Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:53


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Mereka semua langsung bergegas menghampirinya.


"Keluarga tuan reza dan nona jessie siapa?." Tanya sang dokter.


Alvin langsung mendekat dengan cepat. "Kami semua adalah keluarganya dok. Bagaimana keadaan mereka?" Tanya alvin cemas


"Mereka baik-baik saja, hanya ada luka kecil dikepalanya. Mereka sudah sadar, silahkan kalian menjengiknya. Saya permisi dulu."


Saat dokter dan semua suster pergi, mereka semua pun masuk kedalam kamar reza dan jessie.


"Bos, gimana keadaan kamu?." Ujar boby cemas.


"Aku gak apa-apa. Gimana dengan jessie.?" Tanya reza sebari menoleh pada jessie yang berada disamping ranjangnya.


"Aku baik-baik saja. Jangan pedulikan." Ketus jessie.


"Heh, kamu itu bodoh! Ngapain kamu ikut-ikutan."


"Yang bodoh itu kamu. Mau nyari mati." Timpal jessie.


"Loh, kenapa kalian berdua jadi berantem. Heran. Lagian kenapa kalian pada mau mati? Udah gak sayang sama nyawa dan keluarga kah?." Ujar alvin pada reza dan jessie.


"Maaf om. Aku hilaf." Sahut reza melas.


"Ya sudah gak apa-apa. Besok rey dan ara datang kesini, om sudah memberi tahu mereka."


"Hah? Pasti papa marah sama aku. Aku gak berani ketemu papa."


Daylon mendekati reza. "Tenang aja. Rey gak akan marah, kalo dia marah, ada mama kamu yang membela kamu." Ujar daylon sembari mengusap rambut reza.


"Makasih paman. Oh iya, keluarganya jessie gak ada ya?." Tanya reza.


"Za, kan kita semua sudah tau kalo jessie udah gak punya keluarga. Bukankah kita sudah menjadi temannya.? Sekarang kita keluarga juga kan?." Timpal lesty.


"Oh iya, aku lupa. Maaf.


Maafin aku ya jes. Eh, tunggu. Bukankah tadi kamu bilang kalo kamu adalah arini? Sekarang katakan padaku!."


"Haha.. Reza..reza.. Tadi kamu gak percaya, sekarang malah minta penjelasan.


Aku jessie, bukan arini. Aku bilang kayak gitu biar kamu gak bunuh diri. Emangnya kamu mau, nyawa kamu melayang sia-sia?. Emangnya kamu pikir arini bakal seneng kalo kamu mati." Jelas jessie terkekeh.


"Duh, kepalaku jadi sakit." Ujar jessie sambil mengusap kepalanya.


"Sudah.. Sudah, kalian berdua harus istirahat. Semoga cepat sembuh. Kami pergi dulu.


Neo, ajak teman kamu untuk menjaga reza dan jessie." Ujar alvin.


"Baik om. Serahkan saja pada kami." Timpal neo.


_


Esok harinya. Ara dan rey tiba dikota F, mereka pun langsung kerumah alvin.


"Bong, gimana keadaan reza?." Tanya rey cemas.


"Udah gak apa-apa. Anak lo tuh ya, ada-ada aja. dia mau bunuh diri tau gak!" Timpal alvin.


"Hah? Serius? Lah kenapa? Apakah dia ada masalah?" Ujar ara cemas.


"Heii kutil. Lo gak ceritain sama ara ya?." Tegas alvin.


"Maap, gue lupa.


Oh iya, gue udah nyuruh abang daylon kesini. Ntar sekalian kita cerita bareng dia." Timpal rey.


"Hei reboy peak! Kita besuk anak kita dulu. Malah mau ngobrol.!" Tegas ara sambil menepuk pundak rey.


"Bodo amat lah. Bocah beg* kayak gitu. Ntar sembuh ndiri." Ketus rey cuek.


"Dia itu anak lu woii Marjono!! Gak peduli amat!."

__ADS_1


"Ya udah iya maimunah! Ntar kita kesana, etdah, ribet amat emak-emak.!."


"Kok malah kalian yang ribut sih. Pusing deh." Ujar alvin.


"Oh iya, mana pricil?."


"Ada noh didapur. Jenguk sana."


Ara pun bergegas kedapur. Tidak lama kemudian daylon dan istrinya juga tiba dirumah alvin.


Mereka pun memulai percakapan mereka mengenai hal yang dialami reza dan jessie.


_


Satu minggu kemudian.


Reza dan jessie sudah keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu. Dan mereka sudah mulai masuk kantor, dan bekerja seperti biasanya.


Rey dan ara menyambangi reza dikantornya bersama ratu, adik reza.


"Kak reza!! Aku kangen! Kakak udah lama banget gak pulang kerumah kita." Ratu berlari memeluk reza.


"Sayang, kakak kan sudah punya rumah, kamu nya aja yang gak pernah main kerumah kakak. Apa kamu baik-baik saja? Gimana kabarmu?." Reza mengusap kepala adiknya itu.


"Kak. Aku sudah SMA, aku banyak tugas. Minggu lalu aku mau ikut kesini tapi aku masih sekolah. Kakak gimana? Udah sembuh sakitnya?."


"Udah sembuh sayang.


Oh iya, pa, ma. Ada apa kalian kemari? Apa hanya berkunjung?." Tanya reza pada orang tuanya.


"Nanti malam kita di undang om alvin kamu untuk makan bersama di restoran, bersama paman daylon kamu juga beserta istri mereka." Timpal ara.


"Benarkah? Aku menantikannya, kita sudah lama gak berkumpul."


"Baiklah, itu saja yang ingin mama beritahu.


Ratu, ayo kita pergi sayang."


"Kita mau ajak adik kamu jalan-jalan. Kasian dia gak pernah diajak kemana-mana, selalu belajar dan sekolah." Timpal rey.


"Oh gitu. Ya udah, kalian hati-hati ya. Aku akan melanjutkan pekerjaanku.


_


MALAM HARI.


Mereka semua sudah berkumpul direstoran berbintang. Daylon dan anak istrinya. Beserta alvin dan juga keluarga kecilnya.


"Hei itu mereka sudah tiba." Ujar pricil saat melihat ara dan rey beserta anak mereka.


"Selamat malam semuanya.." Ujar rey menyapa dengan ramah.


"Selamat malam. Ayo silahkan duduk. Kita sudah siapkan makan malam nya. Ayo kita makan bersama." Sahut alvin tersenyum.


Ratu mendekati andini, untuk duduk bersamanya.


"Hai andini, sudah lama kita gak main bareng, aku kangen sama kamu." Ujar ratu sambil mendekap andini.


"Aku juga kangen banget sama kamu ratu." Sahut andini sambil membalas rangkulan ratu.


"Sudah..sudah. ayo kita makan dulu." Cela ara.


SETELAH MAKAN MALAM SELESAI.


"Reza, papa mau tanya, kenapa kamu mau bunuh diri.?" Tegas rey menatap reza.


Reza hanya diam menunduk.


"Za. Jawab! Apakah karna pacar kamu bernama arini itu sudah meninggal? Terus kamu mau menyusulnya? Kamu punya otak gak?" Tambah reza.


"Pa, aku tau aku salah, aku hilaf maafkan aku. Aku menyesal." Jawab reza merunduk.

__ADS_1


"Sayang, apakah kamu sesayang itu sama pacar kamu.?" Tanya ara sembari merangkul bahu reza.


"Apakah aku perlu menjawabnya ma? Kurasa semua ini jelas." Tegas reza.


Alvin pun menyela percakapan mereka. "Za, kamu harus move on. Om dan paman daylon sudah menyiapkan wanita untuk kamu pilih sebagai pengganti arini." Ujar alvin tersenyum.


"Om, aku baru saja kehilangan arini, aku belum siap membuka hati untuk wanita manapun." Jawab reza merundukkan kepalanya.


"Apa kamu yakin?." Ujar seorang wanita dari belakang reza.


Mendengar suara itu. Reza terbelalak. Ia pun langsung menoleh kebelakang.


Reza semakin kaget karna ada dua wanita yang cantik dengan tinggi yang sama juga wajah yang sama.


"Arini.??


Dan......Kalian.?"


Reza berjalan perlahan menghampiri mereka.


Reza menatap mereka saru per satu. Kemudian ia menemukan kekasihnya itu.


"ARINI.!!!." Reza langsung memeluk arini dengan haru dan air mata.


"Kau benar-benar arini? Tapi kenapa di pemakaman itu ada nama kamu? Kemana saja kamu selama ini? Aku hampir mati karna mencarimu.!" Reza memegang kedua pipi arini dan menatap matanya.


Arini hanya diam sambil tersenyum.


Reza pun melepaskan pelukannya.


"Reza, aku gak kemana mana, selama ini aku berada didekatmu sebagai jessie." Ujar arini tersenyum.


"Hah.? Tunggu. Kamu jessie kan?" Reza meneliti wajah jessie dan arini bergantian.


"Ya, aku jessie, rekan bisnis kamu. Senang bisa jumpa lagi." Sahut jessie tersenyum.


Reza makin bingung dan penasaran.


"Tolong jelasin. Kenapa kalian sangat mirip? Apa kalian kembar? Dan kenapa om alvin dan paman daylon kenal kalian. Tolong jelaskan padaku! Apa ini semua rencana kalian untuk menyiksaku?!" Tegas reza menatap mereka.


"Iya.. Ini semua kami merencanakannya." Timpal neo yang tiba-tiba muncul bersama lesty, danu dan bobi.


"Bos, jangan marah bos, aku dan danu gak tau apa-apa, kita aja kaget." Timpal boby dengan cepat.


"Tunggu. Neo? Kamu dan lesty turut andil dalam rencana ini.? Katakan ada apa ini.!! Jelaskan sekarang!!." Bentak reza emosi.


"Ini, semua rencanaku. Aku yang menyusun ini semua, jangan salahkan mereka, kalo mau marah, marah saja padaku." Sahut arini dari belakang reza.


Reza pun menghampiri arini. Kemudian ia memegang kedua bahu arini.


"Arini, ini semua rencana kamu? Dari awal aku sudah curiga saat aku melihat jessie, namun kecurigaanku luntur saat aku melakukan tes DNA yang ternyata kalian itu berbeda.


Sebegitu tega nya kamu padaku! Sampai kalian memalsukan kematian arini.!" Reza menahan tangis nya dengan perasaan yang campur aduk.


"Za, aku jessie, aku kakak nya arini. Umur kita hanya berjarak satu tahun. Dan wajah kita memang hampir sama, tapi sedikit berbeda. Dan kemaren, yang kecelakaan bersama kamu itu memang arini." Jelas jessie.


"Hah? Jadi...


Tolong! Kalian semua jelaskan yang benar! Dari awal sampe akhir!." Timpal reza yang masih kebingungan.


Alvin pun mendekati reza.


"Biar om yang menjelaskannya dari awal." Ujar alvin sambil merangkul reza.


"Aku akan mendengarkannya. Ayo semuanya, kita duduk, jangan ada yang memotong ucapan om alvin sebelum dia selesai bicara." Tegas reza.


Mereka semua pun berkumpul, dan turut menyaksikan.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2