Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:26


__ADS_3

Setelah mereka pulang, hanya lesty yang tersisa untuk menemani arini. Lesty pun menghampiri arini didalam kamarnya.


"Rin, udah tidur belom?". Ujar lesty karna ia bingung melihat arini yang tertutup selimut.


"Belom.. gue gak bisa tidur." Arini pun bangun dan duduk diranjangnya.


"Loh, kenapa gak bisa tidur? apa mata lo bermasalah?". Timpal lesty sambil turut duduk disamping arini.


"Ti, dari semua rahasia masalah gue yang udah gue ceritain sama lo, ada satu lagi yang belum lo ketahui, dan ini mungkin membuatmu kaget." Jelas arini.


"Apaan rin?. Ceritain aja sih, gue kan sahabat pertama lo dikota ini, walaupun gue suka asal ceplos, tapi gue bisa jaga rahasia kan?!"


"Janji ya jangan bilang siapa-siapa? cukup kita berdua yang tau." Sahut arini tertunduk.


"Iya iya..cepat katakan."


"Ti, lo tau sendirikan alasan gue kabur kekota B, selain alasan pertama yang udah gue kasih tau lo, ada lagi alasan lain. Yaitu neo."


Sontak lesty kaget saat arini menyebutkan nama neo. "What?! gue cuma tau kalo lo kabur kesini karna sedang marah sama orang tua lo. terus kalo dengan neo, apa hubungannya?"


"Sewaktu SMA, gue sama neo pernah pacaran, bahkan kita belum ada kata putus. Neo pindah kekota ini lebih dulu waktu kelas 3, karna orang tuanya pindah kesini saat buka cabang perusahaan mereka disini. Neo mengajakku ikut pindah bersamanya, tapi aku menolak karna orang tuaku gak izinin.


Lalu setelah lulus sekolah, papa mau jodohin gue sama anak temen nya, jelas gue gak mau lah karna gue udah punya neo, dan juga gue masih muda. Tapi mereka tetap memaksa, makanya gue kabur kesini dan berharap bertemu lagi sama neo.


Tapi sudah tiga tahun disini, gue baru bisa ketemu sama dia untuk pertama kalinya, tapi dia sudah nikah dan punya anak."


"Astaga rin! gue bener-bener gak tau loh! sumpah gue kaget. tapi kok kalian biasa-biasa aja sih, kayak gak kenal gitu?". Ujar lesty.


"Karna kita gak ada kesempatan untuk bicara, baru saja dirumah sakit kemarin kami bicara berdua saat dia mengunjungiku. Tapi gue udah gak masalah sih, karna dia sudah bahagia bersama yuki, gue juga ikut bahagia".


"Gue gak nyangka rin, lo bisa hadapi ini sendirian, gue hampir gak pernah liat lo murung atau sedih. Rin, menurut gue, lo harus punya pacar supaya lo bisa semangat dan lebih bahagia." Lesty menggenggam tangan arini untuk memberinya kekuatan.


"Ti, jika gue suka sama reza, apakah gue salah?". Ucapnya menatap lesty.


"Loh, kenapa salah? apa lo masih memikirkan perasaan neo? Dia sangat mencintai yuki. dia gak akan ada masalah jika lo dan reza pacaran." Timpal lesty.


"Masalahnya bukan itu ti. Tapi apakah reza menyukaiku? kita tau sendiri kalo dia masih sayang sama yuki.


Ti, gue udah berfikir, dan keputusan gue udah bulat. Besok gue akan pulang kekota asal gue. Dan gue akan terima perjodohan yang diinginkan papa, gue udah gak sanggup disini, gue capek, gue juga kangen sama mama, pasti mereka khawatir sama gue.


maafin gue ya ti, mungkin gue banyak salah".


Arini memeluk lesty sambil menangis.


"Rin, gue gak terima lo pulang! lo disini aja ya, lo tinggal aja dirumah gue, atau gue pindah kesini supaya kita bisa tinggal bersama". Sahut lesty yang turut menangis.


