
Lima tahun kemudian..
"Reza!! Ayo mandi dulu sayang, mari bibi yang mandiin kamu." Teriak carla pada reza kecil yang nakal itu.
"Gak mau!!
Aku mau pulang bik!! Cepat antar aku pulang, aku kesepian disini, oma dan opa jarang dirumah, aku mau main sama mama aja." Sahut reza membantah.
"Iya, ntar kita pulang, tapi mandi dulu ya, kalo gak mau mandi, bibi juga gak mau anter kamu pulang."
"Haiss,, dasar burung hantu! Baiklah. Biar aku mandi sendiri, aku udah gede!" Reza langsung masuk dalam kamar mandi tanpa ditemani carla.
"Dasar bocah! Baru punya satu keponakan udah bikin otakku melintir."
Beberapa saat kemudian, reza keluar dari kamar mandi.
Carla memberinya baju ganti, reza pun memakainya sendiri.
Setelah selesai make baju, reza pergi kemeja telpon. Ia memencet tombol telpon itu dengan cepat membuat carla bingung.
"Ni bocah mau nelpon siapa sih?" Gerutu carla yang memandanginya sembari duduk disofa.
"Halo, oma! Aku mau pulang hari ini, aku kangen sama mama. Udah ya itu aja." Reza langsung menutup telponya.
"Hei bocah! Lo serius nelpon oma? Lo hafal nomornya?" Tanya carla gak yakin.
"Bener lah, masa telpon boongan! Ayo ah pulang!!
"Tunggu!! Gue gak percaya!" Carla kembali menelpon nomor yang barusan ditelpon reza.
"Halo, ada apa lagi?
"Eh, beneran mama? Tadi reza beneran nelpon mama ya?" Tanya carla.
"Iya, dia bilang mau pulang hari ini, mama belom sempat jawab dia sudah memutuskan telponya."
"Jangan heran lah, sifatnya itu warisan. Ya udah ma, aku antar reza pulang dulu ya, dia udah cemberut tuh."
"Baiklah, hati-hati dijalan."
'Anak itu kok hafal nomor mama, gue aja gak tau! '
Carla mengantar reza pulang kerumah orang tuanya, selama satu bulan ini ia tinggal bersama oma dan opa nya.
Saat tiba dirumah, reza langsung berlari masuk rumah.
"Mama!!! Aku pulang!!" Teriak reza.
Mendengar suara putranya itu, ara pun berlari kecil menghampirinya.
"Eh, sayang.. Kamu sudah pulang? Wah anak mama makin ganteng ya, udah satu tahun gak ketemu, makin tinggi sekarang." Ujar ara sembari memeluk anaknya itu.
"Baru satu bulan woi,!.
Mama kangen gak sama aku?" Tanya reza cuek.
"Kangen dong sayang." Ara tak hentinya menciumi reza.
"Ra, gue cabut dulu ya, mau ngantor nih." Pungkas carla ditengah percakapan mereka.
"Iya kak, makasih ya udah anterin reza, hati-hati dijalan, jangan lupa belok kalo ada tikungan."
"Iya o'on.!" ketus carla sembari berjalan keluar.
"Ma, dimana papa?
"Dia kerja dong sayang.
"Kita kekantor papa yok, aku belom pernah loh liat kantor papa, aku penasaran." Sahut reza sembari menarik tangan ara.
"Eh reza, bukannya tidak boleh kesana, tapi ntar takutnya karyawan papa bakal kejang-kejang dan jantungan melihat ketampanan kamu." Timpal ara.
"Apaan sih, jangan lebai deh ma, ayo dong kesana, kalo gak, aku akan nagis nih!!
"Haiss.. Ni bocah! Gak dengerin omongan orang tua banget! Ayolah kita kekantor papa, tapi kalo dia marah, kamu tanggung jawab ya.
"Tenang aja! Ayo pergi.
Dan akhirnya ara memenuhi keinginan putra nya itu. Mereka berdua pergi menuju kantor rey.
Untuk pertama kalianya karyawan kantor melihat wajah reza dari dekat secara langsung.
Banyak dari mereka menghampiri reza dan mencubitnya dengan gemas.
__ADS_1
"Tante-tante. Pliss deh, aku mau lewat!" Ketus reza berlalu meninggalkan mereka.
"Maaf ya semuanya, dia memang agak gimana gitu orangnya, maklumlah masih bocah, otaknya juga masih kecil." Ujar ara meluruskan, supaya mereka tidak membuly anaknya.
"Gak apa-apa kok buk, kita lebih suka malah sama sikapnya reza, akan kutunggu dia gede! Hehe." Timpal salah satu karyawan.
"Mau jadi perawan tua lo. Udah ah, kita keatas dulu ya."
Ara mengajak reza masuk lift menuju ruangan rey.
"Jauh amat ruangan papa, kenapa gak dibawah aja coba!" Ketus reza dengan tangan bersilang didadanya.
"Banyak bacod amat nih bocah! Anak siapa sih?" Timpal ara.
"Anak kamu lah!" Jawab reza cuek.
Akhirnya mereka tiba diruangan rey.
"Papa...!!" Teriak reza sambil lari menghampiri papanya.
"Eh, reza? Kenapa kalian kemari? Bukankah kamu masih dirumah oma?" Tanya rey sembari menggendong reza.
"Dia ngebet banget tuh mau kesini, terpaksa gue turutin, gue gak mau pusing liat dia nangis." Sahut ara sembari duduk.
"Oh gitu, papa kangen banget loh sama reza, kirain kamu gak mau lagi pulang kerumah."
"Kalo kangen, kenapa gak jenguk reza dirumah oma?! Turunin aku pa, aku bukan bocah digendong kayak gini."
"Papa gak sempat jenguk kamu, kalo weekend, waktu papa buat mama, papa minta maaf ya, gini deh, reza mau nya apa sebagai permintaan maaf papa." Ujar rey sembari menurunkan anaknya itu.
"Aku mau mobil remot, terus mobil gede yg bisa aku naikin sendiri, terus robot iron man, dan piano!" Sahut reza dengan serius.
"Hei bocah! Banyak amat maunya! Lo kira gampang apa nyari duit. Lagian gak bagus juga kalo terlalu banyak mainan." Pungkas ara pada reza.
"Gak apa-apa kok sayang, sesekali.
Ya udah, nanti sore kita ke mall ya, sekarang kalian pulang saja dulu."
"Weekk.. Dasar pelit!" Gumam reza menjulurkan lidahnya pada ara.
"Nih anak belom pernah kelelep di bak mandi kayaknya. Ayo pulang!! Gue jewer nih!
"Gak mau!! Pa, aku gak mau pulang. Kalo dirumah, mama sering membuly reza, kadang mama jadi piranha kalo marah. Reza kan takut!"
"Sudah.. Sudah.. Emak sama anak, sama aja! Ribut mulu kerjaan! Gak bisa damai apa?
Mending kalian masuk kamar sana! istirahat, sore nanti papa bangunin.
"Eh, ada kamar kah? Tapi dimana?" Tanya reza bingung sembari memutar mata melihat sekeliling.
"Sini ikut mama! Kamarnya rahasia." Ara menarik tangan reza menuju pintu kamar dibalik rak buku.
"Wahh baru tau aku ada kamar dalam ruangan, papa memang cerdas! Bisa buat kamar rahasia, gak kayak mama, o'on.
"Ohh,, udah bisa ngatain mama o'on ya!! Sini lo.!" Ara menarik tangan reza dan mendorongnya keluar dari kamar itu.
Rey kaget melihat reza yang tiba-tiba keluar.
"Reza, kenapa keluar lagi."
"Pa, mama jahat banget! Dia dorong reza, dia gak izinin reza tidur didalam, huwaa.. Kenapa mama gak waras gitu."
"Dia gak akan marah kalo reza gak bikin salah, katakan, apa yang sudah reza lakukan sama mama? "
"Reza cuma bilang mama itu o'on.!
"Pantes lah dia marah, dia kan memang o'on dari sananya, haha. Mending sekarang reza tidur disofa aja, jauhi piranha itu. Kalo dia gak bangun ntar, kita tinggalin aja."
"Ide bagus tuh pa. Papa the best deh! Ya udah reza tidur disofa aja deh, lebih nyaman kalo gak ada mama."
_
Sore harinya, ara bangun lebih dulu dari reza.
Saat reza bangun, ia sudah melihat mamanya tengah dandan.
"yah, gak jadi deh ninggalin dia, udah bangun lebih dulu ternyata." Gumam reza dengan suara kecil.
"Sayang, anak kita udah bangun tuh! Cepat cuci mukanya, abis itu kita ke mall." Ujar rey sembari bersiap merapikan mejanya.
"Reza! Ayo bangun, cuci muka sana! Kamu bilang bukan anak kecil lagi kan, cuci muka sendiri ya! " Ujar musuh reza itu.
"Siapa juga yang mau minta tolong sama mama!"
__ADS_1
"Haiss,, dua orang ini, tawuran mulu!" Ujar rey geleng kepala.
Setelah bersiap, akhirnya mereka ke mall bersama.
"Wahh reza!! Haii reza! Udah lama gak kesini, kamu makin ganteng ya!?? " Ujar salah satu karyawan wanita disana.
Mereka mengerumuni reza hanya ingin mencubit pipinya, ada juga yang mengajak foto bersama.
"Maaf tante! Aku kesini mau cari mainan, bukan untuk fanmeet!" Ketusnya singkat sambil melewati mereka.
"Dih, nih anak sombong banget! Lagian dapat dari mana lo kata fanmeet! Emangnya lo ngerti?" Tanya ara bingung.
"Mama sama papa kan sering ngadain fanmeet! Jelas aku tau lah!!.
"Wah.. Wah.. Anak papa sekarang udah jadi idola ya! Inget ya sayang, kalo udah gede ntar gak boleh punya pacar dua." Ujar rey pada reza.
"Boleh nya berapa pa?" Tanya reza heran.
"Kalau bisa pacarin semua gadis cantik, hehe.
"Hei reboy!! Lo ngajarin anak gak bener ya!!
Reza! Jangan dengerin papa! Itu gak baik!
"Kenapa mama yang marah, serah aku dong mau punya pacar berapa. Ya gak pa? "Ketus reza menaikan sebelah alisnya.
"Bener banget." Jawab rey terkekeh.
"Serah kalian!! Serah!! " Ara pergi meninggalkan mereka.
"Pa, ayo kita cari mainan yang banyak! Ini kan mall milik papa, jadi, kita gak usah bayar kan?
"Tetap bayar dong sayang, kalo gak bayar, gak ada pemasukan. Ayo kita cari mainan yang reza mau."
"Yey.. Akhirnya beli mainan juga setelah sebulan terkurung dirumah oma, sumpah bosan banget disana.
Pa.. Aku mau ini...
Aku mau itu juga pa...
Wahh ini juga bagus!!
"Ya udah ambil aja semuanya sayang!" Ujar rey menuruti semua keinginan anaknya itu.
Menyadari mereka ngambil barang seenak jidat, ara pun menghampiri mereka.
"Ehem!! lancar ya?!! "Ketus ara.
Reza dan rey langsung menjatuhkan mainan yang mereka pegang.
"Ma, papa tuh yang nyuruh reza ngambilin mainan ini." Ujar reza menunjuk papanya.
"Enak aja!! Kamu sendiri yang ngambil nya kan!!" Pungkas rey.
"Tapi papa bilang Iya kan?" Sahut reza.
"Em.. Iya sih. Hehe." pada akhirnya, rey kalah telak sama anaknya.
"Reza, ambil dua mainan saja! Cepat! Abis itu kita pulang! Kalo gak mama tinggal.
"Pelit amat maisaroh. Ayo pa, kita beli tiga mainan."reza menarik tangan rey.
"Dua aja weiii.!!" Teriak ara.
"Tiga woii.!!!!". Sahut reza sambil berjalan membawa mainannya.
"Sayang, sabar ya." Rey mengelus kepala ara.
"Serah kalian.! Gue tunggu dimobil.! Jangan lama-lama!!
Begitulah keseruan keluarga kecil yang sering ribut gak karuan itu.
Akhirnya reza berhasil memboyong banyak mainan, reza gak peduli dengan larangan mamanya, karna papanya menuruti semua keinginannya.
Palingan ntar tiga orang itu tawuran dirumah.
•••
BERSAMBUNG.
BACA JUGA
•Suamiku Mr. Cuek
__ADS_1
•I'm a Idol