
Saat tiba dirumah sakit, dengan santainya rey dan ara berjalan bergandengan tangan, dengan darah yang mengotori bajunya.
Tidak sedikit orang yang mengenali artis baru itu, banyak diantaranya yang tersenyum melihat kemesraan mereka secara langsung yang selama ini hanya bisa dilihat dari layar monitor.
Tak sedikit pula yang mengambil gambar mereka berdua atau merekam kemesraan mereka.
Namun mereka kaget dan heran saat melihat dibelakang rey tertancap pisau kecil namun dia masih bisa tertawa bercanda dengan ara.
"Cinta itu memang bisa menghilangkan rasa sakit. "Bisik salah satu penggemar mereka.
Dengan suaranya yang kuat. Ara memanggil salah satu dokter yang berjaga.
Dengan sigap, dokter pria paruh baya itu berlari menuju sumber suara.
"Eh, maaf ada apa? "Ujar dokter pada ara dan rey yang tengah duduk diruang tunggu.
"Dok, laki gue terluka, tolong obati segera. "Ujar nya sembari memutarkan badan rey, menunjukan pisau yang tertancap itu pada dokter.
"Kalian tuan rey, dan nona ara kan?? Maaf! Setahu saya kalian belom menikah, kok sudah disebut laki. "Sahut si dokter heran sembari berpikir.
"Ahh si muka lonjong ini banyak bacot kali. Cepat bawa dia dan obati segera. Kita bahas itu nanti. Ayoo kita masuk kemana? "Ara menggandeng tangan rey hendak mengikuti dokter keruanganya.
"Ayo, mari ikut saya. "Dokter itu menuju ruangan praktek nya disusul oleh ara dan rey.
"Hei, jangan bikin keributan sama dokter itu, nanti kepala nya pusing. "Bisik rey didekat telinga ara.
"Siapa yang bikin keributan, dia duluan yang ngajak ribut.
"Tuan rey, mari berbaring disini, dan balikan tubuh anda, saya akan memberi suntikan untuk melepaskan pisau ini. "sidokter itu tengah bersiap menyiapkan obat dan jarum suntik.
"Dok, pelan pelan ya. Nanti jarumnya patah. "Ucap ara dengan panik.
"Sayang, dia dokter, dia tau apa yang harus ia lakukan. "Sahut rey tersenyum.
Dokter itu hanya menggelengkan kepala sembari memasukan jarum suntik kepunggung rey.
"Awww..!!! Tunggu!! Tunggu dulu.. Gue belom siap.!! "Teriak ara menutup mata dengan kedua tanganya.
Rey dan dokter itu kaget sampai suntikan itu terlepas dari tangan sidokter.
"Maaf.. Maaf.. Silahkan lanjutkan.
Si dokter itu kembali mencoba menyuktik rey. "Nona, kalau anda menjerit sekali lagi, maka jarum ini benaran akan patah dan tertinggal didalam. "Ujar sidokter menatap ara dengan emosi.
__ADS_1
"Baiklah, gue gak akan menganggu. "Ara kembali menutup kedua matanya.
Setelah rey disuntik, perlahan dokter itu menarik pisau yang tertancap.
Raut wajah rey nampak menahan rasa sakit. Tapi dia membungkam mulutnya dengan menggigit bibirnya sendiri.
"Ahh..!! "Jerit rey saat pisau itu tercabut dari tubuhnya, darah segar pun mulai mengalir membasahi tempat tidur itu.
Ara terlihat makin panik.
"Heio dok.!! Pelan pelan dong. Sakit tuh.!! Gue kuliti ntar tubuhmu.!! "Ara menepuk punggung dokter itu dengan kuat.
"Aron! Gue gak apa apa. Lo tenang aja. Diem aja oke.! Sini duduk dekat gue. "Rey menarik tangan ara dan duduk disampingnya yang tengah berbaring tengkurap itu.
Dokter itu memanggil suster untuk membantunya. Mereka merobek baju rey, mengelap semua darah yang keluar untuk melihat seberapa besar lubang bekas tusukan itu.
Ara terkejut melihat belakang rey yang penuh dengan bekas jahitan yang sudah menghilang.
"Reboy.. Itu, darah nya banyak sekali, gue gak sanggup liatnya. "Ara menutup wajahnya melihat darah yang masih mengucur dari punggung rey.
"Jangan dilihat. Sini tangan lo.. Biarkan mereka menjahitnya. "Rey merundukan kepala ara disamping kepala nya supaya tidak melihat dokter yang sedang bekerja.
Sambil menggenggam tangan rey, ara merundukan kepalanya kebawah disamping kepala rey yang tertidur, sambil terisak tangis. Tak terasa air matanya mengalir jatuh kelantai.
30 menit berlalu.
"Tuan, jahitanya sudah selesai. Tolong jangan kena air sampai lukanya kering, dan jangan terlalu banyak gerak, karna darahnya baru saja berhenti mengalir, luka nya cukup dalam hampir mengenai tulang punggung. Minum obatnya secara teratur. "Jelas dokter itu sembari menyiapkan obat yang akan dia berikan pada rey.
Setelah proses pembayaran selesai. Rey memanggil ara untuk mengajaknya pulang.
Perlahan rey turun dari ranjang itu. "Sayang, ayo kita pulang. Bisik rey disamping ara yang masih merunduk itu.
Ara masih tidak bergeming. Kemudian rey mengangkat kepalanya.
"Eh, dia tertidur?? Mungkin dia lelah dan menghabiskan air mata cukup banyak.
Tanpa pikir panjang, rey langsung menggendong ara keluar dari rumah sakit tanpa membangunkan tidurnya.
"Tuan.!! Jangan lakukan itu?? Jahitan luka anda akan terbuka lagi nanti!. "Teriak dokter itu dengan panik.
Namun rey tidak mempedulikan ucapan dokter itu, dia terus melangkah keluar dari rumah sakit menuju mobilnya sambil menggendong ara.
"Ah.!! Sepertinya lukaku terbuka lagi. "Gerutu rey sembari menjalankan kendaraanya.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan pulang, rey merasakan darah mengalir dibelakangnya. Dengan cepat dia mengambil baju jaket yang ada dalam mobilnya lalu memakainya.
Sedangkan ara masih dalam mimpi indahnya, tak bergerak sedikitpun menikmati tidur selama dalam perjalanan dengan angin yang berhembus masuk dari celah kaca jendela yang tersingit.
Sesekali rey menatapnya dengan senyuman. Entah apa yang dia pikirkan, ia hanya tau kalau dia mencintai gadis bodoh itu yang membuatnya selalu bahagia dan tak bisa terlukis dengan kata sebagai gambaran rasa sayang nya.
Selama satu jam dalam perjalanan, ahirnya mereka tiba dirumah, rey kembali menggendong ara dan membawanya masuk.
Sherly, mamanya ara nampak berlari kecil menghampiri rey dan ara yang baru saja turun dari mobil, ia pun cemas karna mereka berdua pergi dari pagi tanpa kabar.
Kecemasanya makin bertambah saat melihat ara yang tengah digendong rey, pikiranya pun melayang kemana mana.
"Nak rey. Apa yang terjadi pada ara. Apakah dia terluka? "Ucapnya panik.
"Dia sedang tidur saja tante, dia kelelahan. Justru aku yang terluka, tolong sampaikan pada bik yam, suruh dokter pribadiku datang kemari. "Sahut rey sambil menaiki tangga membawa ara kekamarnya.
"Baiklah, tante segera melakukanya. "Timpal sherly dengan cemas saat melihat baju jaket rey yang basah karna darah.
Perlahan rey meletakan ara diranjang nya dan melepas sepatu yang ia kenakan. Lalu dia kembali kekamarnya menunggu dokter tiba.
10 menit kemudian. Dokter pribadinya mengetuk pintu kamar rey.
"Permisi tuan. Bolehkah saya masuk.
"Masuk saja. "Sahut rey dari dalam.
"Astaga.! Tuan? Kamu terluka? Cepat buka bajumu. "Dokter itu terkejut melihat darah begitu banyak, ia langsung menyiapkan peralatan untuk mengobati rey.
Dengan cepat rey membuka bajunya, diapun merasa lemas karna darah nya sudah banyak terbuang.
Sang dokter membersihkan darah itu kemudian menjahit nya ulang.
Setelah berapa menit, ahirnya selesai. Namun dokter kaget melihat rey yang tidak bergeming.
Beberapa kali dia mencoba membangunkan, tapi rey tetap bungkam dengan wajah yang pucat.
"Astaga, dia pingsan.! "Dengan kepanikan, dokter itu memberikan suntikan untuk menahan rasa sakit pada luka rey. Dan memberikan infus untuk membantunya cepat pulih karna kekurangan cairan dan kehilangan banyak darah.
Dokter itu belum mau pulang kalau belum melihat pasienya sadar, dia pun menunggu sembari duduk disofa dan menyiapkan beberapa obat untuk rey.
***
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like. 🙏