
Dua bulan kemudian...
Setelah melaksanakan ujian semester. Arini dan kawan-kawan libur panjang.
Dan hari ini. Arini, reza dan harry kembali berangkat ke london untuk mengurus perusahaan reza yang bekerja sama dengan harry disana.
Setibanya diondon, mereka sama-sama berbenah karna apartement mereka tampak kusam setelah ditinggal beberapa bulan.
"Sayang, apa kau lelah? istirahatlah. Aku mau membeli sedikit makanan dan minuman dulu ya." Ujar reza sembari mengusap rambut arini.
"Oke, cepat kembali ya. aku sudah lapar." Rengek arini manja.
"Iya sayang. aku pergi dulu ya." Reza meninggalkan arini yang tengah berbaring di sofa.
Saat melintasi depan kamar apartemen harry, reza memanggilnya berkali-kali namun tidak ada jawaban.
"Kemana dia? apakah sudah tidur? padahal aku mau mengajaknya pergi. Ya sudahlah, aku pergi sendirian saja." Gumam reza sembari berjalan menuju lift.
Tidak lama reza pergi, harry pun keluar dan mencari reza dalam apartemennya.
"Reza..!! apa kau ada didalam?" Karna tidak ada jawaban, harry pun membuka pintu dan masuk perlahan.
Ia pun melihat arini yang tengah tertidur pulas di sofa. "Dimana reza? kenapa dia meninggalkan arini sendirian?."
Saat harry tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya, arini pun terbangun dari tidurnya.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja membuatmu terjaga dari tidurmu. Aku kesini untuk mencari reza, karna tadi aku mendengarnya memanggilku. Dimana Dia? "
"Harry?
Ah itu, mungkin reza mau mengajakmu berbelanja kebutuhan. Silahkan duduk, kami baru saja selesai membersihkan kamar ini." Sahut arini sembari mengucek matanya yang masih sedikit mengantuk.
"Kamar kalian tampak bersih dan rapi. Aku belum membersihkan semua ruangan apartemenku. Kalo gitu, aku kembali lagi." Harry pun berjalan henfak keluar.
"Boleh aku membantumu? itu lebih ringan jika dikerjakan bersamaan." Arini menawarkan jasa kebaikan untuk membantu harry.
"Tdak perlu, lebih baik kau lanjutkan tidurmu. Kamu pasti lelah kan?."
"Aku bisa tidur sepuasnya nanti malam. Ayo kubantu." Arini berjalan mendahului harry menuju kamar amartemen harry.
"Astaga, gadis ini kenapa baik sekali. " Batin harry menatap arini dari belakang.
Dalam apartemen itu, mereka berdua mulai membersihkan bagian yang belum dibersihkan harry sembari berbincang.
"Rin, apa aku boleh bertanya?."
"Ya, silahkan."
" Apa hal yang membuat wanita berubah terhadap pacarnya?."
"Maksudmu? apakah ini menyangkut selena?." Ujar Arini.
"Iya, aku gak tau kenapa dia jarang sekali menghubungiku. Dan akhir-akhir ini, bahkan nomornya tidak bisa dihubungi. Sebagai teman dekatnya, apa kau tau tentang ini?"
Arini merunduk bingung dengan penjelasan harry. "Apa aku harus menyampaikannya sekarang? tapi gimana dengan selena? aku benar-benar bingung."
"Rin?? Ada apa?."
"Em.. gak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing. Aku kembali ke sebelah dulu." Arini beranjak hendak pergi, namun harry menarik tangannya.
"Tunggu. Jangan pergi dulu, ayo duduk dulu." Harry membawa arini untuk duduk disofa. Kemudian ia pergi kedapur untuk membuatkannya sirup.
"Astaga, harusnya gak perlu. Tapi kepalaku beneran pusing. Apa karna kepalaku sudah beberapa kali terbentur hebat, aku jadi sering sakit kepala." Arini memijat lembut keningnya yang terasa berat.
__ADS_1
Tidak lama kemudian harry kembali dengan membawakan arini minuman dan sedikit camilan.
"Ayo minum dulu. Jika lapar, habisi saja makanannya. Apa kepalamu pusing? biar kubantu memijatnya."
