
Setelah merasa baikan, arini pun meminta pulang ke apartement.
Sedangkan neo dan danu sedang dalam perjalanan menuju london.
Malam hari, arini ditemani selena dalam apartemennya, sementara harry masih mandi sehabis pulang kerja.
"Sel, kamu belum kasih tau harry ya mengenai kehamilan kamu?." Tanya arini sembari berbaring di sofa.
"Rin, aku gak tau gimana cara ngasih taunya. aku takut dia gak terima." Jawab selena merunduk
"Sel, kurasa itu bukan jawaban..kau lebih tau harry dari pada aku. tapi kurasa dia menyukai seorang anak. ya kan? jadi apa alasan kamu?."
Selena tertunduk dengan petanyaan arini yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
"Rin, sebenarnya aku belum ingin menikah, orang tuaku juga belum mengizinkan. Dan 4yang lebih penting, aku tidak mau mengurusi bayi." Jelas selena tertunduk.
"Astaga sel, kamu sudah hamil loh. mau kamu apain anak itu, dan mau sampai kapan kau sembunyikan dari harry dan orang tuamu?"
"Aku......" Selena tertunduk diam dan benar-benar bingung.
Kemudian harry masuk tanpa mengetuk pintu. Arini dan selena seketika hening.
"Sayang, kamu mandi dulu sana, biar aku yang jagain arini." Ujar harry sembari mengusap kepala selena.
"Mandi aja disini sel. gak apa-apa kok." Timpal arini.
"Emm. Lebih baik aku mandi disebelah. Oke aku tinggal ya, sayang tolong jagain arini ya." Selena pun berlanjut meninggalkan arini dan harry.
Harry menggeserkan kursi dan mendekati arini yang tengah berbaring di sofa itu.
"Gimana kedaan kamu rin?"
"Udah mendingan, aku hanya sering sakit kepala aja." Suara gemuruh terdengar dari perut arini.
"Kamu belum makan?" Tanya harry cemas.
"Ah iya. aku lupa. Tapi kayaknya aku lupa beli makanan."
Harry berjalan menuju dapur arini. namun ia tidak menemukan adanya makanan. Ia pun bergegas menuju apartemennya dan mengambil persediaan makanan didalam kulkas miliknya, lalu memberikannya pada arini.
Harry tak segan menyuapi arini walaupun arini menolak. karna ia tau, bahwa tangan arini sakit dan susah di gerakkan karna terluka.
Malam ini, harry dan selena kembali menemani arini. Karna keadaan arini masih belum pulih total.
_
Esok subuh, neo dan danu tiba di london. Mereka langsung mencari alamat apartemen arini yang sudah diberikan reza.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba.
"Rin. apa kau sudah bangun?" Panggil neo dari luar.
Harry segera membukakan pintu, ia berjalan perlahan, karna arini dan selena masih tidur pulas.
__ADS_1
Namun neo dan danu kaget dengan keberadaan harry dalam apartemen arini.
"Hei. kau tidur satu ruangan dengan arini.?" Tegas danu emosi tanpa bertanya terlebih dahulu.
"Santai dan! masuk aja dulu. Aku dan selena tidur disini menemani arini, jangan salah faham."
Danu dan neo mengiringi harry masuk. Danu lega ketika melihat arini tidur pulas disamping selena.
Esok hari nya.
Harry, neo dan danu menghadiri rapat penting di perusahaan harry untuk mengembangkan dan mengenalkan perusahaan reza. walau mereka sudah bekerja sama namun masih di tahap awal.
Setelah meeting selesai. sore harinya neo dan danu kembali pulang ke indonesia, karna masalah yang terjadi di kantor pusat belum juga selesai.
Namun arini harus menunda kepulangannya, karna kondisinya tidak memungkinkan untuk ikut pulang bersama neo dan danu. Ia pun sudah memberitahu reza soal itu.
Ujung minggu, atau akhir pekan, selena juga harus pulang kerumahnya karna orang tuanya sudah kembali dari jepang. Tak lupa harry mengantarnya sampai depan rumah.
Sepanjang perjalanan pulang, selena hanya diam tanpa banyak bicara, membuat harry bingung dengan sikapnya itu.
Saat di depan rumah, selena meminta harry cepat pergi dari rumahnya.
"Har, kamu pulang saja langsung."
"Bukankah biasanya kita bercinta dulu sebelum berpisah?" Goda harry dengan senyuman canda nya.
"Kau bicara apa? orang tuaku sebentar lagi tiba. Pulanglah sana. Dan satu lagi. jangan temui aku dulu. Nanti kalau arini sudah sembuh, kalian langsung pergi saja ke indonesia. gak perlu berpamitan padaku."
