
Dirumah reza.
Ia tengah berbaring sembari melamun memikirkan hasil tes DNA tadi sore.
"Arini dan Jessie. Ternyata mereka orang yang berbeda, benar-benar berbeda, bahkan tidak ada hubungan darah sama sekali. Tapi kenapa mereka sangat mirip. Apa hasil tes itu gak akurat? Jika jessie bukan arini, Lalu dimana arini ? Ya tuhan... Lama-lama aku bisa gila."
Reza meratapi kebingungannya sembari memandangi foto arini.
Dari luar terdengar suara bel berbunyi.
"Bik, tolong bukain pintunya!" Teriak reza pada seorang pembantu rumah tangga.
Tidak lama kemudian, pembantu itu kembali lagi untuk mengetuk pintu kamar reza.
"Tuan, didepan ada teman-teman tuan."
"Baik bik. Makasih ya.
Pasti itu rombongan jelangkung." Gerutu reza sambil berjalan keluar kamar.
Teman-temannya sudah duduk santai seperti dirumah sendiri.
"Kalian ngapain? Gue lagi gak mood ngoceh. Mending kalian pulang." Ketus reza.
"Jahat amat lo za. Kita kesini mau ngajakin elo kerumah yuki. Kita baru tau kalo tadi yuki masuk rumah sakit. Oh iya, gimana hasil tes DNA nya?." Ujar lesty.
Reza pun turut duduk sambil merunduk.
"Hm.. Ternyata mereka orang yang berbeda. Sangat berbeda. Gue gak tau harus gimana. Padahal gue sangat berharap bahwa jessie itu adalah arini. Tapi ternyata bukan..."
"Eh. Benarkah? Jessie bukan arini.? Tapi kok mirip banget ya?." Timpal genta.
"Atau dia itu kakaknya?." Sahut danu.
"Nggak. Mereka 99% berbeda. Nggak ada hubungan darah sedikitpun." Jelas reza.
"Masa sih. Kok gue gak percaya ya bos." Timpal boby.
"Jangankan kalian. Gue aja gak percaya. udah ah. Ayo kalo mau kerumah yuki. Tapi bentar doang. Besok gue mau kekota F lagi. Besok danu, boby dan lesty harus ikut." Ujar reza
"Baiklah. Sekarang ayo kita kerumah yuki dulu."
Mereka berenam pun pergi menuju rumah yuki.
Setibanya disana, yuki tengah berkumpul dan berbincang bersama keluarganya mengenai kehamilannya.
Lesty mengetuk pintu. Kemudian neo membukakan pintu untuk mereka.
"Eh, kalian? Ayo masuk." Sambut neo dengan ramah.
"Yang mau punya anak lagi, senyumannya segede ember." Ketus reza sambil berjalan masuk melewati neo yang berdiri didepan pintu.
Neo heran melihat reza yang menyelengos begitu saja dari hadapannya.
"Dia kenapa? aneh banget." Tanya neo pada teman lainnya.
"Dia sedang frustasi." Timpal genta.
"Hah? kenapa?." Tanya neo kembali.
"Tadi dia melakukan tes DNA pada rambut arini dan jessie. Dan hasilnya, mereka orang yang berbeda." Jelas lesty.
"Benarkah? Ah, ya udah lah. Ayo kita masuk."
Neo menggiring temannya untuk masuk kerumahnya menyusul reza.
Yunie begitu senang saat melihat reza.
"Om eja..." Teriak yunie sambil berlari memeluk kaki reza.
__ADS_1
Reza pun menggendong yunie. "Eh, yunie sayang, kamu udah agak gedean ya? udah lama banget kita gak ketemu. Terakhir ketemu saat kamu lagi dalam rahim." Ujar reza sambil mencubit gemas pipi yunie.
Nampak wajah yunie terlihat bingung dengan ucapan reza.
"Nak, jangan dengerin om eja ya. Dia lagi gak waras." Timpal neo.
"Jangan dengerin ayah kamu. Dia itu yang gak waras. Oh iya, yunie udah mau punya adek ya. Yunie mau punya adek cowok atau cewek?." Tanya reza pada yunie.
"Mau dua-dua nya." Sahut yunie dengan imut dan polos.
Mereka semua tertawa mendengar jawaban yunie.
"Bisa kok. kalo adek kamu kembar. Tapi kalo gak kembar, suruh ayah kamu bikin lagi." Timpal reza terkekeh.
"Za! Turunin yunie. gue gak mau anak gue ketularan gila. Ucapan lo itu udah gak ada yang bener." Ketus neo.
Reza pun menurunkan yunie. "Sana sayang, ikut bunda kamu. Om eja mau gelut dulu sama ayah kamu."
"Gelut itu apa om?" Tanya yunie bingung.
"Gelut itu ikan yang sering ada disawah." jawab reza.
"Itu Belut woiii kamvret!!." Teriak semua teman reza.
"Bodo amat!
Udah ah. gue mau keluar dulu. Oh iya, selamat ya yuki atas kehamilannya. Lain kali kalo mau bikin anak lagi izin dulu ya. Jangan buat orang jomblo pada iri." Ketus reza sambil berjalan keluar.
"Astaga! dia benar-benar sudah gila karna kehilangan arini." Timpal danu menggeleng kepala.
Dihalaman rumah yuki. Reza duduk di kap mobilnya sembari memandangi bulan dan bintang sambil menikmati angin malam yang berhembus pelan.
Reza pun menutup mata cukup lama sembari berbaring diatas mobilnya, dalam pikirannya dipenuhi dengan wajah arini.
"Arini. Apa kau ingat? waktu itu kita duduk disini berdua sambil memandangi bintang diatas sana. Tapi waktu itu kita belum pacaran. Aku ingat sekali, kau mendengarkan cerita perihku tentang masa laluku bersama yuki.
Tapi sekarang, engkau menghilang. Dimana kamu sayang? kembalilah, aku membutuhkan kamu. Sudah hampir setengah tahun kau menghilang, aku tidak bisa pasrah.
"Aku disini untukmu. Aku juga sangat menyayangimu." Jawab seorang wanita.
"Itu suara arini.?
Arini....!! " Teriak reza sambil membuka mata dan langsung duduk.
Ia kaget melihat sosok arini yang tepat berada didepan matanya.
"Arini..?." Reza langsung memeluknya erat dengan haru dan bahagia.
"Arini sayang. Kamu sudah kembali? kemana saja kmau selama ini hah? Apa kamu gak tau kalo aku hampir gila karna mencari kamu?. Aku sangat menyayangimu, tolong jangan pergi lagi ya, kumohon." Tutur reza sambil menangis mengutarakan isi hatinya yang berantakan itu.
Reza didorong hingga mundur sampai mengenai mobilnya.
"Za! lo udah gila ya? lo ngigo?. Gue jessie bukan arini!. Lo mimpi kah?" Tegas jessie dengan tatapan tajam sambil membersihakn bajunya karna pelukan reza.
Reza pun membuka matanya lebar-lebar.
"Hah? jessie. tapi... Bukankah tadi kamu bilang bahwa kamu sayang padaku kan? kamu airni kan?" Timpal reza heran.
Jessie pun mendekatkan wajahnya pada reza.
"Hei. Liat nih wajah gue! Apa sama dengan arini? Gue baru aja dateng kesini, dan gue bermaksud buat bangunin elo yang sedang tidur pulas. dan satu lagi, gue gak pernah bilang apa yang barusan lo katakan. ngerti!."
Jessie meninggalkan reza begitu saja. Ia pun masuk kerumah yuki dengan gayanya yang sedikit sombong dan tegas itu.
Sementara reza masih dalam kebingungannya.
"Apa bener tadi aku mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata? Apakah aku sudah lama tidur disini?." Reza pun melihat jam tangannya.
"Astaga, ternyata aku beneran tertidur lumayan lama. Ah.. aku jadi malu pada jessie. Padahal aku sangat berharap bahwa tadi itu bukanlah mimpi.
__ADS_1
Eh tunggu? Dari mana jessie tau kalo rumah yuki ada disini? dan bukankah kemaren dia masih dokota F?. Aku jadi curiga. Aku harus masuk dan bertanya padanya."
