
Esok harinya. Semua sedang berkumpul dirumah sakit. Karna weekand, jadi mereka bisa dirumah sakit menemani arini seharian.
"Sebenarnya kami ngampus hari ini. Tapi kami tunda dulu, arini lebih penting." Ujar genta dan evi.
"Sama, hari ini juga jadwal gue dan arini ngampus." Timpal lesty.
Ditengah perbincangan mereka, tiba-tiba tangan dan kaki arini bergetar. Disusul oleh tubuhnya yang ikut bergetar. Makin lama makin kencang, dia pun mulai kejang-kejang.
Reza dan yang lainnya panik melihat arini, kabal dan selang infus beserta jarumnya sudah terlepas dari tubuh arini.
"Arini.! astaga! Ada apa ini? apa yang terjadi." Ujar reza panik sambil menahan tubuh arini.
Tanpa pikir panjang. Neo pun keluar dari kamar itu dan berlari untuk mencari dokter.
Tidak lama kemudian, ia kembali lagi bersama beberapa dokter dan asistennya.
"Mohon semuanya keluar dulu. Kami harus menangani pasien." Ujar dokter sembari menangani arini.
Dengan terpaksa, mereka harus keluar dari ruangan itu.
"Ahh...!!." Reza menjerit sambil memukul dinding. Ia bagaikan orang frustasi yang memukulkan kepalanya kedinding.
"Arini, kumohon sadarlah. maafkan aku. ini salahku. Aku sayang padamu arini.!!" Ungkapnya dalam tangisan penyesalan.
Boby mendekati reza perlahan. "Sabar bos, kita berdoa saja. Kita semua sayang dengan arini." Ujarnya sembari menepuk pundak reza.
Tidak lama kemudian, dokter keluar setelah menangani arini. Reza pun berlari menghampiri dokter itu.
"Dok, gimana kondisi arini?."
"Tadi terjadi ketegangan pada urat dan syaraf nona arini hingga membuatnya kejang-kejang. Karna bekas operasi kemaren belum sepenuhnya pulih. Tapi kami sudah memberinya obat untuk mempercepat pemulihannya. Kemungkinan besar hari ini dia akan sadar." Jelas dokter dengan rinci.
"Baik dok terimakasih banyak."
Setelah dokter pergi, merekapun berkerumun masuk dan berdiri disamping ranjang arini.
Reza memeluk tubuh arini yang pucat tak berdaya itu. "Sayang, kumohon sadarlah. sadarlah aron! aku merindukanmu." Reza menciumi kening arini.
"Za, yang sabar ya. Gue harap, saat dia sadar ntar, lo bisa lebih menghargai perasaannya. Inget, kehilangan itu sangat sakit. Jangan sampai lo menyesal." Ujar neo sembari menepuk pundak reza.
"Iya gue tau, makasih banyak." Sahut reza singkat.
Siang itu, mereka tidak ada yang mau pulang. Mereka semua ingin menunggu arini sadar.
Karna keterbatasan ruangan, reza pun meminta pada dokter untuk memindahkan arini keruangan vip yang lebih besar.
__ADS_1
Arini pun dipindahkan atas perintah reza. Mereka semua bisa bersantai dalam satu kamar besar, lengkap dengan sofa dan beberapa kursi.
Merekapun bersantai dan beristirahat sambil menunggu arini sadar.
Sedangkan reza duduk dibangku sebelah kanan ranjang arini. Dan lesty disebelah kirinya.
Karna kelelahan menunggu, mereka semua tertidur. Reza menggenggam tangan arini dan tidur diatas tumpukan tangan mereka.
Sore harinya. Jemari arini mulai bergerak perlahan, namun tidak ada yang menyadarinya.
Arini pun membuka matanya, ia terlihat bingung saat melihat atap kamar rumah sakit yang asing baginya sembari mengingat yang terjadi.
Matanya tak henti memandang sekeliling kamar, ia heran kenapa kamar itu begitu ramai. Saat ia menarik tangannya, ia merasa sakit dan keram karna tertindih reza dan lesty.
Perlahan ia menarik tangannya karna ia tidak ingin membangunkan mereka. Arinipun hanya diam sembari berpikir apa yang sudah terjadi padanya.
Lesty terbangun, ia pun tersenyum girang melihat arini yang sudah mengedipkan matanya.
"Heii.. arini sudah sadar, cepat kalian bangun.!" Teriak lesty.
Semua orangpun bangun dan berkerumun disamping ranjangnya. Reza juga tersenyum lebar melihat kekasihnya itu sudah membuka matanya.
"Rin, lo gimana perasaan lo? apa masih sakit?." Tanya lesty dengan mata berbinar.
Mereka semua makin lega saat arini menyebut nama lesty, itu artinya dia tidak lupa ingatan.
Reza pun berdiri, ia meraih tangan arini dengan senyum semeringah.
"Sayang, aku lega melihatmu kembali. Aku sangat merindukanmu. cepatlah pulih supaya kita bisa bersama lagi."
Arini merasa heran dan risih, ia menarik tangannya dengan cepat. "Lepasin tangan gue. Lo siapa? dan kalian semua siapa?. Gue baru pindah dikota ini, dan gue hanya kenal dengan lesty karna dia teman kampus gue." Ketus arini menatap tajam mata reza.
Senyum diwajah reza dan yang lainnya seketika hilang. Reza kembali duduk lemas.
"Ya tuhan! ini kah balasanmu? atau ini ujian yang kau berikan padaku? Rasanya aku gak sanggup." Gumam reza berlinang air mata.
Arini makin bingung. "Ti, dia kenapa? dia siapa?." Tanya arini pada lesty.
Lesty menghela nafas. "Rin, dia reza, pacar lo. Dan mereka semua sahabat kita. apa lo gak inget sedikitpun?" Jelas lesty sembari menunjuk mereka.
Arini berpikir sejenak sambil memegang kepalanya. "Ahh gue inget! Elo.. neo kan? lo pacar gue yang pindah kesini kan? Gue kabur dari rumah karna mau dijodohin sama papa, gue kesini karna nyariin elo neo." Timpal arini sembari menarik tangan neo.
Neo bingung harus ngapain. "Arini, maaf. Kita sudah gak ada hubungan lagi, sekarang gue udah nikah. Dan ini istri gue, namanya yuki." Bantah neo sembari memperkenalkan yuki.
Arini tertunduk sedih mengetahui neo sudah menikah. "Lo jahat neo! lo jahat! Gue gak nyangka lo berhianat! lo bilang mau nikahin gue! mana janji lo.!!" Arini berteriak sambil menangis.
__ADS_1
Ia melepaskan semua peralatan yang melekat ditubuhnya, hingga bekas tusukan jarum infus itu mengeluarkan darah.
Arini membuka selimutnya kemudian turun dari ranjang dan berlari keluar.
"Arini.! kamu mau kemana?." Teriak reza sembari mengejarnya.
"Hidup ini gak adil. Kenapa harus gue yang menderita!! Gue mau mati saja.! kalian jangan ikutin gue.!!" Arini terus berlari menuju koridor untuk loncat dari lantai tiga itu.
Reza makin mempercepat langkahnya. Ia pun meraih tangan arini dan memeluknya erat.
"Sayang, pacarmu bukan lagi neo, tapi aku. Aku siap menikahimu sekarang. Aku sayang padamu, tolong sayangilah nyawamu." Ujar reza sembari mengelus kepala arini.
Arini berusaha berontak, namun reza memeluknya terlalu kuat hingga arini tak bisa melawannya.
"Heii lo siapa? kenapa lo main peluk orang aja!. Gue gak kenal sama elo! jangan ngaku kalo pacar gue. Karna cuma neo pacar gue.! Lepasin gue.! biarin gue mati.!"
Ditengah kericuhan arini, beberapa dokterpun datang karna dipanggil oleh danu.
Arini seketika tak sadarkan diri setelah dokter menyuntikkan obat penenang ditubuhnya.
Reza pun menggendongnya kembali kedalam kamar dan membaringkannya perlahan.
Mereka semua hanya tertunduk melihat kejadian yang baru saja terjadi itu.
"Tuan reza, sepertinya pacar anda hilang ingatan. Ia lupa kejadian sekitar tiga tahun terakhir. Kemungkinan hanya beberapa orang saja yang ia ingat. Itu sudah biasa terjadi setelah pasien operasi otak. Kalian bisa membantu mengingatkannya kembali dengan cara mengulangi kejadian yang pernah terjadi, tapi jangan dipaksakan." Jelas dokter.
"Dok, dia hanya mengingat lesty dan neo. Dia juga ngerasa bahwa ia baru datang dikota ini." Timpal danu.
"Ya, itulah sebagian yang ia ingat. Kalian harus bisa mengembalikan ingatannya kembali. Tapi akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Kalau begitu saya permisi, biarkan nona ini istirahat dulu."
"Baik dok, terimakasih."
Mereka semua lemas mendengar penjelasan dokter.
Reza meraih tangan arini dan menangis tersedu-sedu tanpa suara. Ia hanya mengingat awal pertemuannya dengan arini yang saat itu arini lah yang menyelamatkan nyawanya.
Namun ia tidak bisa membalas budi arini.
Ia hanya bisa menyesalinya. Dalam hati, reza bertekad untuk membahagiakan arini dan memberikan cinta yang penuh untuk arini jika dia sudah sembuh nanti.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1