Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Proses persalinan.


__ADS_3

Hari-hari menunggu jelang kelahiran sang bayi, rey mengurangi aktifitasnya untuk menemani istrinya.


"Reboy, kok perut gue agak gimana gitu ya, ganjel-ganjel kalo duduk, kita kedokter lagi yok." Ujar ara yang tengah duduk dengan perut menonjol.


"Hari ini kita udah dua kali kedokter! Lo mau ngapain lagi! Wajar lah perut ada yang ganjel, karna itu ada bayinya o'on!


Udah yuk kita naik, gue mau istirahat dulu, capek ngikutin mau lo yang gak masuk akal itu."


"Bantu berdiri dong." Rengek ara mengulurkan tangannya.


"Dasar badak tidak bertulang, ayo cepat!" Rey menarik tangan ara dan membantunya berdiri.


Rey tertawa geli melihat ara berjalan didepannya itu.


"Yaampun! Aron, lo lucu banget sumpah haha!"


"Apanya yang lucu alien!!


"Gaya jalan lo itu loh! Udah kayak bebek pantat nungging, kalo jalan geol-geol gak karuan, haha!! Lucu amat deh istri gue kalo lagi jalan kayak singa laut gini, lamban kayak keong membawa banyak beban.


"Reboy!! Malam ini lo tidur dikamar mandi aja ya!!" Ketus ara menatap tajam mata rey.


"Eh! Jangan dong sayang, tadi gue becanda doang, maaf ya." Rey mendekap ara karna takut kena usir dari kamar.


Rey begitu lelah mengiringi ara naik tangga yang cukup lama, ia mengerutkan kening dengan mata terbelalak mengejek.


"Duh badak! Kayaknya keburu brojol tuh perut ditangga ini." Gumam rey.


"Bacod amat sih, cepat tarik gue dari atas."


"Gimana gue mau lewat, badan lo aja menuhin tangga. Nyelip aja gak muat! Gue dorong aja deh dari bawah."


"Nah gitu, kenapa gak dari tahun lalu."


Akhirnya setelah sekian lama, mereka berdua sampailah dikamar. Rey membantu ara berbaring, ia pun turut berbaring dan memeluk istrinya itu dengan hangat.


Seperti biasa, rey melakukan ritual sebelum ara tidur.


Tiap malam ia menepuk lembut kepala ara hingga ia terlelap, terkadang sampai urat tangan rey keriting gak beraturan.


Malam itu ara tidur tidak seperti biasa, ia nampak gelisah, bolak sana, balik sini sampai rey juga gak bisa tidur melihat istrinya seperti ulat bulu itu.


"Aron! Lo ngapain sih? Miring aja tidurnya biar gak susah, sini gue peluk."


"Gak tau lah, gak ada posisi yang enak, gue pengen banget tidur kayak dulu."


"Tidur yang kayak kelelawar itu maksud lo? Itu bahaya buat bayi, ntar dia keluar dari mulut.


Udah tidur aja sana. Atau mau kayak mana, cari posisi dulu."


Ara bolak balik mencari tempat yang nyaman untuk tidur.


"Reboy, gue tidur disofa aja deh, kayaknya enak kalo sambil duduk."


"Baiklah." Rey merapikan sofa dan memberinya bantal untuk ara bersandar, ia juga turut tidur disofa sambil menjaga ara, siapa tau ntar dia jatoh dari sofa.


Saat pagi menjelang, ara makin gak bisa tidur.


"Reboy, gue mau berak." Rengeknya manja.


"Berak aja sono! Kenapa harus minta izin." sahut rey dengan mata terpejam.


"Gue gak bisa berdiri, tarik."


"Ohmaigad!! Selama lo hamil, gue susah banget tau gak, jarang makan, jarang tidur, jarang ngantor. Tapi gue ikhlas kok. Hehe.


"Udah ngomongnya! Udah keburu berak gue!


"Eh, iya ya,, sory, tadi curhat dikit." Rey membantu ara berdiri dan membawanya sampai kamar mandi.


"Kalo mau curhat jangan sama gue! Noh sama tembok!" Gerutu ara dalam kamar mandi.


"Nyo.. nyo.. nyo.. nyo. " gerutu rey memonyongkan mulutnya mengejek ucapan ara sambil menunggunya didapan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Aahhhhhh...!!!!! " Teriak ara dari dalam.


Rey kaget, ia reflek dan langsung menendang pintu kamar mandi hingga jebol, padahal pintu itu tidak dikunci ara.


"Sialan! Ngabisin tenaga aja, kirain dikonci." Gumam rey sambil berlari menemui ara.


"Sayang, kamu kenapa? Apakah cicak menganggumu lagi?"


"Bukan! Tapi ini, ada darah.. Huaaa... Gue sakit apa reboy!!! " Teriak ara histeris.


"What?!! Mungkin lo ada ambien kali.!


"Jangan asal ngomong! Gue gak ada penyakit kayak gitu, noh si abang daylon kuman yang penyakitan ambien."


"Kok lo tau?


"Soalnya dia pernah cerita secara gak sengaja.


Ayo bantuin gue keluar dari sini, tapi perut gue masih mules. Panggilin bik yam aja deh."


"Oke.. Oke.. Tunggu sebentar ya." Rey keluar kamar dan teriak dari koridor depan kamarnya.


"Bik yam!!!!! Cepat keatas!! Ada yang aneh!!


Mendengar teriakan rey, bik yam langsung sigap naik menemui mereka yang tengah darurat itu.


"Den, ada apa berbisik barusan?" Tanya bik yam cemas.


"Gue tadi teriak bik, bukan berbisik, coba bibik liat dulu tuh aron.


Sayang, kamu konsultasi dulu ya sama bik yam, aku gak liat deh, aku akan keluar."


Setelah rey keluar, ara mengutarakan yang ia alami.


"Bik yam, gini... Bla.... Bla... Bla.... "


"Apa!!! Serius!! "


Eh, tunggu! Perut gue makin sakit bik.. Ahh..


Salah makan apa gue? Tapi belum makan kok."


Bik yam cemas, ia meninggalkan ara keluar berari cukup kencang.


Rey bingung melihat wajah bik yam itu.


"Eh bik yam! Mau kemana? Kenapa lari kayak nahan buang air gitu?


"Den rey, kayaknya nak ara mau lahiran, aku akan menghubungi tuan dan nyonya besar.


"Ah benarkah??" rey berlari masuk kamar melihat ara yang tengah mengerang kesakitan.


"Sayang, bik yam bilang, lo akan lahiran. Ayo kita kerumah sakit sekarang."


"Benarkah? Ayo kita berangkat sekarang.


Dengan kecemasan menembus langit ketujuh, rey dengan sabar membawa ara turun tangga, ia meminta bik yam membawakan beberapa pakaian untuk ara.


Setelah persiapan selesai, rey langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit.


Beberapa dokter langsung menangani ara.


Tidak lama kemudian, kerabat keluarga pun pada datang memadati rumah sakit.


Cukup pegel menunggu bukaan 10,mereka sudah menunggu dari pagi hingga sore.


Teriakan ara makin lama makin kuat menambah kecemasan rey.


Hanya rey yang menemani ara dalam ruang bersalin itu, sementara yang lainnya menunggu diluar.


"Duhh.. Dok, kapan nih gue lahiran, udah gak sanggup gue!! Lagian nih bayi gak bisa keluar sendiri apa?" Teriak ara menggeliat menahan sakit.


"Sayang, sabar ya, tunggu sebentar lagi." Tutur rey sembari mengelus rambutnya.

__ADS_1


Suster yang bertugas disana bolak balik mengecek bukaan jalan rahim karna permintaan ara yang sudah tidak sanggup menahan sakit.


"Nyonya, apakah kalian sudah ngecek jenis kelamin anak kalian?" Ujar suster itu dengan ramah.


"Duhh sus, jangan banyak tanya deh! Gue tendang nih!"


"Dih, galak amat, kayak ikan piranha aja." Gumam suster itu.


"Dia emang keturunan piranha sus, jangan heran, harap maklum ya." Jawab rey tersenyum paksa.


"Tidak apa-apa tuan."


"Ahh,, perut gue makin sakit!!! tuh bayi ngapain sih didalam! Mau keluar aja banyak gaya! Cepat keluar woii,, masih dalam kandungan udah nyiksa gue!!" Teriak ara geram, dokter pun hanya geleng kepala.


"Nyonya, saya periksa dulu ya!" Ujar dokter wanita paruh baya yang menanganinya itu.


"Eh, udah bukaan 10. Suster cepat bantu saya! Dorong bayinya!!


"Baik dok!


"Dari tadi kek!" Gumam ara.


"Baiklah nyonya, jika anda merasakan sakit, cepat dorong bayinya dengan nafas yang dalam seperti kita buang air besar." Ujar dokter itu memberikan instruksi.


"Iya dok."


Detik demi detik ara lewati terasa begitu lama karna rasa sakit yang belum pernah ia rasakan.


Erangan demi erangan ia lontarkan yang menambah kecemasan keluarganya yang menunggu diluar.


Wajah rey juga nampak begitu cemas, ia tidak tega melihat istrinnya itu kesakitan.


Rey menggenggam erat tangan ara, memberinya suport dan semangat.


"Ahhh.!!! Kenapa begitu susah!!! Aku sudah kehabisan nafas!! Dok, tarik aja bayinya, atau kasih minyak sayur biar licin, supaya dia cepat keluar, kayaknya dia masih pegangan sama usus gue." Teriak ara terbata-bata.


"Nyonya, bayi itu lahir ada jalan dan prosedurnya sendiri, tidak bisa asal keluar, apakah kita operasi sesar saja?"


"Jangan dok! Gue takut kalau perut gue dikoyak, ntar kalian gak bener jahitnya, bisa buyar usus gue."


"Nah, kalo gitu, nyonya harus berjuang sekuat tanaga ya. Ayoo semangat calon ibu!!.


Rey begitu iba, ia turut memberi semangat.


"Sayang, sabar ya, dorong yang kuat, atau minum ekstrajos dulu biar semangat!"


"Boleh.. Boleh.. Tapi kayaknya gue gak bisa duduk, ntar aja deh! Ahhh makin sakit nih..


"Ayoo dorong terus nyonya!!. Suster cepat bantu dorong perutnya.


"Ahhhh sakiit!!! Duh nak!! Cepat keluar!! Jangan kelamaan mikir! Dunia ini lebih luas dari pada dalam perut!!


"Ayoo dorong terus nyonya!! Semangat!!


"Gue udah semangat dari kemaren!! Tapi bayinya ini gak dengerin omongan! Betah amat didalam!!!


"Sayang, sabar ya! Mungkin bayi kita mau ucapin salam perpisahan sama rahim." Ujar reu menguatkan ara.


Beberapa saat menunggu! Teriakan demi teriakan, ocehan demi ocehan yang ara lontarkan, akhirnya bayi itu melihat dunia.


Oooeekk.. Oeekkk. (Tangisan bayi yang imut)


Keluarga yang menunggu diluar mengelus dada mendengar suara bayi itu, mereka berebut untuk masuk, namun dokter belum mengizinkan, karna keadaan ruangan itu masih berantakan bekas persalinan yang menghebohkan itu.


•••


BERSAMBUNG


Baca juga👇


•Suamiku Mr. Cuek


•I'm a Idol 🙏

__ADS_1


__ADS_2