
Setibanya dirumah yuki. Arini dan lesty sibuk membantunya bersih-bersih rumah, karna masih berantakan setelah mereka tinggalkan kerumah sakit tadi pagi.
"Lesty, arini. Terimakasih banyak kalian sudah membantuku. Nanti bunda akan membuatkan kalian minum." Ujar yuki sambil menggendong yunie.
"Gak perlu berterimakasih ki. Kita kan udah biasa saling bantu." Timpal lesty tersenyum sambil duduk dikursi karna kelelahan.
"Kalian mau minum es teh, atau teh hangat? Hanya itu yang kami punya." Cela bunda yuki ditengah perbincangan mereka.
"Aku teh hangat aja tante." Sahut arini.
"Aku es teh saja tante." Timpal lesty tersenyum.
Bunda arini pun pergi ke dapur untuk membuatkan mereka teh.
"Kalian ngobrol saja dulu ya. Aku mau kekamar, mau ngajakin yunie tidur. Neo tolong temani mereka ya." Ujar yuki sembari berlalu menuju kamarnya.
"Em...gue keluar dulu ya. Gerah, gue mau cari nagin." Ujar arini, kemudian ia pergi keluar.
"Ti, apa arini ada masalah? Dia gak kayak biasanya?." Tanya neo heran.
"Gue juga gak tau. Dia gak mau cerita. Gue temenin dia dulu ya." Lesty juga beranjak menyusul arini.
"Gue ikut ti." Sahut neo dan juga menyusul lesty.
Mereka bertiga pun duduk dikursi yang ada diteras luar rumah yuki.
"Rin. Bengong aja. Ada apa?." Ujar neo yang duduk disebalah arini itu.
Tanpa banyak bicara, arini mengeluarkan dua lembar foto reza dan yuki yang ia simpan dalam tas nya itu.
"Nih, kalian lihat."
Neo dan lesty pun melihatnya secara bersamaan.
"Astaga rin!. Jadi foto ini yang udah bikin lo sedih dari tadi sore?." Ujar lesty kaget.
"Iya, menurut kalian, bagaimana dengan tulisan dibalik foto itu? Tadinya gue gak mau ambil pusing, tapi entah kenapa gue selalu kepikiran. Walau sekarang gue dan reza udah pacaran, tapi gue belum yakin seratus persen dengan perasaan reza terhadap gue." Jelas arini tertunduk.
"Rin, bukankah kemaren reza bilang bahwa lo adalah calon istrinya kan? Itu artinya dia sudah berniat mau menikahi lo. Kok lo malah gak yakin sih sama dia?" Timpal lesty menatap arini untuk meyakinkan hatinya.
"Lesty benar, lo harus percaya sama reza, dia udah berusaha mencintai lo sepenuh hati. Jangan tergoyah hanya karna sebuah foto lama. Kalo hati lo ykain, mudah-mudahan hati reza juga yakin. Percayalah." Neo menggenggam tangan arini, menatap arini yang tengah tertunduk.
"Kita lihat saja. Gue akan jalani seadanya dulu. Biarkan semua ini mengalir. Doa kan saja dia adalah jodoh gue." Timpal arini menguatkan hatinya sendiri.
Lesty menggenggam tangan arini dan neo bersamaan. "Guys, gue mau menyampaikan semua hal yang berbelit ini pada kalian, karna gue udah gak sanggup lagi menanggungnya sendiri." Ujar lesty tertunduk.
Arini dan neo saling tatap karna heran dengan ucapan lesty. "Emangnya ada apa ti.?" Tanya arini penasaran.
"Diantara hubungan kalian semua. Gue lah wadah diantara rahasia diatas rahasia. Bahkan gue gak tau harus memulai cerita ini dari mana." Jelas lesty bingung.
"Ti. Ceritain aja semua hal yang lo tau. Pelan-pelan aja biar lo gak pusing." Timpal neo.
Lesty memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.
"Baiklah. Pertama untuk neo, gue tahu semua tentang hubungan lo dan yuki yang pernah pacaran saat sekolah. Dan lo juga salah satu alasan arini kabur kekota ini. Lo tau, saat pertemuan pertama kalian di mall waktu itu. Gue sama sekali gak tau kalau kalian saling kenal. Malam harinya arini menangis menceritakan semua hal tentang lo. Saat itu gue sangat kasihan melihat hatinya hancur."
__ADS_1
Neo tertunduk mendengar ucapan lesty. Ia merasa sangat bersalah menyakiti arini.
"Rin, gue bener-bener minta maaf udah nyakitin lo. Tapi saat kita berpisah bertahun-tahun. Gue jadi lupa sama lo. Dan gue mencintai yuki." Jelas neo tertunduk.
"Gue udah gak permasalahkan itu kok. Lagian lo udah bahagia bersama yuki." Timpal arini tersenyum.
"Em..maaf. Boleh gue lanjutin?." Cela lesty.
"Silahkan." Sahut neo dan arini bersamaan.
"Mungkin ini sedikit panjang. Tapi gue harap kalian gak marah sama gue. Karna, semua hal tentang kalian udah gue ceritain sama reza. Dia udah mengetahui semua tentang kalian berdua.
Satu lagi. Ini lumayan sulit untuk dirahasiakan, karna gue selalu merasa berdosa." Lesty tertunduk, menghentikan ceritanya sekejap.
"Ada apa ti.? Bilang aja. Lebih baik kita mengetahui semua kebenaran dari pada ada rahasia yang membuat lo gak tenang." Timpal arini menatap wajah lesty.
Lesty meraih tangan arini, namun ia tidak berani melihat wajah arini.
"Rin, gue minta maaf. Benar-benar minta maaf, karna gue pembohong besar. Sebenarnya, rumah yang kita tempati itu bukan milik keluarga gue, tapi rumah itu milik reza. Dia membelinya untuk tempat tinggal lo, supaya lo gak harus bayar kontrakan setiap bulannya. Lo inget saat lo mau pulang ke kota asal lo? Saat lo putus asa karna reza gak peduli sama lo?.
Malam itu, saat lo tidur sehabis menangis, reza datang kekontrakan. Ia menyelimuti lo dan mengusap rambut lo. Dan ia juga memberi lo uang yang banyak, tapi ia titipkan sama gue, karna dia gak mau lo tau. Rencananya uang itu buat cari kontrakan yang lebih bagus. Tapi reza malah membeli rumah itu untuk lo. Sekali lagi maafin gue." Jelas lesty tertunduk.
Arini menangis tersedu-sedu mendengar cerita dari lesty.
Neo berusaha menguatkan arini dengan menggenggam tangannya.
"Rin, harusnya lo bersukur punya pacar seperti reza, dia begitu pengertian dengan hal sekecil apapun itu. Harusnya lo buang jauh-jauh rasa cemburu atau ketidak yakinan lo terhadap perasaannya. Apalagi kalau cuma masalah foto ini. Lagian ini sudah lama kan? Mungkin reza lupa membuangnya. Sini, biar aku yang menyimpannya." Neo merampas foto itu kemudian ia simpan dalam saku celananya.
"Kalian benar, harusnya gue gak boleh sensitif, dan egois. Gue gak tau kenapa? Gue ngerasa sangat takut kehilangan reza. Apakah karna gue trauma atau karna gue sayang padanya." Jelas arini tertunduk diiringi isakan tangis.
_
Disisi lain. Reza tengah ngobrol santai dengan keluarganya setelah makan malam. Ia sama sekali tidak ingat dengan arini karna asik bercanda dengan ratu dan andini.
"Andai saja kak reza belum punya pacar, aku mau kenalin kakak dengan sesorang. Dia gadis yang cantik." Ujar andini pada reza.
Mendengar kata pacar. Reza pun langsung ingat pada arini. "Astaga!!. Semuanya! Aku pergi dulu ya. Kalian silahkan ngobrol." Reza beranjak dan mengambil jaketnya.
"Ma, aku pinjem mobil.!" Teriak reza sambil berlalu.
"Kamu mau kemana za?!." Sahut ara.
"Mau kerumah arini ma! Aku pulang agak malam." Teriak reza dari luar.
"Haiss. Anak itu. Semenjak dia punya pacar, selalu pulang malam." Gumam ara.
"Aku jadi penasaran dengan arini itu? Apa kalian punya fotonya?." Tanya pricil penasaran.
"Jangankan kalian. Kita aja gak pernah ketemu. Kalau pacar reza yang dulu kami sering melihatnya, namanya yuki. Tapi dia udah nikah. Mungkin karna ditinggal reza terlalu lama." Jelas rey menyeringai.
"Yuki? Aku kayak pernah dengar." Pikir alvin.
"Ah iya.! Aku pernah bertemu dia. Waktu itu mereka sedang liburan divila dikota D. Kalo gak salah waktu itu mereka masih sekolah." Jelas alvin.
"Benarkah? Waktu itu aku kasihan pada reza karna dia sangat mencintai yuki. Dia dihianati. Tapi sekarang mereka sudah berteman lagi. Dan yuki sudah bahagia dengan suaminya." Timpal ara.
__ADS_1
_
Sementara itu. Reza melajukan mobilnya cukup kencang untuk menemui arini. "Dia dimana ya? Apa gue kerumahnya aja?.Gue kangen sama dia. Hari ini ketemu hanya sebentar." Gumam reza sambil menyetir.
Setibanya dirumah arini. Ia mengetuk pintu beberapa kali. Namun rumah itu nampak sepi.
"Dimana mereka? Apakah...? Oh iya, gue lupa. Kayaknya mereka masih dirumah sakit. Gue harus kesana sekarang, sekalian menjenguk yunie."
Reza beralih, ia pun melaju kencang menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit. Ia bertanya pada suster yang berjaga untuk mencari nama pasien atas nama yunie.
"Maaf sus, pasien atas nama yunie, dikamar berapa ya?"
"Tunggu sebentar ya kak. Kami cari dulu.
Pasien yunie, sudah pulang tadi sore kak. Dan keadaannya sudah membaik." Jelas suster tersebut.
"Oh gitu? Oke terimakasih ya."
Reza kembali memutarkan mobilnya. "Kayaknya arini dan lesty lagi dirumah yuki. Ah gue **** banget, kenapa juga bisa lupa bawa handphone. Gue langsung kesana aja deh." Gumam reza sembari menyetir menuju rumah yuki yang jaraknya lumayan dekat dengan rumah sakit.
Disaat yang sama. Yuki yang saat itu hendak keluar mengantar teh, namun ia harus mengurungkan niatnya karna mendengar obrolan neo, lesty dan arini. Yuki pun hanya berdiam dibalik pintu.
Yuki juga turut menangis saat ia mengetahui ternyata neo dan arini pernah menjalin hubungan di masa lalu.
"Aku bingung, apakah aku adalah perusak hubungan kalian? Ternyata kalian pernah bersama. Pantas saja beberapa kali aku melihat neo begitu pengertian dengan arini. Tapi sekarang arini sudah sangat mencintai reza, orang yang pernah begitu aku cintai juga." Yuki bergumam dalam hati sambil menangis diam-diam.
Dengan cepat, yuki mengusap air matanya. Ia pun keluar dengan membawa beberapa gelas teh dan sedikit cemilan. Ia memancarkan senyumnya seakan tidak terjadi apa-apa padanya.
"Maaf mengganggu. Ini teh yang kalian pesan. Silahkan diminum." Yuki meletakkan nampan itu dimeja. Kemudian ia turut duduk bergabung dengan mereka.
"Makasih yuki." Ujar arini tersenyum sembari mengangkat gelas teh itu.
Tak sadar bahwa teh itu panas, arini pun kaget dan tidak sengaja menumpahkannya hingga menimpa tangannya sendiri.
"Ahh panas!!." Arini langsung berdiri untuk menghindari genangan air teh yang masih mengalir di meja itu.
Neo turut panik, ia langsung mengelap tangan arini dengan bajunya dan meniupi tangannya, tanpa sadar bahwa yuki berada disebelahnya.
Yuki hanya diam tertunduk dan membiarkan mereka.
"Mungkin perasaan inilah yang kau rasakan saat reza panik melihatku terluka karna pecahan beling dirumah arini beberapa waktu lalu. Ternyata begitu sakit." Batin yuki sambil merunduk.
Reza yang saat itu baru tiba, juga harus menyaksikan hal yang serupa. Ia pun berhenti sejenak. Namun tidak ada yang menyadari kedatangannya.
"Arini, apakah ini yang kau rasakan saat aku mempedulikan yuki dihadapanmu waktu itu?. Ternyata sangat sakit. Maafkan aku." Batin reza tertunduk merasa bersalah.
•••
BERSAMBUNG...
Like & komen ya.
VOTE juga😁
__ADS_1