Harry pergi ke belakang arini dan memijat kepalanya dengan lembut. Namun arini menyingkirkan tangan harry.
"Kurasa gak perlu, setelah makan ini, aku akan kembali beristirahat disebelah. Terimakasih atas perhatianmu."
"Rin, kau tau? Aku sangat sulit dekat dengan wanita. Tapi setelah aku pindah ke indonesia, aku jadi banyak teman cewek disana, walaupun mereka semua teman kamu. Dan sekarang satu-satunya wanita yang terdekat denganku yaitu kamu. maka dari itu, aku harus menjagamu dengan baik." Tutur harry yang masih melanjutkan pijatannya di kepala arini.
"Hm.. Terserah padamu saja."
Beberapa saat kemudian, reza pulang. Namun ia kaget melihat harry yang tengah memijat kening arini. Ia pun segera masuk teburu-buru untuk menghampiri arini.
"Sayang, kamu kenapa?." Ujar nya cemas.
"Emm.. Za maaf. Bukan aku bermaksud lancang, aku yang memaksa ingin memijat kepala arini karna dia terlihat pusing. Dan, aku yang menyuruhnya untuk membantuku membersihkan ruangan ini." Sahut harry meluruskan supaya reza tidak salah faham.
"Bukan. Tadi aku yang ingin membantu harry." Timpal arini.
"Aku gak peduli apapun itu, aku hanya cemas dengan kesehatanmu sayang. Apa kau sakit kepala? Ayo kita kembali kesebalh.
Har, makasih banyak sudah menjaga arini."
"Gak masalah za, harusnya aku yang berterimakasih pada arini karna telah membantuku." Timpal harry tersenyum.
Reza pun menopang tubuh arini dan membawanya pulang.
_
Sore harinya harry ingin pergi ke rumah Selena, di saat yang bersamaan Arini keluar dari apartemennya karena ingin membuang sampah namun ia melihat harry yang hendak pergi.
"Har kamu mau ke mana?" Tanya arini.
Harrry pun menoleh . "Aku mau ke rumah selena." Jawabnya singkat.
"Baiklah, segera panggil reza dan kita akan berangkat sekarang".
Arini pun kembali ke apartemennya untuk memanggil Reza.
"Sayang, bagaimana kalau kita ikut harryi ke rumah selena." Tanya Arini buru-buru.
"Boleh, kita juga sambil jalan-jalan. Ayo kita pergi sekarang" Reza pun mengambil kunci mobilnya lalu mereka bertiga pergi ke rumah Selena.
Setibanya di sana rumah itu nampak sepi. Arini pun mencoba memanggil dari luar.
"Selena.!! Apa kau ada di rumah?" Panggil Arini cukup kencang.
Seorang asisten rumah tangga pun datang membuka pintu. "Haii, anda siapa?" Tanya pembantu tersebut.
"Maaf bibi. Apakah Selena ada di rumah sekarang?" Tanya Arini dengan sopan dan merundukkan kepalanya.
"Apakah kalian teman non selena?"
"Benar, saya teman selena. Saya kemari bersama tunangan selena, dia menunggu di dalam mobil bersama tunanganku." Arini menunjuk ke arah mobil harry yang terparkir di halaman.
"Ada tuan harry? Tunggu sebentar, aku akan memanggilkan nona selena, silakan kalian masuk dulu."
"Baiklah bi, kami akan menunggunya terima kasih."
_
Tidak lama kemudian, asisten rumah tangga itu kembali lagi menemui Arini, Reza dan Harry.
__ADS_1
"Maaf nona, tuan, sepertinya non selena tidak ingin bertemu kalian, tapi dia meminta nona Arini untuk menemuinya di kamarnya."
"Baiklah bi. Tolong antarkan aku ke kamarnya"
Saat tiba dalam kamar selena, Arini kaget melihat selena yang sedang murung dengan wajah yang pucat dan kurus. Arini pun mendekatinya.
"Hei kamu apa kabar? selama aku pulang ke Indonesia, kamu tidak pernah menghubungiku dan aku pun tidak bisa menghubungimu. Apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa tubuhmu kurus seperti ini?" Tanya Arini cemas sambil menatap wajah selena yang tertunduk.
Selena mengangkat perlahan kepalanya.
