
Arini sadar kembali. Ia membuka mata. Pemandangan yang sama masih menghiasi ruang kamar rumah sakit itu.
"Uhh.. kepalaku sakit." Gumamnya sambil memegang kepala.
"Arini, kau sudah sadar.?" Ujar lesty.
Reza turut mendekat, ia langsung meraih tangan arini dan menggenggamnya.
"Sayang, kamu sudah sadar? kumohon maafkan aku, ini semua salahku. Tolong ingatlah aku lagi. Aku janji akan membuatmu bahagia." Reza menangis sambil menggenggam tangan arini.
Arini merasa sedih sekaligus heran.
"Ti, dia kenapa? Apa dia sedang putus cinta? kasihan sekali dia?." Ujar arini pada lesty.
"Rin, dia itu pacar kamu.
Ah udahlah. percuma juga dijelaskan kalo gak inget." Timpal lesty pasrah.
"Em...bisa gak kamu menjauh dulu. Aku mau neo yang ada disini." Ujar arini menyuruh reza pergi.
Reza tertunduk pasrah. "Baiklah. Neo, tolong temani arini." Pungkasnya sembari menepuk pundak neo.
Neo melirik pada yuki. Yuki menganggukkan kepalanya tanda memberi izin pada suaminya itu.
Neo pun menggantikan posisi reza dan duduk disebelah ranjang arini.
"Rin, kamu mau apa? apa kau mau makan?" Ujar neo menatap arini.
"Aku akan makan, jika kau yang menyuapiku. Oh iya. Aku gak percaya kalo kamu sudah menikah dan sudah punya anak. Kita baru saja lulus SMA. Jangan membohongiku.
Mulai sekarang aku mau kau dan lesty yang menjagaku, tidak perlu begitu ramai seperti ini. Lagian aku gak kenal sama mereka." Ujar arini melihat sinis pada reza dan teman yang lainnya.
"Baiklah. Aku akan menjagamu. Ayo makan, biar aku yang menyuapimu.
Lesty, tolong ambilkan nasinya." Ucap neo.
Lesty pun mengambilkan makanan yang disediakan oleh rumah sakit itu.
Sebelum menyuapi arini. Neo menghampiri reza dan yuki yang berdiri bersebelahan.
"Sayang, maafkan aku. ini permintaan arini. Tolong kamu jangan cemburu ya. Lo juga ya za, ini demi kesembuhan arini, tolong pengertian kalian." Ujar neo sembari menatap yuki dan reza.
"Gak masalah, aku percaya padamu." Sahut reza dan yuki bersamaan.
Neo pun tanpa ragu menyuapi arini makan. Wajah arini nampak gembira sembari tersenyum menatap neo.
Reza dan yuki turut tersenyum melihat senyuman arini.
_
Tiap hari arini meminta neo untuk menemainya. Neo harus mengatur waktu antara kerja dan mengurus arini.
Sementara lesty diberi izin untuk cuti oleh reza, supaya bisa fokus mengurus arini.
Setelah luka arini sembuh, ia meminta neo membawanya ketaman kecil dihalaman rumah sakit karna ia bosan sudah hampir satu minggu berbaring dalam kamar.
Hari ini lesty tidak ikut menjaga arini karna ia harus ngampus.
__ADS_1
Neo mendorong kursi roda arini dan membawanya menuju taman kecil itu.
Ia duduk jongkok didepan arini yang tengah menikmati udara pagi.
"Rin. apa kau benar-benar tidak mengingat reza?."
"Reza? siapa dia? Oh. apakah cowok yang mengaku pacarku itu?. Dia asing bagiku. aku sama sekali gak kenal padanya.
Ditengah perbincangan mereka, reza datang dan berdiri diam-diam dibelakang arini..
Ia mampir sebentar sebelum berangkat kerja.
"Ssttt". Reza menutup bibirnya dengan telunjuk saat neo melihat kedatanganya. Neo pun hanya mengangguk.
"Neo? kenapa kau diam? aku bertanya padamu." Ketus arini.
"Eh. maaf. Iya reza itu adalah cowok yang mengaku pacarmu itu.
Rin, sebenarnya dia memang pacar kamu. Apa kau lupa bahwa kemaren kau kecelakaan? Kamu lupa ingatan rin. Dan aku bukanlah pacarmu lagi." Jelas neo merunduk.
Arini seakan sedih dan tidak percaya. Ia hanya diam tertunduk.
Reza menggelengkan kepala sambil mengerutkan dahi menatap neo.
"Hm.. baiklah. Maafkan aku arini. Kamu gak harus mengingatnya.
Oh iya, minggu depan aku harus pergi dalam wakyu yang lama. Maafkan aku gak bisa mengurusmu lagi. Aku menitipkanmu pada reza, dia yang akan menggantikanku. Tolong jangan menolaknya ya. Dia orang baik kok." Jelas neo sembari menggenggam tangan arini.
Reza hanya tertunduk mendengar percakapan mereka.
Arini mencengatkan kepalanya untuk menatap neo. "Neo, jika memang kamu harus pergi, aku bisa apa?. Aku akan mencoba menerima orang itu untuk mengurusku. Tapi aku butuh lesty supaya orang itu gak macam macam padaku." Sahut arini dengan tatapan memohon.
"Neo, apakah kau akan kembali lagi? Berapa lama kau akan pergi?." Tanya arini dengan nada kecil.
"Aku akan pulang sebulan sekali. Kamu harus baik-baik disini ya. Reza akan menjagamu.
Hari sudah panas, ayo kita kembali lagi kekamar."
Reza bersembunyi disemak pohon taman saat neo memutar balikan kursi roda arini.
Ketika mereka melewati reza. Ia pun keluar dari persembunyian.
Neo memperlambat jalannya untuk menunggu reza.
Kemudian reza yang menggantikan mendorong kursi roda arini. Sementara neo berdiri disebelah reza.
Begitu pun seterusnya. Tiap hari mereka bergantian menjaga arini. Hingga keadaannya hampir pulih. Namun ingatannya masih belum kembali.
Suatu hari. Reza mengajak arini pergi kekota D, namun arini gak mau meninggalkan neo dan lesty, merekapun turut serta.
Setibanya dikota D, arini makin bingung melihat tempat itu.
Reza mengajak arini pergi kebawah pohon ditepi danau. Neo dan lesty mengiringi mereka dari belakang.
"Heii, kau tempat apa ini? Ini adalah tempat dimana kita bertemu untuk pertama kalinya. Saat itu kau lah yang menolongku. Aku berhutang budi padamu." Ujar reza tersenyum menatap arini.
Arini menangis dalam hembusan angin yang menyiakan rambutnya.
__ADS_1
"Arini, kenapa kamu menangis? apakah kau sudah mengingatku?." Pungkas reza..
"Aku kangen papa dan mama. Aku kabur dari rumah. Gimana kalo mereka tau kalau aku sedang sakit kayak gini. Mereka pasti cemas." Jelas arini tertunduk.
"Kukira kau sudah mengingatku. Ya sudah kita pulang saja." Reza menggandeng tangan arini menuju mobil nya.
_
Satu minggu kemudian. Arini sudah mulai pulih, ia bisa berjalan sendiri tanpa kursi roda. Namun ingatannya masih menghilang.
"Za. Aku minta maaf, hari ini aku gak bisa jagain arini, aku ada meeting bersama bos, dan banyak kerjaan lainnya juga." Ujar neo.
"Gak apa-apa. ada lesty yang menjaganya. Aku juga harus ngantor hari ini." Jawab reza tersenyum.
Reza dan neo berpamitan pada arini. Kemudian mereka pergi kekantor masing-masing.
Siang harinya. Reza mendapatkan telpon dari lesty saat ia tengah istirahat makan siang
"Halo ti, ada apa?."
"Za. gawat.! "
"Ada apa ti. "
"Arini za... dia.. Dia menghilang!. Aku gak tau dia kemana? aku sudah mencarinya keliling rumah sakit. aku juga sudah bertanya kesana kemari. cepatlah kamu kemari." Jelas lesty panik.
"Kau serius? Astaga arini. Dia mana tau jalan, gimana dia mau pulang kalo dia sesat. ya sudah aku kesana sekarang."
Reza langsung menutup telpon, ia bergegas menuju rumah sakit.
Setibanya dirumah sakit, neo sudah berada disana setelah lesty mengabarinya.
"Neo, lesty. Gimana? arini belum ketemu?." Tanya reza cemas.
"Belum za, aku sudah menanyakan pada semua suster dan dokter disini, tapi mereka gak ada yang tau." Timpal neo.
"Aku akan menuntut rumah sakit ini jika mereka tidak menemukan arini.!" Gumam reza dalam emosi.
"Za, sudahlah. gak ada gunanya kita marah pada pihak rumah sakit, toh bukan salah mereka. Tadi aku sudah memarahi kepala rumah sakit ini, mereka juga sudah minta maaf dan membantu mencari arini.
Sekarang kita cari arini bersama." Pungkas neo menatal reza.
Reza tertunduk. "Lo benar neo. Maafkan aku.
Oh iya. tadi kan dia bersamamu ti. Gimana ceritanya dia bisa pergi sendirian.?" Tanya reza pada lesty.
"Em.. itu. Tadi kami sedang berjemur dan duduk dibangku taman. Tapi aku mau buang air kecil, aku sudah mengajaknya masuk, tapi dia nggak mau. Jadi aku tinggal, karna dia bilang gak apa-apa jika kutinggal.
Saat aku kembali. Dia sudah tidak ada ditaman. Aku sudah teriak-teriak memanggil dan mencarinya. Tapi... dia entah kemana." Jelas lesty tertunduk dengan rasa penyesalan.
"Ya sudah, ayo kita cari dia bersama. Sekalian minta bantuan polisi." Tegas reza.
Mereka pun bergegas mencari arini tanpa tau jejaknya.
Polisi juga turut membantu mereka. Semua cctv di berbagai sudut rumah sakit sudah dilacak. Namun mereka kesulitan mencari arini karna baju yang ia pakai sama dengan semua baju pasien rumah sakit itu.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG...