
Pagi hari, dirumah yuki, tengah sibuk mengurus yunie yang rewel karna tidak ingin orang tuanya bekerja, karna yunie sedang flu.
"Gimana nih bun? udah siang, aku harus berangkat kerja, neo juga pasti kesiangan jika menungguku." Ujar yuki yang masih menenangkan yunie dalam gendongannya.
"Gak apa-apa kok aku telat dikit, nanti aku akan menjelaskannya pada bos." Timpal neo.
Bunda yuki mengambil yunie dan mengajaknya bermain diluar rumah.
"Kalian pergilah, biar yunie bunda yang urus. dia akan baik-baik saja jika sudah minum obat."
"Tapi aku khawatir bun."
"Sayang, ayo berangkat, sudah hampir jam 9." Tutur neo sembari melirik jam ditangannya.
"Baiklah. kami pergi dulu ya bun, titip yunie."
"Iya, pergilah, hati-hati ya." Sahut bunda
Neo mengantar yuki pergi menggunakan kantor mobil . Selama dalam perjalanan yuki terlihat murung dengan wajah cemas.
Neo meraih tangan yuki dan menggenggamnya. "Tidak perlu cemas, anak kita akan baik-baik saja." Tutur neo tersenyum.
Yuki melirik tangan neo yang menggenggam tangannya, yuki pun berbalik menggenggam tangan neo.
"Terimakasih neo, aku jadi lebih lega." Sahut yuki membalas senyuman neo.
_
Sementara itu, reza melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah arini karna arini tidak mengangkat telponnya.
Setibanya disana, reza tergesa-gesa mengetuk pintu rumah kosan arini itu.
Tok...!! Tok..!
"Aron.!". Teriak reza dari luar.
Sementara arini baru saja bangun dari tidurnya. "Hah? aron? siapa itu? apakah orang itu salah ketuk pintu? Ah,, aku ngantuk sekali, semalaman gak tidur, gara-gara mikirin reza, dia sudah membuatku gak jadi pulang. aku jadi males ngantor."
Reza masih berada diluar sambil mengetuk pintu. "Tuh orang ngapain sih? tidur atau pingsan?! atau...jangan-jangan bunuh diri?!.
Heii arini..! buka pintunya.!"
"Kayak kenal suaranya?." Gumam arini yang masih berbaring. "Eh, itukan suara reza!. jadi yang panggil aron tadi tuh dia? Astaga!." Arini langsung beranjak dan membuka pintu.
"Heii, kamana saja kau?! kenapa telponku gak dijawab?! kenapa lama membuka pintu?!." Ujar reza yang bicara seperti sedang nge'rap.
Arini tak menghiraukannya, ia kembali masuk. "Pagi-pagi udah bikin rusuh dirumah orang, berisik!." Ketusnya sambil berbaring dikursi.
"Ya maap! abisnya lo tuh bikin darah gue naik turun aron!.
Eh! kok belum mandi? gak mau ngantor kah?."
"Gak tau, males banget, gue juga ngantuk, semalam gak bisa tidur. gue izin dulu ya bos reza."
"Gak bisa,! harus kerja. Ayo berangkat sekarang!." Reza menarik tangan arini.
"Hei, gue belom mandi!"
"Ganti baju saja sana! nanti mandi dikantor, cepat!, gue banyak urusan hari ini."
"Iya..iya.. bawel. maksa aja kerajaan!." Arini bergegas masuk kamar dan mengganti bajunya.
Setelah berpoles sedikit, merekapun berangkat bekerja. Selama dalam perjalanan arini menyandarkan kepalanya dijok mobil sambil tidur.
Reza menoleh pada arini. "Sepertinya dia benar-benar ngantuk, apa yang membuat gadis ini gak bisa tidur. dasar bodoh." Gumam reza sambil mengusap kepala arini sembari menyetir.
_
Dikantor perusahaan DIAMOND. Yuki yang baru saja masuk kantor itu menjadi sorotan manager laura. Ia pun menghadang yuki.
"Yuki.! kemari!" Tegas manager laura.
"Maaf buk, ada apa?."
"Jam berapa ini? kamu gak punya jam atau gak punya mata? gak lihat ini sudah jam 9 lebih? kamu kira ini kantor teman kamu? seenaknya saja datang terlambat!.
Arini juga! dimana dia? apakah terlambat juga?! kalian berdua ini sama-sama gak bisa disiplin.!" Ketus laura marah pada yuki.
Yuki hanya tertunduk. "Maaf buk, tadi anak saya rewel, dia sedang flu, aku mengurusnya dulu, mohon pengertiannya." Sahut yuki pelan.
"Jangan cari alasan! aku gak bisa kau tipu!, lagian siapa yang percaya kalau kau sudah punya anak.!" Timpal laura emosi.
"Siapa yang menipumu?." Ketus reza yang baru saja tiba bersama arini.
__ADS_1
"Eh, bos? maaf bos, ini..soalnya yuki telat datangnya bos." Jelas laura merunduk.
"Memangnya kamu siapa berani memarahi dia? Dia bukan bagian staf juga bukan bagian designer. jadi dia bukan bawahanmu, tapi bawahanku secara langsung, kamu gak berhak marah dengan yuki ataupun arini. ngerti?!!. Jangan ulangi lain kali. Dan satu lagi, yuki gak bohong!, dia memang mempunyai anak."
Manager laura merunduk takut. "Baik bos, gaka akan ada lain kali. maafkan aku."
"Bagus! siahkan lanjutkan pekerjaanmu, urusi saja kerjaan bawahanmu!
Arini, yuki. Mari pergi." Merekapun melewati ruangan itu.
Arini mendekat pada laura. "Laureng..laureng.. gak pernah berubah, masih saja sok.! liat tuh muka udah keriput gak beraturan gitu!." Ujar arini tersenyum dengan suara kecil kemudian ia menyusul reza dan yuki.
"Heh! sudah sombong kamu ya mentang sudah jadi sekretaris bos." Gumam laura. "Eh, tapi ngomong-ngomong, benar gak ya muka gue keriput, duhh,,jadi nyesel marah-marah."
Yuki dan arini tiba dimeja kerja mereka.
"Aron! cepat mandi sana!." Ujar reza menatap arini yang tengah merapikan meja kerjanya.
"Mandinya dimana?." Timpal arini.
"Diruanganku lah. Ayo ikut aku.!"
"Baiklah.." Arini mengiringi reza menuju ruang kerjanya.
Setelah masuk kedalam ruangan, reza masih berdiri disamping pintu sambil mengotak-atik layar pinger print.
"Aron! kemari.! sini tangan kamu." Reza meraih tangan arini dan mengambil jari jempolnya, kemudian meletakkannya pada layar pinger print.
"Ngapain sih reboy.!! gue ngantuk nih, kalo gak langsung mandi bisa tidur beneran gue." Timpal arini lemas.
"Ini gue lagi buatin lo sandi pinger print, supaya ntar kalo gue gak ada, lo bisa bukak pintu ini." Jelas reza.
"Oh gitu?."
"Elah nih orang, singkat amat jawabnya. Udah selesai nih, silahkan mandi sana, cari handuk dalam lemari."
"Iya." Dengan santai ia menuju lemari dengan jiwa setengah ngambang karna ngantuknya kebangetan.
Setelah beberapa menit pencarian, akhirnya ketemu sama handuk. Arini pun pergi kekamar mandi.
Reza kaget saat melihat isi lemarinya berantakan, padahal dalam lemari itu baju kerja semua.
"Astaga aron.!!" Teriak reza.
"Lo nyari apa hah dalam lemari sampai berantakan gini?!." Ujar reza didepan pintu kamar mandi.
"Bukan gue!.. jangan asal tuduh, gue cemplungin ke wc lo.!" Jawab arini tanpa dosa.
"Ohmaigad!! Itu orang apa anak jailangkung? jelas-jelas salah tapi nyolot! heran gue." Gerutu reza sambil merapikan baju-bajunya.
Sementara arini masih melanjutkan mandinya dengan santai. "Kamar mandi lebar, cermin lebar, walau ada shower tapi masih ada bak mandinya juga. yang design ini pasti gak pinter.Dimana-mana kalo ada shower pasti temennya bethup, lah ini kok ada bak mandinya. aneh!." Gumam arini heran.
Beberapa saat kemudian, arini keluar setelah berdandan cukup lama. "Reboy, gak ada hairdryer?."
Reza menatap arini, ia terlihat cantik saat baru selesai mandi dengan rambut yang lembab. "Dia, cantik sekali." reza bengong dengan satu pandangan.
"Helo.!! apakah jiwa lo masih bersemayam dalam tubuh?." Arini menggoyangkan tangannya didepan wajah reza.
"Hah? lo nanya hairdryer ya? ada kok." Sahut reza.
"Benarkah? dimana?." Arini tersenyum riang.
"Noh..di salon mama gue.hahahha." Reza terbahak keras.
Arini mengerutkan alisnya dengan heran. "Persaan gak ada yang lucu! gue nanya serius pe'ak!".
"Lagian, udah tau ini kantor, malah nanya barang begituan. Tapi sini dulu deh." Reza menarik tangan arini, keduanyapun makin dekat.
"Kamu wangi sekali sehabis mandi, jadi pengen peluk. hehe."
Arini memukul tipis pipi reza. "Hoho..dasar anak tuyul.! Jangan ambil kesempatan dalam kebesaran!. udah ah! gue mau balik kerja. "Arini keluar meninggalkan reza begitu saja.
Reza masih bengong terpaku. "Setahu gue, kesempatan dalam kesempitan, sejak kapan kata-kata itu berubah?! dasar anak jailangkung.!."
Reza bergegas merapikan meja kerjanya, kemudian keluar dari ruangannya sambil membawa tas kerjanya.
Saat ia melintasi meja yuki dan arini, ia pun berhenti.
"Aron, yuki. aku pergi keluar sebentar, kalian berdua tetap disini.
Aron, kalau kamu masih ngantuk, tidur saja dalam ruanganku kalau kerjaanmu sudah selesai, aku pergi dulu ya." Ujar reza tersenyum sambil mengusap kepala arini kemudian ia pergi.
"Wah, kalian terlihat romantis, semoga kalian bahagia." Ujar yuki tersenyum.
__ADS_1
"Oh iya rin, kenapa kak reza menyebutmu aron? apa itu?." Tanya yuki penasaran.
"Gak tau! dia memang aneh, dia yang memberikan nama itu, dia juga menyuruhku memanggilnya reboy.! bdw, dia mau kemana ya? tumben gak ajak kita?." Sahut arini.
"Mungkin dia ada urusan lain. Tapi hari ini aku gak lihat danu dan boby, apa mereka gak kerja?."
"Gak tau juga sih. ya udahlah serah mereka. Ayo kita lanjut kerja."
_
Reza pergi menuju ruangan staf untuk menghampiri lesty.
"Ti, ayo ikut gue sekarang, kamu pamit dulu sama manager bambang." Ujar reza.
"Baiklah." Lesty beranjak menuju ruangan managernya.
Sementara itu genta dan evi menghentikan kerjanya saat melihat reza. "Haii bos, sudah berapa hari gak ketemu, anda makin biasa-biasa saja." Timpal genta sambil nyengir.
"Lo sehat gak? belom pernah nelan meja?." Ketus reza.
"Belom bos, tapi dia sering ditimpa meja." Timpal evi terkekeh.
"Kalian tuh ya, makin lama kayak orang aja." Sahut reza dengan wajah datar.
"Emangnya selama ini kita apaan? human gitu?." Gerutu genta.
"Human itu manusia, pe'ak!." Gumam evi.
Lesty pun datang kembali. "Ayo bos. kita mau kemana?."
"Udah ikut aja!. Genta, evi, kerja yang bener! aku dan lesty pergi sebentar. Oh iya, rahasiakan ini dari yuki dan arini."
"Loh kenapa? wahh.. pasti lo selingkuh kan? Sekarang mending lo pilih salah satu dari mereka. Reza! gue serius nih, pilih yuki atau arini.?" Genta berdiri dari tempat duduknya menatap reza dengan serius.
"Paan sih? gak penting banget!. lesty ayo kita pergi."
Saat reza hendak melangkah, genta menarik tangan reza. "Za, gue tanya sekali lagi, pilih siapa?!."
"Astaga nih orang.! pilih arini! puas!." Reza melanjutkan langkahnya keluar dari kantor disusul oleh lesty.
"Ah.. sekurlah, pilihan yang benar. karna dia tau yuki sudah berkeluarga." Ujar genta bernafas lega.
Reza dan lesty masuk kemobil dan menuju kesuatu tempat. "Za, dimana danu dan boby? kenapa mereka gak ikut?." Ujar lesty.
"Hari ini gue sengaja gak suruh mereka masuk, karna kita akan mencari rumah kontrakan buat arini, mereka berdua gak ada yang bisa jaga rahasia."
"Oh gitu, kita mau kemana?."
"Kesuatu tempat, rumah yang akan kita sewa ini lumayan besar, tempatnya rame, dan gak terlalu jauh dari kantor."
Beberapa saat kemudian mereka sampai. lesty kaget melihat rumah itu begitu bagus dan lebih luas dari rumahnya.
"Za, lo serius nih akan nyewa rumah segede ini? jujur gue takut loh, apalagi kalo cuma kita berdua aja, apa arini mau.? terus gue bilangnya gimana?." Ujar lesty bingung.
"Otak lo kecil ya? gini aja bingung!. ntar gue jelasin, sekarang kita temui dulu pemilik rumah ini, ayo.!"
Reza menemui si pemilik rumah yang sudah menunggu didalam rumah itu. Reza mulai negosisasi dengan mereka, sementara lesty menunggu diluar.
Satu jam kemudian, mereka semua keluar, kemudian pemilik rumah itu pergi setelah bersalaman dengan reza.
"Za, gimana?."
"Gue beli rumah ini." Jawab reza santai.
"Hah! lo serius? kenapa dibeli.?"
"Ya karna mereka menjual."
"Maksud gue bukan itu! kenapa gak disewa aja sih. gak sayang sama duit.? ntar kalo arini pulang kekotanya gimana? rumah ini sayang kan dianggurin." Timpal lesty bingung.
"O'on banget! itung-itung investasi lah, kan bisa dijual lagi.
Oh iya. ntar lo bilang sama arini kalo rumah ini tuh rumah keluarga lo yang baru direnovasi. sekarang kita balik kekantor."
Reza dan lesty langsung masuk kemobil.
lesty masih bingung, banyak sekali yang ingin ia tanyakan. Ia tak hentinya berpikir segampang itu reza membeli satu rumah harga ratusan juta demi tempat tinggal arini.
"Apakah dia sudah jatuh cinta dengan arini.? " Lesty melirik pada reza.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen🙏