Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:38


__ADS_3

Pagi hari dirumah rey. Alvin dan pricil hendak berpamitan mau pulang kekota mereka.


"Gue pulang dulu ya til. salam buat om dan


tante, maaf kami belum bisa jenguk." Ujar alvin pada rey dan ara.


"Iya kecebong. Hati-hati dijalan ya. bisa gak gak usah panggil gue kutil lagi?."


"Lah. barusan lo panggil gue kecebong kan?." Sahut alvin sembari berjalan keluar pintu.


Saat membuka pintu. Mereka dikagetkan dengan kedatangan daylon dan karen beserta anak mereka bernama 'Kenda' yang berusia 10 tahun.


"Kalian? Hei cebong, ngapain lo kerumah adek gue?." Ketus daylon.


"Nih orang dateng-dateng udah ngajak ribut aja!. gue kesini ada urusan. Lo sendiri ngapain hah?." Timpal alvin melotot pada daylon.


"Gue mau jenguk adek gue lah."


"Hai abang! kesini kenapa gak bilang? hai karen, makin cantik aja kamu." Sapa ara dengan ramah.


Karen dan ara pun saling merangkul. "Apa kabar buk?." Ujar karen tersenyum.


"Kok panggil ibuk?." Sahut pricil heran.


"Dia ini mantan karyawan salon gue. jadi udah biasa panggil ibuk." Timpal ara sembari merangkul karen.


"Ya udah deh, kita pergi dulu ya. Gak bisa lama-lama kalo kuman udah datang. Kami pulang ya semuanya." Alvin mengajak anak dan istrinya naik mobil, kemudian pergi dari rumah rey.


"Dia kenapa kemari?." Tanya daylon menunjuk alvin yang sudah menjauh.


"Gak ada apa-apa. kunjungan aja. Ayo masuk kak. Kami baru saja mau pergi kekantor."


"Reza dimana?."


"Dia udah ngantor, katanya ada meeting."


"Oh gitu. ayo masuk, ada yang mau aku omongin."


Rey dan ara terpaksa menunda keberangkatan mereka.


Disisi lain. Reza beserta petinggi kantor sedang menyiapkan bahan untuk meeting besar hari ini.


"Sayang. hari ini adalah meeting terbesar dalam sejarah perusahaan kantor. Nanti banyak client kita yang akan datang. Aku percayakan presentasi design dari kamu ya. Jangan kecewakan aku." Ujar reza menatap arini.


"Iya. mudah-mudahan aku bisa." Sahutnya tersenyum.


Ditengah kesibukan persiapan mereka. Ponsel reza bergetar mendapat telpon.


"Siapa yang telpon?." Tanya arini.


"Om aku nih. aku angkat bentar ya."


"halo om, ada apa?."


"Za, om dan tante ada di lobi kantor kamu nih. Kita mau pulang, makanya mampir bentar kemari."


"Oh. baiklah. reza turun sekarang."

__ADS_1


Reza menutup telponnya.


Ia menarik tangan arini untuk ikut bersamanya.


"Hei. kenapa tarik aku? kita mau kemana?." Tanya arini bingung sembari mengikuti reza.


"Mau ketemu sama om dan tanteku. Aku mau kenalin kamu."


"Hah? siapa mereka?."


"Udah, ikut aja."


Setibanya dibawah. Reza mengenalkan arini dengan alvin dan pricil. Mereka kaget melihat arini yang cantik itu.


"Om, tante kenalin, dia arini." Ujar reza tersenyum.


"Arini? Apakah dia pacar kamu?." Sahut pricil .


"Iya tante. Dia sekretaris aku juga." Pungkas reza.


"Halo namaku arini. Salam kenal om tante." Ucap arini sembari merangkul mereka.


"Oh iya. dimana andini om.?" Timpal reza sembari melihat sekliling.


"Dia lagi didalam mobil." Sahut alvin.


Ditengah obrolan mereka. Datang juga neo yang hendak meeting disana.


Saat ia masuk lobi, ia juga kaget dengan mereka yang sedang ramai berbincang.


"Aku neo om. Anda siapa?." Tanya neo dengan ramah.


"Oh. bukankah kamu neo yang menikah dengan yuki itu kan?." Timpal pricil.


"Kok kalian tau?."


"Iya, tadi malam orang tua reza menceritakan kisah kalian bertiga." Sahut alvin.


"Oh gitu. Tapi itu dulu om, sekarang aku sudah bahagia dengan yuki. Reza juga sudah bahagia dengan arini, kemungkinan besar mereka akan menikah. Ya sudah, aku tinggal dulu ya om, tante. salam kenal." Neo langsung beralih menuju lift.


Sementara alvin masih heran dengan neo yang ngomong tanpa jeda itu.


"Sepertinya client kalian sudah banyak yang datang. kalau begitu, om dan tante pergi dulu. Oh iya, Reza, arini kalau kalian saling mencintai pertahankan hubungan kalian, semoga kalian bahagia. Kami pergi dulu ya." Ujar alvin tersenyum sambil berlalu.


Setelah alvin beserta pricil pergi dari gedung perusahaan reza. Ia dan arini pun kembali masuk lift untuk menuju ruang meeting.


"Siapa itu tadi?." Tanya arini penasaran.


"Mereka sahabat papa dan mama, namanya om alvin dan tante pricil. Mereka sudah punya satu anak, namanya andini." Jelas reza sembari menepuk kepala arini.


"Oh gitu. Mereka ramah. Kita sudah sampai diruang meeting nih, client yang datang baru beberapa."


"Ya udah kita tunggu aja. Dimana yuki.?"


"Tuh, dia sedang ngobrol sama suaminya." Timpal arini menunjuk mereka yang asik ngobrol diruang meeting itu.


"Ya udah, biarin aja. Oh iya sayang, hari ini rumahku sudah mulai dibangun, dan aku sangat suka dengan design yang kau buat."

__ADS_1


"Benarkah? Wah, bentar lagi kamu akan tinggal dirumah baru dong. Kira-kira berapa lama akan selesai?." Timpal arini yang tengah duduk dihadapan reza itu.


"Satu bulan aja udah beres. Soalnya tenaga kerjanya banyak. Eh client udah datang, persiapkanlah bahan presentasi kamu ya sayang. Semangat ya!" Reza membelai pipi arini.


"Iya. Makasih ya sayang." Timpal arini tersenyum.


Disisi lain dikursi pojok ruangan. Neo dan yuki tengah asik ngobrol.


"Maafkan aku tadi gak sempat antar kamu kekantor. Karna aku harus pergi pagi-pagi sekali untuk menyiapkan bahan meeting." Ujar neo menatap mata yuki.


"Gak apa-apa. Aku kan bisa naik taxi."


"Apa tadi kamu sempat makan?."


"Tadi gak sempat. Karna yunie rewel, jadi aku cepat-cepat pergi karna udah kesiangan." Timpal yuki.


"Ya udah, abis meeting nanti kita makan ya sayang. Sekarang kamu kesana gih, bantu arini."


"Baiklah. aku tinggal ya." Yuki berlalu menuju arini.


Beberapa saat kemudian, para petinggi kantor pun memenuhi sebelah barisan kursi, begitu juga dengan client yang sudah berdatangan memenuhi tempat duduk.


Saatnya direktur robet menjelaskan presentasinya dibantu oleh sektetarisnya. Setelah ia selesai. Arini pun memulai presentasi miliknya didampingi oleh yuki.


Ditengah presentasi yang ia jalankan, yuki merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Ia merasa gemetar dan lemas.


Tanpa disadari banyak orang, yuki pun terjatuh pingsan.


Suara dari jatuhnya yuki kelantai membuat semua orang kaget.


"Yuki.!!." Teriak arini cemas.


Reza dan neo juga panik. Mereka menghampiri yuki bersamaan.


"Yuki! astaga! apa yang terjadi padamu?." Reza meletakkan kepala yuki dikakinya.


Neo juga menghampirinya. "Reza biarkan aku yang membawa yuki kerumah sakit."


"Neo, apakah disini ada perwakilan dari kantormu selain kamu?" Tanya reza.


"Tidak. hanya aku saja."


"Kalau begitu, kau teruskan meeting ini. Jangan sampai kalah tender. Pak robet, teruskan presentasi arini. Aku dan arini akan membawa yuki kerumah sakit terdekat."


"Baiklah." Jawab neo dan direktur robet bersamaan.


"Rin, ayo ikut aku." Reza langsung menggendong yuki dengan cemas. Arini hanya mengiringi reza tanpa sepatah katapun.


Arini mengiringi reza yang panik sambil menggendong yuki, sesekali reza menatap wajah yuki yang pucat itu dengan ekpresi khawatir.


Perasaan arini bercampur aduk. Ia menatap reza dari belakangnya, ia merasa bahwa yuki lah yang dicintai reza.


"Jika aku diposisi yuki, apakah kamu akan secemas ini.? Baru tadi malam kau berjanji untuk tidak mempedulikan yuki, tapi sekarang kau ulangi lagi, padahal ada neo disini.


Reza aku bingung, aku gak bisa menebak hatimu, aku gak bisa percaya seratus persen padamu. Tapi aku akan berusaha untuk tidak egois demi yuki."


Tanpa ia sadari, air matanya terjatuh membasahi pipi. Namun arini langsung mengelapnya supaya reza tidak mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2