
Esok paginya. Reza, boby dan danu pulang kekota B.
Beberapa jam dalam perjalanan, merekapun tiba dan langsung menghampiri lesty yang sudah menunggu dirumah arini.
"Ti, gimana? apa rambut arini sudah ketemu?." Tanya reza tergesa-gesa.
"Sudah, nih. Untuk tes DNA kan?." Timpal lesty sambil menyodorkan rambut arini yang sudah ia kemas dalam plastik.
"Kok tau? aku kan belum ngomong sama kamu." Sahut reza heran.
"Ya aku mikir aja sih, kalo gak, buat apa coba kamu nyuruh aku nyari rambut arini." Timpal lesty.
"Iya juga sih. Ya udah, aku mau kerumah sakit dulu ya. Aku mau langsung melakukan tes pada rambut ini."
"Aku ikut!." Tegas lesty.
"Gak usah, aku sendiri aja. Kalian kembali lah kekantor." Reza keluar dari rumah dan langsung mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
_
Disisi lain. Dikota F.
Neo sedang bersama jessie, mereka berdua sedang makan siang bersama disebuah kafe.
"Jes, bagaimana tanggapan kamu mengenai reza? Apa yang kamu lihat darinya.?"
"Hm. Sebenarnya dia orang baik, sangat baik. Sepertinya dia begitu menyesali perbuatannya. Terkadang ada juga rasa kasihan terhadapnya. Tapi...Cowok memang kayak gitu, suka menyesali di akhir." Tegas jessie.
"Jes. Apa kau menyukai reza? Apa kamu mau menggantikan posisi arini.?" Timpal neo.
"Hah? Apa kamu gila?. Dia sudah bilang kalo arini itu gak akan tergantikan dihatinya. Tapi..... Ah sudahlah jangan dibahas.
Kau sudah selesai makan nih. Aku pergi duluan ya." Jessie beranjak pergi sembari menjinjit tas nya.
Saat keluar kafe, jessie mendengar ponselnya berdering. Ia menjawab telpon itu dengan sedikit percakapan.
"Halo, ada apa? / Hah? benarkah? / baiklah, awasi terus, makasih."
Jessie tersenyum tipis sembari menutup telponnya kemudian berlalu dengan mobil mewahnya.
_
Dikota B, dirumah yuki.
Hari ini, yuki absen dari kantor, karna ia merasa tidak enak badan. Suhu tubuhnya lumayan panas, dan sering muntah.
Ia sangat membutuhkan neo. Namun neo masih bertugas diluar kota.
"Bun, tolong ambilin hp yuki." Ujarnya dengan suara serak.
"Kamu mau menelpon neo? Biar bunda saja."
"Gak usah bun, biar aku yang bicara padanya, aku masih kuat kok." Timpal yuki sembari meraih ponsel ditangan bundanya.
Yuki pun segera menelpon neo. Namun neo tidak menjawab telpon yuki.
Sudah berapa kali yuki mencoba menghubungi neo, namun sama sekali tidak ada hasil.
Sementara neo masih berada di kafe, ia tengah sibuk bekerja menghadap layar monitor laptopnya. Sedangkan ponselnya tertinggal didalam ruangan kantornya.
__ADS_1
"Bun, neo gak jawab telponku. Aku sudah gak kuat nih, tubuhku makin lemas bun." Yuki merintih karna tubuhnya terasa kaku.
"Astaga! Kamu telpon temen kamu gih. Minta anter kerumah sakit. Kita mau minta bantuan siapa sayang." Timpal bunda yuki cemas.
Entah kenapa, yang terlintas dipikiran yuki adalah menelpon reza. Tanpa pikir panjang, ia pun menghubungi reza.
"Halo yuki, ada apa? aku sedang mengemudi." Ujar reza yang saat itu tengah menuju rumah sakit untuk melakukan tes DNA.
"Kak reza, aku mau minta to...long.." Belum sempat bicara. Yuki sudah pingsan terkulai, ponselnya pun terjatuh.
"Halo... yuki.!! Halo.. ada apa!?. " Teriak reza dalam telpon itu.
Bunda dan ayah yuki berteriak panik saat melihat yuki terjatuh. Merekapun menggotong yuki dan meletakkannya diatas sofa.
Mendengar suara yang masih bicara didalam telpon, bunda yuki pun meraih telpon tersebut. Ia melihat nama reza tertera dilayarnya. Tanpa pikir panjang, ia pun meminta bantuan reza.
"Halo nak reza, bisa tolong kami.? Yuki sakit, saat ini dia pingsan. Tolong bantu bawa dia kerumah sakit."
"Apa?. Baiklah bibi. aku akan kesana sekarang."
Dengan cemas, reza langsung memutar balikkan mobilnya, padahal ia sudah tiba didepan rumah sakit.
Reza melaju kencang menuju rumah yuki dengan penuh kekhawatiran.
Setibanya disana, ia langsung berlari masuk kerumah dan melihat yuki yang sudah pucat lemas.
"Astaga yuki!. Paman, bibi. Ayo kita bawa kerumah sakit sekarang. Aku akan menunggu kalian dimobil." Reza menggendong yuki dan meletakkannya didalam mobilnya.
Tidak lama kemudian, orang tua yuki menyusul bersama yunie. Merekapun langsung kerumah sakit.
Saat yuki tengah ditangani dokter, reza dan orang tua yuki hanya bisa menunggu diluar sembari berdoa.
"Bagaimana ini? Apa aku harus menunda melakukan tes DNA ini? " Batin reza.
"Baiklah. Maaf sudah merepotkanmu." Timpal ayah yuki.
"Gak masalah paman. aku pergi dulu ya." Reza bergegas pergi keruangan dokter.
"Maaf dok mengganggu. Saya mau melakukan tes DNA pada kedua rambut ini, apa bisa?." Reza mengeluarkan dua buah kemasan plastik yang berisi rambut arini dan jessie itu.
"Bisa, kami akan segera memprosesnya. Tapi membutuhkan waktu lumayan lama, paling cepat nanti malam." Jelas sang dokter.
"Oke dok, gak masalah. Ini rambutnya, aku akan menunggu hasilnya nanti malam. Saya permisi dok."
Reza keluar dari ruangan dokter itu dan menuju keruangan yuki.
Seorang suster keluar. "Keluarga nyonya yuki, silahkan masuk untuk membesuk." Ujar suster tersebut.
Reza dan orang tua yuki pun masuk dengan langkah cepat.
"Ayah, bunda, yunie." Ujar yuki saat baru sadar dari pingsannya.
"Yuki. kamu sudah baikan?" Tanya reza cemas.
Seorang dokter menghampiri mereka. "Maaf tuan, nyonya. Saya akan menjelaskan apa yang terjadi pada nyonya yuki.
Saat ini, nyonya yuki sedang rentan dengan keadaanya. dia mudah lesu, karna dia....
dia sedang hamil muda." Jelas dokter wanita itu.
__ADS_1
Mereka semua kaget, termasuk yuki.
"Ha...mil?." Ujar reza dengan mata terbelalak.
Orang tua yuki bersorak riang mendengar kabar itu. "Wah, yunie akan ada adek nih. Selamat ya sayang, ayah dan bunda seneng banget dapet cucu lagi." Pungkas bunda yuki tersenyum riang sambil menggendong yunie.
"Selamat ya yuki. Kamu akan ada baby lagi. Aku akan dapat keponakan lagi." Ujar reza tersenyum.
"Iya, makasih ya kak, maksih juga buat ayah dan bunda. Oh iya. tolong kasih tau berita ini pada neo ya. Tadi nomornya gak bisa dihubungin."
"Biar aku yang telpon neo nanti. Sekarang kamu istirahat saja dulu. Aku mau pergi sebentar, lagi ada urusan. Ada paman dan bini yang menjagamu disni." Reza berpamitan pada orang tua yuki, kemudian meninggalkan mereka.
_
Siang hari, neo kembali keruangan kantornya setelah beberapa jam duduk dikafe. Ia pun tak menghiraukan keberadaan ponselnya.
Drrtt.... Drttt...
Getaran hp neo disamping komputernya.
"Eh, reza? Ada apa cecunguk ini nelpon? tumben." Gumam neo sambil menjawab telpon tersebut
"Woii siluman! kemana aja lo.! kenapa gak jawab telpon dari yuki.! " Teriak reza dalam telpon itu.
Sontak neo menjauhkannya dari telinga. "Bisa biasa aja gak ngomongnya, gak usah pake toa gitu.! emangnya ada apa hah? tadi gue gak tau, hp gue tinggal." Sahut neo.
"Lo tau gak? "
"Gak tau." Neo langsung memotong ucapan reza.
"Gue belom ngomong weii, dengerin dulu. Istri lo hamil lagi tuh! Kalian kapan bikin anaknya? kenapa gak kasih tau gue!." Teriak reza.
"What! hahaha.. elo ngelawak za? Masa iya mau kasih tau elo! lo iri hah? makanya nikah, jangan jadi pecundang mulu.! "
"Kamvret kau cecunguk!."
"Eh, lo serius za. yuki beneran hamil? wah, anak gue nambah lagi nih. sukurlah. besok gue pulang. udah dulu ya.bye.." Neo langsung mengakhiri telponnya.
"Wah, kurang ajar nih orang! belum selesai ngomong udah dimatiin aja! gak sopan banget! mana gak pake terimakasih lagi.!" Gumam reza.
Setelah menutup telpon. Neo langsung menghubungi keluarga yuki untuk memastikan yang diucapkan oleh reza. Ia bernafas lega setelah yuki menjelaskan semuanya padanya.
Sore harinya, yuki sudah diperbolehkan pulang.
Setelah reza mengantar yuki kerumahnya, ia pun kembali lagi menuju rumah sakit.
Reza langsung menemui dokter yang menangani tes DNA itu.
"Tuan, ini adalah hasil tes DNA pada kedua rambut ini." Ujar dokter sambil menyodorkan amplop yang berisi hasil tes.
Reza mengambil dan membuka isi surat itu sembari memejamkan mata.
"Jika jessie adalah arini, maka aku akan mengikuti permainannya, karna mungkin dia mau membuatku menderita karna perlakuanku dulu, aku rela. tapi jika dia bukan arini?,, lalu dimana arini berada?. semoga saja dia adalah arini." Batin reza dengan denyutan jantung yang cukup kencang.
Perlahan ia membuka mata untuk melihat hasil tes tersebut.
"Hah? Jessie.? Arini? ...Kalian......."
Setelah reza melihat hasilnya. Ia sangat kaget dengan mata terbelalak. Ia bingung, apa harus menerima kenyataan itu atau justru menolaknya. Ia pun menghantukkan kepalanya diatas meja didepan dokter sambil berpikir, membuat dokter itu bingung dan heran pada reza.
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG...