Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:27


__ADS_3

Esok pagi nya. Lesty bangun lebih dulu, ia masak dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Pikiran lesty masih mengambang karna masih cemas jika arini benar-benar pergi.


"Ti, ngapain? Tumben masak?." Ujar arini yang muncul dari belakang lesty.


"Gue nyiapin sarapan, siapa tau ini yang terakhir kalinya gue masakin buat lo."


"Hm.. Lo bener." Sahut arini tertunduk.


Lesty menghela nafas, menguatkan dirinya sendiri, mencoba untuk tidak menangis. "Hei..sedih apaan sih? Ayo kita makan, sudah lah, jangan tunjukin wajah sedih lo itu." Lesty merangkul arini dan mengajaknya makan.


Setelah mandi, mereka berdua pergi kekampus.


Disisi lain. Dirumah yuki yang mulai ada kehangatan. Mereka tengah sarapan pagi bersama.


"Ayah punya mobil?." Ujar yunie terbata-bata.


"Bukan sayang, itu mobil kantor ayah, kita cuma dipinjemin." Jelas neo tersenyum pada anaknya itu.


"Memangnya boleh dibawa pulang ya?." Sahut yuki.


"Iya, kemarin bos bilang, mulai hari ini mobil itu aku yang pegang, karna aku adalah manager bos. Supaya bisa lebih mudah untuk pergi bersama bos. Karna bos gak mau pake supir, jadinya aku yang dijadikan supir, tapi aku juga diberi gaji tambahan." Jelas neo.


"Wah,, sukurlah, itu rezeki kamu nak." Pungkas ayah yuki.


"Iya yah, sukurlah, ini rezeki yunie. Oh iya sayang, nanti kuantar kamu kekantor kamu ya, mulai hari ini, aku akan mengantar jemput kamu pulang." Ujar neo tersenyum pada yuki.


"Dia sudah mulai berani memanggilku sayang didepan ayah dan bunda."


"Hm.. Baiklah". Sahut yuki membalas senyuman neo.


Setelah sarapan, neo dan yuki berpamitan pada anak dan orang tua mereka untuk pergi bekerja.


Neo mengantar yuki kekantor perusahaan reza.


Setibanya didepan kantor, neo membukakan pintu mobil untuk yuki.


"Masuklah, kerja yang bener. Jangan membuat reza marah." Ujar neo.


"Apa kamu gak cemburu kalau aku berada didakat reza terus?". Tanya yuki.


"Aku tau kamu, aku juga tau reza. Aku percaya pada kalian berdua. Ya sudah masuklah, aku pergi dulu ya sayang." Neo mengusap kepala yuki kemudian ia kembali masuk mobil dan pergi menuju kantornya.


Saat yuki masuk kantor, ia mendengar bisik-bisik dari karyawan.


"Eh, itu pacar nya yuki, atau suaminya ya?".


"Gak tau juga, memangnya apa urursan kita."


Yuki pun menghampiri mereka yang tengah berbisik itu. "Maaf nona-nona. Biar saya jelaskan, itu tadi suamiku. Namanya neo." Jelas yuki tersenyum. "Ya sudah, saya permisi ya." Sambung nya sembari beralih.


Yuki menuju meja kerjanya yang terletak berdekatan dengan meja arini. "Eh, arini mana? Oh iya, dia dan lesty kuliah. Enak banget mereka, kuliah sambil kerja. Besok giliran genta dan evi yang ngampus." Gumam yuki sembari merapikan mejanya.


"Yuki. Kamu sudah datang? Pergi sama siapa?" Ujar reza yang melintas didepan mejanya.


"Iya. Aku baru saja tiba, aku diantar neo. Kamu baru sampai?". Sahut yuki.


"Iya. Ya sudah aku keruanganku dulu ya." Reza beralih pergi keruangannya.


_


Sementara itu, arini dan lesty sedang mengikuti kelas. keduanya tidak ada yang fokus, hanya melongo dan melamun sampai kelas itu berakhir.


Mereka pun keluar bersama saat usai mengikuti kelas. "Rin, kita gak ada kelas lagi kan? Kita balik kekantor yuk, gue masih banyak kerjaan." Ujar lesty.


"Lo duluan aja ti. Gue mau urus surat pindah, ntar gue nyusul kalo udah selesai." Sahut arini.


"Oh, ya udah, gue balik dulu ya. Ntar telpon gue kalo udah sampe kantor." Lesty pergi meninggalkan arini yang masih berdiri dikoridor depan kelasnya.


Saat lesty pergi, arini pun langsung mengurus surat perpindahan kampus nya.


Satu jam kemudian, ia berhasil mendapatkan surat persetujuan dan surat pindah dari pihak kampusnya.


Arini berjalan perlahan keluar kampus, ia menatap sekeliling kampus yang sudah tiga tahun lebih ia belajar disana.


"Mungkin hari ini adalah yang terakhir kalinya aku melihat kampus ini, terakhir kalinya melihat teman-teman, terakhir kalinya melihat neo dan reza. Selamat tinggal semuanya."


Arini bergumam dalam hati, tak terasa air matanya mengalir, ia harus meninggalkan semua kenangan yang indah ini.

__ADS_1


Saat arini menelusuri bibir jalan, tiba- tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat disebelahnya.


Pengemudi itu membukakan kaca mobilnya. "Rin, ayo masuk!".


Suara itu tidak asing bagi arini, ia pun menoleh. "Neo? Kok lo ada disini? Ngapain? Dan,, mobil siapa ini?". Ujar arini heran.


"Sudah, jangan banyak tanya. Ayo masuk dulu."


Arini terpaksa masuk. Neo melajukan mobilnya setelah arini duduk disebelahnya.


Sepanjang perjalanan, arini dan neo hanya diam tanpa sepatah katapun.


Neo mengajak arini ke taman bunga dipinggiran kota. Taman itu begitu indah dan sejuk, bunga-bunga bermekaran terhampar disetiap sudut.


Neo mengajak arini duduk dibangku taman sambil memberinya es krim kesukaan arini.


"Rin, gue kesini karna diberitahu lesty bahwa lo akan pulang kekota kita." Ujar neo menatap arini yang tengah makan es krim.


"Hm.. Pantesan neo kesini, dasar lesty lambe turah!."


"Lo gak perlu hibur gue. Dan gak usah bujuk gue, karna gue akan tetap pulang." Ketus arini.


"Gue gak bermaksud ngelarang lo, gue ajak lo kesini supaya lo bisa tenang dan rileks. Tapi apakah lo sudah pikirin mateng-mateng kalo lo bakal terima perjodohan itu? Menurut gue, lo lebih cocok dengan reza, masa depan lo bisa terjamin kalo hidup sama dia." Tutur neo.


"Neo, kalau soal kekayaan, orang tua gue gak kehabisan harta. Lo tau sendiri kan gimana hidup gue disana. Tapi gue gak butuh itu, yang gue butuhkan cuma cinta kasih yang tulus. Itu aja."


Neo meraih tangan arini, dan menggenggamnya. "Rin, gue cuma mau jelasin, bahwa hidup dengan orang yang tidak ada rasa cinta itu bakal tersiksa, contohnya gue, walaupun gue cinta mati sama yuki, tapi dulu gue sangat tersiksa karna dia bener-bener gak peduliin gue."


Arini langsung menarik tangannya. "Terus. Lo pikir kalo gue hidup bersama reza gue bakal bahagia hah? Gak usah comblangin gue sama reza. Gue gak butuh jika semuanya hanya keterpaksaan. Gue tau, dihati reza masih ada yuki, walaupun dia bilang hanya menganggap yuki sebagai adik." Arini terhanyut dalam emosi dan air mata.


Seketika neo diam. Ia juga bingung harus ngomong apa lagi, karna semua yang dikatakan arini itu benar.


"Rin, maafin gue udah ninggalin lo. Tapi gue janji akan melindungi lo, gue sayang sama lo sebagai adik atau sahabat. Jika lo menikah dengan terpaksa, pasti lo akan menderita. Dan gue gak mau itu terjadi. Cukup gue yang jadi korban perasaan karna telah merusak hubungan orang." Jelas neo tertunduk.


"Gue seneng lo sudah melewati masa sulit lo neo. Dan sekarang lo sudah menikmati kebahagiaan. Sementara gue? Gak tau harus kemana? Jalan apa yang bakal gue pilih? Disini salah, disana juga salah. Gue bingung neo! Kalo aja gue gak menyusul lo kesini, mungkin gue gak bertemu dengan reza. Dan mungkin gue gak akan suka sama dia. Tapi...ah! Sudahlah. Males gue. Mending lo pergi, gue mau kekantor, gue mau mengundurkan diri."


Arini pergi begitu saja meninggalkan neo. Lalu ia langsung naik taxi.


"Heii rin.! Gue belom selesai ngomong! Elah.. Tuh orang kebiasaan banget bikin orang emosi.


_


Setibanya dikantor, arini langsung keruangan reza.


Saat itu reza tengah meeting online menggunakan vidio call dari komputernya.


"Za. ..."


"Stttt..." Bisik reza menaruh telunjuk dimulutnya.


"Oh, lagi meeting ya?". Arini menunggu reza selesai meeting, ia duduk disofa pojok ruangan sambil menatap keluar dari kaca jendela.


Sesekali reza melirik arini yang nampak sedih yang selama ini belum pernah ia lihat.


Belum usai meeting itu, namun reza menghentikannya. Ia pun mematikan komputernya dan menghampiri arini.


"Udah selesai ngampus nya?". Ujar reza sembari mengenakan jaz nya.


"Udah. Za, ada yang mau gue omongin."


"Udah nanti aja. Sekarang lo ikut gue. Ayo cepat." Reza keluar dari ruangannya.


"Tapi za.. Ini penting, kita harus bicara sekarang!"


"Nanti aja! Ayoo pergi." Reza menarik tangan arini dan membawanya keluar dari ruangannya. Arini terpaksa mengikuti langkah reza.


"Yuki. Bawa laptop arini. Kita pergi sekarang." Ujar nya saat melintas didepan meja yuki.


"Hah? Memangnya mau kemana? Kok buru-buru gini?."Gumam yuki sambil berkemas.


Kemudian mereka bertiga keluar kantor. Danu sudah menunggu dimobil mereka sebagai supir pribadi reza. Ia kaget saat melihat reza menggandeng tangan arini. Namun danu hanya diam dan lebih menyimpan perasaan itu dari pada mengungkapkannya.


"Bos, mau kemana kita?". Ujar danu.


"Kelahan kosong kemarin." Jawab reza singkat.


Mereka berempat pun pergi. Arini dan yuki saling tatap dan saling bisik karna bingung mereka mau diajak kemana.

__ADS_1


Tibalah mereka ditempat tujuan. Danu menepikan mobilnya.


"Danu, yuki. Kalian tunggu disini sebentar. Gue sama arini ada urusan."


"Baik bos." Jawab danu dan yuki.


Reza kembali menarik tangan arini untuk mengikuti langkahnya. Arini hanya diam melihat tempat yang luas itu.


Setelah mereka jauh, danu dan yuki keluar dari mobil dan duduk di kap depan mobil untuk menyaksikan mereka.


"Danu, menurutmu, apakah arini dan kak reza cocok? Mereka pasangan serasi bukan?." Tutur yuki.


"Iya. Mereka memang cocok. Tapi apakah lo gak cemburu kalo bos reza bersama arini.? Bukankah lo masih cinta sama bos.?" Timpal danu.


"Cinta itu memang masih, tapi perlahan menghilang, karna rasa cintaku sama neo sudah mulai tumbuh setelah aku belajar ikhlas.


Danu, aku tau kamu suka pada arini kan? Itu terlihat jelas dari matamu. Kurasa kamu juga harus ikhlas, karna ikhlas itu indah." Ucap yuki tersenyum.


"Gue akan mencoba nya ki. Tapi gue baru saja mencintai arini, bahkan dia aja gak tau kalo gue suka sama dia. Tapi lebih baik gue simpan aja sendiri. Jika dia bahagia bersama bos reza, gue juga ikut bahagia". Pungkas danu tertunduk pasrah.


"Nah, itu namanya lelaki sejati, lebih baik kita melepaskan dari pada berjuang tapi akan menghancurkan persahabatan. Ya kan?"


"Lo benar ki. Gue tetap sayang sama arini sebagai sahabat. Gue akan menjaganya." Timpal danu tersenyum lega.


_


Reza melepaskan arini ketika mereka berada ditengah lahan yang luas itu.


"Za, tempat apa ini? Untuk apa lahan kosong ini? Apa kau akan membangun perusahaan lagi?." Ujar arini heran.


"Lahan ini akan gue bangun rumah untuk masa depan gue." Sahut reza melirik sekeliling tempat itu.


"Hm.. Beruntung sekali orang yang akan jadi istri lo nanti. Pasti hidupnya bahagia." Timpal arini dengan wajah datar.


Reza menatap arini dari sebelahnya. "Siapa tau masa depan gue adalah elo?". Sahut reza tersenyum.


Arini kaget dan terbelalak. "Za, kalo becanda jangan kebangetan! Jangan suka bikin orang halu!. Gue tabok ntar!". Ketus arini.


"Haha..gue serius kok. Yaa gimana ya. Karna gue suka tipe cewek kayak lo. Yang suka asal ngomong, urakan, tapi cantik." Ujar reza tersenyum menghadap arini.


"Nih orang, mulai kumat ya! Udah dibilangin jangan suka bikin gue menghalu!..gue robohin nih tanah!."


"Emang tanah udah dibawah pe'ak! Elaah.. Gue lempar keatas ntar tuh langit." Sahut reza.


"Emang langit udah diatas o'on!..gue sentil ntar idung lo!." Timpal arini terkekeh.


Reza tersenyum melihat arini kembali tertawa.


"Baiklah. Hari kita menggunakan mode gila. Gimana kalo kita ngitungin pasir." Ujar reza terbahak.


"Ogah! Mending gue bikin kolam renang pakek sendok. Haha".


Reza ikut terbahak. Ia merangkul bahu arini. "Tau gak, gue lebih suka liat elo ketawa gini dari pada cemberut." Lalu reza memeluk arini dengan hangat. "Mafin gue ya." Bisik reza.


Saat reza melirik danu dan yuki, mereka berdua tersenyum senang dan memberikan dua jempol untuk reza.


"Ternyata yuki gak cemburu? Sukurlah, itu berarti dia sudah lupain gue dan menerima neo. Gue lega sekarang."


Arini masih bingung dengan ucapan dan sikap reza."Maaf,,? Maaf untuk apa za?".


Reza masih memeluk arini. "Maaf untuk semuanya. Kita jalani semuanya dari awal lagi. Jangan pernah berpikir untuk pergi, karna aku butuh kamu".


Arini kaget ."Apakah dia tau kalo aku mau pergi?. Tapi kenapa pelukan ini begitu nyaman, aku jadi tidak ingin jauh darinya."


"Kita pulang yuk! Nanti malam mau gak kerumah gue?". Reza memegang kedua pipi arini.


"Hah? Gak ah! Ngapain? Gue malu. Udah yuk pulang." Arini bergegas meninggalkan reza.


"Dia begitu menggemaskan, entah kenapa melihatnya sedih, aku juga merasa sedih. Melihatnya tertawa seperti tadi, aku juga ikut gembira." Gumam reza sambil mengiringi arini dari belakangnya.


•••


BERSAMBUNG...


Bagaimana tanggapan kalian tentang hubungan REZA, ARINI, NEO, YUKI dan DANU?


Ini namanya cinta segi banyak😆

__ADS_1


__ADS_2