
Dua hari pencarian arini. Namun mereka sama sekali belum menemukan petunjuk.
Mereka berkumpul dirumah arini setelah pulang dari mencarinya seharian.
"Gimana hasil pencarian kalian? Apakah sudah ada petunjuk?" Ujar reza pada semuanya.
"Nihil bos. Kami sama sekali gak menemukan petunjuk." Jawab boby.
"Kalian ngerasa aneh gak sih? Kita sama sekali gak bisa nemuin dia. Bahkan dia pergi gak ada yang tau. Dari cctv juga susah ditemukan. Apakah dia masih berada dalam ruang lingkup rumah sakit? Atau dia terjatuh dimana gitu.!" Jelas danu sambil berpikir.
"Nggak mungkin. Dirumah sakit gak ada kolam renang ataupun sumur tua, apa lagi tebing. Dia mau jatuh dimana?.
Kurasa dia kesasar karna jalan-jalan sendiri." Timpal neo.
"Atau jangan-jangan dia diculik.?" Sahut boby.
"Hah? Gak mungkin lah. Tau sendiri kan arini itu sangat risih dengan orang baru. Kalo ada yang menculiknya dengan paksa, pasti dia teriak kan? Dan pasti pihak rumah sakit mengetahui ini. Lagian kita sudah kupas cctv. Sama sekali gak ada penculikan. Gue jadi bingung. Sebenarnya kemana kamu arini?." Reza tertunduk pasrah. Serasa menemukan jalan buntu.
"Za, hari ini terakhir kalinya aku membantu kalian mencari arini. Karna besok aku harus pergi tugas keluar kota. Kabari aku jika arini sudah ditemukan." Ujar neo sembari menepuk pundak reza.
"Za, aku juga harus pulang kerumahku. Aku gak mau tinggal disini tanpa arini." Sahut lesty.
"Baiklah, gak masalah. Tapi tetap bantu aku cari arini ya." Timpal reza.
Mereka semua pulang kerumah masing-masing.
Malam hari, reza tetap mencari arini sendirian. Ia baru pulang saat menjelang pagi.
_
Pagi hari, dirumah yuki. Mereka tengah sibuk mempersiapkan keberangkatan neo keluar kota.
"Sayang, baik-baik dirumah ya. Aku pergi dulu, bulan depan aku pulang. Aku akan berusaha meluangkan waktu untuk menghubungi kamu dan yunie. Jaga kesehatan, dan jaga anak kita ya." Neo memeluk yuki sambil mencium kepalanya.
"Neo. Selama ini aku belum pernah kau tinggalkan dalam waktu yang lama. Aku pasti merindukan kamu." Sahut yuki dalam dekapan neo.
"Iya, aku juga pasti merindukan kalian semua. Ya sudah, aku pergi dulu ya. Maafkan aku, sekarang kamu harus berangkat kerja naik taxi lagi."
"Nggak apa-apa kok. Gak masalah. Ayo kuantar kedepan."
Neo menggendong yunie menuju luar rumah sambil menciuminya.
"Anak ayah wangi banget sih. Ayah pergi dulu ya sayang, jangan nakal sama bunda ya. Kalo bunda kerja, yunie jangan cengeng sama nenek."
"Ayah, mau kemana?" Tanya yunie dengan suara imut nya.
"Ayah mau cari uang yang banyak, biar nanti bisa beliin yunie sepeda dan boneka yang gede. Yunie harus janji, gak boleh nangis kalo ayah gak ada dirumah ya."
"Iya." Jawab yunie tersenyum. Neo serasa ingin menangis melihat wajah polos anaknya itu.
Hari ini, untuk pertama kalinya neo pergi lama dari anak dan istrinya. Tapi ini harus ia lakukan demi pekerjaannya.
Sebelum kekantor, neo menyambangi lesty terlebih dahulu untuk mengurus suatu masalah sekaligus berpamitan dengannya.
_
Esok harinya. Yuki beserta sahabatnya kembali ngantor begitu juga dengan reza. Namun reza masih menugaskan danu dan boby untuk mencari arini bersama polisi.
__ADS_1
Reza menghantukkan kepalanya dimeja, pikirannya begitu kacau, ia bingung harus mencari arini kemana lagi.
Reza meraih ponsel arini yang diberikan oleh lesty saat tertinggal dirumah sakit.
"Aron, sayang kamu dimana sih? Aku sangat mencemaskanmu. Kamu pergi kemana? Harus kemana lagi aku mencarimu." Ujarnya sembari menatap foto arini.
Tok...tok..
Ketukan pintu terdengar sedikit sayup.
Reza mengutarakan remote control nya untuk membuka pintu.
Terlihat yuki masuk, berjalan perlahan seakan segan menemui reza. Kemudian ia duduk didepan meja kerja reza.
"Maaf aku mengganggumu kak." Ujar yuki merundukkan kepala.
Reza mencengatkan kepalanya. "Heh, kau masih saja memanggilku kakak sejak sekolah dulu. Aku hampir melupakan sebutan yang sudah jarang kudengar itu." Sahutnya tersenyum kecil.
"Maaf, aku lupa kalau ini dikantor. Kalau begitu aku akan panggil bos saja."
"Hm.. Terserah kamu saja. Oh iya, ada keperluan apa kau datang kemari.?" Tanya reza menatap wajah yuki.
"Aku hanya ingin bertanya. Kapan aku akan dikeluarkan dari kantor ini? Seperti yang kau bilang kemaren." Ujar yuki tanpa ekspresi.
Reza diam sejenak. Kemudian ia menghela nafas.
