
Malam hari dirumah yuki, ia menunjukan belanjaan yang ia bawa pulang pada kedua orang tuanya.
Dengan sigap yunie membuka kantong itu dan mencari makanan, ia nampak senang melihat bunda nya membeli banyak cemilan dan roti untuknya.
"Nak, kamu belanja sebanyak ini, memangnya ada uang?". Ujar bunda yuki sembari membuka kantong belanjaan itu.
"Nggak bun, tadi kak danu yang traktir yuki sama arini. Sepertinya dia menyukai arini. Ya lumayan lah buat menuhin kebutuhanya yunie". Jelas yuki tersenyum.
"Kamu beruntung punya teman-teman yang baik". Sahut ayah yuki.
Yuki merunduk ingin menyampaikan sesuatu yang menggganjal hatinya, namun ia ragu.
"Ayah, bunda, sebenarnya yuki bekerja diperusahaannya kak reza. Tapi jujur, yuki baru tau kalau kantor itu punya kak reza. Tadi dia mengangkat yuki sebagai asisten arini, yuki sempat menolak dan akan mengundurkan diri, tapi kak reza bilang dia membantuku untuk yunie. Bagaimana menurut ayah dan bunda. Bagaimana jika neo tau?".
"Ternyata nak reza masih baik seperti dulu. Yuki, sebaiknya neo jangan sampai tau, walaupun dia tidak akan marah, tapi dia pasti akan menyuruhmu berhenti bekerja". Sahut ayah yuki.
"Ayah benar, tapi aku tidak bisa selamanya menutupi ini kan? Suatu saat pasti neo mengetahuinya."
Ditengah percakapan mereka, suara ketukan pintu terdengar keras.
"Mungkin neo sudah pulang, biar yuki yang membuka pintunya".
Yuki beranjak untuk membuka pintu, namun bukan neo yang datang, melainkan sahabat-sahabatnya.
"Arini? Lesty, genta, evi? Kenapa kalian kemari malam-malam begini? Anak gadis gak baik loh keluyuran malam-malam. Ayo cepat masuk!".
"Kita ada bodyguard kok!". Sahut arini.
"Hah? Siapa?". Ujar yuki heran.
"Tuh!!". Lesty menunjuk pada reza, danu dan boby yang tengah duduk di kap mobil reza.
Ekspresi yuki berubah seketika. "Oh, mari ajak mereka masuk. Ayo kalian semua masuk". Yuki berjalan lebih dulu diiringi genta, lesty dan juga evi.
Sementara arini menghampiri reza dan yang lainya. "Trio ubur-ubur. Ayo masuk! Kalian yang ngajak kemari, awas kalo gak mau masuk!". Ketus arini didepan tiga pria tampan itu.
"Boby, danu, kalian pergilah duluan". Perintah reza dengan pandangan kosong.
Saat danu dan boby pergi, arini juga turut menyusul, namun reza menarik tangan arini dengan kuat hingga arini terjatuh dalam dekapan reza.
"Ahhhh!!!!". Teriak reza dan arini bersamaan.
"Loh, kenapa lo yang teriak?!". Ujar arini heran.
"Kaki gue lo injek ****! Minggir sana!".
Arini langsung melangkah mundur. "Kan lo yang narik! Kenapa jadi lo yang marah!! Dasar cowok belagu!!"
Arini melangkah hendak pergi meninggalkan reza. Namun reza menariknya kembali, tapi dengan cara yang lembut. "Rin, tetaplah disini sebentar". Dengan merundukkan kepala, suara reza terdengar lembut dan sayup.
Arini menoleh dan berbalik pada reza, ia heran melihat sisi lembut reza yang belum pernah ia lihat. Arini mendekatinya dan duduk di kap mobil sebelah reza.
"Za? Apa otak lo sedang dalam masalah besar?". Ujarnya serius.
"Itu banyak sekali yang jual dipasar". Sahut reza.
__ADS_1
"Itu otak-otak, dasar marjono!!. Eh, tapi gue serius nih, otak lo sehat kan? Tumben ucapan lo lemah gemulai kayak belom makan gitu?"
Reza menghela nafas sembari menikmati angin malam yang berhembus.
"Rin, mungkin yang lo tau kisah gue sama yuki itu cuma sebaris doang. Jika dibikin novel, kisah cinta kami mungkin sudah seribu bab". Jelas reza sambil mengingat masa lalu.
"Wahh.. Gue demen nih dengerin drama, ayo cerita, biar gue komen."
"Gue mau cerita serius nih, awas kalo lo bikin jadi garing. Bakal gue potong gaji lo bulan ini". Ketus reza.
"Kenapa bawa-bawa gaji? Dia kan gak salah!.
Ayo cerita, gue udah gak sabar mau ngejek. Astaga!! Maksudnya gak sabar mau denger."
Reza menghela nafas dan menatap langit yang dihiasi bintang dan bulan.
"Dulu, sewaktu masa SMA, aku dan yuki pacaran saat aku kelas 3,dan dia kelas 2. setahun kemudian, aku pergi kelondon. Setelah setahun dilondon, aku pulang lagi kesini, dan masih melihat yuki yang saat itu tengah ujian semester terakhir.
Tapi setelah tiga tahun aku dilondon, aku kembali lagi kesini setelah wisuda. Dan aku sangat kaget melihat yuki yang sudah mempunyai anak, dan ia menikah dengan teman sekolah kami yang dulu sempat jadi musuh, yaitu neo. Aku pergi mengendarai mobil ini dalam lamunan hingga sampai dikota D, dan aku terjatuh didanau. Tapi aku beruntung, karna kamu menyelamatkanku, makasih arini".
Reza merunduk, luka dihatinya kembali terkenang, dimana saat itu sangat sakit yang ia rasakan.
Arini kaget sekaligus sedih mendengar cerita hati reza yang diungkapkanya dengan perasaan.
Ternyata kisahnya sangat sedih, jika aku berada diposisinya, mungkin aku sudah bunuh diri. Baru kali ini melihatnya kayak gini, bener-bener berbeda saat ia memimpin dikantor.
Arini turut merunduk sembari bergumam dalam hati.
"Rin,! Kenapa lo?". Reza menatap arini dengan heran.
"Gue memang gak pernah nanya apa alasan dia menikah dengan neo. Tapi dia pernah bilang bahwa dia bahagia bersama neo. Itu sudah cukup menjadi jawaban untukku. Rumah ini, kota ini, semuanya penuh dengan kenangan bersama yuki".
"Huwaaa... Gue sedih.!!". Teriak arini.
"Hah? Lo sedih kenapa?". Ujar reza bingung.
"Ternyata gue pake dua sepatu yang berbeda. Yang satu putih, dan sebelahnya kuning.!!! Kenapa ini bisa terjadi.!!". Ternyata arini merunduk kebawah tadi menatap sepatu nya, ia baru sadar karna salah pake sepatu.
"Elah marfu'ah!!! kirain lo sedih denger cerita gue. Udah ah! Ayo masuk!". Tanpa sadar reza menggaet tangan arini dan membawanya masuk kerumah yuki.
Arini langsung melepaskan tangannya saat teman-temannya melihat ia masuk bersama reza.
Yunie yang saat itu tengah bermain bersama danu dan boby, ia langsung berlari kearah reza dan merengek minta gendong.
"Eh,, yunie sayang, sudah lama ya kita gak ketemu, kamu makin tinggi ya?". Reza mencium kepala yunie dengan gemas.
"Om eja.. apa kabal?". Sapa yunie dengan kata yang belum terlalu jelas.
"Pinter banget sih. Om baik-baik saja, kamu sendiri apa kabar? Oh iya dimana kakek dan nenek kamu?"
"Em.. Ayah dan bunda sedang istirahat didalam, perlu kupanggilkan?". Sahut yuki.
"Oh, gak perlu! Dimana neo?".
"Dia belum pulang, biasanya dia lembur jika akhir pekan.
__ADS_1
Yunie, ayo turun nak, om reza nya pegel".
Reza menurunkan yunie. Dan bergabung duduk bersama dan dan boby.
"Yuki, kalau boleh tau, dimana neo bekerja?". Tanya reza dengan muka datar.
"Dia bekerja diperusahaan XX". Jawab yuki seingkat.
"Oh gitu. Makasih. Bob, danu. Kita keluar saja, biarkan mereka bicara disini". Reza pergi keluar disusul oleh danu dan boby.
"Heii kalian, awas ya kalo pulang!". Teriak arini.
"Ki, gimana ntar kalo reza ketemu sama neo? Apa yang bakal lo lakuin?". Ujar lesty.
"Aku hanya bisa berharap, semoga tidak terjadi apa-apa". Jawab yuki tertunduk.
"Maap, jam berapa ini ya? Kok perut gue keram? Kayaknya gue laper". Cela arini dalam ketegangan.
"Elah.. Nih orang! Kenapa gak liat di hp lo aja, lagian ini belum terlalu malam, udah laper aja!". Timpal genta.
"Oh iya". Arini meraba saku celananya, namun ia tidak menemukan ponselnya. "Hp gue mana!!?". Wajah arini mulai panik, takut hp nya ilang.
"Lo inget-inget dulu narok nya dimana?". Sahut lesty.
Arini memejamkan mata sekejap. "Ah! Gue inget, ada diluar! Bentar ya!". Dengan cepat ia berlari menuju mobil reza, karna ia meninggalkan hp nya diatas kap mobil reza.
Arini tidak menyadari kalau mobil reza sedang menyala, ia tetap berlari hingga hampir tertabrak oleh danu yang mengemudikannya.
"Ahhh!!!". Arini langsung duduk sambil menutup kedua telinganya.
Reza, danu dan boby langsung keluar saat melihat arini yang menjerit.
"Rin! Lo gak apa-apa?! Maaf gue tadi gak liat!". Danu cemas, ia membawa arini menepi.
"Lagian kenapa lo dateng tiba-tiba!". Ketus reza.
"Sory,, gue cuma mau ambil hp gue diatas mobil reza". Arini menunjuk tempat ponselnya. "Oh iya, kalian mau pergi kemana?"
"Kami mau kesuatu tempat, cepat ambil hp lo. Kita mau pergi". Sahut reza.
"Eh, gue boleh ikutan gak, pliss.. Gue mau beli makanan, gue laper nih!".
"Emangnya lo punya duit?". Ketus reza.
"Tenang aja, biar gue yang bayarin". Timpal danu.
"Ya udah, ayo cepat masuk mobil!".
"Bentar ya, gue pamit dulu sama temen laknat gue". Arini berlari mengambil hp nya kemudian masuk kembali kerumah yuki.
"Guys, gue pergi dulu ya bersama trio ubur-ubur, sekalian beli makanan sama nukerin sepatu gue sebelah". Arini pergi begitu saja setelah pamit tanpa mendengarkan jawaban dari temannya.
Kemudian mereka pergi entah kemana sesuai petunjuk reza.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG..