Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:69


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Setelah semua masalah selesai, Reza, arini dan harry melanjutkan rencana mereka yang tertunda.


Hari ini mereka berangkat ke london untuk melanjutkan kerja sama perusahaan reza dan harry.


Saat dalam pesawat, Arini tertidur pulas dalam rangkulan reza, namun ia merasa sedikit kedinginan.


Karna keduanya terlalu sibuk, dan juga pergi dalam keadaan terburu-buru, mereka pun tidak sempat untuk membeli pakaian tebal.


Namun reza menutupi tubuh arini dengan jas yang ia kenakan.


"Sayang, apa masih dingin?. Kita hampir memasuki kawasan inggris, dan disini cuacanya lebih dingin." Ujar reza sembari menggosok bahu arini.


"Iya, ini agak dingin dari yang tadi, kepalaku jadi pusing." Rengek arini.


Tak tinggal diam, harry langsung melepaskan jaket tebalnya dan memberikannya lada reza.


"Za, ini. kalian pakai saja berdua, jadiin selimut." Harry menyodorkannya pada reza.


"Loh, gak usah har, ntar kamu kedinginan." Jawab arini menolaknya.


"Udah jangan banyak omong, pakai saja oleh kalian berdua, lagian aku sudah biasa dengan cuaca dingin."


"Baiklah. makasih har." Timpal reza tersenyum.


Arini merasa hangat setelah mengenakan jaket tebal itu.


_


Setibanya di london, selena sudah menunggu mereka di ariport.


Saat ia melihat harry, ia langsung berlari dan memeluk kekasihnya itu.


"Honey,, kamu lama banget menyusul, aku sangat merindukan kamu." Ujar selena dalam pelukan harry.


"Iya sayang, aku juga merindukan kamu, maafin aku ya lama pulangnya, soalnya kemaren arini sempat sakit." Timpal harry membalas pelukan selena.


"Hah? benarkah? tapi sekarang kamu sudah sembuh kan rin.?" tanya selena dengan cemas.


"Aku udah baikan kok sel. makasih perhatiannya." Sahut arini dengan senyuman.


"Ya udah, ayo kita pergi. aku akan mengenalkan london dengan arini." Ujar reza sembari menggandeng tangan arini.


Merekapun pergi dari bandara menuju apartemen harry. Reza dan arini diberi penginapan gratis di apartemen milik harry itu.


Malam hari, reza dan harry mengajak tunangan mereka itu pergi keluar menikmati suasana londong yang romantis.


Arini nampak bahagia berada disamping reza, menghabiskan waktu berdua dengannya.

__ADS_1


Walaupun reza dan arini tinggal pada satu kamar apartemen, namun mereka berdua tidak terbawa suasana seperti yang sering dilakukan harry dan selena selama ini.


_


Esok harinya.


Meeting di kantor pusat perusahaan harry pun di gelar. Arini tampil begitu cantik setelah jadi warga london sementara.


"Sayang, hari ini kamu bukan seperti orang asia. Kamu sangat cantik." Puji reza pada calon istrinya itu.


"Masa sih?, biasa aja kali. oh iya, ntar yang presentasi, aku atau kamu?"


"Biar aku saja. Mungkin kamu belum berpengalaman ngomong didepan orang asing." Timpal reza tersenyum.


"Kamu sangat pengertian. terimakasih ya sayang."


Ketika meeting dimulai, saat reza mengenalkan diri dan perusahaannya pada pengusaha london, tak sedikit yang terpaku akan ketampanan dan kecerdasannya dalam menjelaskan presentasi. Ia juga mendapat banyak pujian atas masukan yang ia berikan.


Satu minggu di london menjalankan pekerjaan untuk memulai bisnis kerja sama dengan harry, akhirnya perusahaan "DIAMOND" milik reza berhasil bekerja sama dengan perusahaan harry dan juga beberapa perusahaan lainnya.


Malam hari, reza dan harry beserta pasangan mereka makan malam bersama untuk merayakan keberhasilan kerja sama mereka.


Chesee...!!


"Reza selamat ya. Kamu hebat banget, baru stau minggu kita kerja sama, tapi perhiasan dari perusahaan kamu berhasil terjual di pasaran." Ujar harry girang dan bangga terhadap sahabatnya itu.


"Em.. mohon maaf semuanya. aku ke toilet dulu sebentar." Ujar selena sambil berdiri dan pergi ke toilet.


"Aku menyusul selena dulu ya, kalian ngobrol lah." Tambah arini.


"Sayang, hati-hati ya." Sahut reza sambil mengusap kepala arini.


Arini pun menyusul selena. Namun saat didepan toilet, arini mendengar suara selena sedang muntah.


"Apakah selena sakit?" Gumam arini. Namun ia hanya menunggunya diluar sembari bercermin.


Saat selena keluar, ia kaget melihat arini yang sudah ada didepan pintu toilet.


"Rin.? mau ke toilet juga?."


"Em,, iya nih, tapi aku cuma mau cuci tangan aja sambil nunggu kamu. Ayo kita ke depan lagi."


"Baiklah." Saat selena hendak melangkah, tiba-tiba kepalanya pusing, pandangannya pun tak terlihat jelas. Ia hendak terjatuh namun arini menahan tubuhnya.


"Sel, kamu gak apa-apa? apa kamu sakit?." Tanya arini cemas.


"Gak tau rin, tiba-tiba semuanya jadi gelap." Selena menahan tubuhnya supaya tetap berdiri sambil memegang kepalanya yang terasa berputar.


"Aku panggilin harry aja ya, biar kalian bisa kerumah sakit." Ujar arini cemas.

__ADS_1


"Eh. gak usah rin, mereka lagi makan, jangan di ganggu. ahh kepalaku."


"Sel, jika kamu terus menahan sakit, bisa-bisa kamu pingsan disini. Gini aja, kita ke dokter ya."


"Baiklah. makasih rin."


Arini menopang tubuh selena untuk pergi ke dokter tetdekat.


Setibanya disana, selena langsung berbaring dan diperiksa oleh dokter wanita paruh baya.


"Sel, aku telpon reza dulu ya. Nanti mereka nungguin kita."


"Jangan rin, biar aku kirim pesan pada harry, aku gak mau dia cemas." Timpal selena.


Lalu selena mengirimkan pesan pada harry dengan mengatakan bahwa ia dan arini langsung pergi shooping. Harry dan reza pun tak mempermasalahkan hal itu. kemudian mereka langsung kembali ke apartement.


Beberapa saat setelah selena diperiksa, dokter pun memanggil arini secara pribadi untuk mengikuti keruangannya.


"Maaf dok, ada apa anda membawa saya kemari.?" Tanya arini heran.


"Nona, apakah nona selena masih remaja seperti anda.?" Tanya sang dokter.


"Iya dok, umur kita hampir sama? kalau boleh tau, ada apa ya dok?"


Dokter membuka laci meja nya dan mengambil sebuah amplop dan menyodorkannya pada arini.


"Apa ini dok?"


"Kamu buka saja, jangan kaget setelah kamu mengetahui isi nya. Dan lakukanlah yang terbaik." Jelas si dokter.


Arini makin bingung dan penasaran dengan ucapan dokter wanita itu. Ia pun segera membuka amplop putih tersebut.


Setelah membaca isinya, arini kaget bukan kepalang sampai kertas yang ia pegang itu terjatuh. Tatapannya kosong dan pikirannya tidak tau kemana.


"Dok, ini... benar?." Tanya arini ragu.


"Benar nona. Jadi, apa yang akan anda lakukan sekarang? apakah anda akan memberitahukannya pada nona selena?"


"Gimana caranya dok? aku aja bingung, aku takut dia tidak menerima ini, dan dia malah....


tapi aku gak mau menduga-duga, walau gimanapun, aku harus memberitahukannya perlahan." Ujar arini tertunduk bingung.


"Nona, ini semua kuserahkan pada anda, gimana cara anda menyikapi ini terserah anda. karna dia adalah teman anda. Dan ini adalah obat beserta vitamin untuk nona selena, jika dia sudah merasa baikan, dia sudah bisa pulang."


Setelah menerima obat, arini langsung pergi keluar, tak lupa ia membawa kertas hasil tes itu.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2