"Yuki. Kurasa aku gak akan mengeluarkan kamu. Berhubung arini gak ada, kamu lah yang harus menggantikan posisinya untuk sementara, sebagai sekretarisku dikantor ini. Karna aku gak sempat untuk menerima sekretaris yang baru. Kamu tangani semua pekerjaan arini." Jelas reza.
"Hah? Tapi....
Bukankah aku lah penyebab arini jadi seperti ini? Aku gak mau lagi berada ditengah kalian. Aku gak mau menjadi penghalang hubungan kalian!. Aku ingin menjauh darimu!, supaya kau bisa fokus dengan arini." Timpal yuki tegas.
"Yuki.! Siapa yang bilang bahwa kau adalah penghalang diantara hubunganku dan arini?! Ku akui kalo aku memang sedikit tidak peduli dengannya. Tapi bukan berarti itu karna kamu!. Dan, bagaimana aku mau fokus dengannya kalo orangnya aja gak ada! Gimana?!" Bentak reza sambil menepuk meja.
Yuki tertunduk takut. "Pikiran kamu memang seperti itu. Tapi beda lagi jika dari pandangan orang lain. Kau tau, saat arini tertimpa kayu bulan lalu, teman-teman kita seolah menyalahkan aku. Aku juga sadar bahwa kau masih mempedulikan aku. Aku hanya ingin kau tau, bahwa aku sudah mencintai neo, aku sudah bahagia dengannya. Aku gak mau menjadi penghancur hubungan orang. Maafkan aku." Yuki menangis, kemudian ia berdiri dan hendak keluar.
Namun reza menarik tangannya. "Kau menangis? Maafkan aku. Aku gak bermaksud bicara kasar padamu. Kan aku sudah bikang, aku peduli padamu karna aku sayang padamu sebagai adiku." Tutur reza.
Yuki menepis tangan reza dan menghadap padanya.
"Aku menghargaimu sebagai bos disini. Anggap saja kita tidak pernah ada masa lalu. Disini atau diluar, kita hanya sebagai bos dan bawahan. Aku permisi." Yuki meninggalkan ruangan reza dengan sedikit kesal.
Reza duduk kembali dengan perasaan kesal juga sedih.
"Ahhhh.... Kenapa aku jadi seperti ini!! Hukuman macam apa ini.?! Aku hanya peduli pada yuki. Aku juga peduli dan sayang pada arini.! Apa aku salah.!!
Ah gak tau lah.! Mending aku mencari arini saja."
Reza keluar dari ruangannya. Saat melewati meja yuki. Ia berhenti sejenak.
"Yuki. Maafkam atas sikapku tadi. Aku mau pergi dulu mencari arini."
"Hm.." Jawab yuki singkat dan masih fokus menatap layar laptop.
Reza menghela nafas, kemudian berlalu dari kantornya.
Sore hari, ia pulang kerumahnya untuk mandi, kemudian reza hendak pergi lagi.
__ADS_1
"Ma, pa. Aku pergi dulu, untuk sementara aku gak pulang kerumah. Aku mau mencari arini sampai ketemu."
"Arini belum ketemu? Astaga! dimana dia?" Timpal ara kaget.
"Gak tau ma, kita sudah mencarinya kemana-mana. bahkan polisi juga turun tangan. Aku bingung."
"Sayang, kamu yang sabar ya. Arini pasti kembali." Ara menepuk pundak anaknya itu.
"Makasih ma. kalo gitu aku pergi dulu ya."
"Baiklah hati-hati sayang.
_
Diwaktu yang sama. Lesty dan yuki tengah berada dihalaman kantor. mereka berdua hendak pulang.
"Ki. mari kuantar. Susah cari taxi jam segini." Ujar lesty menawarkan yuki ikut bersamanya naik motor.
"Apa gak apa-apa?
baiklah."
Yuki dan lesty pun pergi dari kantor.
setelah tiba dirumah yuki. mereka ngobrol sebentar diteras.
"Ki. maafin gue ya. Akhir-akhir ini kita jarang berkomunikasi karna sibuk mengurusi arini.
Oh iya. tadi neo kerumahku. Dia berpesan padaku supaya aku menjaga kamu selagi dia pergi." Jelas lesty.
"Apaan sih neo. emangnya aku anak kecil apa.
Ti, gimana pencarian arini? kira-kira dia kemana?"
"Aku juga gak tau ki. Semoga dia baik-baik saja. Ya sudah aku pulang dulu ya."
"Baiklah. makasih ya sudah mengantarku. hati-hati dijalan.
Lesty pergi mengendarai motornya. Tanpa sengaja ia melihat mobil reza sedang melaju pelan. Lesty pun mencoba mengejarnya dan memanggilnya menggunakan klakson.
Melihat lesty disamping mobilnya. reza pun berhenti dan menepikan mobilnya.
"Ti, ada apa?"
"Za. lo mau kemana?." Tanya lesty.
"Mau cari arini lah. kenapa?."
"Za, mending lo istirahat. Biarkan polisi yang mencarinya."
"Kenapa?." Ketus reza.
"Gue tau lo capek. dari bulan lalu lo sibuk ngurusin arini walau dia gak ngenalin lo. Liat wajah lo pucat kayak gitu. Istirahat saja dulu. besok lanjutkan lagi mencari arini.
Udah ya. gue cabut dulu."
"Lesty benar. Gue kurang sitirahat. kepala pusing banget. gue pulang kerumah arini aja. untuk sementara tinggal disana dulu. sekalian ajak boby dan danu."
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG...