Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:24


__ADS_3

Neo begitu fokus mendengarkan dan melihat cara kerja yuki yang begitu bagus dalam menyampaikan presentasinya.


"Yuki, kamu memang cocok berada disamping reza, kalian sama-sama cerdas. Aku memang salah telah memisahkan kalian. Tapi kok yuki yang presentasi, bukan nya arini? Apakah dia masih sakit karna kejadian semalam?".


Neo mulai tidak fokus karna mengingat kejadian yang menimpanya tadi malam. Ia tidak menyadari bahwa meeting itu sudah selesai.


"Tuan neo! Bagaimana pendapat anda tentang design yang dibuat oleh arini? Apakah perusahaan anda menyetujuinya?". Ujar reza menyadarkan lamunan neo.


"Em.. Ya.. Saya setuju, perusahaan kami akan memintanya, tapi biarkan direktur kami yang akan menghubungi anda secara langsung". Sahut neo kembali fokus.


"Baiklah, kalo gitu meeting kita selesai.


Pak robet, tolong antar mereka kedepan.


Tuan neo, tolong anda tinggal sebentar".


Setelah petinggi kantor dan client keluar dari ruang meeting, yang tersisa hanya neo, reza dan yuki.


"Za, ada apa kau menyuruhku tetap tinggal, aku masih banyak urusan!". Ketus neo dengan wajah datar.


"Masalah kita belum selesai.


Yuki. Kamu keluarlah, tunggu aku dalam ruanganku!".


"Baiklah. Aku permisi". Yuki keluar dari ruang meeting sembari bergumam dalam hati.


Astaga, apa yang akan mereka lakukan, kenapa aku jadi cemas.


Setelah memastikan yuki keluar, reza menutup pintu ruang meeting itu dan kembali duduk pada kursinya.


"Neo! Aku melihat dari tatapan matamu tadi, sepertinya kau dan yuki sedang tidak saling sapa? Apakah kau mengabaikan yuki karna kejadian semalam? Apa salah dia hingga kau berbuat demikian?". Reza menatap mata neo, namun neo hanya tertunduk.


"Za. Apa lagi yang harus kulakukan untuknya?!. Aku menghindarinya hanya karna aku gak mau dia melihat luka lebam ditubuhku. Hanya itu saja!. Lagian percuma juga aku begitu perhatian, karna selama ini dia tidak pernah menganggapku ada. Mungkin lebih baik jika aku dan dia tidak saling peduli seperti sekarang". Timpal neo dengan emosi.


Reza juga turut emosi, ia berdiri dan menampar wajah neo.


"Dasar beg*!! Otak lo kemana? Kalian sudah punya yunie, lo itu tinggal bersama orang tuanya yuki, pasti lo tau kan gimana cara orang tua yuki memperlakukan lo dengan baik. Harusnya lo mikir neo!. Lagian yuki gak akan kayak gini jika lo gak berbuat bejat terhadapnya!.


Gue akui kalau gue masih sangat sayang sama yuki, tapi lo harus tau, gue gak akan merusak rumah tangga orang, terlebih jika kalian sudah punya anak. Harus nya lo lebih bekerja keras lagi untuk mendapatkan hati yuki, tunjukan padanya kalo emang cinta lo tulus dan gak akan berubah walau yuki belum bisa nerima lo. Bukan malah menghindari dia bodoh!."


"Za!.. Tapi yuki masih cinta sama lo! Walau sekeras apapun usaha gue buat menaklukan hatinya, tetap saja gak akan bisa!". Tegas neo.


"Neo! Lo cinta gak sih sama yuki? Atau lo menikahinya karna terpaksa, atau lo hanya membalas dendam sama gue saat kita bermasalah disekolah dulu?!.


Neo tertunduk. "Gue...sangat sayang padanya, gue cinta sama yuki". Jawab neo bernada pelan seakan hanya pasrah dalam tundukan.


"Lo udah nikah selama tiga tahun sama yuki, tapi lo cuma sebatas menunjukan perhatian dan tanggung jawab doang padanya, lo gak nunjukin kalo lo sayang sama dia, lo gak ngelakuin perhatian yang lebih padanya. Neo, gue kenal yuki sudah hampir 8 tahun, dulu dia juga begitu dingin pada semua pria. Tapi saat gue suka sama dia, disanalah gue nunjukin kepedulian gue, dan gua gak berhenti sampai hati nya luluh, asal lo tau, hatinya begitu lembut, dia sangat mudah memaafkan asal kita tulus padanya, dia juga mudah sakit hati jika kita kasar padanya.


Gue tau lo suami dan ayah yang baik untuk mereka. Walaupun gue mencintai yuki, tapi gue gak akan merebutnya dari lo, lo harus tau, kebahagiaan kalian berdua berada pada yunie. Gue mempekerjakan dia disini hanya karna ingin membantu keadaan ekonomi kalian, karna gue peduli sama dia dan juga yunie.


Gue cuma minta satu hal, jaga lah dia. Bahagiakanlah dia, jangan pernah kau sia-siakan atau sakiti dia, jika itu terjadi maka lo akan gue bunuh!. Gue hanya ingin melihatnya bahagia setelah ia bertahun-tahun menderita".


Reza tertunduk sedih. Seketika ruangan itu begitu sunyi karna keduanya saling tertunduk setelah saling bertengkar.


"Za. Lo bener. Maafin gue sudah merebut yuki dari lo dengan cara yang kotor. Gue janji akan membahagiakan dia dan yunie semampu dan sebisa gue. Terimakasih lo gak menyimpan dendam sama gue.


Kalo gitu, gue pergi dulu".


Neo keluar dari ruangan meeting meninggalkan reza yang masih tertunduk.

__ADS_1


Saat neo melintasi ruangan CEO, yuki melihatnya yang tengah berjalan lesu. Yuki langsung berlari dan menghentikan neo.


"Neo!. Tunggu!!".


Neo berhenti saat mendengar suara yuki. Namun ia hanya diam tanpa berbalik badan.


"Neo, dari semalam kau seperti ini, apa aku ada salah? Kalau benar, maka maafkan aku. Walaupun hubungan kita tidak baik, tapi kau adalah ayah dari anak kita. Aku dingin terhadapmu bukan karna aku membencimu, tapi hanya saja aku belum bisa menerimamu sepenuhnya, aku tau kau sudah bekerja keras untuk keluarga kita, aku sangat menghargai itu". Tutur yuki tertunduk.


Mendengar ucapan yuki, hati neo langsung tersentuh, ia pun memutarkan tubuhnya dan berjalan kearah yuki, lalu memeluknya."Terimakasih yuki, maafkan aku". Tutur neo singkat.


Neo melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua pipi yuki dan menatap matanya. "Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja". Ucapnya tersenyum. Yuki hanya diam bingung.


"Aku pergi dulu ya, jangan lupa makan siang nanti". Neo mengusap kepala yuki, kemudian ia pergi dari hadapan yuki.


Yuki masih tertegun. "Neo, kenapa sikap kamu aneh, kamu bisa berubah dalam sekejap, sebenarnya ada apa denganmu?".


Reza yang sedari tadi berdiri didepan pintu ruangan meeting menyaksikan mereka dari kejauhan, ia merasa lega melihat mereka berbaikan, ia pun turut tersenyum.


"Yuki, walau bagaimanapun cara neo mendapatkanmu, aku tetap berharap kau bahagia bersamanya walaupun hatiku yang harus menahan sakit. Sudah cukup kalian menderita, sekarang kalian harusnya sudah bahagia. Karna kebahagiaanmu, kebahagiaanku juga". Gumam reza tersenyum walau hatinya sakit.


Yuki masuk keruangan reza setelah ia melihat neo pergi. Reza juga turut masuk setelah yuki masuk keruangannya.


"Yuki, kemari". Reza menyuruh yuki duduk dihadapan meja kerjanya.


"Baik bos". Jawab nya sambil mendekat.


"Jika kita berdua saja, jangan panggil aku bos, panggil saja seperti biasanya.


Yuki, aku mau tanya, tapi kau harus jawab jujur". Reza menatap wajah yuki serius.


"Ya,, ada apa?". Timpal yuki ragu.


"Yuki, kau tau sendiri aku masih cinta sama kamu. Sekarang aku mau tanya, apakah kau masih mencintaiku? Jawab dengan jujur, dan tatap mataku".


Reza meraih tangan yuki. "Terimakasih yuki". Ucapnya tersenyum. "Walau kita saling cinta, tapi kita bukan jodoh, jadi kumohon terimalah neo, dia sudah melakukan yang terbaik untukmu, cintanya padamu mungkin lebih besar dari cintaku untukmu. Kuharap kau bahagia bersamanya".


Reza keluar dari meja kerjanya dan menghampiri yuki, ia mengangkat tangan yuki dan memeluknya erat.


Yuki tak kuasa menahan tangisnya. "Kak reza, maafin aku, aku yang sudah terbuai dengan perhatian neo dulu hingga membuat hidupku jadi seperti ini, jika aku tidak mempercayainya, mungkin aku sudah bahagia bersamamu. Hikss.."


"Kita hanya bisa berencana, tapi garis tangan sudah diatur oleh yang kuasa. Kita bukan jodoh, tapi kita bisa bersahabat bukan? Aku tetap sayang sama kamu sebagai adikku. Tolong bukalah hatimu untuk neo, lihatlah sisi lembut dan baiknya, aku tau yang ia lakukan padamu dulu gak bisa dilupakan, tapi lihatlah dia yang sekarang, dia sudah banyak berubah, bahkan dia dibuang oleh keluarganya demi untuk hidup bersamamu. Kurasa itu sudah cukup jadi balasan pahit untuk neo". Jelas reza sambil mengelus rambut yuki yang masih menangis tersedu dalam pelukannya.


"Aku...akan berusaha kak". Jawab yuki terisak tangis.


Reza melepaskan pelukannya, ia mengelap air mata yuki yang membasahi kedua pipinya. "Sudah, jangan nangis lagi. Kau tau, aku sangat merindukan kamu, aku merindukan senyumanmu yang hampir punah itu". Ucapnya tersenyum sembari menyeka air mata yuki.


Yuki turut tersenyum."Emangnya apaan hampir punah".


"Nah gitu dong, senyuman kamu itu lah yang memikat hati, jadi banyak-banyaklah tersenyum ya. Sekarang kembalilah bekerja, lupakanlah semua masalah yang pernah ada, sekarang aku, kamu dan neo akan menjalani hidup dengan membuka lembaran baru. Kuharap kalian bahagia". Reza mengusap rambut yuki sambil tersenyum.


"Baiklah. Terimakasih kak reza, aku pergi dulu". Yuki berbalik dan keluar dari ruangan reza.


Ia berjalan perlahan dengan pandangan kosong dengan air mata yang masih terselip diufuk matanya. "Aku merasa lega setelah aku menangis dalam pelukan kak reza yang selama ini aku tahan, aku begitu merindukannya, aku tau dia masih mencintaiku, tapi dia benar kalau kita bukan jodoh. Ya, aku akan berusaha menerima neo. Maafkan aku kak reza. Maafkan aku neo".


Sementara itu, reza masih tertunduk meletakkan kepalanya diatas meja kerjanya."Yuki kali ini aku benar-benar harus melepaskanmu dengan menerima kanyataan pahit ini. Tapi aku tetap menyayangimu sebagai orang yang istimewa dihatiku".


Disisi lain, neo pergi kerumah sakit untuk menjenguk arini setelah meeting nya dikantor reza selesai. Ia membelikan makanan untuk arini.


Setibanya dirumah sakit, ia mencari kamar arini dengan bertanya pada staf rumah sakit yang berjaga. Tidak lama kemudian ia menemukannya. Ia melihat danu tengah ngobrol santai bersama arini.

__ADS_1


Neo mengetuk pintu perlahan sambil berdiri didepan pintu.


"Permisi.!".


Danu dan arini langsung menoleh padanya.


"Eh danu? Ayo masuk. Lo gak apa-apa?." sapa arini yang tengah duduk menyandar diranjangnya.


"Tau dari mana lo kalo arini dirawat disini?". Ujar danu.


"Semalam gue ikutin kalian sampe sini.


Danu, bisakah lo tinggalin kita berdua saja, gue mau ngomong sama arini". Sahut neo sambil mendekati mereka.


"Nah, kebetulan nih, gue balik bentar mau mandi, tolong lo jagain arini bentar ya".


"Tapi jangan lama-lama, gue harus balik lagi kekantor".


Danu pergi dari rumah sakit setelah ia pamit dengan arini.


Kemudian neo duduk disamping ranjang arini.


"Nih, gue bawain makanan, dimakan nanti ya, biar danu yang suapin. Oh iya, gimana luka lo, udah sembuh? Kenapa lo udah kayak wonder women gitu semalam? Sok berani melerai reza yang lagi kesurupan itu". Ujar neo terkekeh.


"Masih bisa ketawa lo ya kamvret!. Gue kayak gini karna nolongin elo! Eh, tapi gimana hubungan lo sama reza, udah baikan?".


"Ya gitu lah, reza memang baik, hari ini gue banyak mendapatkan ceramah darinya. Semoga hubungan gue sama yuki makin membaik karna reza. Oh iya, lo tinggal sama siapa disini?". Ucapnya pada arini.


"Gue ngontrak sendirian, idup sendirian, bayar uang kuliah sendiri". Gerutu arini cemberut.


"Haha.. Ngontrak? Kasian amat! Lagian kenapa lo pergi kesini?". Neo terkekeh.


"What? Gak ngaca?! Lo sendiri dihapus dari keluarga?! Gue kesini juga gara-gara elo pe'ak! Udah tiga tahun lebih gue disini baru bisa ketemu sama elo, dan ternyata elo udah nikah aja, bikin gue pengen bunuh elo tau gak!". Ujar arini geram.


"Ya maap! Kan dulu elo yang gak mau pas gue ajak pindah sekolah dikota B ini. Tapi gue salut sama lo, pas kita pertama kali ketemu di mall waktu itu, lo gak kaget sama sekali".


"Gak kaget apanya? Lo gak liat apa waktu itu gue diem aja dibelakang lesty, lagian masa iya gue harus tereak sementara disana ada anak dan istri elo!. Lo kali yang gak kaget!". Arini melotot pada neo.


"Gue mah bukan kaget lagi, tapi gue malah mau pingsan pas liat lo bersama lesty muncul didepan gue dan yuki juga yunie. Makanya waktu itu gue keluar duluan dan nunggu diparkiran". Jelas neo.


"Hm..sudahlah. jangan dibahas, sekarang keadaannya sudah berbeda, lo sangat mencintai yuki. Semoga kalian bahagia. Oh iya, waktu di mall itu, reza loh yang beliin boneka buat yunie, karna dia gak tega liat yunie nangis.


"Gue sih sudah menduganya, karna itu kan mall milik papanya reza, pasti ada dia lah disana, tapi yuki bilang boneka itu dari lesty. Tapi biarlah, itu sudah berlalu. Gue akan perbaiki hubungan gue sama yuki dan reza.


Oh iya, gimana kabar om dan tante?".


"Neo, pliss deh, jangan bahas orang tua gue! Gue lagi kesel sama mereka, walaupun sudah bertahun-tahun gak ketemu, tetap saja gue kesel sama mereka. Orang tua lo sendiri gimana? Apa masih dikota ini?". Ujar arini.


"Udah nggak, setelah gue menikah sama yuki, mereka gak mau lagi liat gue. Terus mereka pulang kekota asal kita.


Rin, gimana kalau kita kapan-kapan pulang kesana. Mau gak?"


"Ogah! Lo aja sendiri. Gue disini sibuk. Lagian lebih baik gue sendirian, itu lebih mandiri".


Ditengah percakapan mereka yang asik itu, munculah danu yang sudah kembali. "Ehem.. Akrab banget kayaknya, padahal baru ketemu bulan lalu, tapi kayak udah kenal lama aja".


"Mata lo aja kali yang rabun!. Orang kita cuma cerita dikit doang". Sahut neo. "Danu sudah balik tuh, gue pergi dulu ya. Cepat sembuh arini".


Neo pergi dari rumah sakit meninggalkan danu dan arini. Sementara danu masih bingung melihat mereka yang bercanda sambil tertawa itu. Dalam pikirannya terbesit bahwa neo juga menyukai arini.

__ADS_1


•••


BERSAMBUNG..


__ADS_2