Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:20


__ADS_3

Setelah meeting selesai. Reza menyuruh arini untuk tetap berada dalam ruangan meeting bersama boby.


"Bob, sekarang kamu pergi keruangan cleaning service, bawa yuki kemari! ". Tegas reza.


Arini dan boby melongo heran, karna reza mengetahui yuki bekerja dikantornya.


"Psstt..pasti Lo yang bocorin sama bos ya?!". Bisik boby pada arini.


"Enak aja! Gue tabok ntar, asal nuduh aja! Gue juga gak tau!". Sahut arini melotot pada boby.


"Boby!! Denger gak!!". Bentak reza sambil memukul meja.


"Baik bos!!". Boby langsung berlari ngacir gak karuan sampai nabrak pintu.


Arini menatap reza dengan serius saat reza merunduk, arini baru tau kalau reza marah tuh kayak gini, udah kayak bapak-bapak marah sama anaknya. Dia lebih seram dan terlihat kejam saat matanya menyipit.


Arini kaget saat reza tiba-tiba mencengatkan kepala dan mendapatinya tengah menatap reza.


"Apa lo liat-liat??!!". Ketus reza.


Arini langsung memalingkan wajahnya, ia melihat ke atap sembari bergumam. "Du du dududu, gue gak liat apa-apa kok! ". Jawabnya santai.


Boby datang kembali membawa yuki masuk.


Dengan wajah tertunduk, yuki berjalan perlahan menuju meja meeting itu.


"Kalian silahkan duduk". Ucapnya datar.


Reza menghela nafas saat melihat wajah yuki yang tidak berani menatapnya.


"Yuki! Sekarang kamu sudah tau kan kalau aku adalah CEO disini. Apakah kau mau lanjut bekerja atau mau berhenti?". Tegas reza.


Boby dan arini kaget, mereka berfikir bahwa yuki akan dipecat reza.


Sementara yuki tertunduk sambil berpikir, karna ini pilihan yang sulit.


"Bos reza, bisakah anda mengizinkanku bekerja disini? Aku janji tidak akan menampakan diri dihadapanmu". Ujar yuki dengan wajah memohon.


"Kalau begitu berhentilah jadi cleaning service!". Timpal reza dingin.


"Hah? Bos! Jangan pecat yuki dong!! Kasian anaknya!!". Sahut arini sembari merangkul yuki. Sementara yuki hanya tertunduk pasrah.


"Yuki. Mulai hari ini, kamu berhenti jadi cleaning service, karna kamu kuangkat menjadi asisten arini. Mulai besok berpakaian lah seperti karyawan yang lain".


Arini tersenyum mendengar ucapan reza. "Wah,, makasih bos,. Sekarang lo jadi asisten gue ki, kita bisa kerja bareng". Arini heboh sendiri sambil cengengesan.


"Maaf,, tapi lebih baik saya mengundurkan diri. Saya permisi". Yuki pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas.


"Apa kamu takut kalau neo tau? Atau kamu takut kalau aku makin membencimu?". Ucap reza dengan lantang.


Saat didepan pintu keluar, yuki menghentikan langkahnya mendengar ucapan reza. "Kamu benar". Jawabnya singkat.


"Pertanda wanita egois! . Kamu pikir akan cukup mengandalkan gaji dari neo? Yang perlu kamu pikirkan itu adalah yunie, anak kamu dan kedua orang tua kamu!


Bukankah neo adalah suami yang baik menurutmu? Lalu kenapa kamu takut kalau dia tahu kamu bekerja disini, jika dia memang baik, kurasa dia akan mengerti. Satu lagi, aku tidak lagi mencintaimu, jadi jangan berpikir bahwa aku menolongmu karna perasaan, kamu salah! Aku membantumu karna kasihan pada anakmu!". Jelas reza dari meja meeting yang membelakangi yuki.


Mendengar penjelasan reza, yuki meneteskan air mata. Ia sadar bahwa reza memang tidak lagi mencintainya.


Kamu benar, aku tidak boleh egois, aku akan membuang jauh-jauh perasaan ini, asal kau tau, aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi aku sudah tidak pantas untukmu.


Yuki berbalik badan, dan kembali mendekat kemeja meeting. "Baiklah, aku akan bekerja disini sesuai perintahmu, terimakasih banyak. Aku permisi dulu".


Arini heran sekaligus bengong menyaksikan mereka berdua. Haiss.. Drama apa ini? Kayaknya cocok dijadikan drama korea. Judulnya 'cinta tak sampai'. Kyaaa bagus tuh.


Arini bergumam sendiri sambil senyam-senyum gak karuan didalam ketegangan mereka.


"Arini!! Kamu ngapain lagi disana!!". Ujar reza yang sudah berada dipintu keluar.


Arini baru sadar bahwa mereka sudah pergi, hanya dia yang masih duduk santai akibat melamun.


"Eh! Maaf bos,, tadi kaki gue kesemutan,, iya.. Jadi nya susah beridiri". Jawab arini bingung.


"Oh,, sekalian aja ke'gajah'an biar lo gak bisa berdiri beneran". Ketus reza sembari berlalu bersama boby.


Hmmm.. Tuh orang! Pengen banget gue nabok mulutnya!!


Arini turut keluar dari ruangan itu menuju meja kerjanya.

__ADS_1


"Eh boby! Lo mau kemana?? ". Arini menghentikan boby yang melintas didepan mejanya.


"Gue mau nemuin yuki, mau bantu dia pindah kesini. Lo bisa bantu gue gak? Tolong siapkan mejanya yuki dipojok ruangan didekat meja lo".


"Meja nya mana??".


"Diruangan bos, gue pergi dulu ya". Boby berlalu begitu saja.


Arini bergegas menuju ruangan reza.


"Bos!, eh ada danu?"


"Ada apa rin? Lo merindukan gue?". Dengan percaya diri danu menatap arini.


Arini menaikan sebelah alisnya. "Rindu?? Itu kan salah satu agama".


"Itu Hindu rin!! Elah.. "


"Oh, maap. Oh iya bos, gue mau ngambil meja sama kursi buat yuki".


"Siapa yang menyuruhmu?!!". Tanya reza tegas.


"Boby". Jawab arini singkat.


"Memang nya lo siapanya dia sampai mau mendengarkan perintahnya, tadi gue yang menyuruhnya, jadi biarkan dia yang melakukannya, sekarang lo balik kerja lagi". Ketus reza.


"Oh.. Bagus deh kalo gitu. Dah..!". Dengan santai arini keluar dari ruangan itu.


"Wahh bos,, sikap lo yang kayak gini bener-bener kayak seorang bos, beda banget". Ujar danu menyeringai.


"Emang gue bos kan?!".


"Oh iya,, maap gue lupa.


Bos minta duit dong, ntar siang gue mau traktir arini makan. Bos tau gak, kemaren tuh arini makan dibayarin sama lesty karna dia gak ada duit, kasian banget kan? Terus yuki bawa bekel dari rumah karna ngirit duit juga. Gue jadi kasihan deh sama mereka berdua". Jelas danu dengan wajah melas.


"Diantara mereka, siapa yang berada?". Tanya reza.


"Kayaknya genta, dia anak orang kaya, kekantor aja pake mobil. Kalo evi dan lesty cukup sederhana, gak kaya gak miskin juga".


Mata danu berubah jadi gede, dan langsung menarik kartu tersebut. "Ini,, seriusan bos?! Waaahh makasih banyak yah bos?".


"Inget, jangan sampai bablas! Setiap pengeluaranya ada laporan langsung dari pesan hp gue".


"Baik bos, gue ngerti".


Disisi lain, boby tengah berada dalam ruangan manager putra bersama yuki. "Heii siapa kamu? Kenapa kamu mengajak yuki kemari? Apa kau suaminya?".


"Maaf anda siapa? Aku adalah asisten bos reza, baru bekerja sehari yang lalu". Jawab boby berlagak sombong.


"Hei!! Aku manager cleaning service! Katakan ada apa kalian kemari? ".


"Mulai hari ini, yuki dinaikan menjadi asisten sekretaris arini. Dan dia harus pindah ruangan". Jelas boby.


"Hah?? Hahahha.. Kamu halu ya? Apakah otak kamu sedang ngambang? Kata siapa yuki mau dipindah posisikan?". Manager putra terbahak karna gak percaya.


"Elah nih orang, setengah siluman kayaknya, gak percayaan amat! Gini deh, gue telpon bos reza sekarang".


"Silahkan?!!". Putra menenteng tangan nya masih tak percaya.


Boby menelpon reza, setelah telpon itu terhubung ia mengaktifkan speaker nya. "Halo bos? Ada problem nih, si manager pembersih kantor ini gak percaya kalo yuki akan pindah posisi, dia gak izinin yuki pindah bos, mau diapakan dia? Mau dijadiin keripik? Atau jadiin pekyek?!". Boby melotot pada putra.


"Hah? Tunggu sebentar?! ". Sahut reza singkat, lalu reza menutup telponnya begitu saja.


Manager putra kembali terbahak. "Haha,, mana?!! Bos reza gak ngomong apa-apa tuh. Sini muke lo, gue pel. ".


"Em,, pak putra, sebenarnya... Yang dikatakan kak boby itu benar, aku akan jadi asistennya sekretaris arini". Timpal yuki meyakinkan.


"Kalian lagi main drama?".


"Siapa yang lagi main drama?!". Tegas reza menghentikan ucapan putra saat ia masuk bersama danu.


"Yuki memang aku yang memindahkannya menjadi asisten arini. Kenapa? Ada masalah dengan anda?". Sambung reza.


"Eh, bos? Maap bos, aku kira mereka cuma bercanda, baiklah yuki, silahkan ambil barang-barang kamu gih, anak baik dan cantik, bapak seneng kamu naik jabatan, silahkan ikut bos reza. Maap ya." Putra membungkuk kan badan nya menghadap reza.


"Dasar payah, ayo semuanya balik keruanganku". Reza berbalik badan keluar dari ruangan manager putra.

__ADS_1


Saat hendak keluar, arini sudah berdiri santai didepan pintu. "Ngapain lo ikutan kesini? Gak ada kerjaan?". Ucap reza tajam.


"Gak, gue cuma lagi nonton drama yang belum usai, tadi episode pertama, ini episode kedua, gue bakal tungguin episode selanjutnya". Sahut arini dengan santai.


"Drama mata lo burem!! Awas, gue mau lewat! Balik lagi kerja sana!! Ajak tuh yuki".


"Iya.. Iya..


Eh yuki, ayo kita kesana, meja lo udah disiapin sama danu, seneng deh gue ada temen ngerumpi sekarang. Biasa nya gue ngobrol sama bunga, atau sama laptop". Dengan gembira arini menggandeng tangan yuki.


"Em.. Baiklah, makasih arini, kamu baik sekali."


Saat melintasi ruangan staf mereka dihentikan oleh lesty dan yang lainya. "Yuki? Mau kemana?". Ujar genta.


"Yuki jadi asisten gue sekarang. Udah ya,, kita pergi dulu, ntar kita kena marah"


"Pantesan tadi reza kesini. Bener banget yang dibilang evi kemaren. Tapi sejak kapan reza tau kalau yuki kerja disini?"


"Auk ah! Gelap! Mending kerja lagi aja, itu bagus buat yuki, gaji nya jadi lebih besar. Mungkin itu ezeki yunie."


Saat jam makan siang tiba, reza, danu dan boby keluar dari ruanganya. Reza berhenti sebentar didepan meja arini. "Arini, yuki. Istirahatlah untuk makan siang. Aku akan pulang, selesaikan kerjaan kalian hari ini, nanti ada direktur robet yang akan memberi kalian tugas.


Boby, ayo pergi".


"Baik bos.


Danu,, inget yang dibilang bos tadi ya". Bisik boby sebelum meninggalkan mereka.


Saat danu mengajak arini dan yuki makan siang bersama lesty, evi dan genta, mereka sama sekali tidak curiga bahwa danu hanya membayar makanan arini dan yuki saja.


Sore harinya, danu mengajak mereka kemini market sesuai perintah reza.


Danu sengaja mengajak arini dan yuki pergi bersamanya menggunakan mobil kantor. Sementara evi dan lesty ikut mobil genta.


"Kak danu apa kamu gak dimarah kak reza pake mobil kantor?". Ujar yuki.


"Nggak lah, kamu tau sendirikan dia orang nya baik".


Yuki tertunduk mendengar ucapan danu.


Benar, dia sangat baik, bahkan dia masih mau menolongku walaupun aku sudah menyakitinya. Maafkan aku kak reza'. Gumam yuki dalam hati.


"Danu, yuki, kalian udah dekat dari waktu sekolah dulu kan?. Gue jadi inget waktu SMA, temen-temen gue sama kayak kalian, suka ngomong ngelantur, suka candaan gak karuan. Fiuhh.. Gue kangen mereka". Arini tertunduk mengingat masa lalu.


"Rin, lo SMA nya dimana? Dikota ini juga kan?". Tanya danu.


Seketika arini sadar dengan yang ia ucapkan barusan. 'Duhh.. Untung gue gak keceplosan. Bego amat nih mulut!.


"Em... Iya,, gue sekolah dikota ini juga kok. Udah ah jangan dibahas, kita udah hampir sampai nih". Arini mengalihkan perbincangan.


"Oke. Kalian beli saja kebutuhan kalian berdua, biar gue yang bayar semuanya. Yuki, lo boleh kok beliin susu buat yunie. Gue akan traktir kalian sepuasnya, tapi hanya untuk hari ini aja. Tapi ini rahasia ya! Jangan sampai lesty dan yang lainya tau, ntar mereka minta ditraktir juga, bisa abis duit gue".


"Kak danu baik banget, kebetulan susu yunie emang sudah abis. Makasih ya". Tutur yuki tersenyum.


"Asiiik nih,, gue bisa ambil semua yang diperlukan, mumpung lagi ada ATM berjalan. Hihi..". Gumam arini dengan suara kecil.


Arini, lesty, genta dan evi berlarian masuk ke mini market. Yuki dan danu hanya geleng kepala melihat mereka yang udah tua tapi kayak bocah itu.


"Rin, ayo kita cari yang benar-benar dibutuhkan". Bisik yuki didekat arini.


"Iya nih, tapi kayaknya semua isi market ini gue butuhkan semua". Arini sibuk memilih skin care beserta perlatan mandi dan make up. Sementara yuki mencari kebutuhan untuk yunie.


Lesty dan yang lainya juga tak kalah heboh. "Genta buana, nyari apa lo?".


"Eh ti? Gue lagi nyari yang gak ada nih, tapi kok gak ada ya?". Sahut lesty yang begitu fokus mencari barang yang gak ada.


"Sama, gue juga, mau nyari telor buaya, ada gak ya? Biar awet gitu!". Sambung lesty.


"Kalo gue sih mau borong banyak, ngabisin duit dulu, kebetulan gue lagi gak bawak duit. "Sahut evi dengan serius membawa keranjang yang masih kosong.


"Tuh orang, emang pada gak waras kali ya, dari sekolah dulu gak ada perubahan, malah makin gila!". Gumam danu yang memantau mereka dari kejauhan.


Sementara arini sangat antusias mengambil barang seenak jidat mentang dapat rezeki nomplok, hingga keranjang belanjaanya hampir penuh.


•••


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2