
Setelah makan malam, ara kembali keatas, dia berdiri dikoridor diluar kamarnya.
Sambil menatap bulan yang menyinari wajahnya, bintang yang berkilauan seakan saling berkedip, ara melamun, tersimpan kesedihan yang mendalam dihatinya yang dia sembunyikan dibalik keriangan sikapnya.
"Mama,, papa,, kalian ada dimana? Aku sangat merindukan kalian, hikss.. Hiks." Tak terasa air mata ara mengalir berkilau dibawah cahaya bulan.
"Saat ini zahra sendirian, benar-benar sendirian." Lanjutnya dengan suara sayup dan serak. (Zahra adalah panggilan sayang dari orang tua nya).
"Mama, mama dimana? Mama apa kabar? sejak aku lulus SMA mama tidak pernah lagi menemuiku, apa mama baik-baik saja.? Huu.. Huu." Tangisan ara makin menjadi. "Ma.. Pa.. Jika aku bertemu kalian lagi, aku tidak ingin berpisah lagi, sekarang aku menanggung hidupku sendiri. Aku harap kita bisa bertemu lagi, dan bersatu kembali. Hiks.. Hiks."
Saat rey hendak masuk ke kamarnya, dia mendengar isakan tangis dari ara. ia pun menghentikan langkahnya dan mengintip apa yang dilakukan ara, namun dia tidak melihat ara dalam kamarnya. kemudian rey mencoba masuk kekamar ara yang pintunya tidak tertutup rapat itu.
Perlahan ia berjalan menuju luar koridor kamar ara, dia berdiri dibelakang ara mengamati apa yang ara rasakan dan melihat ara yang berlinang air mata itu.
Hiks.. Hiks, ,ara masih berlanjut dengan kesedihanya. tiba-tiba sebuah jaket menempel dikedua bahu ara membuatnya kaget dan menoleh kebelakangnya.
"Lo sedih apa sih aron? " Rey menatap kedua matanya dan mengelap air mata ara dengan kedua tanganya.
"Reboy? Kok lo masuk kekamar gue? " Ara merunduk menyembunyikan matanya yang lembab.
"Tunggu sebentar ya." Rey masuk kedalam kamar ara, dan membawa sofa kekoridor kamarnya.
__ADS_1
"Silahkan duduk sini, kita lihat bulan dan bintang sama-sama, lo bisa mencurahkan isi hati lo sama gue."
Ara duduk disofa yang dibawakan rey dari kamarnya, kemudian dia bersandar. "Rey, makasih ya lo sudah bersedia nemenin gue disini, gue ngerasa sikap lo ahir ahir ini agak berubah sama gue, lo jadi lebih peduli dan perhatian sama gue." Ucap ara sambil memegang tangan rey.
"Sshh,, jangan bahas itu dulu, sekarang gue mau dengerin cerita yang membuat lo sedih kayak gini." Jawab rey membalas pegangan tangan ara.
"Bukan seperti itu rey, gue hanya ingin berterima kasih atas sikap peduli lo sama gue, karna gue ngerasa bahagia dipedulikan oleh seseorang. Saat dirumah sakit tadi, gue merasakan kehangatan pada keluarga daylon, cowok yang gue tolong saat kecelakaan itu, gue membayangkan suatu saat gue bisa seperti keluarga mereka. Kau tau, gue sangat kurang kasih sayang dari kedua orang tua gue, sejak umur tujuh tahun gue sudah pisah sama papa dan mama. Saat itu gue hidup sendirian."
"Semua itu berawal dari gue ditabrak mobil, waktu itu ekonomi keluarga kita sangat kritis, mama bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sedangkan papa kerja serabutan demi menghidupi kita, saat gue kecelakaan, dokter menyatakan bahwa gue harus segera dioprasi, tapi kita tidak punya uang untuk bayar rumah sakit, lalu mama mencoba meminjam uang dengan majikan tempat dia bekerja, majikan nya bersedia membantu asalkan mama mau menikah dengan nya dan harus menceraikan papa."
"Mama dan papa berunding cukup lama untuk mengambil keputusan, berhubung tidak ada jalan lain, papa pun menyetujui mama menikah dengan majikanya itu, walaupun majikanya itu sudah mempunyai istri dan dua anak. Demi biaya oprasi gue, mereka rela berpisah, padahal umur pernikahan mereka baru 8 tahun. Setelah oprasi gue selesai, dokter menyatakan bahwa gue hilang ingatan, bahkan gue tidak mengenali mama dan papa, tapi mereka tiap hari membuatku bahagia, membuatku nyaman dalam dekapan mama dan papa."
"Setelah gue sembuh total, mama melangsungkan pernikahan nya dengan majikanya itu, setelah menikah gue diajak tinggal bersama mama dirumah majikanya, anak dari majikan mama ada dua, mereka sangat baik sama gue. Sedangkan papa pergi entah kemana setelah menyaksikan pernikahan kedua mama itu, papa merasa malu, lalu dia menghilang, sejak saat itu gue tidak pernah bertemu lagi dengan papa."
"Gue kembali lagi kerumah yang pernah kami tinggali bertiga dengan bahagia itu, tapi hanya gue sendiri yang tinggal disana, saat itu gue merasa hidup tiada arti, jauh dari kedua orang tua, jauh dari kasih sayang, tapi tiap minggu mama menjenguk gue dan memberikan uang jajan sama gue secara diam diam tanpa sepengetahuan suami nya, gue bisa makan dari rasa kasihan dari para tetangga."
"Dari SD hingga tamat SMA, mama memenuhi semua biaya hidup gue yang diberikanya diam diam, beruntung gue mempunyai teman seperti adelia, aznie dan ricky, yang selalu memberikan semangat, berbagi makanan dan kerap memberi gue uang jajan, sering kali mereka menginap dirumah untuk menemani gue."
"Hiks.. Hiks,, dan sekarang, sudah beberapa bulan mama tidak ada kabar, telpon nya juga tidak bisa dihubungi, gue khawatir terjadi sesuatu dengan mama, karna selama mama tinggal disana dia tidak pernah bahagia, dia selalu disiksa oleh istri pertama papa tiri gue, sering kali gue melihat lebam di wajah dan tangan mama, tapi dia tidak memberitahukan yang dia alami, dia cuma bilang, (mama rela seperti ini demi kehidupan kamu)
Kata-kata mama itu sangat menusuk hati, membuat gue selalu merasa bersalah, karna gue, kehidupan rumah tangga papa dan mama hancur.. Huuu.. Huu..
__ADS_1
"Cupp.. Cuupp.. Sabar ya." Rey merangkul ara dan mengelap air matanya yang tiada henti bercucuran selama dia bercerita mengeluarkan isi hatinya. Ara menangis sejadi jadinya dalam dekapan rey, sesekali rey menoleh kebelakang mengelap air matanya yang jatuh sendiri karna sedih mendengar curahan hati ara yang dia simpan selama ini.
"Hiks.. Hiks,, rey, gue sangat berharap, gue dipertemukan lagi sama papa dan mama dan bisa berkumpul lagi bersama mereka. Huu.. Huu.."
"Ra, jika ada yang bisa gue lakukan buat lo, pasti gue lakukan itu,, apa lo tidak mencoba mencari mama dan papa lo." Ucap rey sambil menyelimuti ara dengan sweeter dan membelai rambut nya.
"Gue ingin sekali mencari mereka, kalau mama gue sudah tau tempat nya, tapi kalau papa, gue gak tau harus mencari kemana, walau bertemu pun mungkin wajah nya sudah berubah. Gue bingung rey, seandainya gue jenguk mama, lalu apa yang harus gue katakan pada papa tiri gue, sedangkan hutang mama pasti belum lunas."
"Ra, apa lo mengizinkan gue untuk membayar hutang orang tua lo." Ucap rey menatap mata ara.
"Um.. Gue gak tau rey, gue takut berhutang, dengan apa gue harus membayar nya, gak mungkin gue terus menerus tinggal disini karna terkait hutang sama lo." Jawab ara tertunduk.
"Ra, kalau demi menolong mama lo, harus nya lo gak perlu berpikir kayak gitu, lagian gue gak bakal nagih kok. Mau ya?"
"Hm.. Baiklah rey, emm.. gue capek,." Suara ara terdengar sayup sayup dan perlahan menghilang, matanya perlahan tertutup, tanpa waktu lama dia tertidur pulas,
Rey menyingkirkan rambut ara yang menutupi wajah nya. "Gue tidak menyangka, dibalik keceriaan dan keriangan lo sehari hari, ternyata tersimpan kesedihan yang sangat dalam dan bahkan membuat gue meneteskan air mata saat mendengarnya, kamu gadis yang malang, tapi tidak lagi sekarang, karna gue akan menyayangi lo diam diam, dan akan lebih memperdulikan lo lagi, " Rey mengecup lembut kening ara yang sedang tertidur pulas.
Rey melepaskan rangkulan nya pada ara, kemudian dia masuk kekamar dan mengambil selimut ara, lalu dia duduk disamping ara, dan memeluk nya lalu mereka tidur bersama dalam satu selimut dibawah cahaya bulan dan kilauan bintang.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG.
.