
Andres wira beserta istrinya dan juga kinza, kini menetap dikota B, sementara ardian dan istrinya juga tinggal dikota yang sama, namun dirumah yang berbeda.
Saat meli, istrinya ardian bertemu dengan ara pertama kalinya, ia begitu menyukai ara, karna ara adalah idolanya.
Dan kini mereka menjadi sangat akrab.
Ardian sangat menyukai reza, tak jarang mereka selalu menemui reza jika ada waktu luang.
Terkadang meli ikut mengantar reza sekolah bersama dua pengawal reza.
Hari ini, meli datang kerumah ara pagi sekali ketika ara dan rey hendak berangkat kerja.
"Loh, kak meli? Ada apa pagi-pagi kesini?"
"Ra, gue boleh gak anter reza sekolah?"
"Oh, boleh dong kak, tapi kita harus berangkat kerja nih, reza nya ada didalam, masuk aja kak."
"Baiklah, makasih ya ra, kalian pergi saja, aku akan menunggu reza."
"Oke, kami berangkat ya kak." Ara dan rey melanjutkan pergi kekantor mereka.
Meli melangkah masuk menemui reza. "Reza, apa kamu sudah siap sayang, kita berangkat ya."
"Udah bik, ayo berangkat, paman ***, cok, ayo kita pergi." Ujar reza pada kedua pengawalnya itu.
"Siap den! Cus kita cabut!" Cok dengan semangat keluar rumah.
"Apanya yang mau dicabut ***? Cabut ubi kah? " Tanya cok dengan wajah heran.
"Ubi mata lo gosong! Maksud nya ayo kita pergi cok! Bego amat sih! Ayo jalan.!" Cok menjitak kepala ***.
"Oh gitu! Aneh, jelas beda lah cabut ama pergi, kata nya aja udah beda." Gerutu *** sembari masuk mobil.
Setibanya disekolah reza, meli mengantarnya sampai depan kelas. Ia baru pergi saat guru sudah mulai mengajar.
"***, cok, kita tunggu reza sampe pulang aja ya, kita kekafe depan sana aja, ntar kalian aku traktir makan."
"Siap nyonya! Kalo soal makan kita mah gak nolak." ***, cok dan meli pergi kekafe diseberang jalan.
Meli masuk lebih dulu disusul oleh *** dan cok.
Saat *** hendak masuk, ia bertabrakan dengan seseorang membuat orang itu jatuh tersungkur.
__ADS_1
"Eh, maaf, maf,, kaki gue gak ada mata, jadi gak liat, apa kamu baik-baik saja." Ujar *** sembari membantu orang itu bangun.
"Ya, gue gak apa ap.... Eh! Kalian?!! Kalian manusia *******! Gue belom selesai buat perhitungan sama kalian."
"Weew.. Ternyata yang gue tabrak tuh pecel si kutu kebo! Kalo tadi gue tau, udah gue bejek-bejek sekalian." Ujar *** geram.
"***, jangan-jangan dia mau jadi predator, pasti dia sedang mengintai anak bos kita nih, wahh kita harus waspada ***!" Pungkas cok melotot pada pricil.
"Lo bener cok! Setelah dia keluar dari penjara, otak nya makin kusut gak karuan. Eh kutu kebo! Mending lo pergi sono jauh-jauh, bila perlu pergi kealam baka sekalian!"
"Yang ada tuh kalian yang pergi! Sumpah gue bosan banget liat muka kalian yang bentuknya gak karuan itu, sampe pengen muntah darah gue!"
"Ngatain orang! Lihat tuh muka elo! Udah kayak patung yang terbuat dari tanah liat! Dari bentuk dan warnanya aja udah kayak bukan manusia! Udah mirip banget sama jenglot, haha..!!" *** dan cok tak hentinya berseteru dengan pricil mantan bos nya itu.
Meli yang sedari tadi duduk didalam, merasa bingung karna *** dan cok tak kunjung masuk, ia pun keluar untuk melihat mereka.
"***, cok ngapain diluar? Ayo ma... suk..
Eh, kamu? Bukan kah kamu pricil?" Meli kaget melihat pricil yang merupakan teman kampus nya waktu dijerman.
"Hah?? Kamu.... Kamu meli?" Sahut pricil tersenyum.
"Iya,, iya, aku meli, kamu kenapa jadi seperti ini, sangat berbeda dengan yang dulu, em.. Kita ngobrol didalam aja yuk." Meli mengajak pricil masuk dan makan bersama.
"Setahuku bebuyutan ***! Auk ah, ayo kita kemeja dibelakang mereka aja. Sekalin sambil nguping." Sahut cok.
Sembari makan, meli mengajak ngobrol pricil.
"Sil, kenapa lo jadi kayak gini? Sumpah gue kaget saat liat elo, kemana wajah lo yang putih mulus dan baju branded dulu, apakah perusahaan mama lo udah bangkrut?"
"Mel, gue baru keluar dari penjara 3 tahun yang lalu, gue gak punya ongkos buat balik kekota F. Dulu gue dipenjara dikota F, tapi dikirim kekota B, sedangkan mama gue gak tau kantor polisi disini, atau mungkin dia emang gak mau tau lagi." Jelas pricil tertunduk.
"Sil, kenapa lo bisa dipenjara? Kasus apa yang menimpa lo?
"Ini semua berawal karna ara, gadis udik itu. Dia merebut rey dari gue, gue gak terima rey lebih memilih dia, saat itu gue menculik ara dan hendak membunuhnya, namun rey menyelamatkannya dan membuatku masuk penjara.
"Tunggu!! Rey? Ara? "
"Benar nyonya! Rey dan ara bos kita, atau adik tiri nyonya, atau orang tua den reza!" Sahut *** nimbrung.
Mendengar penjelasan ***, meli kaget, dan emosi.
"Jadi, lo sempat mau bunuh ara? Jadi ara ini yang lo ceritain dulu? Pricil, lo kok jahat banget sih, gue gak nyangka, lagian ara gak ngerebut rey! Lo dan rey udah putus sejak SMA, sementara mereka pacaran pas kuliah!
__ADS_1
Sekarang gue minta sama elo, jangan ganggu mereka lagi, karna mereka adalah adik tiri gue! Lagian gak ada gunanya balas dendam!
Sekarang anggap aja kita gak kenal!! Gue gak suka punya teman berhati iblis!
***! Cok! Ayo kita keluar!
"Mel!! Maafin gue! Gue ngelakuin itu karna mereka gak menghargai gue! Mereka selalu menghina gue! Gue sakit hati mel!" Jelas pricil sambil menggayuti tangan meli.
"Oi pecel! Jangan mutar balikin kata! Yang ada elo duluan yang berniat jahat sama mereka, bahkan mereka sempat putus gara-gara ulah lo! Mereka orang baik-baik!! Gak kayak kuntilanak kayak elo!!" Timpal *** dengan emosi!.
Meli menepis tangan pricil. "Udah lah ***, percuma ngomong ama orang yang gak punya hati.
Inget ya sil, jangan sekali lagi lo ganggu keluarga mereka, karna sekarang kami sudah satu keluarga, dan suami gue adalah tentara, pastinya dia gak akan tinggal diam. Mending lo urus aja diri lo sendiri dari pada sibuk ngurusin balas dendam yang belum tentu bisa berhasil, lo tau sendiri kalo rey sekarang orang paling kaya, apa lo yakin sanggup melawannya?
Nih, uang! Itu lebih dari cukup untuk ongkos lo balik kekota F, mulailah jalani hidup apa adanya, karna cowok gak hanya satu didunia ini, kalo hati kita bersih dari keburukan, mudah-mudahan banyak pria yang mendekat!
Sampai jumpa lagi!!"
Meli beserta *** dan cok pergi dari kafe itu setelah meli meninggalkan uang untuk pricil.
Setelah mereka pergi, pricil menangis sembari memungut uang diatas meja itu, entah apa yang ia rasakan sekarang, tetap maju atau menyerah.
Ia berjalan perlahan menyusuri tepi jalan.
Dari seberang jalan ia melihat meli dan kedua pengawal reza sedang menggandeng tangan reza masuk kemobil sembari tertawa bercanda.
Melihat hal itu, hati pricil terketuk.
"Ya, meli benar, mungkin selama ini aku terlalu terobsesi dengan balas dendam, hingga merusak diriku sendiri seperti ini, sedangkan mereka tetap bahagia walau berbagai cara sudah aku lakukan untuk memisahkan mereka.
Sepertinya aku harus kembali kekota F dan melupakan semua tentang mereka. Aku janji, aku akan mengubah diriku menjadi lebih baik lagi.
Maafkan aku rey, ara, reza, meli, dan kalian semua, aku baru sadar kalo aku memang bodoh! Aku merusak diriku sendiri.
Sekali lagi maafkan aku."
Pricil menangis tersedu ditepi jalan sambil melihat mobil yang dikemudikan *** itu pergi menjauh dari sekolah reza.
Kemudian ia menghentikan taxi, lalu pricil kembali kekota F dengan hati yang sudah tenang dan ikhlas.
•••
BERSAMBUNG.
__ADS_1