
Sore harinya, neo dan danu kembali ke kantor perusahaan reza setelah seharian mereka mencari informasi mengenai kematian arini di tiap rumah sakit kota F.
Mereka berdua masuk keruangan reza dengan wajah lesu dan tertunduk sambil membawa berkas amplop berwarna coklat ditangan neo.
Saat reza melihat danu dan neo masuk, ia pun langsung bergegas menghampiri neo, disusul oleh lesty dan jessie.
"Neo, gimana hasilnya? Apa kalian menemukan petunjuk?." Ujar reza cemas.
Tanpa bicara, neo langsung memberikan berkas itu pada reza. "Nih, baca sendiri."
Dengan rasa tak sabar, reza langsung membuka amplop itu dan membacanya dengan cemas.
______________________________________
CATATATN KEMATIAN.
Nama: ARINI
Tanggal lahir: 02 februari 199X
Wafat: 02 februari 20XX
Umur: 22 tahun
Keterangan: Meninggal karna kecelakaan (tabrak lari)
______________________________________
Setelah membaca isi surat itu, reza langsung ambruk. Kertas yang ia pegang, melayang berserakan.
Dengan rasa penasaran, jessie pun memungut kertas itu dan membacanya. Ia pun menangis sambil menutup mulutnya.
"Astaga. Ini serius?" Batin jessie.
Melihat jessie menangis, lesty pun menghampirinya dan merangkul bahunya.
"Kenapa kamu menangis?." Ujar lesty dengan nada kecil.
"Dia meninggal, tepat dihari ulang tahunnya." Jawab jessie sembari menangis.
"Hm.. Aku pikir kamu kasihan dengan reza karna dia sangat shok mengetahui arini meninggal."
"Ya, aku memang kasihan padanya. Mungkin sebatas sini saja ia harus merasakan kepedihan. Aku sangat mengerti dengan perasaannya. Dia begitu merasa kehilangan. Kuharap dia bisa lebih menghargai keberadaan orang disampingnya untuk kemudian hari." Jelas jessie sambil menatap reza yang tengah menangis.
Reza tertunduk sambil memukuli lantai dengan tanggannya hingga berdarah.
"Za. Lo udah gila ya!. Hentikan!." Teriak neo sambil menahan tangan reza.
"Biarin. Biar gue juga mati sekalian. Ini semua salah gue!! Salah gue!!. Arini. Tolong maafin aku. Aku ingin kau kembali lagi.. Tolong." Reza menangis dan menjerit dengan kencang.
Ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian berdiri dan langsung keluar dengan langkah cepat menuju mobilnya.
Mereka semua pun turut mengiringi kemana reza pergi.
Saat reza masuk mobil. Jessie menghampirinya.
"Apa aku boleh ikut bersamamu?." Ujar jessie dari luar kaca mobil.
"Masuk saja." Timpal reza singkat.
Setelah jessie masuk, reza pun langsung menjalakan mobilnya dengan kencang. Sementara teman yang lainnya mengikuti dari belakang.
Lesty bersama neo menggunakan mobil jessie. Danu bersama boby menggunakan mobil kantor reza.
"Neo, Mau kemana reza pergi. Aku jadi khawatir padanya. Aku juga kasian dengannya. Kurasa sudah cukup dia menderita selama ditinggalkan arini." Ujar lesty.
"Aku gak tau. Aku juga kasian dengannya. Kuharap ini semua cepat berakhir." Timpal neo sembari menyetir
Sementara itu, reza hanya diam dengan air mata yang masih diujung matanya.
__ADS_1
Jessie yang merasa iba, mencoba ingin menyeka air mata reza dengan tangannya.
Namun reza menepis tangan jessie. "Jangan sentuh wajahku, selama ini hanya arini yang berani menyentuhnya. Aku gak akan izinkan siapapun menyentuh wajahku." Tegas reza dengan wajah datar.
Jessie pun hanya merunduk merasa bersalah. Namun ia mencoba memaklumi.
"Kita mau kemana?." Tanya jessie dengan nada kecil.
"Ke makam arini." Ketus reza.
"Hm.." Sahut jessie singkat dengan wajah tertunduk.
Reza meliriknya, ia pun merasa bersalah. "Maafkan aku, harusnya aku gak kasar padamu."
"Gak masalah." Timpal jessie tersenyum
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di pemakaman.
Reza duduk berlutut didepan kuburan yang masih dalam bentuk tumpukan tanah itu.
Ia pun menaruh seikat bunga diatas makam orang yang ia sayangi itu.
"Arini, kuharap ini hanyalah mimpi yang gak akan pernah jadi nyata. Karna aku sadar, aku nggak sanggup kehilangan kamu. Aku mohon, kembali lah. Aku berjanji akan membuatmu jadi wanita paling bahagia didunia.
Sayang, apa kau mendengarku? Kamu sendirian didalam sana, gelap dan dingin. Apa aku harus menemanimu? Jika kau mau, aku bersedia berada disampingmu."
Reza mengambil gumpalan tanah kuburan itu dan menggenggamnya erat sambil menangis tersedu-sedu.
Temannya hanya diam menyaksikan kesedihan reza, bahkan danu dan boby juga turut menangis.
"Sejujurnya, aku juga gak sanggup kehilangan kamu arini, karna aku masih sangat menyayangi kamu. Semoga saja ini hanya mimpi buruk." Batin danu sembari menatap nama arini yang tertulis di nisan papan itu.
Lesty dan jessie turut duduk disamping kanan dan kiri reza.
"Za, aku yang lebih dulu mengenal arini dari pada kamu. Jadi, bisa dibilang, aku lebih sayang padanya dan lebih sedih dengan kabar ini. Aku pun gak akan rela melihat arini meninggal dengan cara sadis seperti ini. Kita harus bersabar. Kuatkan hatimu." Ujar lesty sembari menepuk pundk reza.
"Za, apakah kamu sesayang itu dengan arini.?
Aku berharap ini tidak nyata, kuharap suatu saat kalian berdua bisa bersama lagi."
"Aku sangat sayang padanya. Jika dia masih bersamaku, aku gak akan menyia-nyiakan dia lagi bahkan sedetik pun. Aku begitu menyesal karna sudah mengabaikan cintanya."
Reza berdiri perlahan. Kakinya melangkah bertahap, tatapan matanya kosong, dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Ia pun berjalan meninggalkan area pemakaman.
Neo dan yang lainnya mengiringi reza dari belakangnya.
Saat di tepi jalan, reza berhenti karna harus menyeberang jalan menuju mobolnya yang terparkir diseberang.
Terbesit pikiran akan mengakhiri hidupnya. Reza merunduk dan memejamkan mata sembari menggepal kedua tangannya yang masih berdarah bekas ia memukul lantai.
Ia pun mencengatkan kepalanya menatap langit.
"ARINI..!!!" Teriaknya kencang.
Saat ada mobil melaju kencang. Reza pun menutup matanya kemudian berlari ketengah jalan.
Neo dan yang lainnya sangat kaget melihat reza berlari ketengah jalan yang ramai itu.
Tanpa pikir panjang. Jessie langsung berlari mengejar reza. Saat mobil hampir tiba, jessie pun menarik reza ketepi jalan hingga mereka berdua tersungkur terbentur trotoar jalan.
"Reza! Apa kamu sudah gila.! Ini bukan solusi!." Teriak jessie kesal.
"Apa urusannya denganmu hah! Jangan halangi aku! Arini meninggal itu karna aku! Dia tertimpa pohon tumbang itu karna aku! Dia hilang ingatan itu juga karna aku! Dan sekarang, aku harus menyusulnya.!"
Reza kembali berdiri, dan melangkah lagi ketengah jalan.
Jessie juga turut menyusul, ia pun memeluk reza dari belakang sambil menyeretnya ketepi jalan.
"Jes! Lepasin aku! Kamu gak berhak menghalangiku. Minggir!." Reza bersikeras melepaskan pelukan jessie.
__ADS_1
"Reza! Aku berhak! Karna aku sayang padamu! Tolong jangan bunuh diri. Aku gak mau kehilangan kamu.! Aku adalah ARINI.!! Tolong kembalilah ketepi jalan." Teriak jessie yang masih memeluk reza.
"Kau jangan bohong jessie.! Aku tau, kamu mengatakan itu hanya karna supaya aku gak bunuh diri kan? Iya kan!! Sekarang lepaskan tanganmu.
"Enggak!! Aku beneran arini. Baiklah. Kita mati berdua." Jessie melepaskan pelukannya. Ia pun turut berdiri ditengah jalan bersama reza.
Sementara teman mereka diseberang jalan kebingungan dengan reza dan jessie. Mereka jyga turut cemas.
Melihat jessie yang pasrah berdiri ditengah jalan. Reza pun mendorong jessie ketepi jalan.
"Jangan sia-sia kan nyawamu untuk orang lain yang gak kamu kenal. Jangan campuri urusanku." Tegas reza.
Namun jessie tetap berdiri menyusul reza, hingga mereka berdua saling bertengkar ditengah jalan.
Saat sebuah mobil datang melaju kencang, jessie pun tersenyum menatap reza.
"Ayo kita akhiri hidup kita yang rumit ini." Ucap jessie tersenyum.
"Apa kau gila?!."
Mobil semakin dekat, namun mereka masih berdebat. Akhirnya reza mengalah. Ia pun memeluk jessie hendak membawanya ketepi jalan.
Tapi sayang, tubuh mereka berdua masih tersenggol mobil itu hingga mereka terpental ketepi jalan.
"ASTAGA! REZA!! JESSIE.!! " Teriak lesty dan yang lainnya.
Darah mulai berserakan membasahi pinggiran jalan.
Perlahan jessie mengangkat tubuhnya dan mendekati reza. "Kenapa kita berdua gak mati aja? Aku bahkan seneng jika aku harus mati bersamamu. Sekali lagi kukatakan. Aku adalah arini. Dan aku menyayangimu."
Reza turut mengangkat kepalanya yang sudah bersimbah darah itu. "Kau begitu lucu jes. Tapi sayangnya aku gak percaya, karna kau hanya mirip dengan arini, tapi kalian tidak sama. Tapi aku seneng, jika aku mati, aku merasa lega karna sudah menebus kesalahanku padanya." Sahut reza tersenyum.
Mereka berdua sama-sama tersenyum pasrah. Kemudian mereka pingsan bersamaan.
Neo dan yang lainnya langsung berkerumun, mereka pun membawa reza dan jessie kerumah sakit.
"Astaga. Kenapa semua jadi begini. Semoga mereka berdua baik-baik saja." Ujar neo cemas.
"Aku harus menghubungi keluarga reza."
"Neo, keluarga reza jauh. Mending hubungi om alvin. Rumahnya kan tidak jauh dari sini." Ujar lesty.
"Kamu benar. Aku akan menghubungi om alvin."
Tidak lama kemudian, alvin, pricil dan andini tiba dirumah sakit.
"Neo, dimana mereka?." Ujar alvin cemas.
"Mereka sedang ditangani dokter, semoga saja mereka gak apa-apa." Sahut lesty.
Ditengah kecemasan mereka, daylon dan istrinya beserta anaknya juga tiba disana.
"Loh, ini om daylon kan? Kakaknya tante ara." Ujar boby heran.
"Iya, om yang menyuruhnya kesini, karna reza adalah keponakan kita." Sahut alvin.
"Cebong, gimana keadaan reza? Dia baik-baik saja kan. Kalo si kutil rey tau, bisa marah dia sama kita." Ujar daylon pada alvin.
"Em.. Maaf. Om sekalian. Kenapa nama panggilan kalian pada nama hewan?" Tanya lesty.
"Oh, kami sudah terbiasa sejak dulu. Jadi sulit untuk mengubahnya." Jelas daylon.
"Oh gitu."
Semua orang hening seketika saat melihat reza dan jessie yang sedang ditangani dokter di ruang UGD.
•••
BERSAMBUNG
__ADS_1