
Malam itu semua rahasia diatas rahasia sudah dibuka. Dan semuanya sudah jelas. Bahwa jessie dan arini orang yang berbeda.
Reza kaget bukan kepalang, karna permainan ini melibatkan banyak orang, termasuk orang tuanya sendiri.
"Kalian.!! Ternyata selama ini aku dipermainkan!
Arini.! Apa kau begitu ingin menyiksaku? Kau begitu tega! Kamu membuatku cemas setiap hari. Memikirkan kamu sampai kepalaku sakit, dan bahkan aku hampir bunuh diri. Apa sekarang kamu puas! Kalian semua puas!." Bentak reza didepan mereka semua.
"Jujur saja, aku belum puas. Jika waktu itu kamu tidak ingin bunuh diri, maka aku masih akan terus menjalankan permainan ini. Tapi aku kasihan padamu, makanya aku hentikan saja." Timpal arini.
"Oh, belum puas! Sekarang silahkan lanjutkan!
Apa lagi yang kalian inginkan? Aku sudah menderita selama kehilangan arini. Apa kalian masih ingin menyiksaku?" Tegas reza.
"Apa kau pikir kamu sudah begitu menderita? Coba kamu ingat kembali, apa saja yang sudah aku lalui bersamamu. Apakah kamu sudah memberiku kebahagiaan? Apakah kamu menjadikan aku pacar karna kamu memang menyayangiku?. Jika kamu tidak terima ini semua, baiklah. Besok aku akan pergi ke korea bersama kak jessie. Dan aku tidak akan kembali sebelum aku menikahi cowok korea." Timpal arini dengan ekspresi datar.
Reza kaget. Ia pun berdiri dan memeluk arini.
"Sayang, maafin aku. Bukan itu yang kumaksudkan. Aku gak mau lagi kehilangan kamu, cukup satu kali saja. Sekarang aku janji akan menyayangimu sunghuh-sungguh. Jangan pergi lagi oke.!"
Mendengar tuturan reza, arini terkekeh dalam pelukannya.
"Ada apa ketawa hah? Kamu pikir ini lucu?." Ujar reza sambil mencubit hidung arini.
"Jelas lucu lah. Kamu percaya aja kalo aku mau pergi. Aku gak akan pergi, dan gak akan mungkin menikahi orang korea sana. Dan.. Aku gak mau jauh darimu." Arini tersenyum menatap reza.
Reza kembali memeluk arini yang selama ini ia rindukan. Mereka semua pun bersorak turut bahagia melihat pasangan yang penuh drama itu.
"Tunggu dulu. Waktu itu aku sudah melakukan tes DNA pada rambut arini dan jessie, tapi kenapa hasilnya berbeda, sedangkan kalian bersaudara kandung." Ujar reza bingung.
"Hmm .. Itu..
Lesty, tolong jelaskan." Ujar arini pada lesty.
"Maaf za, waktu itu aku menukar rambut arini dengan rambutku. Karna aku tau kamu pasti akan melakukan tes DNA." Jelas lesty.
"Seniat itu kalian merencanakan ini semua? Astaga, aku gak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan papa, mama, om alvin dan paman daylon pun mengikuti rencana kamu?
Baiklah, aku mengaku kalah. Sekarang lupakanlah itu semua. Kita mulai lagi dari awal."
Arini meraih tangan reza. "Za, apa kau tau? Waktu itu papa ingin menjodohkan aku sama kamu. Walaupun dia hanya menggertakku saja, tapi sekarang aku bersukur karna kita benar-benar bersatu, dan kuharap kita berjodoh." Ujar arini tersenyum.
"Benarkah? Itu berarti kita berjodoh aron! Ayo kita nikah."
"Hei.. Apa-apaan ini.!" Arini masih harus melanjutkan S² nya." Timpal alvin tegas.
__ADS_1
"Hah? S². Emang nya kamu sudah wisuda S¹ ? Kapan? " Tanya reza heran.
"Sudah dong, bareng lesty sebulan yang lalu. Lesty sengaja gak bilang sama kamu, karna wisuda nya kan pas weekend. Jadi gak harus ambil cuti kerja." Sahut arini.
"Kalo gitu, kita kuliah barengan aja ya sayang. Aku juga mau lanjut S²."
"Ya sudah, kalian lanjutkan saja dulu S² nya sambil bekerja, setelah wisuda. Kalian boleh menikah." Timpal rey pada anaknya itu.
"Pa, apakah kita boleh bertunangan dulu." Tanya reza.
Rey menoleh pada alvin. Alvin pun mengangguk.
"Baiklah, minggu depan kalian bertunangan sebelum kalian masuk kuliah." Timpal rey.
"Serius? Makasih pa." Reza memeluk papa dan mamanya.
Arini mendekati keluarganya. "Makasih kak jessie, papa, mama, dan kalian semua yang turut andil dalam membantuku selama ini. Maaf merepotkan kalian semua."
"Kami melakukan ini demi kamu arini..Tidak perlu berterimakasih. Selamat ya. Rencana kamu berhasil." Timpal neo tersenyum lega.
"Sekali lagi terimakasih semuanya. Aku sangat menyayangii kalian." Arini merangkul temannya satu persatu, hingga tibalah pada giliran danu.
Saat arini mendekap danu. Danu pun mengusap kepala arini. "Sekarang aku benar-benar lega. Dan aku benar-benar ikhlas jika kamu bahagia bersama reza. Teruslah tersenyum, bahagialah selalu." Bisik danu didekat telinga arini.
Arini pun menangis, betapa ia mengerti bagaimana rasanya mencintai orang lain yang tidak mencintai kita.
Ia mendekap danu cukup lama.
"Danu, aku tau kamu mencintaiku. Tapi terimakasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku. Kuharap suatu saat kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." Ujar arini diiringi air mata.
"Terimakasih rin." Sahutnya tersenyum.
"Sudah, jangan kelamaan. Kenapa pada baperan." Timpal neo sambil menarik tangan danu.
"Apaan sih neo. Emm.. Aku juga sangat berterimakasih padamu. Kamu dan lesty lah yang banyak membantuku dari awal. Sekali lagi terimakasih."
"Udah, santai aja mah kita. Ya kan ti?."
"Iya, neo benar. Kita hanya bisa membantu sebisa kita." Timpal lesty.
Mereka semua pun saling rangkul dengan kebahgiaan.
_
Satu minggu kemudian.
__ADS_1
Di kota B. Acara pertunangan reza dan arini dilangsungkan dirumah reza. Acara itu begitu meriah karna banyak sekali tamu undangan yang hadir.
Hari itu menjadi hari kebahagiaan untuk reza dan arini.
Ara mendekap arini. "Sayang, selamat ya. Semoga kamu dan reza bahagia selalu."
"Makasih banyak tante."
"Oh iya, jika kamu mau jadi model. Datang saja keperusahaan om rey. Ratu juga jadi model disana. Apa kau mau menggantikan tante?." Ujar ara memberi tawaran untuk arini.
Reza langsung menyela percakapan mereka. "Gak bisa ma. Arini adalah sekretarisku dikantor. Dia juga designer andalan kantor. Gak usah jadi model. Kan sudah ada ratu."
"Ya udah. Gak masalah. Mama kan cuma nawarin doang." Timpal ara.
Arini hanya tersenyum melihat tingkah reza dan mamanya itu.
_
Sejak bertunangan dengan reza. Arini kembali lagi tinggal dirumah yang dibelikan reza dulu. Namun reza merenovasinya kembali hingga menjadi lebih mewah.
Tak lupa, lesty juga ikut tinggal disana atas permintaan reza.
Reza, mengajak semua temannya untuk kembali melanjutkan kuliah ditempat yang sama.
Reza juga menyuruh neo mengajak yuki kuliah, karna yuki sama sekali belum pernah merasakan belajar di universitas.
Malam hari. Saat dirumah yuki. Neo membicarakan masalah kuliah pada yuki didepan kedua orang tuanya.
"Neo, apa kau serius mengajakku kuliah? Aku sangat senang, itu yang aku inginkan dari dulu. Tapi..
Aku sedang hamil muda. Apa aku bisa? Aku juga sambil kerja. Aku takut aku gak akan kuat." Ujar yuki tertunduk.
"Sayang, aku gak maksa kok. Kalau kamu memang pengen kuliah, kamu ambil weekend. Kita semua kayak gitu kok, karna kita sambil kerja. Atau, kamu berhenti saja bekerja."
"Tidak.. tidak, jika aku berhenti bekerja hanya untuk kuliah, terus biaya kuliahnya gimana? Biaya rumah tangga kita gimana? Aku akan tetap bekerja, dan aku juga akan kuliah bersamamu."
"Yuki, neo. Jika keinginan kalian seperti itu, maka ayah dan bunda hanya bisa membantu mengasuh yunie. Kalian lakukanlah apapun selagi kalian masih bisa. Kami hanya bisa mendukung dan berdoa yang terbaik untuk kalian." Sahut ayah yuki.
"Ayah, bunda. Terimakasih banyak selama ini sudah mendukung apapun keputusan yuki." Pungkas yuki sambil menggenggam tangan ayah dan bundanya itu dengan senyuman manis menatap mata mereka.
Yuki pun memutuskan untuk kuliah bersama neo dan temannya yang lain.
•••
BERSAMBUNG
__ADS_1