
Reza mengantar arini karna sudah tidak sengaja menabrak motornya yang membuat pergelangan kaki arini bengkak.
Reza menghentikan mobilnya saat didepan klinik.
"Ayo turun! ". Ketus reza.
"Loh.. Ngapain kesini? Antar gue pulang weii.!!". Sahut arini.
"Lo gak mau kaki lo sembuh?? Gue mah ogah mau mijitin kaki lo yang kotor itu, ayo cepat turun.!!!". Reza menunggu arini didepan mobilnya.
"Astaga!! Gue gak bisa jalan pe'ak.!! Udah tau kaki gue sakit, bisa pinjem kursi roda gak? Lesty kemana sih?? Duhh.. ". Arini memaksakan sebelah kakinya menginjak tanah.
"Hais.. Ngapain juga tadi gue nabrak manusia o'on ini, ngerepotin aja". Reza berjalan kearah arini kemudian menggendongnya.
"Heii.. Hei.. Lo mau ngapain??? Turunin weii". Berontak arini.
"Bisa diem gak??! Gue lempar nih!!". Ketus reza.
Arini diam seketika.
Reza menggendong arini masuk kedalam klinik.
"Dok, tolong sembuhin kakinya segera". Reza menurunkan tubuh arini dengan kuat.
"Nihh orang.. Awas aja ntar, gue bakal bikin perhitungan, pantat gue sakit woiii.." Teriak arini dalam hati sambil menahan emosi.
"Mba nya kenapa?? Kakinya sakit ya?". Ujar dokter pria itu sembari melihat kondisi kaki arini.
"Udah liat bengkak kan?? Ya jelas sakit lah dok, pake nanya!. Oh iya dok, jangan disuntik, jangan dipijit, pokoknya jangan disentuh, cukup beri obat aja ya". Tutur arini.
"Periksa dulu lah, biar tau didalamnya ada apa, siapa tau patah tulang, atau ada pendarahan didalam, setelah itu pijit sedikit". Jelas dokter.
"Ahh.. Gak sanggup dok, mending gue pulang aja". Arini hendak turun dari ranjang, namun reza menghalanginya.
"Mau kemana lo? Kalo lo pulang tanpa berobat, berarti bukan salah gue lagi, dan lo gak berhak nuntut apapun kalo nantinya kaki lo sakit lagi. Ayoo naik.!!"
Reza memaksa arini duduk kembali ditempat tidur klinik itu, ia menahan tangan arini yang berontak saat dokter menyentuh kakinya.
Satu jam kemudian akhirnya selesai. Reza dan dokter itu dibuat kelelahan oleh arini.
Reza kembali menggendong arini membawanya masuk mobil dan akan mengantarnya pulang.
Tibalah dikosan arini.
"Lo ngekos?? Sama siapa?". Tanya reza kepo.
"Iya.. Gue anak kosan, kanapa.? Masalah? Gue tinggal sendirian.
Loh.. Motor lesty kemana?? Apa dia belum balik?
Eh lo.. Bantuin gue jalan dong."
"Lo minta bantuan gue?? Inget nama gue reza!!"
"Iya iya.. Gue belum inget.. Reza..ayo dong bantuin gue jalan"
Dengan terpaksa reza menopang arini dan membantunya masuk kekosan arini yang sempit itu.
"Ini kosan apa sangkar burung?? Gak ada yang gedean dikit apa? Nafas aja susah liatnya". Gerutu reza melihat kondisi kontrakan arini.
"Banyak kok yang gede!!". Sahut arini.
"Terus, kenapa gak ngontrak disana aja???"
__ADS_1
"Lo yang bayarin?? ". Tatap arini pada wajah reza.
"Enak aja! Emangnya gue siapa nya elo?!! "
"Nah, kalo gitu jangan banyak protes!! Kalo gue punya duit gak bakal juga gue tinggal ditempat kayak gini. Mending lo pulang deh, udah malem. Makasih udah bantuin". Ujar arini cuek.
"Emang gue mau balik, ngapain juga lama-lama dalam sangkar kambing kayak gini. Gue harap kita gak ketemu lagi! Tiap ketemu sama lo, selalu bikin emosi.! "
Reza keluar begitu saja dari kosan arini dan langsung pulang kerumahnya.
Setiba dirumahnya, pemandangan rumah nampak sepi, reza masuk perlahan.
"Reza, baru pulang?? Dari mana saja?". Ujar rey yang tengah bersantai sambil menatap layar leptopnya.
"Aku dari mall pa. Ada apa?? Mama dan ratu dimana?"
"Lagi didapur bikinin papa kopi, ratu udah tidur, ada apa??". Tanya rey balik.
"Gak apa-apa.. Aku nyamperin mama dulu deh". Reza langsung menuju dapur mencari mamanya.
Melihat ara yang tengah sibuk membuat secangkir kopi, reza berjalan perlahan dan memeluk mamanya dari belakang.
"Mama!!!"
"Eh.. Reza.?? Mama pikir papa kamu. Ada apa? Kamu mau kopi??".
"Boleh ma,, tapi aku bikin sendiri aja deh, mama ajarin aku ya". Reza mengambil gelas dan menaruh nya dimeja.
"Tumben amat! Nih sendok, kamu masukin sendiri gula sama kopi nya."
Tanpa banyak tanya, reza membubuhkan dua sendok kopi, dan satu sendok gula, lalu memberinya air panas.
"Dahh siap!! Ayo ma kita kedepan". Reza membawa sendiri kopi buatanya.
"Masih aja panggil reboy. Kenapa gak panggil papa aja sih?". Tutur reza heran.
"Itu sudah biasa diucapkan dari awal pertemuan, susah untuk diubah, ya gak aron?!". Jawab rey tersenyum.
"Bener banget! Walau umur kita udah 40 lebih, tapi jiwa kita masih muda, hehe". Timpal ara sembari duduk disamping rey.
"Serah kalian deh, udah tua juga masih banyak gaya!
Pah, mah,, aku mau pindah rumah, kalian gak keberatan kan?".
Rey dan ara kaget mendengar ucapan anak sulungnya itu.
"Hah?? Ada apa nak? Apa kamu udah gak sayang sama papa dan mama?". Ucap ara yang tiba-tiba berdiri.
"Lebai amat lo maisaroh.. Biarin aja lah dia mau pindah rumah, bila perlu pindah aja ke planet pluto. Dia kan cowok, lagian dia udah pernah tinggal sendirian 4 tahun di london. Tapi masalahnya, rumah nya udah ada apa belom?". Pungkas rey.
"Kan baru rencana pa!! Besok aku mau beli rumahnya dulu yang agak dekat dengan kantorku"
"Reza, didekat perusahaan kamu kan banyak tanah kosong, kamu beli aja, terus bikin rumah sendiri sesuai selera, dari pada beli rumah yang belum tentu kualitasnya bagus". Jelas rey memberi saranya.
"Papa kok bener ya?? Tapi duit nya? Bagi dua ya pa? Papa bantu setengah ya, soalnya aku belum cek keuangan kantor, rencanaya senin nanti aku baru masuk kantor". Sahut reza.
"Loh, kenapa nunggu senin, kenapa gak besok aja?". Timpal ara.
"Ma.. Aku mau memulihkan hatiku dulu, kalian tau sendiri lah gimana keadaanku sekarang, gara-gara terhianati, jantungku udah kayak dibogem, jadi pengen loncat dari kursi".
"What?? Kalo mau loncat, noh dari atap rumah. Eh jangan deng,, ntar lo gentayangan, mama takut".
"Emak sama anak, sama-sama pe'ak, o'on nya nular". Gerutu rey cuek.
__ADS_1
"Pa, ma, tolong jangan tuntut aku buat nikah ya, aku masih muda, aku mau fokus sama perusahaan dulu, lagi gak pengen pacaran atau dekat sama cewek manapun". Tutur reza sambil menyeruput kopi.
"Padahal papa dan mama sudah menjodohkan kamu sama anak teman bisnis papa dikota F. Tapi mending kamu langsung kerja aja deh, dengan kesibukan, maka semua masalah bisa terlupakan, dan perlahan hatimu akan sembuh dan bisa membuka hati lagi". Timpal rey.
"Hmm.. Papa bener,, kalo gitu lusa aku masuk kerja, sekalian ajak boby dan danu.
Eh pa tukeran kopi ya, kopiku pahit". Reza langsung menghabiskan kopi rey, dan langsung pergi kekamarnya.
"Tuh anak,, kenapa kelakuanya gak berubah, masih aja kayak bocah kalo dirumah, kalo diluar, gaya nya gak salah-salah, udah kayak keren sendiri". Gumam rey.
"Kayak lo nggak aja reboy!! Lo dulu malah lebih parah dari reza. Bdw, ngantukku datang,, aku kekamar dulu ya, kamu sendirian aja disini, ngobrol aja sama gelas, aku mau tidur". Ara juga turut pergi. Rey hanya menanggapinya dengan menggelengkan kepala.
_
Diwaktu bersamaan, yuki tengah sibuk menatap layar ponselnya setelah yunie tidur.
"Yuki, kamu ngapain? Tumben banget liat hp serius gitu?". Tanya neo yang sedang tidur bersama yunie.
"Neo, kemarin aku sudah bilang sama kamu kalau aku mau cari kerjaan, bunda dan ayah juga mengizinkan, bukanya aku gak menerima keadaan kita sekarang, tapi aku mau berusaha membantu ekonomi keluarga ini. Sekarang aku lagi daftar online ke beberapa perusahaan, semoga saja ada yang menerimaku". Jelas yuki.
"Yuki, aku yang lulusan S¹ saja susah dapat kerjaan yang sepadan, kamu mau kerja apa dengan ijazah SMA?". Timpal neo.
"Aku juga gak tau, jadi apapun boleh asal menghasilkan uang dengan halal.
Yunie sudah tidur, sekarang kamu keluarlah, aku juga mau tidur".
"Yuki, tidak bisakah kamu mengizinkanku tidur bersama kalian satu malam saja, sejak menikah sampai sekarang aku belum pernah merasakan tidur bersama anak dan istriku. Tapi aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggumu sampai kamu membuka hatimu untuku, baiklah, aku keluar sekarang, selamat malam". Neo pergi dari kamar itu.
Tiap malam neo hanya menemani yunie tidur, setelah yunie terlelap, ia keluar dan tidur dikamar lain. Sampai saat ini yuki tidak ingin neo tidur didekatnya, karna ia masih sangat trauma mengingat hal yang dilakukan neo padanya 3 tahun lalu.
Saat yuki hendak tidur, tiba-tiba terdengar notif dari ponselnya.
"Eh,, ada email? Dari siapa??". Yuki langsung membuka email tersebut.
Email. @yuki: Selamat malam nona yuki, kami sudah melihat data lamaran pekerjaan yang anda ikuti secara online dalam website kami. Besok anda bisa datang langsung kegedung perusahaan DIAMOND untuk melakukan interview, lihat alamat nya diweb kami. Semoga anda berkenan hadir. Terimakasih dan selamat beristirahat.
Setelah membaca email itu, yuki sangat senang, ia keluar dari kamar dan memberitahukanya kepada kedua orang tuanya. Neo juga turut keluar kamar mendengar kehebohan yuki.
"Yuki, ada apa?". Tanya neo heran.
"Ahh ini, besok aku disuruh interview diperusahaan tempat aku daftar tadi, semoga aku diterima, ditempatkan diposisi mana saja gak masalah". Jawab yuki tersenyum.
Neo sangat senang melihat senyuman yuki yang selama ini sangat jarang terlihat.
Sudah lama aku gak liat senyum manismu itu, kau terlihat bahagia. Maafkan aku belum bisa membuatmu tersenyum.
"Oh gitu? Baguslah, semoga kamu diterima. Kalau gitu pergilah tidur, aku juga mau tidur". Neo mengusap rambut yuki kemudian ia berlalu pergi kekamarnya.
"Ayah, bunda, aku tidur dulu ya, doain aku semoga besok diterima, selamat malam". Yuki juga turut pergi kembali kekamarnya.
"Selamat malam nak, doa kami menyertaimu". Sahut bunda yuki tersenyum.
Saat hendak tidur, yuki baru sadar bahwa tadi neo mengusap kepalanya, ia pun meraba kepalanya.
"Neo?? Kenapa aku bisa merasakan kasih sayangnya hanya dua detik saja? Apa sekeras itu hatiku untuknya?.
Melihat caranya mengusap kepalaku, aku langsung teringat pada kak reza yang dulu tiap hari mengusap kepalaku. Tapi rasanya aku sudah tidak pantas lagi mengingatnya, dia pria yang baik, dan harus mendapatkan pendamping yang baik pula. Semoga dia bahagia".
Yuki mencoba menerima kenyataan dan mengikhlaskan hidupnya terperangkap dalam ruang yang tidak ia inginkan.
Mencoba untuk menerima bahwa dia sudah menjadi istri orang lain, bukan reza.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG...