Dia membawa pengaruh buruk terhadapmu! Pokoknya kamu harus menikah dengan reza! Dia anak dari teman papa di kota B. Kamu gak bisa membantah papa. Kalo kamu gak mau menikah, kamu harus kuliah diluar negri." Tegas alvin.
"Papa jahat! Papa sudah gak sayang sama anggi.
Aku gak mau dua-dua nya!." Timpal anggi sambil berlari kekamarnya.
Setelah anggi pergi. Pricil pun mendekati suaminya itu.
"Apa kamu serius mau menikahkan anggi dengan reza?"
"Gak mungkin lah. Walau pun mereka beneran mau menikah, setidaknya harus cukup umur. Lagian reza masih kuliah di london. Aku hanya menggertak anggi supaya dia bisa melupakan neo itu. Sudahlah. Aku pergi dulu."
"Fiuh.. Sukurlah. Aku sudah deg-degan.
Baiklah. Hati-hati dijalan."
Saat alvin pergi, anggi melihatnya dari kamarnya.
Terbesit ide untuk kabur dalam benaknya.
"Ya, aku harus pergi dari rumah ini. Aku gak mau menikah dengan orang yang gak aku kenal. Walaupun itu anak teman papa sendiri. Aku harus menyusul neo."
Anggipun mulai mengemasi seluruh pakaiannya, ia juga membawa dokumen dan ijazahnya.
Saat mamanya tidur siang. Anggi diam-diam mengambil credit card milik mamanya.
Saat ia keluar dari kamar mamanya. Andini pun datang secara tidak sengaja.
"Kak, ngapain?." Tanya andini heran.
"Gak ngapa-ngapain dek. Jangan bilang sama mama ya kalo kakak dari masuk kamarnya. Sini deh kakak peluk dulu."
Anggi membungkukkan tubuhnya untuk memeluk andini.
"Dek, makasih ya sudah jadi adek yang baik selama ini. Kakak sayang sama kamu." Ujar anggi sambil menahan tangisnya. Kemudian ia kembali lagi kekamarnya.
"Kak anggi kenapa ya? Aneh banget. Auk ah."
_
Saat rumah dalam keadaan sepi. Anggi pun pergi dari rumahnya melalui pintu belakang.
Ia pun menuju kota B dan berharap akan bertemu dengan neo.
•••
BERSAMBUNG
(Flaschback nya blm selesai)
__ADS_1