
Jam istirahat makan siang, yuki menemui sahabatnya dikantin dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Ki, kenapa wajah lo? Belum disetrika ya?". Ujar lesty memandangnya heran.
"Guys, hari ini aku bingung dengan sikap neo dan kak reza. Mereka kenapa aneh". Jelas yuki dengan tatapan kosong.
"What?! Emangnya neo kesini?". Tanya genta dengan nada tinggi.
"Eh mak lampir! Bisa santai gak ngomongnya! Disini gak ada yang tau kalo yuki tuh udah nikah kecuali manager putra". Timpal evi.
"Tadi neo kesini karna meeting. Setelah meeting tadi kak reza dan neo bicara berdua saja.
Setelah itu, sikap neo berubah padaku, karna dari kemaren malam dia sangat cuek, tapi tadi dia tiba-tiba lembut. Begitu juga dengan kak reza, biasanya dia cuek dan benci sama aku, tapi tadi dia memelukku, dia bilang lupakan masa lalu, kita buka lembaran baru, aku, kamu dan neo.
Aku bingung, apa yang sudah mereka bicarakan diruang meeting itu?". Jelas yuki.
"Ki, menurut gue nih ya, kayaknya neo udah minta maaf sama reza, terus mereka baikan, ya kan?!".
"Guys, kalian gak tau kan kenapa aku nikah sama neo? Kalian gak tau kan kalo sebenarnya aku masih cinta sama kak reza?".
Ucapan yuki itu sontak membuat sahabatnya kaget dan heran.
"What!. Lo serius ki? Bukankah dulu lo bilang kalo lo cinta sama neo dan lo udah lupain reza kan?". Ujar lesty penasaran.
Dengan wajah tertunduk, yuki menceritakan awal mula pernikahannya dengan neo, ia bercerita sembari meneteskan air mata mengingat kejadian tiga tahun silam itu.
Sahabatnya begitu kaget dan sangat tidak percaya dengan apa yang diucapkan yuki. Namun mereka tetap memberinya dukungan.
Mereka memeluk yuki yang selama ini menyembunyikan penderitaannya yang tidak diketahui sahabatnya.
"Astaga yuki, kami pikir selama ini kamu bahagia bersama neo karna kamu lebih memilihnya dari pada reza, tapi ternyata kalian menikah karna terpaksa, kami turut bersedih". Ujar evi sembari mengelus punggung yuki.
"Tapi gue rasa neo sekarang sudah berubah ki. Kita lihat dia sangat bertanggung jawab dan sayang sama kalian kan? Terlebih jika dia lebih memilih lo dari pada keluarganya". Sahut lesty.
"Benar ki, saran gue sih lebih baik kalian rukun aja, apa lagi kalo reza bilang dia mencintai lo sebagai adiknya, itu berarti dia lebih suka liat lo bahagia bersama neo, karna udah gak mungkin kalian bersatu lagi kan? Reza gak mungkin merusak rumah tangga kalian karna kalian sudah punya yunie". Timpal genta.
Yuki tertunduk sambil berpikir. "Kalian benar, mungkin neo sudah memberitahu semuanya pada kak reza. Aku bersukur kak reza tidak menyimpan dendam padaku dan neo, aku seneng jika dia menerima kenyataan ini. Aku akan belajar darinya, aku akan mencoba menerima kenyataan ini demi yunie, demi keluargaku".
Sahabatnya turut tersenyum lega melihat yuki yang sudah membuka hatinya dan menerima kenyataan. Mereka juga mendoakan supaya yuki dan keluarganya bisa bahagia hidup bersama neo.
"Huh.. Cerita lo bener-bener sedih ki. Kita terharu mendengarnya.
Oh iya, dimana arini? Tumben gak kekantin?".
"Arini izin, kak reza bilang dia ada keperluan mendadak". Timpal yuki.
"Hah? Keperluan apa? Apakah ada tugas kampus? Tapi setau gue, kita lagi gak ada tugas kok!". Sahut lesty.
"Kita ke kosan nya aja sore nanti. Gue penasaran dia lagi ngapain".
"Kalian saja yang kesana, aku gak bisa ikut. Kalau sudah berkeluarga sudah gak bisa lagi terlalu bebas". Timpal yuki.
_
Sore harinya, reza dan boby kembali kerumah sakit untuk menemui arini.
Sore ini arini sudah diperbolehkan pulang kerumah dan dibekali beberapa obat oleh dokter, dan semua biayanya dibayar oleh reza.
Reza mendekati arini yang duduk dikursi. "Gimana hidung nya? Udah gak sakit?"
"Tinggal dikit lagi, tapi kalo bersin masih kerasa sakitnya. Oh iya za, gimana hubungan lo sama neo, dan yuki? Kayaknya yuki gak tau ya kalo lo dan neo berantem kemaren malam".
"Gue rasa dia gak tau, tapi gue dan neo udah gak ada masalah, neo dan yuki juga udah baikan, gue hanya bisa berharap dia akan bahagia bersama neo.
Kok gue ngerasa panas ya, pengap banget disini, ada AC gak sih?". Reza mengipaskan tangannya kearah wajahnya.
"Disini mah banyak AC, noh Angin Celah". Sahut arini geram.
Reza terkekeh mendengar singkatan ac itu.
Arini melongo heran melihat reza yang tertawa lepas yang selama ini belum pernah ia lihat.
"Ternyata dia bisa tertawa kayak gini? Dia makin ganteng. Kayaknya dia udah gak ada masalah lagi sama neo dan yuki. Sukur deh".
"Weii.. Ngapain melongo gitu?".
"Gue heran aja liat lo ketawa, gitu amat, padahal gak ada yang lucu. Ternyata lo bisa ketawa juga ya?!". Timpal arini.
Seketika reza sadar. "Iya juga ya, dia benar, selama ini gue udah gak pernah lagi ketawa kayak gini bahkan saat bersama danu dan boby".
__ADS_1
Reza menatap arini dengan serius. "Makasih ya rin, lo udah balikin ketawa gue". Reza tersenyum sambil menyentil hidung arini.
"Aww.. Idung gue sakit pe'ak!".
"Oh iya gue lupa,, maap ... Maap!.
Ditengah perbincangan mereka, datanglah lesty dan kawan-kawannya. Mereka kaget melihat danu dan boby tengah duduk diteras luar kosan arini.
"Loh, danu? Boby? Kalian ngapain disini? Arini nya ada gak?". Ujar lesty.
"Ada bos reza didalam bersama arini, kalian jangan ganggu dulu, mereka sedang melakukan ritual." Sahut boby.
"Hah? Ritual apaan? Ritual pernikahan?.". Timpal genta.
"Duhh berisik deh, kalian ngapain pada kemari, arini tuh sakit! Dia butuh istirahat, mending kalian pulang!.". Sahut danu dengan wajah datar.
"Hah? Sakit apa dia? Eh danu! Kita ini sahabatnya, masa iya kita pulang pas dia lagi sakit? Saraf lo ya. Kok dia gak bilang ya kalo dia sakit?" Pungkas lesty cemas.
"Sini deh, kalian duduk ngapar disini, biar gue jelasin ceritanya". Timpal boby.
"Ngapar? Itu lawan kata kenyang kan?"
"Itu lapar !! Elah... Evi masamba!!
"Oh.. Maap!.
Lesty dan temannya mengikuti intruksi boby, merekapun duduk dilantai. Kemudian boby menceritakan kejadian tadi malam yang membuat arini sakit.
"Ternyata gitu ya? Tapi dia udah gak apa-apa kan?.
"Tenang aja, ada bos kita yang bertanggung jawab, dia udah beri asupan perhatian tuh." Timpal boby.
"Asupan perhatian apa? Gue dari semalam sampe seharian ini nemenin arini. Gue yang beri dia asupan perhatian!." Ketus danu.
"Loh, kenapa lo yang nyolot!? Lo cemburu?!" Ujar lesty melotot. "Danu, gue saranin ya, kalo memang arini dan reza dekat atau sampe pacaran, harusnya kita mendukung kan?, jika lo suka sama arini mending lo mundur deh dari pada harus saingan sama reza, gak bakal menang lo. Maap ya kalo gue kasar". Tambah lesty.
Danu tertunduk menyadari apa yang dikatakan lesty."Lo bener ti, gue gak akan menang bersaing dengan bos reza, tapi mereka kan belum pacaran, kita juga gak tau mereka saling suka apa nggak. Jadi sebelum mereka pacaran, gue tetap mengejar arini.!" Tegas danu.
"Elah mamang danu!!... Serah elu dah!.
Minggir! Kita mau masuk!."
_
Setelah makan malam, neo menemui yuki dan yunie dalam kamar yang saat itu yunie tengah minum susu botol sambil berbaring.
"Yuki, apa aku boleh masuk?". Ujar neo yang berdiri didepan pintu kamar.
"Ya, silahkan". Sahut yuki tersenyum. Kemudian mereka berbaring menemani yunie yang terselip ditengah mereka.
"Yuki, aku minta maaf karna kemarin aku mengabaikan kamu, pasti kamu bingung ya?". Ujar neo menatap yuki.
"Gak masalah kok, mungkin itulah yang kamu rasakan saat aku mengabaikan kamu beberapa tahun ini, maafkan aku, aku baru sadar kalau selama ini kamu begitu perhatian. Aku akan mencoba memperbaiki hubungan kita demi yunie".
"Terima kasih yuki, kau memang baik. Aku selalu dibayangi rasa bersalah selama tiga tahun ini, terkadang terselip niat untuk mengakhiri rumah tangga kita. Tapi jika aku melihat yunie, rasanya aku gak sanggup berpisah darinya dan juga kamu".
"Neo, maafkan aku, ini salahku karna cuek dan dingin terhadapmu selama ini hingga membuatmu ingin mengakhiri rumah tangga kita, tapi kumohon tetaplah bersama kami, kita awali semuanya dari awal". Sahut yuki.
"Iya, aku janji akan mengubah semuanya.
Eh. Yunie sudah tidur nih padahal aku mau ajak kalian jalan-jalan".
"Memangnya mau kemana?". Tanya yuki.
"Aku mau ajak kalian kerumah arini, dia sakit."
"Ya udah kalau gitu kita berdua saja, aku juga heran karna dia gak kerja hari ini, ayo kita pergi, aku tau kok rumahnya." Dengan semangat yuki bergegas.
Neo menarik tangannya saat yuki hendak turun dari ranjang. "Yuki, aku minta maaf, sebenarnya arini sakit gara-gara aku." Ucapnya tertunduk.
"Hah? Maksud kamu apa neo?"
Neo menceritakan semua kejadian malam kemarin kepada yuki.
Yuki kaget namun ia merunduk. "Jadi ini alasan kak reza berubah menjadi lembut dan hangat padaku hari ini? Ternyata dia sudah mengetahui yang sebenarnya".
"Neo, ayo kita kerumah arini, aku ingin melihat keadaannya, kita titip yunie sama bunda."
Neo dan yuki bergegas keluar kamar, kemudian mereka berpamitan pada orang tuanya.
__ADS_1
Ayah dan bunda yuki tersenyum melihat yuki dan neo makin akrab.
Malam itu, untuk pertama kalinya neo dan yuki naik motor berdua saja. Mereka seakan merasakan de javu saat mereka belum menikah dulu, dimana hubungan mereka masih hangat dan baik-baik saja.
"Yuki, bisakah kau berpegangan? Kau ingat dulu, kita sering naik motor seperti ini. Aku sangat kangen masa itu. Sekarang kita buka lembaran baru ya?".
Perlahan yuki melingkarkan tangannya diinggul neo. "Hm..mungkin inilah takdirku, yaitu menjadi istri neo. Aku akan belajar menerimanya".
Neo tersenyum saat yuki melingkarkan tangan dipinggulnya. "Makasih sayang". Ujarnya sembari mengelus tangan yuki.
"Hm.." Jawab yuki singkat.
Selang beberapa waktu, akhirnya mereka sampai dirumah kontrakan arini.
Neo dan yuki kaget karna rumah arini begitu ramai dengan keberadaan teman mereka. Neo dan yuki pun masuk perlahan.
"Kalian masih disini sejak tadi sore?". Ujar yuki.
"Eh yuki? Neo? Mari masuk, maaf ya rumah gue sempit, apalagi sedang banyak cecunguk disini." Sahut arini menyambut kedatangan mereka dengan hangat.
Yuki menghampiri arini yang tengah duduk ditemani reza dan danu disekelilingnya.
"Rin, maaf ya aku baru bisa jenguk, karna aku baru tau kalo kamu sakit. Gimana keadaan kamu?"
"Gue gak apa-apa kok. Makasih ya udah mau dateng, kenapa gak ajak yunie? Apa dia sudah tidur?".
"Iya, dia sudah tidur."
Setelah ngobrol sedikit bersama arini, yuki bergabung bersama yang lain nya duduk dilantai. Sementara arini duduk dikursi sendirian.
"Guys.. Gue seneng deh akhirnya kita berkumpul setelah sekian tahun terpisah, dan gue ucapin selamat juga buat hubungan yuki, neo dan reza yang sudah membaik. Sekarang reza udah bisa ketawa lagi. Tadi aja dia ketawa udah kayak orang gila." Ujar genta.
"Bener, gue jadi inget masa sekolah dulu. Bos reza suka ngelantur kalo ngomong. Hampir tiap hari adu mulut sama neo sampai-sampai neo pindah kelas." Sahut boby.
"Itu kan dulu bob, pikiran kita aja masih kayak bocah. Andai saja gue tau dari dulu kalo reza itu orang yang sangat baik. Mungkin kita sudah bersahabat sejak lama". Timpal neo melirik reza.
Arini hanya diam, ia tertunduk sendirian mendengar cerita masa sekolah mereka yang tidak ada dirinya didalamnya, karna dia berbeda sekolah dengan mereka.
Neo melirik arini yang merunduk, ia pun menghentikan cerita masa lalu mereka. "Guys, udahlah jangan dibahas lagi, lagian cerita itu udah basi. Sekarang kan sudah berbeda, kita jadi semakin dewasa." Ujar neo.
Reza dan danu juga tanpa sengaja melihat arini yang nampak sedih duduk sendirian diatas kursi mebel itu.
Lalu reza, danu dan neo berdiri bersamaan untuk menghampiri arini. Namun mereka bertiga saling kaget dan saling tatap.
Neo dan danu langsung kembali duduk, mengalah pada reza. Namun danu heran dengan sikap neo yang sudah ia teliti sejak sore tadi. Ia menatap dalam mata neo.
"Aku kenapa? Harus nya aku gak usah nunjukin kepedulianku terhadap arini, bisa-bisa mereka tahu tentang aku dan dia." Batin neo.
Reza menghampiri arini yang masih tertunduk tanpa melihat kejadian yang baru saja terjadi.
"Hei, ada apa? Apa lo ngantuk? Tidurlah lebih dulu, gue akan menyuruh lesty dan yang lainya tidur disini untuk menemanimu."
"Biarkan lesty aja yang disini, karna gue gak punya kasur untuk menampung semuanya. Makasih atas perhatian lo za. Gue kekamar dulu ya".
Arini beranjak menuju kamarnya. Reza mengiringinya dari belakang tanpa diketahui arini.
Saat arini hendak menutup pintu kamarnya, ia kaget karna reza berdiri tepat ditengah pintu.
"Weii.. Ngapain lo kemari? Mau tidur disini juga?!".
"Galak amat marfu'ah! Gue cuma mastiin lo gak kenapa-napa. Karna tadi muka lo itu kayak sedih menyimpan beban. Ada apa sih?!. Gak cocok banget lo berwajah sedih kayak gitu, biasanya pecicilan." Timpal reza tersenyeum lebar.
"Gak ah! Gue gak apa-apa, cuma ngantuk doang!
Oh iya, besok gue belum bisa kekantor, gue dan lesty ada jadwal ngampus pagi."
"Iya, ada yuki juga kok yang gantiin lo selagi lo belum masuk kerja. Ya udah tidur gih, kita mau balik, udah malem juga. Met malam, mimpiin gue ya." Reza terkekeh sambil mengacak rambut arini. Kemudian ia beralih dari depan kamar arini.
Arini menutup pintu kamarnya lalu bersandar sambil duduk memeluk kedua lututnya.
"Sebenarnya ada apa dengan gue, apa mungkin gue suka sama reza?. Tapi, yuki? Neo dan reza mencintainya. Dulu neo, sekarang reza?. Sepertinya gue sudah cukup menderita dikota B, gue harus pulang dan meninggalkan semuanya."
Arini tertunduk, ia berniat untuk meninggalkan kota B yang membuat hatinya merasa serba salah, walau ada banyak sahabat yang begitu baik padanya, tapi entahlah, ia merasa gak sanggup lagi menutupi identitas aslinya.
•••
BERSAMBUNG...
>Jangan lupa like & komen😊
__ADS_1