
Dalam perjalanan menuju rumah yuki. Ia masih heran melihat arini yang sangat pandai mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Rin. Aku baru tau kalo kamu bisa nyetir." Uja yuki menatap heran arini.
"Hah?. Em... Itu karna.. Dulu gue sempat belajar. Oh iya, kenapa gak suruh neo aja yang pulang." Sahut arini mengalihkan toik.
"Tadi bunda bilang, kalo neo sedang meeting penting diluar kota, dia akan pulang malam nanti. Pasti dia sangat cemas mendengar kabar yunie." Yuki merunduk sedih.
Beberapa saat kemudian tibalah mereka dirumah yuki.
Orang tua yuki sudah bersiap untuk membawa yunie kerumah sakit. Dengan panik yuki menggendong anaknya itu.
"Rin, ayo cepat jalan, cari rumah sakit yang dekat aja ya, kasian yunie." Ujar yuki cemas.
"Baiklah." Arini pun melajukan mobil itu cukup kencang.
"Ya ampun nak, badan kamu panas sekali. Bun, kenapa yunie bisa kayak gini? Padahal semalam dia baik-baik saja." Tanya yuki pada bundanya.
"Bunda juga gak tau, tadi pas habis mandi badannya memang agak panas. Pas bunda kasih susu, dia malah muntah. Semoga yunie bik-baik saja." Jelas bunda.
Saat tiba dirumah sakit, yunie langsung ditangani dokter dengan cepat. Mereka semua nampak begitu panik dan cemas. Arini masih menemani yuki untuk menenangkan dan menghiburnya.
_
Disisi lain, reza yang baru saja tiba dikantor papanya itu disambut hangat oleh alvin dan pricil beserta anak mereka.
"Hei om, tante, apa kabar?." Reza menyapa sembari merangkul mereka.
"Hai za, kamu sudah dewasa sekarang. Dan makin tampan. Kamu juga apa kabar?." Timpal alvin tersenyum.
"Seperti yang kalian lihat. Oh iya dimana andini? Sudah lama sekali gak liat dia." Ujar reza menanyakan anak alvin dan pricil itu.
"Dia sedang bermain dengan ratu." Sahut pricil.
"Nah itu dia!. Andini cepat kemari. Ada kak reza nih. Kamu bilang mau ketemu dia." Ujar pricil pada anaknya itu saat andini dan ratu masuk keruangan.
Andini pun berlari ketika melihat reza, ia pun langsung memeluknya. "Wah, kak reza makin tampan ya? Aku kangen banget loh sama kakak. Waktu kami kemari kakak gak ada karna masih dilondon." Ujar andini didalam dekapan reza.
"Iya, kak reza juga kangen sama andini. Sekarang kamu makin cantik dan makin besar ya? Udah kelas berapa sekarang?"
"Sama dengan ratu kak, kelas 2 SMA, bentar lagi mau kelas 3." Timpal andini. "Oh iya, kakak udah punya pacar?." Tanya andini cengengesan.
"Udah dong, namanya mirip dengan nama kamu. Yaitu arini. Dia gadis yang cantik, baik, pinter dan dia juga sekretaris kakak. Kamu dan ratu jangan dulu pacaran ya, fokus saja belajar." Pungkas reza sembari menepuk kepala andini.
"Elehh.. Padahal kakak dulu baru kelas 2 SMA udah pacaran kan? Dan akhirnya ditinggal nikah juga." Timpal ratu terkekeh mengejek kakaknya itu.
"Ratu! Jangan buka aib!. Om, tante, jangan dengarkan ratu ya? Dia pinter banget kalo ngarang." Sahut reza malu.
"Haha,, kamu lucu za, gak apa-apa kali, biasa aja. Namanya jodoh gak ada yang tau. Za, tante boleh nanya gak?." Pungkas pricil.
"Tanya aja te, kenapa harus minta izin."
"Za, apa kamu serius pacaran dengan siapa itu nama pacar kamu? Apa kalian sudah ada planing mau nikah?" Tanya pricil serius.
"Aku baru saja dua hari pacaran dengannya. Tapi aku mau serius dengannya. Aku sudah bilang padanya, kalo aku akan menikahinya." Jelas reza tersenyum sambil membayangkan arini.
"Oh gitu?. Ya baguslah. Pertahankan jika kalian saling cinta. Jangan sampai ditinggal nikah lagi ya." Timpal pricil terkekeh.
"Tante apaan sih. Aku yakin dia gak akan kayak gitu. Ya udah yuk kita makan bareng, biar aku yang traktir, udah siang nih."
Reza mengajak mereka makan bersama dikantin perusahaan papanya itu.
_
Sementara itu, arini masih berada dirumah sakit bersama yuki.
"Rin, udah hampir sore, mending kamu balik aja kekantor, kamu masih banyak tugas kan? Disini ada ayah dan bunda bersamaku menjaga yunie. Lagian yunie sudah membaik." Ujar yuki pada arini.
"Baiklah, aku balik kekantor ya. Hubungi aku kalo butuh bantuan. Semoga yunie lekas sembuh." Timpal arini sembari menepuk pundak yuki.
"Baiklah, terimakasih kamu sudah mengantar kami kerumah sakit." Sahut yuki tersenyum.
"Gak masalah kok. Baiklah om, tante. Aku pulang dulu ya. Kalau nanti kalian belum pulang, aku akan kesini lagi." Arini pun pergi dari rumah sakit menuju kantor.
Saat masuk kantor, ia bertemu dengan direktur robet.
__ADS_1
"Hei rin. Dimana bos? Bukankah kalian pergi bersama?"
"Dia sedang ada pertemuan keluarga dikantor papanya. Mungkin sore atau malam nanti akan pulang. Ada apa pak robet menanyakannya?." Timpal arini.
"Aku ingin meminta dokumen design yang sudah ia tanda tangani." Ujar pak robet.
"Oh gitu, ayo ikut aku, biar aku yang mencarikannya." Arinipun mengajak direktur robet keruangan reza untuk mencari dokumen tersebut.
"Wah kamu bisa membuka ruangan ini dengan sidik jarimu? Katanya kalian sudah pacaran ya?." Tanya pak robet penasaran.
"Iya, baru aja kemarin.
Ini kan dokumennya? Silahkan di cek."
"Iya benar. Makasih ya. Kalau gitu aku pergi dulu."
Setelah pak robet pergi, arini pun merapikan ruangan reza yang masih berantakan karna tadi pergi mendadak.
Saat ia merapikan buku beserta dokumen, ia pun memasukannya kedalam laci.
Arini mendapati sebuah album didalamnya. Karna rasa penasaran, ia pun membuka album foto tersebut.
"Wah, ini album foto reza selagi kecil, ternyata dia memang tampan dari lahir." Arini begitu antusias melihat foto reza dari kecil dan banyak juga foto saat ia SMP dan SMA.
Namun arini harus kecewa karna dihalaman terakhir foto itu terdapat dua lembar foto kebersamaan reza dan yuki.
Ia pun mengeluarkannya dari album.
"Aku gak tau harus sedih atau apa saat melihat foto ini." Arini pun memutar foto itu, nampak ada beberapa baris yang tertulis dibaliknya.
(Tetap bahagia, jaga hubungan ini sampai kita menikah. Walau nanti kita tidak jodoh, tapi berjanjilah akan selalu saling mencintai.
Ttd: Reza dan yuki.)
Arini menangis setelah membaca kaliamat itu. "Apa kalian masih saling mencintai sampai saat ini? Kalian sudah mempunyai kehidupan yang berbeda, apa kalian masih saling menginginkan?." Air mata arini membasahi dua lembar foto kebersamaan reza dan yuki semasa mereka pacaran itu.
Tangisan arini terhenti ketika lesty menelponnya.
Dengan cepat arini menyeka air matanya dan menjawab telpon itu.
"Gue lagi diruangan reza ti, ada apa? Gue lagi ada kerjaan."
"Weii udah jam berapa ini? Semua karyawan udah pada pulang! Ayo pulang.!"
"Serius? Emangnya sekarang jam berapa?." Tanya arini heran.
"Ini udah jam 5 lebih rin. Ayo cepat pulang. Gue tunggu di lobi ya. Cepat turun!."
"Iya.. Iya.. Ya udah tunggu ya." Arini langsung mengakhiri telponnya.
Dengan cepat, arini menyimpan kedua foto tersebut kedalam tas nya, kemudian ia menaruh album itu kembali ke asalnya. Lalu ia turun menemui lesty yang sudah menunggunya.
"Ti. Ayo pulang." Arini berlalu begitu saja tanpa menoleh pada lesty.
"Hei.. Lo kenapa? Kok buru-buru. Kita pulang naik apaan? Kita kan gak bawa motor." Timpal lesty sembari mengiringi langkah arini.
"Gue bawa mobil reza. Ayo cepat."
Saat arini hendak masuk mobil, pak robet datang memanggilnya. "Rin, tunggu!"
"Rin, kamu mau pulang? Kenapa bawa mobil bos? Ntar dia pulang naik apa?." Ujar pak robet bingung.
"Kurasa mobil dikantor ini bukan hanya satu. Lagian danu dan boby belum pulang kan?, mereka akan menjemput reza. Oh iya, kalau nanti dia nanya aku, bilang aja udah pulang ya pak, suruh dia ambil mobil dirumah." Jelas arini.
"Siapa yang bos sih sebenarnya?." Gumam pak robet.
"Pak robet belum mau pulang?" Tanya lesty.
"Aku dan semua manager belum bisa pulang kalau bos reza belum pulang, kami akan menunggunya."
"Oh, ya sudah, kalau gitu kami pulang ya pak." Lesty dan arini pun masuk mobil dan langsung melajukan mobil itu.
Disaat yang bersamaan, reza hendak berpamitan untuk pulang. "Ma, pa udah sore nih, aku mau balik kekantor, semua karyawan pasti sudah pulang. Om dan tante mau nginap dirumah? Atau mau kemana?." Tanya reza pada alvin dan pricil.
"Nanti malam kita menginap dirumah kamu. Oh iya, kamu pulang naik apa? Bukankah kamu bilang kalo mobil kamu dipakai pacar kamu?" Ujar alvin.
__ADS_1
"Iya ya.. Aku lupa. Aku telpon danu dulu."
"Gak usah, ayo ikut kami. sekalian kami mau melihat kantormu." Timpal alvin
"Alvin benar, kalian pergilah kekantor reza, aku dan ara langsung pulang kerumah." Sahut rey.
"Pa, ma, Aku ikut mereka ya." Ujar ratu pada orang tuanya.
"Iya sayang, tapi kamu dan andini jangan nakal ya."
"Iya ma. Ayo din, kita pergi." Ratu menggandeng tangan andini keluar dari kantor, diiringi oleh reza beserta alvin dan pricil.
Setibanya dikantor reza. Alvin dan pricil kaget melihat gedung perusahaannya begitu besar hampir menyaingi perusahaan mereka.
"Reza benar-benar hebat! Kantor kamu sama besarnya dengan kantor papa kamu!." Ujar alvin merasa bangga dengan anak sahabatnya itu.
"Om alvin bisa aja, jangan terlalu memuji. Ayo masuk."
Mereka mengiringi reza masuk. Lalu disambut dengan direktur robet yang sudah menunggunya di lobi kantor.
"Eh pak robet? Belum pulang?. Arini masih didalam atau sudah pulang?" Tanya reza.
"Arini sudah pulang bos. Tadi dia bilang, nanti ambil saja mobil dirumahnya." Jelas pak robet.
"Oh baiklah.
Om, tante ayo duduk. Kita ngobrol disini aja ya. Didalam sudah sepi."
"Wah, lobi kak reza lebih besar dari lobi kantor papa." Ujar andini melihat sekeliling kantor reza.
Ditengah obrolan mereka. Datang juga danu dan boby yang baru saja pulang dari mengawasi alat pembangunan dilahan reza.
Mereka pun saling berkenalan dengan alvin dan yang lainnya. Setelah beberapa lama berbincang. Mereka pulang kerumah rey dan ara.
_
Malam harinya, dirumah arini. Ia dan lesty sedang bersantai setelah makan malam. Wajah arini masih terlihat murung tanpa ekspresi dan jarang bicara.
"Rin. Apa yang sudah terjadi? Gue perhatiin dari tadi lo banyak diem. Ada apa?."
"Gak ada." Sahut arini singkat.
"Hm.. Tumben gak mau cerita. Oh iya, reza udah tau ya kalo lo bisa bawa mobil.?"
"Tadi gak sengaja gue bilang, karna tadi gue mau anter yuki pulang. Yunie sakit, gue mengantar mereka kerumah sakit." Jelas arini dengan wajah datar sambil fokus nonton tv.
"Hah yunie sakit.? Sekarang udah sembuh belom? Mereka udah pulang belom? Kita kesana yok." Timpal lesty panik.
"Eh, iya ya.. Gue baru inget. Ya udah ayo kita kesana. Kalo neo belum pulang, mereka pasti bingung mau pulang naik apa. Karna tadi yuki bilang, malam ini mereka mau pulang. Ayo ti berangkat." Arini langsung mengambil konci mobil.
Mereka berdua pun bergegas menuju rumah sakit.
Setibanya disana, ternyata neo sudah tiba sejak sore.
"Loh, katanya lo pulang malam?." Ujar arini pada neo.
"Tadinya sih gitu, tapi gue cemas sama yunie, makanya pulang cepat. Sekarang kita mau pulang nih." Timpal neo.
"Oh, udah mau pulang? Yunie udah sembuh?." Sahut lesty.
"Udah lumayan sih. Kalian ikut aja kerumah. Sekalian bantuin yuki beres-beres."
"Gak perlu, ini udah selesai kok." Sahut yuki yang baru saja keluar dari kamar pasien.
"Oh udah selesai sayang? Sini barang-barangnya, biar aku masukin ke mobil." Neo langsung mengambil barang yang dibawa arini. Sedangkan bundanya menggendong yunie.
"Rin, kita ikut aja yuk." Ujar lesty.
Mereka pun pergi menuju rumah yuki. Sementara reza masih sibuk ngobrol santai dirumahnya bersama keluarganya.
•••
BERSAMBUNG.
mohon VOTE nya🙏
__ADS_1