"Gue udah putusin ti, gue harus pulang, tapi jangan kasih tau sama yang lain nya ya, biarkan mereka tau saat gue udah pergi".


"Rin, apa lo tega ninggalin gue dan teman yang lainnya. Kalo lo suka sama reza, biar ntar gue yang bilang sama dia kalo lo suka sama dia. Dia juga pasti mau kok sama lo". Lesty menatap wajah arini yang masih tertunduk sedih.


"Maafin gue ti." Sahut arini singkat.


Lesty menghela nafas mencoba menerima keputusan arini. "Baiklah rin, kalo itu yang terbaik menurut lo, gue ihklas, asal lo janji, lo akan bahagia disana." Lesty kembali memeluk arini.


Ditengah kesedihan mereka, ponsel arini berdering. Lesty langsung meraihnya.


"Telpon dari reza nih." Lesty menyodorkan hp arini.


"Lo aja yang jawab ti. ntar dia tau kalo suara gue serak".

__ADS_1


"Baiklah". Lesty menjawab telpon dari reza, ia mencoba memperbaiki suaranya yang juga sedikit serak.


"Halo za, ada apa? gue lesty"


"Dimana arini? apa dia udah tidur?"


"iya, dia agak meriang."


"Ti, tolong berikan hp padanya, gue mau memastikannya sendiri".


Lesty terpaksa memberikan hp nya pada arini, walau arini sempat menolak.


"Halo rin, udah tidur? Apa hidung lo masih sakit?"


"Hmm." Jawab arini singkat.


"Rin, gue tanya loh, kok jawabnya singkat amat!"


"Za, gue gak apa-apa. gue ngantuk, udah ya."


Arini langsung menutup telpon nya.


"Rin, mending lo tidur gih, udah tengah malam, gue juga mau tidur, udah ngantuk banget. met bobok ya. mimpi indah."


"Iya, good night ti." Arini turut tidur dengan mata sembab.


Satu jam kemudian, arini benar-benar terlelap. Lalu lesty beranjak bangun karna ia pura-pura tidur.


Lesty membawa ponsel arini, dan membawanya keruang depan secara diam-diam.


"Semoga reza belom tidur." Gumam lesty. ia pun menelpon reza. tidak lama kemudian reza menjawabnya.


"Gue lesty bukan arini. Za, lo bisa kesini gak sekarang, arini sakit tuh".


"Hah? lo serius? apa hidung nya sakit lagi?"


"Iya, tadi hidungnya berdarah banyak banget, cepat kesini ya, udah ya, gue tutup telpon nya".


"Maafin gue harus bohong za." Gumam lesty.


Tanpa pikir panjang, reza langsung melajukan mobil nya ditengah malam, bahkan ia pergi diam-diam karna takut orang tuanya terbangun dari tidur.


Reza sangat cemas dengan arini karna ia merasa bersalah sudah membuat arini celaka.


Beberapa menit kemudian, reza tiba dirumah kosan arini. Lesty sudah menunggunya diteras.


Reza masuk dengan tergesa-gesa tanpa menghiraukan lesty.


"Eh, mau kemana lo!". Lesty menarik reza.


"Katanya arini sakit, gue mau liat dia".


"Za, dia udah tidur!. ayo kita liat, tapi jangan berisik." Lesty pun mengajak reza kekamar arini untuk melihatnya.


"Stt jangan berisik. Za, lo liat tuh wajah nya arini. Mata nya sembab karna habis nangis." Bisik lesty.


Reza mendekat pada arini dan menatap wajahnya yang imut itu. "Benar, mata nya sembab. apakah lo nangis karna hidung lo sakit?". Ujar reza sembari menyiakan rambut arini yang menutup wajahnya.


"Za, ayo ikut gue kedepan, ada yang mau gue sampein". Lesty menarik reza dan berjalan pelan kedapan.

__ADS_1


"Ayo duduk. Za, sebenernya gue bohong, arini gak sakit, dan hidungnya gak berdarah, gue cuma mau lo liat dia malam ini". Jelas lesty tertunduk.


"Hah? maksud nya? Terus kenapa dia nangis?"


"Za, arini itu bukan berasal dari kota ini, dia merantau disini. tadi dia bilang kalo besok dia mau balik kekota asalnya. dan alasan dia mau pergi dari sini itu adalah elo." Jelas lesty.


Reza sontak kaget. "Hah? kok gue? apa karna gue yang tonjok dia, terus dia sakit hati sama gue?". Timpal reza dengan suara keras.


Lesty langsung menutup mulut reza. "Jangan kencang-kencang pe'ak! ntar dia bangun!. Arini tuh suka sama elo, gue gak habis pikir kenapa dia suka sama cowok amatiran kayak lo gini.!"


"What! gue amatiran? gue tampan wajar banyak cewek yang suka."


"Gue serius weii.. dia suka sama lo bukan karna lo ganteng, tapi lo perhatian sama dia. Gue minta tolong sama lo, cegah dia buat pergi. Gue tau dia menderita disini, jauh dari orang tua dan bekerja keras demi hidupnya. tapi jika dia pulang kekota nya, maka dia akan lebih menderita lagi." Lesty tertunduk sedih.


"Hah? bukankah kalo dia pulang akan lebih bagus, dia gak perlu kerja keras kan?". Timpal reza.


"Lo salah za, karna dia akan.....


Eh, gak usah dibahas. intinya gue minta tolong sama lo. bantuin gue ya supaya dia gak jadi pergi."


"Baiklah, gue bantu sebisanya. tapi kalo dia tetap bersikeras, kira harus rela."


"Za, lo gak suka ya sama arini, dia sama baik nya kok dengan yuki, bahkan dia yang udah selamatin idup lo!"


"Ti, gue suka sama dia, tapi gue belom bisa cinta sama dia, mungkin karna masih ada nama yuki dihati gue. Tapi apapun itu, gue akan mencegahnya pulang.


Kalo gak ada lagi keperluan, gue pulang dulu ya, udah malem.


Oh iya, nih ada uang, lo kasih sama arini, tapi jangan bilang dari gue". Reza memberikan amplop coklat yang isinya lumayan banyak.


"Tapi untuk apa uang ini za, terus gimana cara gue ngasih ke arini.?". Pungkas lesty bingung.


"Lo simpan aja dulu uang nya, besok gue kasih tau kalau semuanya udah pasti. Simpen yang bener, jangan sampe ilang!. udah ya, gue balik dulu."


Reza beranjak, lalu dia masuk kedalam.


"Weii. jalan keluarnya bukan kesana!" Ujar lesty heran.


"Iya, gue tau pe'ak!. gue cuma mau liat arini doang!." Reza melanjutkan langkahnya menuju kamar arini, lesty turut mengiringinya dari belakang.


Reza menatap arini, ada rasa kasihan terselip dimata reza saat ia memandangi arini yang tengah tidur. Lalu ia menutupi tubuh arini dengan selimutnya yang hampir jatuh.


Kemudian reza mengusap kepala arini, lalu pergi dari kamarnya.


"Ti, gue pulang ya. tolong jaga gadis rantau itu. Kalo ada apa-apa telpon gue." Reza masuk kemobil nya dan langsung meninggalkan rumah kosan arini.


"Za, lo itu baik dan perhatian, semoga lo bisa mencintai arini seperti lo mencintai yuki dulu. Gue cuma pengen liat temen-temen gue bahagia, termasuk arini." Gumam lesty tertunduk.


Kemudian lesty menyimpan uang dari reza didalam tas nya. Lalu ia tidur disamping arini.


•••


BERSAMBUNG....


Apakah arini jadi pulang?


Ya


Tidak

__ADS_1


"Jawab pada kolom komentar😘, dan sertakan alasan nya."


__ADS_2