Dengan langkah cepat, reza pun menyusul jessie mauk kedalam rumah yuki.
"Heii jessie. Gue mau tanya! Sejak kapan lo pergi kekota B?. Dan sejak kapan lo tau rumah yuki disini?. Ayo jawab!." Tegas reza.
Mereka semua juga kaget dan baru menyadari hal itu.
Jessie pun berjalan mendekati reza.
"Bisa gak kalo ngomong gak usah pake teriak?. Asal kalian tau, gue pergi kekota B ini udah dari malam kemaren. dan tiba disini tadi siang. Gue nyari ini rumah udah dari tadi sore dan baru ketemu sekarang. Dan alamatnya neo sendiri yang ngasih. Puas kalian?!" Jelas jessie ketus.
"Auk ah! Bodo!
Gue mau pulang! Danu, boby! ayo kita pulang." Timpal reza sambil berjalan keluar.
"Baik bos."
"Em, kami juga pulang deh. dah semuanya.." Ujar genta, lesty dan evi.
Mereka pun pulang kerumah masing-masing.
"Dih.. temen kamu itu apaan sih! masa aku datang, mereka pada pulang! kayak aku apa aja!." Ketus jessie murung.
"Mungkin mereka mau memberimu waktu untuk ngobrol bareng kita." Sahut neo tersenyum.
"Bodo amat lah.!
oh iya. Aku bawain oleh-oleh buat kalian semua, tapi masih dimobil. Neo bisa bantu gue gak ambilin barangnya."
"Baiklah. Repot amat bawa hadiah segala."Ujar neo sambil berjalan keluar bersama jessie.
Yuki sedari tadi hanya diam menunggu jessie menyapa, namun jessie seolah tidak menghiraukan keberadaan yuki.
"Hmm.. Neo dan jessie terlihat akrab sekali, sampai-sampai jessie kemari karna undangan neo." Gumam yuki tertunduk
Neo membantu jessie mengeluari barang yang ada dalam mobil jessie.
"Neo. Kayaknya reza begitu menyayangi arini. Tadi dia memeluku, dia mengira kalo aku adalah arini. Mungkin dia sedang memimpikan arini." Ujar jessie.
"Mungkin saja. Dia udah kayak orang stres karna kehilangan arini. Terkadang aku juga kasihan padanya. Tapi ini mungkin balasan dari arini untuknya. Semoga ini cepat berlalu." Sahut neo tersenyum.
Neo dan jessie pun kembali masuk.
Tidak lama berbincang bersama keluarga yuki. Jessie pun berpamitan untuk pulang kehotel tempatnya bermalam.
Saat tiba diparkiran hotel. Jessie kaget melihat reza yang sedang duduk santai di atas kap mobilnya sembari memutar kunci mobil dijari telunjuknya.
"Akhirnya kamu pulang juga." Ujar reza sambil mendekati jessie.
"Reza? ada apa? Kalo ada keperluan, besok saja. Atau bisa lewat telpon saja. Aku capek, aku masuk dulu." Jessie berlalu dari hadapan reza.
Reza menarik tangan kanan jessie dan mendekatkan diri padanya.
"Kapan kau pulang kekota F? " Tanya reza dengan wajah datar menatap jessie.
"Be..sok. Ada apa?" Jawab jessie sambil menjauhkan wajahnya dari reza.
"Kalo gitu barengan saja. Jangan tanya kenapa, dan jangan menolaknya. Aku pulang dulu." Reza melapaskan tangan jessie dan berbalik badan.
"Oh iya satu lagi. Maafin aku karna tadi memelukmu. Itu bukan disengaja. Oke, Good night." Reza pun berlalu dan langsung masuk kedalam mobilnya.
Sementara jessie masih tercengang.
"Astaga! dia kenapa seperti bukan reza. Tadi dia menatapku sangat dalam, dia begitu tampan, sampai jantungku berdegup. Dan tadi dia bersikap dingin.
Ah gak tau lah.Jangan sampai aku jatuh cinta padanya."
Jessie bergumam sendiri sambil berjalan menuju kamar hotelnya.
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG...