Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:41


__ADS_3

Sore harinya. Neo juga datang kerumah sakit setelah yuki memberitahu yang telah terjadi dengannya.


Neo juga turut cemas melihat keadaan arini yang belum sadarkan diri itu.


Semua berkumpul dalam kamar rumah sakit itu, namun begitu hening, mereka tidak ada yang bicara melainkan hanya tertunduk mengintropeksi diri masing-masing sambil mendoakan arini.


Malam harinya, mereka semua pulang kecuali reza, dan lesty yang menemani arini.


Tetes demi tetes air yang jatuh dari infus itu, namun belum ada tanda-tanda arini akan sadar.


Kecemasan reza makin bertambah saat melihat wajah arini yang semakin pucat itu.


Beberapa dokter masuk untuk mengecek keadaan arini.


"Tuan, apakah anda sudah siap jika nona arini akan dioperasi?." Tanya dokter tersebut.


"Dok, kalau boleh tanya, apakah ada dampak atau efeknya jika dia dioperasi?." Timpal lesty.


"Yang sering terjadi, biasanya pasien akan kehilangan sedikit ingatan, ada juga yang benar-benar hilang ingatan. Terlebih dengan kondisi nona arini yang sangat parah dibagian kepala karna tertimpa kayu.


Tapi kalian berdoa saja, supaya itu tidak terjadi." Jelas dokter.


Reza dan lesty saling tatap karna bingung.


"Dok, jika dia tidak dioperasi, apakah dia bisa sembuh.?" Pungkas reza.


"Bisa, tapi butuh waktu bertahun-tahun. Walaupun dia sembuh, dia akan menjadi seperti orang gila.


Dalam kepala nona ini, bukan hanya ada darah yang membeku tapi juga ada pergeseran tempat pada otaknya dimana otak kanan dan kiri tidak sesuai tempatnya."


Reza makin bingung dan khawatir. Tapi ia harus mengambil satu keputusan yang berat karna tidak ada pilihan.


"Baiklah dok. Lakukan saja operasinya, aku akan menerima apapun yang terjadi nanti." Reza seakan pasrah dengan keputusannya.


"Baiklah, kami akan segera membawa nona arini keruang operasi.


Suster, cepat bawa nona ini."


"Baik dok." Sahut suster yang bertugas.


Reza dan lesty mengiringi suster yang tengah mendorong ranjang arini itu.


Mereka hanya bisa menunggu didepan ruang operasi tersebut. Reza tak hentinya berdoa. Ia sangat takut kehilangan arini. Ia baru merasa bahwa ia sangat menyayangi arini yang selama ini memberinya cinta namun ia acuhkan.


"Za, sabar ya. gue ngerti perasaan lo." Ujar lesty tertunduk.


"Makasih ti. Gue boleh tanya gak? Arini kalo dirumah sering murung gak? dia sering cerita apa aja sama lo.?"


"Gak tau juga za, kita kan pisah kamar.

__ADS_1


Entah kenapa, arini udah gak kayak dulu lagi. Dulu, setiap ada masalah sekecil apapun itu, dia selalu cerita sama gue. Tapi sekarang dia banyak diam dan menyimpannya sendiri, mungkin dia gak mau kalo aku khawatir." Jelas lesty tertunduk.


Reza mengusap wajahnya sembari menarik nafas. " Gue gak tau harus gimana. Gue ngerasa selama ini gue belum melakukan yang terbaik untuknya."


"Za, dia pernah bilang, kalo sebenarnya dia gak butuh lo kasih materi seperti rumah ini dan segala kemewahannya. Yang dia butuhkan hanya perhatian dan kasih sayang dari elo." Ujar lesty menatap reza.


"Lo bener ti, gue janji, sekarang gue akan peduliin dia lebih sering lagi." Tegas reza.


Ditengah kecemasan mereka menunggu didepan ruang operasi, semua teman mereka pun berdatangan, termasuk genta dan evi.


"Ti, arini di operasi ya?." Tanya genta dan evi cemas.


"Iya, luka dikepalanya cukup parah, kita berdoa saja untuk kebaikannya." Sahut lesty.


Mereka semua hening seketika.


_


Dirumah yuki. Ia dan neo tengah bersiap untuk pergi kerumah sakit setelah makan malam.


"Oh iya sayang, aku baru inget. Mulai minggu depan aku ditugaskan menemani bos keluar kota, pulangnya hanya satu bulan sekali. Aku pasti merindukan kamu dan yunie. Apa kamu keberatan?." Ujar neo sembari menggenggam tangan yuki.


"Sebenarnya cukup berat, terutama yunie, pasti dia mencari kamu. Tapi jika itu harus, aku coba untuk menerimanya. Aku juga pasti merindukan kamu. Satu bulan, pulang hanya sekali saja itu sulit bagiku tanpa kamu." Timpal yuki tertunduk.


Neo menarik yuki dan memeluknya hangat. "Maafkan aku, tapi ini demi kerjaan. Kamu harus percaya padaku ya sayang. Jangankan satu bulan, satu hari saja tanpa kamu, aku sudah sangat kangen." Pungkas neo sembari mengelus rambut yuki.


"Baiklah." Neo mengecup kening yuki.


Mereka berpamitan pada orang tua yuki untuk pergi menjenguk arini.


Sebelum tiba dirumah sakit, neo membelikan makanan untuk reza dan teman yang lainnya.


Saat tiba dirumah sakit, neo dan yuki bingung karna kamar arini kosong, mereka pun mencari tahunya dengan bertanya pada suster yang bertugas.


"Maaf tuan, nona arini sedang berada diruang opersi." Timpal suster tersebut.


"Hah? operasi?. Baiklah, terimakasih sus.


Ayo sayang, kita cari mereka." Neo menarik tangan yuki menuju ruang operasi.


Neo dan yuki diam saat melihat teman-teman mereka tertunduk dengan wajah cemas tanpa suara itu. Perlahan mereka berdua melangkah menuju reza dan yang lainnya.


"Maaf mengganggu. Za, nih makanan, pasti lo belum makan dari siang kan?" Neo menyodorkan bungkusan plastik itu pada reza.


"Gak perlu, terimakasih. Oh iya, mumpung kalian semua pada disini, aku mau pulang sebentar buat mandi dan ganti baju. Tolong beritahu aku kalo arini sudah keluar dari ruang operasi." Ujar reza sembari berdiri.


"Tenang saja, percayakan pada kami. Jangan lupa makan." Timpal neo menepuk pundak reza.


"Terimakasih semuanya, aku pergi dulu." Reza melangkah cepat meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya.

__ADS_1


Setibanya dirumah, ia langsung masuk kamar untuk mandi. Tidak lama kemudian ia keluar lagi setelah berpakaian.


"Za. mau kemana lagi?." Tanya rey saat reza hanya melewatinya yang tengah nonton tv itu.


"Za, ini udah malam sayang, kamu mau kemana.?" Tambah ara.


"Pa, ma. Malam ini aku menginap dirumah sakit, pacarku arini kecelakaan karna tertimpa pohon tumbang. Mohon doa dari kalian untuk kesembuhan arini." Jelas reza buru-buru.


"Astaga! serius? kasihan sekali dia. Apa perlu papa dan mama kesana?." Pungkas ara.


"Tidak perlu ma, karna banyak teman kita disana. Aku pergi dulu ya pa, ma. Mungkin aku jarang pulang sebelum arini sembuh."


Reza buru-buru keluar dan langsung mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


Dua jam kemudian, lampu diruang operasi itu padam. Mereka semua bernafas lega.


Beberapa dokter keluar dari ruang operasi dan membawa airini kembali keruang pasien. Diiringin oleh reza dan yang lainnya.


"Tuan, terimakasih kalian sudah setia menemani nona ini. Oh iya, apa dia tidak ada keluarga? dimana keluarganya." Ujar dokter.


"Maaf dok, dia anak rantauan, serahkan semuanya padaku. Aku pacarnya, aku akan menanggung semua biaya pengobatannya.


Bagaimana dengan keadaannya sekarang?" Timpal reza cemas.


"Operasinya lancar, mudah-mudahan besok dia akan sadar. Doakan saja dia bisa sembuh secara normal tanpa kekurangan.


Kalian bisa menjenguknya. Saya permisi dulu."


Setelah dokter pergi, mereka semua masuk berkerumun disamping ranjang arini.


Hati reza makin terhenyuh melihat kondisi arini. Kepalanya dipenuhi lilitan perban, jarum infus diberbagai titik, serta selang kecil melintasi wajah dan tubuhnya.


Tanpa sadar, reza menjatuhkan air mata sambil mencium kening arini yang terasa dingin itu.


Mereka yang menyaksikan itu juga turut terisak tangis.


Sementara danu memalingkan badanya, ia mundur dari kerumunan karna ia tak sanggup menahan tangisnya melihat kondisi wanita yang masih ia cintai itu.


Yuki juga turut menangis karna ia merasa bersalah bahwa ini semua disebabkan olehnya.


Neo melirik yuki yang tengah tertunduk itu, kemudian ia merangkulnya sembari menggosok bahu yuki.


Neo menatap mata yuki sambil menggelengkan kepala tanpa bicara, ia seolah mengisyaratkan bahwa ini bukan salah yuki, jadi tidak perlu merasa bersalah.


Neo mengusap air mata yuki sambil tersenyum padanya. Yuki hanya menganggukan kepala dan mencoba tersenyum.


•••


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2