
Malam hari itu, reza tidak langsung pulang kerumah, melainkan ia pergi kerumah lesty. Sebelum itu, reza sudah menghubungi lesty untuk menunggunya didepan rumahnya.
Sampai didepan halaman rumah lesty, ia pun turun dan menghampirinya.
"Za. ada apa?."
"Ti, duit yang gue kasih kemaren, masih lo simpen kan?."
"Masih, kenapa?."
"Besok pagi lo ikut gue. kita cari rumah kontrakan yang lebih besar untuk arini.
Untuk biaya pertahunnya biar gue yang bayar. Dan gue minta, lo tinggal bersama arini supaya dia gak sendirian lagi." Jelas reza.
"What!! gimana caranya? apa orang tua gue izinin? terus gimana cara bilang ke arini?."
"Apa lo takut kalo orang tua lo gak izinin lo ngontrak?." Ujar reza.
"Iya lah."
Reza langsung menarik tangan lesty untuk membawanya masuk.
"Woii ngapain?." Teriak lesty.
"Biar gue yang minta izin sama orang tua lo." Reza terus membawa lesty sampai kedalam rumahnya.
Orang tua lesty sedang santai sambil nonton tv.
"Selamat malam om, tante." Ujar reza sambil menyalami mereka.
"Eh, siapa ini.? wajah nya familiar sekali." Ujar mama lesty.
"Sepertinya kalian mengenaliku, aku adalah reza albert, anak dari reynand albert." Jelas reza.
"Dih,, nih orang ngapain sih? pake acara kenalan segala!." Batin lesty.
"Ohh.. kamu reza? astaga! aku baru ingat, om dan tante bekerja dengan orang tuamu." Timpal mama lesty.
"Oh ya! kalian kerja dimana?." Tanya reza.
"Kalo om kerja diperusahaan majalah papa kamu, dibagian editing. Om baru kok kerja disana, baru sekitar tiga tahun. sedangkan mamanya lesty baru satu tahun kerja disana dibagian costum model." Jelas papa lesty.
"Oh gitu, sukur deh. kita bisa kenal sekarang. waktu kecil aku juga jadi modelnya papa."
"Oh iya, nak reza kesini ada apa? atau nak reza pacaran sama lesty.?"
"Bukan kok tante.
Jadi gini, aku punya pacar namanya arini, aku mau menyewa rumah untuk dia. dan tujuanku kesini untuk minta izin sama om dan tante supaya mengizinkan lesty untuk tinggal bersama arini." Jelas reza menyatukan kedua tangannya.
__ADS_1
"Hah? pacar? sejak kapan jadian? halu aja nih orang!." Batin lesty mengerutkan dahinya melirik reza.
Orang tua lesty kaget. "Hah? kamu pacaran sama arini? temannya lesty kan? wah, dia beruntung punya pacar pengertian seperti nak reza. Arini itu sangat baik loh, dia begitu pengertian, dia sering menginap disini." Jelas mama lesty.
"Oh, sukurlah, ternyata aku tidak salah pilih pacar. Jadi gimana om, tante? apa kalian mengizinkan lesty untuk keluar dari rumah ini?."
"Tentu, kalau mereka berdua ada dibawah tangan nak reza, pasti mereka aman, kami pasti mengizinkannya." Timpal papa lesty.
"Benarkah? terimakasih banyak om, tante. Tapi aku minta rahasiakan ini dari arini ya. kalo dia bertanya, jawab saja kalau itu rumah kalian yang tertinggal."
"Oh gitu, pasti kalau dia tau, dia gak akan mau kan? tante tau arini, dia tidak mau menyusahkan orang." Sahut mama lesty.
"Benar tante, maka dari itu mohon rahasiakan. kalau begitu aku pulang dulu ya om, tante. Selamat malam." Reza menyalami mereka kembali. lalu keluar bersama lesty.
Lesty masih bingung dan gak percaya pada reza.
"Za, lo serius mau sewa satu rumah buat arini.? kenapa lo tiba-tiba peduli banget sama dia? bukankah lo cuek sama dia?." Ujar lesty saat mereka didepan mobil reza.
"Ti, hari ini gue menghabiskan waktu bersama arini, kita pergi kekota D, dimana tempat arini nemuin gue dan nyelametin gue. Disitu gue baru sadar, jika dia gak selametin gue, mungkin gue sudah gak ada lagi dibumi ini. Gue cuma ingin membalas jasanya."
"Apa cuma itu?." Timpal lesty.
"Gak tau juga. tapi hari ini gue banyak mengetahui sisi lain dari arini. Dibalik tingkahnya yang ceria dan konyol itu ternyata dia menyimpan kesedihan dan kesepian. Gue gak tau kenapa, saat gue memeluknya, ada rasa yang belum pernah gue rasakan, ada rasa kasihan, nyaman, dan tenang. Apa mungkin gue udah mulai membuka hati untuknya?." Reza menatap langit sambil mengingat arini.
"Za, gue bersukur banget kalo lo suka sama arini. Kalian sadar gak sih kalo kalian itu sama, yaitu sama-sama ditinggal nikah oleh pacar kalian. Arini itu sangat baik, dan sangat pintar dalam menyembunyikan kesedihannya, gue harap kalian bisa bersama, buatlah dia bahagia." Jelas lesty sambil menepuk pundak reza.
"Oke.. hati-hati."
Reza beralih dari rumah lesty dan langsung pulang kerumahnya.
Dalam rumahnya, ara dan rey masih duduk santai bersama ratu.
"Kalian belum tidur.?" Ujar rey menyapa orang tuanya.
"Kakak akhir-akhir ini sibuk banget ya.?" Ujar ratu menghampiri kakaknya itu.
"Iya dek, kakak sibuk, kamu kok belum tidur? udah malem, besok sekolah kan?, masuk kekamar sana."
"Baik kak, aku kekamar dulu ya, selamat malam papa, mama." Ratu pergi kekamarnya meninggalkan keluarganya yang masih santai.
"Za, gimana?." Tanya rey.
"Gimana apanya pa?." Sahut reza bingung.
"Gimana sama kemajuan hidup kamu?"
"Nanyanya gak berbibit amat!.
Aku udah beli tanah, rencananya beberapa hari lagi akan langsung memulai pembangunan." Timpal reza.
__ADS_1
"Wah, anak mama sudah bisa bangun rumah sendiri, hebat!. seberapa besar kamu akan bikin rumah.?" Sahut ara.
"Gak terlalu besar sih. Rencananya mau bikin dua lantai dengan ukuran 20 x 30 meter aja. Dan yang designnya itu arini sekretarisku sendiri. Bagus banget designnya.
Oh iya! pa, ma! aku dan arini plagiat panggilan kalian loh yang reboy sama aron."
"Hah? wah bagus! apa kalian pacaran? akan ada reboy dan ara generasi kedua nih." Ara tersenyum senang.
"Kita belum pacaran, tapi sepertinya akan begitu. Ya sudah, aku kekamar dulu deh! kalian silahkan lanjutkan ngobrol sama tv." Reza beranjak pergi kekamarnya.
"Anak kamu tuh! ketularan o'on! masa ngobrol sama tv!." Ujar ara terkekeh.
"Hei.. yang o'on itu elu maimunah!.. gue tonjok nih tv.!"
"Haha.. jadi inget masa muda. Udah ah! aku juga mau tidur, silahkan kamu sendiri yang ngobrol sama tv." Ara juga pergi meninggalkan rey sendirian.
_
Disisi lain. Dikamar yuki, seperti biasa, neo selalu menemani yunie sebelum tidur.
"Sayang, gimana kerjaan kamu hari ini.?" Ujar neo.
"Udah akrab banget ya dengan panggilan sayang?."
"Gak salah kan?"
"Nggak sih. serah kamu saja. oh iya, hari ini aku nemenin arini dan reza bersama danu juga. Aku seneng melihat reza dan arini jadi lebih dekat. Kuharap mereka bisa lebih bahagia." Tutur yuki tersenyum.
"Aku juga begitu, semoga arini bisa bahagia bersama reza." Batin neo.
"Sayang, apa kamu sudah gak cemburu kalo reza bersama wanita lain.?"
Yuki menatap neo. "Kenapa harus cemburu?, aku sudah menganggapnya kakak, justru aku sangat bahagia jika dia bahagia bersama arini, mereka pasangan yang sangat cocok. Tapi aku masih penasaran sama arini, sebenarnya dia berasal dari kota mana.?"
Neo tercengang, ia pun berpindah mendekati yuki. "Dari pada kamu memikirkan hal yang gak jelas, lebih baik kamu tidur saja, yunie sudah tidur tuh. aku keluar dulu ya." Neo mengusap kepala yuki sebelum ia keluar.
Yuki menahan neo dengan menarik tangannya. "Neo, mulai malam ini kamu boleh tidur bersama kita." Ucap yuki merundukkan kepalanya.
Neo kaget, ia pun memutarkan tubuhnya menghadap yuki. "Aku gak salah denger sayang?." Neo memegang kedua pipi yuki dan menatap matanya.
Yuki hanya mengangguk.
Neo langsung mengecup keningnya dan memeluk yuki dengan perasaan yang tak terkira bahagianya.
Malam itu, jadi malam yang pertama untuk neo tidur bersama yuki dan yunie. Ia sangat bahagia.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1