Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:59


__ADS_3

Seorang dosen pria tua masuk kekelas reza dan kawan-kawan dan akan hendak melaksanakan tugasnya untuk mengajar.


"Weww,, dosennya udah tua banget. Apa masih bisa nulis di papan tulis.?" Ujar bobby dengan suara kecil.


"Benar, harusnya dia sudah hiatus." Timpal danu.


"Dosen itu mirip neo. Ntar kalo elu udah tua, pasti kayak dosen itu. Hahaha.. Jelek banget sumpah." Ujar reza terbahak.


Plakk.. !!


Neo memukul bahu reza. "Walau pun gue udah tua kayak gitu, tapi gue tetap ganteng. Ngerti! Sembarangan aja lu samsul.!" Bantah neo emosi.


Dosen itu seketika menoleh pada neo dan reza. "Siapa yang nyebut nama bapak? Perasaan, kita belum kenalan." Ujar dosen itu sembari menghampiri meja neo.


"Hah? Nama bapak samsul ya?. Pantesan mirip orang. Gue bisa nerawang pak." Timpal neo yang mulai menggila.


"Serius? Kalo gitu bapak mau tanya. Ada berapa anak bapak?." Tanya pak samsul serius.


"Bapak punya anak dua kan?." Timpal reza cuek.


Dosen itu kaget menatap reza. "Wah.. Kamu juga bisa nerawang ya? Apakah kalian seperguruan? Jawaban kamu benar. Bapak punya anak dua." Sahut dosen itu terheran.


Bobby pun turut menyahut. "Banar pak. Kita semua punya indra yang istimewa. Silahkan tanya lagi pak." Pungkas bobby penuh semangat.


"Oh ya! Kalo gitu bapak tanya lagi. Apakah kalian tau berapa umurku sekarang.?" Tanya dosen itu kembali.


"Sekitar 65 tahun." Jawab neo singkat.


Dosen itu kembali terbelakak. "Wah.. Benar, bapak baru kemaren ulang tahun ke 65. Hebat..hebat. Kalian semua hebat." Dosen itu bertepuk tangan dengan bangga.


"Pak gue mau tanya. Kira-kira kapan kita akan mulai belajar nya?." Pungkas danu cuek sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Oh iya, bapak lupa. Maap.. Maap. Ayo kita mulai kelas." Dosen itu kembali lagi ke mejanya.


Sementara reza dan teman-temannya menahan tawa karna habis mengerjai dosen tersebut.


"Astaga, dia percaya amat sama kita. Gue mau ketawa tapi takut kualat." Ujar reza menahan tawa nya.


"Iya. Padahal kita jawab ngasal. Mungkin hanya kebetulan doang, dasar samsul.. Samsul." Timpal neo terkekeh.


Saat pak samsul hendak berdiri. tiba-tiba ia merasa pusing dan pandangannya menjadi gelap. Ia pun kembali duduk.


"Eh, pak samsul kenapa tuh?." Ujar bobby sambil menunjuk dosen tersebut.


Reza dan neo langsung menghampiri pak samsul tanpa menjawab pertanyaan bobby.


"Pak, pasti kepalanya pusing, dan pandangan bapak jadi gelap kan? itu karna bapak mengalami darah tinggi atau darah rendah." Ujar neo yang sok tau itu.

__ADS_1


"Benar, tiba-tiba semuanya jadi gelap. Sepertinya bapak tidak bisa melanjutkan kelas." Jawab pak samsul sembari memegang keningnya yang pusing.


Reza mengambil buku di atas meja dosen itu dan membacanya sekilas. "Bapak tenang saja. Pelajaran ini sangat gampang. biar aku yang menggantikannya." Ujar reza sambil mengambil spidol.


Kemudian reza beralih profesi menjadi dosen sementara. Ia menulis dipapan tulis dengan lancar. Menerangkan pelajaran secara rinci. Ia nampak seperti benar-benar seorang dosen.


Semua mahasiswa yang ada dalam kelas itu terheran-heran dengan kemampuan reza yang seakan sudah terbiasa bicara didepan banyak orang.


Bahkan reza menjelaskan pelajaran tersebut seakan tanpa berfikir, semua yang ia katakan keluar begitu saja dari mulutnya.


Setelah ia selesai menjelaskan. Semua orang bertepuk tangan untuknya.


"Wah.. Cowok itu keren banget! Dia cerdas sekali." Ujar para gadis terkagum.


"Iya lah, dia bos kita. Udah biasa kali dia ngadepin buku yang sepele kayak gitu." Pungkas bobby.


Danu langsung membungkam mulut bobby. "Sasar peak! Lo lupa ya apa yang dikatakan bos? Harus jaga rahasia. jangan ada yang tau kalo dia itu pengusaha." Ketus danu sambil menjitak kepala bobby.


"Sakit peak! Iya gue minta maap. Gue lupa." Ketus bobby.


Beberapa saat kemudian, keadaan dosen itu mulai pulih. "Kelas bapak sudah habis, sekarang waktunya istirahat makan siang. Reza, terimakasih banyak. Kamu sangat pintar." Ujar pak samsul sambil merapikan bukunya.


"Gak masalah pak. Hati-hati dijalan ya pak." Timpal reza.


Reza dan yang lainnya bersiap menyandang tas mereka untuk keluar kelas.


"Ayo guys kita temui bidadari kita." Ujar reza sambil berjalan keluar.


"Haii kak reza, kak neo dan yang lainnya. Apa boleh kita berteman?." Ujar gadis itu penuh percaya diri sambil cengengesan.


"Apa yang kau lihat dari gue.?" Ketus reza dingin.


"Ganteng, keren dan kaya." Jawab gadis itu merasa gemas dengan reza.


"Kalo gitu sama, gue juga cuma melihat cewek yang cantik. Jadi tolong menyingkirlah, karna elo sama sekali gak cantik." Tegas reza dengan tatapan dingin.


Kemudian mereka berlalu begitu saja dari hadapan cewek itu. Neo dan yang lainnya terkekeh melihat kejadian barusan.


"Astaga, ada ya cewek kayak gitu. sumpah dia lucu banget. haha." Ujar neo yang bisa menahan tawa nya.


"Tau tuh. baru kali ini gue nemu cewek yang sangat percaya diri. Mungkin dia sudah kerasukan mbak kunti." Timpal reza terkekeh.


Mereka pun masuk kekelas arini. Disana juga sudah ada yuki yang tengah ngobrol bersama arini dan lainnya.


"Halo sayang, sama siapa kesini.?" Ujar neo sambil mencium kepala yuki.


"Tadi aku di antar sama dara dan tari. Tapi mereka sudah pergi lagi." Sahut yuki tersenyum.

__ADS_1


Reza juga turut duduk di meja arini. "Gimana pelajarannya? gak bikin pusing kah?" Tanya reza sambil mengusap rambut arini.


"Gak dong. Aku kan pinter. Kita ke kantin yok, tadi pagi lupa sarapan." Ujar arini menatap wajah reza yang tampan itu.


Sementara bobby sibuk berkeliling menghampiri setiap cewek yang menurutnya cantik. Sedangkan danu di sibukkan dengan main game online bersama lesty, genta dan evi.


"Neo, ayo kita ke kantin. Calon istri gue udah laper, ntar repot kalo cacing nya pada keluar." Ujar reza sembari meraih tangan arini.


"Oke. Ayo sayang kita makan, anak kita gak boleh kelaparan." Pungkas neo sambil mengusap perut yuki, membuat yuki malu karna jadi pusat perhatian .


"Bos, mau kekantin ya. ikut..!" Timpal danu sambil menghentikan game nya. Begitu juga dengan lesty dan yang lain.


Sementara bobby masih sibuk menggoda cewek, tanpa ia sadari teman-temannya sudah keluar dari kelas.


Saat dikantin. Mereka semua tengah memilih menu.


"Eh, bobby dimana?." Tanya danu sambil melihat sekitar.


"Biarin ajalah, dia lagi sibuk menggoda cewek. Siapa tau dia udah kenyang makan angin." Timpal lesty cuek.


"Heran banget deh sama bobby, kayak gak pernah liat manusia aja." Sahut evi.


"Emang iya, selama ini kan dia tinggal di hutan belantara bersama kawanan hewan nya." Timpal genta terkekeh.


"Haha,, genta, kalo ngomong suka bener."


Bobby tiba-tiba datang sambil berlari kecil menghampiri mereka.


"Woiii.. kenapa kalian ninggalin gue! apa salah dan dosa gue.?! kalian jahat!." Bobby memukul meja.


Lesty pun berdiri. "Jangan lebai woii marjano.! maka nya jangan sok sibuk ngeliatin cewek.!" Timpal lesty bernada tinggi.


"Biasa aja kali marfu'ah! gak usah teriak-teriak.! bikin gue haus aja.!" Sahut bobby kembali.


"Bodo amat! noh minum air kobokan! ngeselin banget siluman satu ini."


"Dasar mak lampir.! pasti emak lo yang ngelahirin lo, ya kan?."


"Iya lah. Masa' bapak yang ngelahirin peak!."


"Nah, maka nya itu. Pantes elu cerewet."


"Bodo amat! mending lu diem sebelum tuh mulut gue kepang tiga.!"


"Setdah! sadis amat anak kunti."


Perseturan dua mantan pasangan itu tanpa ujung. Reza, arini dan yang lainnya hanya cuek seakan tidak terjadi apa-apa. Karna sudah biasa liat kucing dan anjing bertengkar hampir tiap hari itu.

__ADS_1


•••


BERSAMBUNG


__ADS_2