Selena beralih begitu saja dari hadapan harry. Namun harry menarik tangannya.
"Gak ada. hanya saja aku ingin sendiri dulu. tolong pulanglah. aku baik-baik saja kok." Selena melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam rumahnya.
"Astaga, ada apa dengannya? apa yang membuatnya berubah seperti ini.?" Pikir harry sembari melajukan mobilnya.
Malam hari.
Merasa bertanggung jawab atas kesehatan arini, harry pun berusaha merawat arini dengan totalitas.
Ia bergegas menuju apartemen arini disebelahnya. Saat ia membuka pintu, ia mendapati arini yang sedang makan, namun sisa makanan itu sangat berserakan didekat piring arini. Arini makan menggunakan tangan kiri. karna tangan kanannya masih sakit.
"Astaga rin. sini kubantu." Harry buru-buru mendekati arini dan membersihkan bekas makan arini.
"Har, biar aku saja. gak enak dengan tetangga sekitar, karna disini hanya kita berdua saja. Lebih baik kamu pulang." Ujar arini menolak bantuan harry.
"Hei, ini london, bukan indonesia. Mana ada yang peduli dengan hal macam ini. sudahlah, abaikan saja. ini demi kebaikan kamu."
"Hm.. kau memang keras kepala. Baiklah." Sahut arini tersenyum.
"Oh iya rin, aku mau tanya. Kira-kira kamu tau gak dengan masalah selena? soalnya tadi sore sikapnya padaku berubah dingin. dia banyak diam dan tidak ingin aku menemuinya dulu."
"Pasti selena belum mengatakannya pada harry tentang kehamilannya. aku ingin memberitahunya, tapi selena melarangku."
"Rin, kenapa diam saja?"
__ADS_1
"Eh, gak apa-apa.
Aku mau telpon reza dulu ya, kamu boleh pulang kok."
"Baiklah."
Arini menyalakan tv nya, kemudian berbaring sambil telponan dengan reza. namun ia tidak menyadari bahwa harry belum pulang. ia masih duduk di sofa sembari bermain ponsel untuk menjaga arini.
Tidak lama kemudian, arini tertidur dengan ponsel yang masih menyala di genggamannya.
"Dia ini, sama kayak selena, tidur sembarangan." Harry menyingkirkan ponsel arini. kemudian ia menggendongnya dan mengantarnya kekamar. tak lupa ia menyelimuti arini dan menyalahkan penghangan ruangan.
"Astaga, kenapa jantungku berdenyut menatap wajahnya. dia lebih cantik dari dekat seperti ini. Mikir apa aku ini, ya ampun."
Harry keluar dari kamar arini dan menutup pintunya. sedangkan ia berjaga di luar dan tidur di sofa.
Dua hari kemudian.
Harry dan arini kembali ke indonesia, namun mereka tidak berpamitan dengan selena karna selena enggan ditemui. Tapi arini mengirimkan pesan singkat untuk selena.
Setiba dikota B, Arini disambut hangat oleh reza yang sudah merindukannya.
"Sayang,.kamu sudah sehat? apa yang sudah terjadi, aku sangat merindukanmu." Reza mendekap arini sembari mengusap rambutnya.
"Aku gak apa-apa kok, kemaren hanya demam biasa." Sahut arini tersenyum.
Lucas berjalan mendekati harry.
"Hei heli kopter. Lo gak ngapa-ngapain arini kan?. Lo gak ngambil kesempatan dalam kelebaran kan?" Lucas menatap tajam mata harry.
Bobby juga turut mengikuti. "Kas, kayaknya kesempatan dalam kesempitan deh, bukan kelebaran."
"Iya itu maksudnya babu.
Ayo ngaku lu heli kopter!."
"Apaan sih kalian kulkas, babu. Gue yang jagain arini dengan baik. liat noh dia sembuh sekarang." Timpal harry bangga.
"Benar, harry sangat baik. dia dan selena yang menjagaku. Aku sangat berterima kasih pada mereka." Sahut arini yang masih dalam pangkuan reza.
Lucas dan bobby merasa lega dengan penjelasan arini. Mereka pun saling rangkul.
Persahabatan itu nampak bahagia dan hangat.
Sementara harry hanya tersenyum melihat mereka bahagia..Sedangkan perasaan hatinya tidak karuan karna sikap selena yang berubah terhadapnya.
Namun ia memendamnya sendiri di balik senyumannya.
•••
BERSAMBUNG.
Like, komen, vote.
__ADS_1
makasih.🙏