"Rin, orang tuaku sudah mengetahui semua ini, Maafkan aku rin." Selena menangis tertunduk sedih membuat arini bingung.
"Sel ada apa? kata kan yang jelas." Ujar arini sambil menggenggam tangan selena.
"Rin, aku menghilangkan bayiku atas permintaan orang tuaku, karena saat itu aku pingsan dalam kamar, kemudian orang tuaku membawaku ke rumah sakit, dan ternyata dokter mengatakan semuanya pada mereka.
Mereka pun marah padaku. Papa bilang aku merusak nama baik mereka dan mempermalukan keluarga kami.
Lalu merekapun menyuruhku untuk menggugurkan kandungan ini.
Mamaku menemaniku untuk melakukan aborsi.
Setelah itu, Papa menyuruhku untuk menikah dengan harry. Aku bingung jika aku di suruh menikah dengan harry, lalu kenapa aku harus menggugurkan kandunganku ? Bukankah setelah menikah kami harus mempunyai anak?. Tapi papa menentang itu, dia menyuruhku menikah karena aku sudah terlanjur hamil. jika aku belum hamil maka dia tidak akan menyuruhku menikah karena dia takut jika tidak ada laki-laki lain yang ingin mendekatiku lagi.
Rin, bagaimana aku menyampaikan ini dengannya aku takut jika suatu saat harry tahu aku pernah hamil dan menggugurkan kandunganku" Selena tertunduk sedih. Ia merasa lega telah menceritakan semuanya pada arini.
"Ya ampun sel, kau tahu kan menggugurkan kandungan itu dosanya besar sekali
jika suatu saat hary tahu dia pasti akan membenci kamu. Bagaimana kamu menutupi hal ini? kuharap hary tidak akan mengetahui ini selamanya.
Bicaralah baik-baik padanya karena selama kalian berpisah, dia sangat mencemaskanmu karena kamu tidak bisa dihubungi.
Bicaralah padanya dan minta Maaflah padanya katakan jika kau baik-baik saja dan katakan juga jika kau ingin menikah dengannya atas permintaan orang tuamu kurasa Harry akan sangat senang mendengar ini.
Ayo kita turun sekarang temui dia dia sudah sangat merindukan kamu"
Arini membantu mendandani Selena kemudian mereka turun untuk menemui Harry dan Reza yang sudah ada di ruang keluarga, saat hari melihat Selena dia pun langsung memeluknya erat.
"Sayang kemana saja kau selama ini? kenapa kamu tidak bisa dihubungi dan kenapa kamu tidak menghubungiku? apa kau baik-baik saja ? Apa kau tidak sakit? tapi kenapa tubuhmu semakin kurus, apa kau dari sakit?" Ujar Harry sambil mengelus rambut Selena.
"Tidak.. tidak aku baik-baik saja hanya saja aku melakukan diet yang ekstrem.
Hary ada yang ingin aku sampaikan." Ujar Selena menatap dalam mata harry.
"Katakan saja ada apa, aku akan mendengarkannya." Sambil mengelus wajah Selena
"Orang tuaku memintaku untuk menikah denganmu aku tidak tahu apakah ini Terlalu cepat untukmu, tapi bagiku ini terlalu cepat karena aku belum siap menjadi seorang istri tapi orang tuaku mendesak untuk menikah, karena mereka bilang jika aku menikah, maka aku tidak sendirian lagi di rumah, karena mereka sering berpergian ke luar negeri.
Apa kau mau menikahiku?
Aku tahu aku bukan calon istri yang baik, tapi aku akan berusaha jika kita sudah menikah nanti." Tutur Selena dengan merundukkan kepalanya.
Mendengar itu, harry sangat senang. Ia pun kembali memeluk Selena dengan erat.
"Sayang, Apa kau serius? inilah yang aku harapkan dari dulu.
Selama ini aku sudah menunggumu bertahun-tahun untuk menikah denganku, dan sekarang malah kau yang mengajakku menikah? aku sangat senang.
Kapan kita akan melaksanakan pernikahan? aku akan bicara pada kedua orang tuamu dan kedua orang tuaku.
Harry begitu riang dalam pelukan Selena, namun tidak rasa bahagia sedikit pun di mata Selena, karna ia merasa sangat bersalah.
Arini juga hanya merunduk diam.
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG.