Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:22


__ADS_3

Masih berlanjut dalam perjalanan bersama reza, danu dan boby. Dipinggir jalan, danu menepikan mobilnya.


"Rin, ayo keluar, kita beli makanan, kalian tunggu disini saja ya bos". Danu mengajak arini keluar untuk berbelanja jajanan.


"Nggak ah! Gue malu, sepatu gue kan gak sama. Lo sendirian aja deh!". Sahut arini.


"Oh, ya udah,, bob ayo temenin gue!"


"Haiis.. Aku juga. (Slogan mail difilm upin ipin).


Danu dan boby pergi dengan gaya sok keren karna dipinggir jalan banyak cewek cantik yang mengantri beli makanan.


Sementara reza dan arini sibuk sendiri liat hp didalam mobil walau duduk berdekatan.


"Rin, ntar lo pindah tempat duduk!". Ujar reza.


"Loh,, kenapa?".


"Jangan banyak tanya. Turuti saja!"


"Iya.. Iya.. Abis ini, kita kekosan gue dulu ya. Gue mau ganti sepatu". Timpal arini mengangkat kakinya untuk menunjukan sepatunya pada reza.


"Gak bisa! Kita ada kerjaan yang lebih penting, pulang nanti saja baru kerumahmu". Ketus reza.


"Hmm.. Baiklah."


Beberapa saat kemudian, danu dan boby kembali lagi. Jajanan itu langsung ia berikan pada arini. Lalu mereka melanjutkan perjalanan.


"Bos, kita mau kemana?". Tanya danu sambil mengemudi.


"Keperusahaan XX". Jawab reza singkat.


"Hah? Bukankah itu perusahaan tempat neo bekerja kan? Emangnya bos tau tempatnya?"


Sahut boby.


"Perusahaan XX masih berada dibawah naungan perusahaan RA, yaitu perusahaan papa".


"Apakah singkatan 'RA' itu adalah Reza dan Arini?". Cela arini cengengesan.


"Mata lu picek!! 'RA' itu singkatan dari nama papa dan mama, yaitu Reynand dan Ara. Ngapain lo ngomong kepedean gitu!". Ketus reza.


Danu dan boby terbahak mendengar ke Halu'an arini.


"Haha,, ya siapa tau aja kan, biasa nya dari halu bisa jadi kenyataan. Lagian singkatanya bikin gue salah paham". Lanjut arini.


"Serah elu!!


Oh iya, danu, boby, ntar kalo neo keluar kantor, kalian langsung bawa dia masuk kemobil. Ada yang mau gue omongin sama neo". Tutur reza.


"Bos! Apakah lo mau ajak neo gelut?". Ujar boby cemas.


"Gelut disawah kah?". Pungkas arini mencela.


"Itu belut weiii belut.!! Elaah.. Marfu'ah!!". Danu memukul setir dengan geram.


"Oh.. Maap!".


Boby terbahak gak karuan sampai kepala nya kejedot kaca mobil disampingnya, sedangkan reza hanya geleng kepala, udah biasa liat cewek o'on!.


Setibanya dikantor peusahaan XX, mereka menunggu neo keluar dari kantor.


Danu dan boby sudah bersiap mananti sambil duduk diatas kap mobil.


Saat neo keluar kantor diam-diam danu dan boby membuntutinya, kemudian mereka meringkus tangan neo dan membawanya masuk kemobil reza.

__ADS_1


"Woiii apa-apaan ini!!? siapa kalian!!?". Neo berteriak karna didalam mobil begitu gelap. ia tidak dapat menge ali mereka.


Reza menghidupkan lampu didalam mobil supaya neo diam. Saat neo mengetahui bahwa itu adalah reza, ia hanya tertunduk. kemudian reza mematikan lampunya kembali.


"Reza, ada apa kau menemuiku?, bicara saja. Sekarang, aku harus pulang, karna aku membawa motor". Ujar neo yang merasa sedikit gugup.


"Boby! Kamu bawa motor neo, dan iringi kami dari belakang" Perintah reza.


"Baik bos!".


Danu langsung menyalakan mobil dan melajukannya perlahan. Arini pindah tempat , ia duduk didepan bersama danu. Sementara boby membawa motor neo dan mengiringi mereka dari belakang.


Sesekali arini melihat reza dan neo yang ada dibelakang melalui kaca mobil didepannya. "Ada apa ini? Kenapa gue ngerasa sedang berada dikutub utara? Yang dibelakang pada dingin dan seram, jangan-jangan akan ada perang ntar!".


Setibanya diujung kota, danu menepikan mobilnya diatas jembatan yang sepi dan sedikit gelap. Lalu mereka semua keluar dari mobil. Disusul juga oleh boby yang baru saja tiba.


"Neo, aku ingin bicara padamu, ayo ikuti aku". Reza bicara dengan santai namun menahan emosi.


Neo mengiringi reza, mereka berdua menepi dipagar besi jembatan tersebut. Sementara danu, boby dan arini melihat mereka sambil duduk di kap mobil.


"Kamera! Rolling! Action!". Tegas arini sambil menyalakan rekaman dihp nya.


"Ngapain woi?!". Ujar danu heran.


"Kita kan lagi syuting drama, lanjutan cerita yang kemaren". Sahut arini terkekeh.


"Haiiss.. Otak nya udah ilang separoh kayaknya". Gumam danu.


Ditepi jembatan, reza dan neo menghadap kesungai yang mengalir deras, diterangi dengan pancaran cahaya bulan.


"Neo, gue pengen bicara baik-baik sama lo. Gue sudah menahan ego dan emosi. Jujur, gue masih belom terima kalau yuki sudah menikah karna gue masih sayang sama dia, tapi inilah kenyataannya, dia bukan jodoh gue.


Beberapa hari yang lalu, gue mengetahui bahwa yuki bekerja diperusahaan gue menjadi seorang cleaning service. dan kemaren ,gue mengangkatnya menjadi asisten arini. Dia sempat menolak dan akan mengundurkan diri, mungkin dia takut kalau lo mengetahuinya. tapi gue tetap memaksanya.


Lo harus bersukur punya istri yang bisa menghargai perasaan suaminya seperti yuki".


Neo turut merunduk mendengar semua cerita dari reza.


"Lo salah za, dia ingin mengundurkan diri bukan karna dia menghargai perasaanku. Tapi karna dia gak mau melihat lo makin sakit hati atas pernikahan kami. Karna dia juga masih sayang sama lo walaupun dia tidak mengatakanya". Batin neo.


Neo menghela nafas panjang. "Za, sebelumnya gue sangat berterimakasih karna lo sudah mengangkat yuki menjadi asisten arini. Ini salah gue, karna gue lah yuki menjadi susah seperti ini".


"Bukankah orang tua lo kaya? kenapa lo harus susah bekerja sendiri". Ujar reza.


"Gue dihapus dari nama keluarga gue setelah menikah dengan yuki, karna mereka gak menerima yuki dan keadaan keluarganya. Tapi gue mau gak mau harus menikahi yuki sebagai rasa tanggung jawab gue". Neo tertunduk sedih mengingat kejadian 3 tahun yang lalu itu.


"Hah? maksudnya?!". Reza kaget, lalu ia menatap neo.


"Mungkin ini sudah waktunya". Neo kembali menghela nafas.


Arini dan yang lainya juga turut kaget mendengar curahan hati neo yang ternyata lebih memilih yuki dari pada keluarganya.


"Wah..drama diepisode ini bener-bener seru banget. penasaran gue lanjutannya". Gumama arini dengan santai sambil mengamati mereka sembari ngemil tiada henti.


"Lo ngomong apa sih rin? Jangan sambil makan kalo ngomong!".Ujar boby heran.


"Sstt.. kalian berdua bisa diem gak! gue mau dengerin ceritanya neo tuh!". Gumam danu.


"Neo tuh kalo terbang suka sambil ngoceh gak jelas". Sahut arini dengan wajah datar.


"Itu beo..!! burung beo pe'ak!!.." Timpal boby terbahak sampai terperosot dari kap mobil.


"Seeet dah dua bocah ini..! gue lindes ntar baru diem!". Danu melotot dengan geram pada arini dan boby. Namun mereka tidak mendengarkan danu ,tetap santai kayak gak punya dosa.


Neo dan reza tetap berlanjut dengan penjelasan masing-masing.

__ADS_1


"Reza. dalam hubungan ini, aku lah yang salah, tolong kamu jangan menyalahkan yuki, karna dia hanya ingin menutupi kebenarannya". Jelas neo.


"Maksudnya apa?!". Ketus reza.


"Biar aku jelasin dari awal. Dulu, aku memang menginginkan yuki, aku mendekati kedua orang tuanya hingga mendapatkan kepercayaan dari mereka. Selama satu tahun hubunganku dan yuki baik-baik saja dalam pertemanan. Namun aku mengambil langkah yang salah, saat aku mengajak yuki jalan, Aku membawanya kesuatu tempat.


Saat itu pikiranku sedang dirasuki oleh ibl*s, karna hasratku hanya menginginkan yuki, aku menaruh obat pada minumannya yang membuatnya tak sadarkan diri. Lalu aku melakukan hal yang menjijikan bagi yuki hingga dia hamil. Kami menikah saat yuki sudah hamil 3 bulan.Setelah aku melakukan itu padanya, Yuki sangat membenciku sampai saat ini".


Mendengar penejelasan neo, reza begitu tersurut emosi, ia pun langsung memukul wajah neo dengan kuat.


"Dasar b*jingan!!!! kepar*t!! Ternyata lo yang sudah membuat hidup yuki susah.! selama ini gue udah salah faham hingga membencinya! Mati aja lo neo!!". Reza memukuli neo tanpa jeda, namun neo menerimanya tanpa perlawanan.


"Wahh..reza kesurupan tuh, cepat tolongin neo, bisa mati anak orang!!". Teriak arini panik.


"Kita gak berani melerai kalo bos lagi emosi kayak gitu, bisa-bisa kita yang kena sasaran". Jawab danu yang hanya melihat pertengkaran mereka.


"Benar! gue takut!". Sahut boby.


Melihat danu dan boby hanya diam. Arini berlari menghampiri reza dan neo. Tanpa pikir panjang, ia langsung menarik reza yang tengah brutal.


"Reza.!! udah! stop!! bisa mati anak orang!" Arini menarik reza sekuat tenaga.


"Apaan sih, minggir! gue mau habisin manusia bangs*t ini!!"


Reza terus memukuli neo, arini juga terus melerai mereka, ia menghadang reza yang akan memukul neo hingga pukulan itu berbalik menghantam wajah arini.


Akibat pukulan itu, Hidung arini berdarah, ia terhempas, tubuhnya menghantam pagar besi jembatan sampai ia tak bisa bergerak karna belakangnya sangat sakit.


Nafas nya sesak, ia pun hanya bisa merintih tanpa suara.


"Arini.!!! " Reza baru menghentikan pukulannya pada neo setelah ia sadar bahwa arini yang mendapatkan pukulan darinya.


Dengan cemas, reza membantu arini duduk dan mengelap darah yang mengalir dihidungnya.


Reza mendekap arini dan mengelus belakang arini. "Rin, sorry! gue gak sengaja, maafin gue, maaf banget".


Danu dan boby juga turut menghampiri arini dan mengabaikan neo.


Danu menjadi emosi pada reza, ia menarik reza untuk menjauhkannya dari arini.


"Bos reza!!! Lo udah nyakitin arini!! minggir lo!!". Danu begitu cemas melihat keadaan arini yang setengah sadar itu, darah dari hidungnya masih terus mengalir. Danu langsung mengangkat arini dan membawanya masuk kemobil.


Boby sendiri bingung dengan keadaan itu. Ia menghampiri reza yang tertunduk dengan perasaan kacau pada dua sisi berbeda.


"Bos! sabar yaa, danu kayak gitu karna dia sedang emosi karna mencemaskan arini. mungkin dia juga sedang kerasukan setan kuyang. ayo kita naik mobil.


Oh iya, neo mending lo pulang sekarang, dan tolong rahasiakan ini dari yuki".


Boby dan reza berjalan perlahan dan masuk kedalam mobil.


Reza cemas melihat arini yang terguling dibangku, ia pun menaruh kepala arini diatas pahanya sembari mengelap darah yang masih mengalir dihidungnya.


Sementara danu mengemudikan mobil dengan wajah datar bercampur cemas. selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, danu hanya diam tanpa bicara sedikitpun.


Setibanya dirumah sakit, danu tidak mengizinkan reza untuk menggendong arini. Ia menggendong arini sendiri sampai tiba diruangan dokter.


Saat arini tengah dirawat, reza dan yang lainya menunggu mereka diluar ruangan.


Reza dan danu sama-sama tertunduk.


"Bos, maafin gue, tadi gue spontan aja marah sama lo, karna gue gak tega liat arini kesakitan kayak gitu". Tutur danu tertunduk.


"Gak apa. gue yang salah, maafin gue". Reza tertunduk dengan perasaan yang campur aduk. Disatu sisi ia masih marah pada neo yang sudah menikahi yuki dengan paksa yang membuatnya telah membenci yuki.


Disisi lain, ia juga merasa bersalah karna telah menyakiti arini tanpa sengaja.

__ADS_1


•••


BERSAMBUNG...


__ADS_2